Bersiaplah untuk mengetahui rupa langit yang sesungguhnya, wahai manusia.
~
Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun bernama Evan, mendapat kabar buruk tentang neneknya, neneknya terkena penyakit stroke ringan. Evan benar-benar tak percaya akan kabar itu, sosok yang terkenal lincah dan aktif walau sudah tua, pandai menari pula, bisa terkena penyakit separah itu. Saat Evan dan dua sepupunya, Yoel dan Yosua, tak sengaja mengunjungi dunia Langit menggunakan buku portal, mereka menemukan rahasia-rahasia yang selama ini disembunyikan oleh keluarga mereka, termasuk alasan kenapa nenek mereka bisa terkena penyakit tersebut. Bersama sang pemandu, Farraz, mereka menjelajahi dunia Langit bersama-sama. Untuk cerita lengkapnya, simak terus dalam cerita ini. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainhard Frealdo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pelatih Tari ~ Langit Biru Bagian Timur
"Hei, itu kan wajah keluarga kita!" seru Yoel.
"Ternyata apa yang aku katakan benar, keluarga kalian datang menjemput!" seru Farraz.
Ya, pamanku, bibiku, dan ibuku telah berada di dunia Langit. Pengumuman di layar itu telah memberitahu segalanya mengenai hal tersebut.
"Anak-anak, mari kita segera menuju dunia Langit bagian Utara, mereka pasti amat mengkhawatirkan kalian!"
Aku dan dua sepupuku mengangguk. Itu sudah pasti.
"Pemimpin, kami pamit, aku harus mengembalikan mereka pada orang tua mereka masing-masing," Farraz berpamitan kepada pemimpin.
"Ah, baiklah. Hati-hati di jalan ya, ingat itu!" seru pemimpin.
"Oke!" Farraz mengiyakan.
Aku, dua sepupuku, dan sang pemandu, Farraz, berlari cepat menuju pintu keluar. Di luar terlihat puluhan penjaga yang tadi ada di dalam kediaman, dan dua orang yang sebelumnya membukakan pagar.
"Hei, kenapa kalian terburu-buru!" salah satu dari mereka menatap kami berempat tajam, curiga.
"Ah itu... kami harus pergi menghampiri para pendatang baru itu, karena mereka adalah orang tua anak-anak ini," ucap Farraz menggunakan bahasa dunia Langit.
"Hmmm...." mereka semua menatap curiga pada kami ber-empat.
"ARGHHH!!!" teriak seseorang di dalam kediaman pemimpin dunia Langit Biru. Hei, bukankah itu teriakan pemimpin!
Tiba-tiba saja para penjaga menahan badan kami menggunakan sihir, badan kami tak dapat digerakan satu senti pun, Jangan tanya soal bicara, membuka mulut saja tak bisa, kami bagaikan patung. Entah apa nama sihir itu, aku lupa, padahal tadi kami barusan sudah membaca seluruh halaman buku mengenai sihir.
"Kalian tak diperbolehkan bergerak sampai kami tahu apa yang terjadi dengan pemimpin dunia Langit Biru!" seru salah satu dari mereka dengan kejam. Ya ampun, apa mereka harus berbuat sampai seperti ini?
Setengah dari para penjaga pintu pergi menuju ke dalam kediaman pemimpin dunia Langit Biru. Tiga puluh detik kemudian mereka telah kembali, setelah itu membebaskan kami berempat.
"Pemimpin hanya tak sengaja terjatuh karena tak lihat jalan, maafkan aku," ucap salah satu penjaga menggunakan bahasa dunia Langit kepada Farraz.
"Apa yang ia dan anda katakan sebenarnya Farraz?" tanyaku.
Farraz pun memberitahu apa yang mereka berdua ucapkan pada kami bertiga.
Ya ampun.
Yoel menepuk dahinya sendiri. "Hadeh, padahal tadi pemimpin menyuruh kita untuk berhati-hati di jalan, eh tapi dia sendiri malah tidak berhati-hati, gimana sih."
...***...
Farraz menggunakan sihir berjalan cepat sambil memegang tangan aku dan dua sepupuku, menuju dunia Langit bagian Utara. Untungnya sekarang dunia Langit Biru bagian Pusat sudah tak seramai sebelumnya, jadi Farraz dapat melakukan sihir berjalan cepat dengan leluasa.
"Apakah kamu melihat para pendatang?" tanya Farraz pada salah satu penduduk.
"Bukankah yang sedang bersama mu itu para pendatang?"
"Bukan itu maksudku. Maksudku adalah para pendatang yang paling terakhir ke sini, tiga orang dewasa, satu laki-laki dan dua perempuan," Farraz memperjelas.
"Ah itu... aku tak melihatnya."
Farraz terlihat kecewa.
"Apakah kau melihat para pendatang yang baru saja ke sini?" tanya Farraz pada salah satu penduduk lainnya.
"Tidak, aku justru sedang ingin mencari mereka!" ucapnya.
Farraz terlihat kecewa Lagi.
Farraz lagi-lagi bertanya tentang hal yang sama pada yang lainnya.
"Apakah kau melihat para pendatang yang baru saja ke sini?"
