Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Istrimu!
Waktu menunjukkan pukul 21.15
"Akhirnya bisa istirahat juga." Shasha menjatuhkan dirinya di sofa.
"Ini pengalaman pertamamu menjadi asisten dokter, kan? Baru tau juga gimana suami kamu cari uang. Dari pagi, siang, malam, sampe lupa makan." Luthfie masih saja menggodanya, membuat Shasha spontan melempar bantal yang menjadi sandaran duduknya di sofa.
"Lagian, kok, bisa dokter yang kerjaannya ngingetin pasien supaya jangan telat makan, malah dirinya sendiri lupa makan. Heran!"
"Oh ya, satu hal lagi, jangan ngaku jadi suamiku di depan pasien. Aku bukan istrimu!"
"Haha! Kamu sensian banget sih, jadi cewek. Aku kan cuma bercanda. Aku tuh sudah biasa kalo sama pasien, ngobrolnya yang lucu-lucu, yang ringan-ringan biar mereka gak tegang. Biar suasana hati mereka selalu baik, terus lupa sama rasa sakit," tuturnya sambil turut mendudukan tubuh di atas sofa.
"Benarkah sehangat itu, pada pasienmu? Bagaimana dengan pasien yang bernama Vivi tadi?" tanyanya sambil memutar wajah ke arah Luthfie.
"Vivi.. yang mana, sih?" Dia pura pura lupa.
"Pasien yang cantik, yang Kakak bilang tinggi dan berat badannya ideal sekali?"
"Kenapa emangnya dengan dia?"
"Kakak tidak ramah sama wanita cantik itu. Dia kan pasienmu juga. Grogi, ya?"
Kali ini Luthfie yang dibuatnya kesal karena Shasha terus memojokkannya. Hanya karena dia selalu menghindari tatapan wanita cantik dan menggoda itu, Shasha bilang, nyalinya ciut di depan wanita cantik. Tidak cuma itu, Shasha terus mengitarinya saat Luthfie tidak kunjung menjawab.
"Kenapa diem aja? Ayo jawab!"
Sontak, Luthfie menarik tangan Shasha dan mendudukannya kembali di sofa
"Ngapain sih, ini anak? Udah kaya kunang-kunang aja."
"Kamu pikir, cewek cantik cuma dia? Menurutku dia biasa aja. Jadi gak usah heboh gitu, deh."
"Abisnya, Kakak kaya orang takut waktu mau aku tinggal ke dapur tadi, Hahaha...."
"Ck, siapa bilang aku takut?! Aku cuma gak nyaman aja dengan pakaiannya. Gimana, sih, bilangnya? Kamu, kok, gak ngerti," ucapnya lagi sambil mengusap tengkuk "Dan aku gak peduli, mau dia cantik atau body-nya seksi, terserah."
"Aku pikir hanya pria yang tidak normal yang tidak menyukai wanita seksi."
"Aku normal, Nana, aku pria yang sangat normal. Aku hanya risih saja melihatnya, aahhh, dasar kamu anak kecil mending tidur sana. Cape ngomong sama kamu." Dia mendorong tubuh Shasha dengan bantal supaya gadis itu pergi dari sana.
"Ya udah, deh, pria yang sangat normal, aku tidur duluan, ya." Dia berdiri sambil memindahkan bantal ke pangkuan Luthfie.
"Ngobrol sama pria normal ternyata membuatku cepat ngantuk. Gak bisa belajar, deh, malam ini," gumamnya sambil menutup mulut yang mulai menguap.
"By The Way makasih bantuanmu malam ini, Banana-ku... kerjamu bagus," seru Luthfie sambil mengacungkan jempol.
Shasha membalasnya dengan anggukan."Hemm."
"Oh ya sepertinya setelah lulus nanti aku mau masuk akademi keperawatan saja."
"Alasannya? tanya Luthfie
"Biar bisa jadi asistenmu, Kak," jawabnya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mata lalu pergi tanpa menoleh lagi.
"Nah, kan... ketauan mau bareng aku terus."
Banana... Banana... bisa-bisanya dia bilang gitu, batinnya sambil memandangi Shasha yang semakin berlalu dari hadapannya.
Sebelum tidur, Luthfie sempatkan menengok ke kamar Pak Wahyu, memeriksa keadaannya sebentar. Dan itu membuat Pak Wahyu terbangun dari tidurnya.
"Saya cuma mau memeriksa keadaan Pak Wahyu, maaf jadi mengganggu tidurnya."
"Teu sawios (Tidak apa-apa), dokter. Saya memang mau ke kamar mandi dulu."
"Ayo saya bantu."
"Sepertinya, saya sudah banyak merepotkan Pak Dokter di sini."
"Tentu saja tidak, karena ini sudah menjadi pekerjaan saya, saya senang melakukannya."
"Pak Dokter, boleh kah saya minta tolong sekali lagi?"
"Apa itu Pak?"
"Saya mau pinjam hape, keluarga di rumah pasti mengkhawatirkan saya seharian ini karena tak ada kabar."
Luthfie segera meminjamkan ponsel milikinya, dia mengaku lupa karena seharusnya, sudah sejak tadi siang mereka menghubungi keluarga Pak Wahyu supaya segera datang. Apalagi, di pagi hari sampai siang, rumah ini selalu kosong, mereka butuh seseorang yang menemani Pak Wahyu selama Luthfie dan Shasha pergi kerja dan sekolah.