⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Farel
"Tapi kalau lo mau, ya ambil aja sana! Gue ga mau ikut. Gue nunggu di mobil aja." Kataku.
"Oke, gue ga lama kok." Balas Farel.
Setelah berkata seperti itu, Farel langsung berbalik arah dan berlari sekencang mungkin ke arah gedung utama 1. Sepertinya Farel tidak ingin membuatku menunggu. Baguslah jika begitu.
"Pak Sebas, kita tunggu Farel sebentar y-"
"Silvi?"
Suara seseorang yang memanggilku ini terasa familiar untukku. Aku bisa langsung tau pemilik dari suara ini meski hanya mendengarnya sebentar.
"Rendi?"
Aku tersenyum. Kenapa Rendi masih berada di sini? Dia tidak pulang? Aku ingin sekali pulang bersamanya. Tapi hari ini aku harus bertemu dengan tante. Karena itu, akan lebih baik jika aku pulang bersama Farel.
"Kamu pulang bareng dia lagi?" Tanya Rendi padaku.
Aku tersentak karena melihat dahi Rendi yang mengerut. Aku tau orang yang Rendi maksud itu adalah Farel. Sejak awal aku tak mengerti kenapa Rendi tidak menyukai Farel.
"I.. Iya soalnya mamaku yang nyuruh aku bareng Farel terus." Jawabku.
"Sebenarnya udah lama aku mau ngomong begini sama kamu. Bisa ga sih kamu jauhi dia? Aku ga suka." Ucap Rendi.
Aku tersentak kaget. Aku tak menyangka Rendi akan berpikir seperti itu. Padahal sejak aku berpacaran dengan Rendi, aku dan Farel sudah sebisa mungkin untuk tidak terlalu dekat agar pacarku tidak salah paham. Tapi ternyata di mata Rendi kami terlihat dekat ya?
"Kamu cemburu?" Tanyaku.
Aduh, dia ini lucu sekali sih. Padahal aku dan Farel tak ada hubungan apa-apa selain persahabatan. Apa dia takut aku akan berpaling darinya?
"Aku, cuma ga suka aja." Balas Rendi.
Rendi tiba-tiba mendekat padaku. Tangannya seperti ingin mengarah ke pipiku.
Plak
"Eh?"
Aku tersentak kaget. Tangan Rendi yang ingin menyentuh pipiku tiba-tiba ditepis oleh seseorang. Sesaat aku menoleh, kulihat Farel sudah ada di sampingku. Entah ini perasaanku saja atau tidak, Farel terlihat seperti ingin menghalangi Rendi dariku.
"Farel, ternyata kamu udah datang." Kataku.
Farel hanya mengangguk pelan sambil tersenyum padaku. Setelahnya dia langsung menatap Rendi dengan tatapan sinis. Pandangan mereka saling beradu dan tak mau lepas.
"Silvi, masuklah duluan." Pinta Farel padaku tanpa melepaskan tatapannya dari Rendi sedikit pun.
"O.. Oke.."
Aku ragu sejenak. Raut wajah mereka menunjukkan seolah-olah sudah siap untuk berkelahi. Namun tidak mungkin mereka berdua mau berkelahi tanpa alasan.
"Dasar br#ngs#k! Gue udah tau semuanya! Orang kayak lu emang ga pantes buat Silvi. Awas aja ya kalau lu sampai nyakitin Silvi juga!" Sergah Farel.
"Eh?"
Langkahku terhenti sejenak. Apa yang baru saja Farel katakan? Aku tidak salah dengar kan? Apa maksudnya itu?
"Silvi, kenapa?" Tanya Farel padaku.
Aku tersentak kaget. Sepertinya Farel sadar kalau aku masih belum masuk ke dalam mobil.
"E.. Enggak, gapapa." Kataku.
Aku langsung bergegas menuju mobil. Kulihat di kursi kemudi sudah ada pak Sebastian yang menunggu kami sejak tadi.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil, aku sempat melirik Farel dan Rendi. Aku tidak tau apa yang mereka berdua bicarakan di sana. Semoga tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Apalagi setelah mendengar perkataan Farel tadi, aku jadi semakin khawatir.
Sejak awal aku sudah merasa aneh. Hubungan mereka berdua sepertinya sangat tidak baik. Saat mereka bertemu, Farel pasti akan memberikan tatapan sinis pada Rendi. Rendi pun juga begitu.
Klak
Aku membuka pintu mobil lalu langsung duduk di bangku belakang, tepat di belakang pak Sebas.
"Tuan muda kenapa ya non?" Tanya pak Sebas padaku.
"Entahlah pak, saya juga ga tau." Jawabku.
Aku merasa cemas. Semoga mereka berdua tak benar-benar berkelahi di sana. Aku dan pak Sebas terus memperhatikan Farel dan Rendi dari kejauhan hingga tidak lama kemudian Farel terlihat sedang berjalan menuju kami.
Farel terlihat sangat marah. Aku belum pernah melihatnya semarah itu. Sementara itu Rendi, entah kenapa dia terlihat tidak baik. Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat gelisah seperti itu?