"Tadi sih aku lihat."
Farraz bahagia mendengarnya. "Di mana mereka sekarang?"
"Aku tak tahu, tampaknya mereka pergi ke daerah lain."
Farraz kecewa lagi.
"Apakah kalian melihat para pendatang?" Tanya Farraz ke orang-orang yang sedang berjalan bersama.
"Ya."
Farraz bahagia mendengarnya. "Di mana mereka sekarang?"
"Mereka sedang menuju ke bagian Timur."
"Ah, terima kasih banyak."
Mereka mengangguk.
"Mari anak-anak, kita menuju dunia Langit bagian Timur!" ajak Farraz.
"Ayo...!" ucap kami bertiga serentak dan bersamaan.
Farraz pun melakukan sihir itu lagi pada aku dan dua sepupuku, sihir berjalan cepat. Meninggalkan dunia Langit Utara, menuju bagian Timur. Semoga keluarga kami benar-benar berada di sana.
...***...
Satu menit kemudian kami berempat sampai di tujuan, di dunia Langit bagian Timur.
"Apakah kalian melihat para pendatang yang baru saja ke sini?" tanya Farraz pada salah satu penduduk dunia Langit, pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Ya, tadi kami melihat mereka ke tempat les menari itu," mereka menunjuk salah satu bangunan yang cukup besar, berwarna merah tua, dan memiliki dua lantai.
"Ah, terima kasih."
Mereka mengangguk.
"Mari anak-anak, kita menuju ke bangunan itu!" ajak Farraz.
Kami pun mengangguk, menerima ajakan tersebut.
Ketika kami hendak berjalan menuju bangunan tersebut, Farraz mulai menjelaskan mengenai bangunan terebut.
"Nah anak-anak, inilah bangunan yang paling terkenal di dunia Langit bagian Timur. Bangunan ini merupakan tempat les menari dengan jumlah murid yang paling banyak dari seluruh dunia Langit, murid-muridnya mencapai ribuan! Dahulu orang yang mengajar menari di situ juga pernah mengajar menari di salah satu sekolah, mengadakan ekskul menari."
"Wah menarik!" ujar Yosua.
Setelah beberapa detik kami berjalan, kami pun sampai di depan bangunan tersebut.
Pintu bangunan itu terbuka. Kami berempat pun langsung memasuki bangunan tersebut.
"Permisi..." kata Farraz. Kami berempat telah berada di ruangan lantai satu. Sepi, tak ada siapapun kecuali aku, dua sepupuku, dan sang pemandu, Farraz. Tampaknya murid-murid tak ada jadwal les menari pada saat ini.
Baru tiga detik berlalu, seseorang pun telah turun dari lantai dua, menuju ke lantai satu, menghampiri kami. Dia adalah pelatih tari di bangunan ini.
"Ada perlu apa?" kabar baik, pelatih tari dapat menguasai seluruh bahasa.
"Ah, kami hendak bertanya, apakah sebelumnya para pendatang menuju ke bangunan ini?" tanya Farraz.
"Tidak, mereka tak menuju bangunan ini. Tapi mereka tadi berada persis di depan bangunan ini, dan kedatangan mereka pun ramai dibicarakan banyak orang di depan bangunan ini, sehingga membuat bagian depan bangunan ini berisik oleh pembicaraan mereka. Aku melihatnya dan mendengarnya sendiri," jelas pelatih tari.
Wah, kami semua bahagia mendengarnya.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Farraz.
"Mereka bilang kalau mereka hendak pergi ke bagian Pusat, baru dua menit yang lalu mereka meninggalkan tempat itu," jawab pelatih tari.
Farraz semakin kecewa, apalagi aku dan dua sepupuku.
"Baiklah, terima kasih banyak telah memberitahu pada kami," ucap Farraz.
"Sama-sama."
Aku, dua sepupuku, dan sang pemandu, Farraz, meninggalkan tempat les itu.
"Apa kita harus menuju ke bagian pusat lagi, Farraz?" tanyaku.
"Tidak usah, jika kita ke sana, keluarga kalian pasti telah pindah ke tempat lain, mereka cepat sekali, pasti mereka juga menguasai sihir berjalan cepat," kata Farraz.
"Jadi bagaimana dong?" tanya Yoel.
"KIta coba pergi ke bagian Selatan, semoga kita bisa menjumpai keluarga kalian di sana."
Aku dan dua sepupuku menyetujui dengan apa yang di ucapkan Farraz.
Farraz pun kembali melakukan sihir berjalan cepat, menuju bagian Selatan.
Bagian Selatan, bagian terakhir dari dunia Langit Biru yang akan kami kunjungi.
^^^BERSAMBUNG...^^^
AUTHOR MINTA MAAF JIKA ADA KESALAHAN SEPERTI CERITA TIDAK NYAMBUNG, ADANYA TYPO (SALAH KETIK), DAN LAIN-LAIN 🙏
JANGAN LUPA:
✔️ LIKE
✔️ VOTE
✔️ BERI HADIAH
✔️ KOMEN
✔️ TAMBAHKAN KE FAVORIT
semngat dalam berkarya semoga semakin sukses dengan karya karyanya