Bukan maunya menikah dan menjadi istri kedua, kalau bukan permintaan dari istri pertama yang memaksanya untuk menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*15
"Jadi, kamu sudah ingat bukan dengan anak laki-laki yang kamu lempari dengan jeruk muda saat kamu kesal waktu kecil."
"Tentu saja aku ingat mas. Kakak laki-laki itu selalu ada dalam ingatanku hingga saat ini. Dan ...."
Tiba-tiba, Nana menghentikan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Otaknya baru bisa mencerna apa yang Arya katakan barusan dengan baik. Mata Nana melotot besar melihat kearah Arya yang berada di hadapannya saat ini.
"Dari mana kamu tahu soal anak laki-laki yang ada di masa kecilku?" tanya Nana dengan tatapan serius.
"Dari ingatanku."
"Apa maksud kamu mas?"
"Nana. Anak laki-laki yang kamu panggil kakak waktu kecil itu sekarang ada di hadapanmu."
"Apa!? Gak mungkin."
"Nana, lihat mata aku sekarang. Apa kamu tidak percaya kalau aku adalah kakak laki-laki yang ada di masa kecilmu dulu?"
Nana menatap mata Arya dengan tatapan yang sangat serius. Kembali terbayang masa lalu yang membuat hatinya sangat rindu ingin kembali ke masa itu.
"Kak, kakak nakal."
Tanpa sadar, Nana menjatuhkan buliran bening dari kedua matanya. Ada banyak rasa yang kini berada dalam hati Nana. Rasa rindu, bahagia, juga rasa tak percaya akan apa yang baru saja terjadi, telah menyatu dalam hatinya sekarang.
Arya menarik Nana kedalam pelukannya. Mereka saling peluk untuk melepaskan rasa rindu. Rindu yang datang dari masa lalu.
"Nana, aku tidak percaya kalau aku bisa bertemu kamu kembali setelah kamu menghilang tanpa kabar. Aku selalu menantimu setiap hati di taman itu," kata Arya sambil terus memeluk tubuh Nana dengan pelukan yang sangat erat. Seolah-olah, takut Nana kembali menghilang darinya.
"Aku rindu gadis kecil yang nakal," kata Arya lagi sambil membelai rambut Nana.
"Aku juga sangat rindu kakak jahat yang selalu ada untukku," ucap Nana sambil menahan tangis harunya.
"Jangan pergi lagi Na. Aku tidak ingin kamu menghilang lagi dariku. Berjanjilah," kata Arya sambil memegang kedua pipi Nana lalu menghapus air matanya.
Seketika itu, kebahagiaan Nana terganggu. Ia ingat kalau ia tidak bisa memiliki Arya seutuhnya. Karena, diantara mereka berdua masih ada Yulia yang menjadi penghalang. Penghalang besar, karena Yulia adalah istri pertama sekaligus wanita yang telah mempertemukan mereka berdua.
"Ada apa Na?" tanya Arya ketika melihat perubahan wajah dari Nana.
"Tidak ada mas."
"Jika ada apa-apa yang tidak enak di hatimu, katakan saja padaku saat ini Nana, jangan ada yang kamu sembunyikan."
"Kamu datang disaat yang salah mas Arya."
"Maksudnya?"
"Kenapa bukan bertemu saat kita sama-sama masih tidak ada yang memiliki?"
"Kamu ingin membicarakan keberadaan Yulia kan?"
"Tidak. Aku tidak ingin membahas siapapun saat ini."
"Aku tahu bagaimana sifat kamu. Kamu adalah gadis pertama yang aku temui lalu masuk kedalam hatiku Nana. Dari dulu, hingga detik ini, aku masih tetap berharap dan berdoa agar di pertemukan dengan gadis nakal ini. Walau tidak ada yang tahu bagaimana aku berharap untuk bertemu denganmu selama ini."
"Sudahlah mas. Jangan dibahas lagi. Aku gak mau bahas soal kita lagi," ucap Nana sambil ingin melangkah menjauhi Arya.
Arya menahan tangan Nana dengan cepat. Untuk kali ini, dia tidak ingin merasa kehilangan dan kecewa lagi. Ia akan jujur dan akan mengikuti apa yang hatinya inginkan.
"Aku mencintai kamu Nana. Aku cinta kamu ...."
Sekali lagi, Arya menarik tubuh Nana. Membawanya kembali kedalam pelukan hangat yang tidak bisa Nana tolak. Karena sesungguhnya, ia sangat merasa nyaman dan juga selalu mengharapkan selalu berada didalam pelukan ini.
____
Mereka menghabiskan waktu berdua hingga sore di rumah tua milik Nana. Mereka bercerita apa saja yang telah mereka lalui selama ini. Bagaimana sulitnya jalan hidup setelah sama-sama tidak tahu keberadaan satu sama lain, dan apa saja yang telah mereka lakukan untuk bisa bertemu.
Nana benar-benar merasa bahagia dengan kado yang Mahakuasa berikan padanya di ulang tahunnya yang kedua puluh dua kali ini. Hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, kini telah menjadi nyata.
Nana dan Arya memutuskan untuk pulang setelah selesai sholat maghrib bersama. Itu pun belum pulang ke rumah. Arya sudah menyiapkan kejutan yang lain untuk Nana sebelumnya.
"Ini kok kayak bukan jalan pulang mas. Kita mau kemana sih?" tanya Nana sedikit bingung.
"Kita emang belum pulang Na. Kita akan pergi ke suatu tempat."
"Tempat? Tempat apa mas?"
"Kamu lihat aja nanti."
Mereka pun sampai di sebuah cafe yang tergolong paling elite di kota ini. Cafe yang tidak pernah sepi dari pengunjung. Cafe ini adalah cafe nomor satu yang sangat terkenal.
Nana merasa bingung saat mobil Arya memasuki halaman cafe. Cafe yang biasanya ramai dengan pengunjung, sekarang tidak terlihat ada pengunjung sama sekali.
tau ibu tiri ga sebaik ibu kbdung.
sombongngg🤣🤣🤣
😂😂😂
😂😂