Klak
Farel membuka pintu mobil lalu langsung duduk di sampingku.
"Ayo pak Sebas, kita langsung pulang." Ucap Farel.
"Iya tuan muda." Jawab pak Sebas.
"Huh!"
Farel mendengus kesal. Sejak tadi dia terus berpaling dariku dan tak sekalipun melihat ke arahku. Dia hanya menyentuh kepalanya, dengan sikut yang bertumpu pada kaca jendela mobil.
Saat ini hanya terasa suasana canggung di antara kami karena tak ada satu pun orang yang berbicara. Aku sangat tidak nyaman dengan kondisi ini.
"Farel.. kalian kenapa?" Tanyaku untuk berusaha mencairkan suasana canggung ini.
Aku bertanya dengan sangat hati-hati agar tak sedikit pun menyinggung perasaannya. Aku takut amarahnya Farel belum juga mereda. Ketika mendengar suaraku yang memanggilnya, Farel tampak tersentak. Sepertinya dari tadi dia sedang memikirkan sesuatu.
"Oh? Gapapa kok Sil, kami cuma ngobrol doang kok." Jawab Farel
Farel tersenyum. Tapi aku tau senyumannya itu dia tunjukkan hanya untuk menenangkanku saja. Aku bisa tau dari senyumannya yang terlihat ragu.
"Lo pikir gue b#go apa? Mana ada orang ngobrol pake ekspresi senggol bacok gitu!" Kataku.
"Hahaha itu namanya ngobrol ala cowok. Udahlah santai aja elah! Kalau banyak pikiran ntar cepet tua lho!" Ledek Farel.
Apa-apaan dia? Bagaimana bisa dia bercanda seperti itu di situasi ini? Padahal aku sedang serius.
"Tenang aja elah. Lu takut cowok lu itu gue makan?" Ledek Farel lagi.
"Au ah gue ngambek." Kataku.
Aku memalingkan wajahku. Di saat ini pun dia masih bisa menertawakanku. Meski begitu aku juga merasa lega karena sepertinya Farel sudah tidak marah lagi.
Sejujurnya aku takut ketika melihat ekspresi Farel yang tengah marah tadi. Aku tidak tau kalau Farel bisa terlihat seseram itu. Aku tak mau lagi melihatnya marah untuk kedua kalinya.
Aku tak tau masalah apa yang ada di antara mereka, tapi kuharap itu bukanlah hal yang serius.
*****
30 menit berlalu. Perjalanan pulang berjalan normal seperti biasanya. Selama perjalanan, Farel hanya sibuk bermain game melalui ponselnya. Aku sendiri bahkan tak dihiraukannya.
Memang menyebalkan sih! Tapi syukurlah Farel yang biasanya telah kembali di hadapanku. Aku tak percaya Farel bisa membuatku merasa takut padanya. Yah itu karena aku sendiri tak pernah membayangkannya.
Ckiit
Pak Sebas tiba-tiba menghentikan mobil. Aku bisa melihat pagar bercat putih tinggi menjulang itu yang sedang menghalangi jalan kami. Saat pertama kali melihatnya dulu, aku sempat tercengang. Namun sekarang aku sudah terbiasa dengan pagar besar ini.
Tak lama, dua orang pria berjas serba hitam datang membukakan pintu pagar ini hingga memberi akses agar kami dapat lewat. Dua orang itu bahkan tampak tidak asing lagi bagiku karena aku sudah sangat sering melihat mereka.
"Tuan muda, nona Silvia, kita sudah tiba." Ucap Pak Sebas.
Pak Sebas membawa kami hingga di depan rumah yang sangat besar dan megah. Yah, inilah tempat di mana Farel tinggal. Tempat tinggal keluarga ternama yang tak sembarangan orang dapat menginjakkan kaki mereka di sini.
Tapi itu pengecualian untukku dan juga keluargaku. Rumah ini sudah seperti rumah kedua untukku.
Aku dan Farel masuk bersamaan ke dalam rumah ini. Sesaat kami akan lewat, semua penjaga yang berbaris di sini tiba-tiba membungkuk bersamaan. Aku sudah tidak terkejut lagi karena sudah terbiasa dengan hal ini.
"Silvia, sekarang kamu baru datang?" Tanya seseorang.
Nada suara yang dingin tak seperti biasanya. Aku menoleh ke arah pemilik dari suara ini. Kulihat seorang wanita paruh baya yang terlihat mewah dan glamor tengah memandangku dengan tatapan tajam.
Saat aku tak sengaja melihat matanya itu, seketika perasaanku menjadi gelisah tak karuan.
Wanita itu duduk di atas sofa ruang tamu ini. Sambil menyilangkan kaki dan tangannya, ia terus menatapku dengan serius.
"Kemarilah!" Perintah wanita paruh baya itu padaku. Spontan aku mengangguk dan tanpa pikir panjang aku langsung mendatanginya.
"Ayo sini, duduk lah." Pintanya
Dengan ragu-ragu, aku perlahan duduk tepat di sampingnya. Raut wajahnya sama sekali tidak berubah sedikit pun sejak tadi hingga membuatku gugup.
GREP