Rate 21+
Scrol kebawah.
Amanda Rahayu, Seorang Nanny yang di hadapkan akan takdir cinta yang rumit.
Ketulusan cinta dan kasih sayang yang dia berikan untuk Gisela, Nona kecil asuhannya. Membuat dia bukan hanya mendapat balasan cinta dan kasih sayang dari Gisela, Namun juga, dari Tuan Muda Sergio Putra Kaana, Daddy Nona kecil asuhannya.
Pertemuan cerita singkatnya dengan Salman, Hingga terjadinya sebuah kesalahan yang menyisakan benih di dalam rahim Amanda.
Sergio yang mengetahui akan kehamilan Amanda, justru mengikatnya dengan Ikatan suci pernikahan dan membuatnya tetap tinggal sebagai Istri untuknya dan juga Nanny untuk putrinya.
Kemanakah, Takdir cinta akan membawa sang Nanny, Ikatan suci pernikahannya dengan Gio, atau Ikatan darah dagingnya dengan Salman??
Perjalanan cintanya semakin rumit saat Amanda mengetahui bahwa antara Gio dan Salman terjalin Ikatan Persaudaraan yang erat.
Mampukah ketiganya melewati rumitnya cinta di antara mereka,?
Berakhir dengan bahagia kah? Atau Ikatan yang terjalin itu justru akan tercerai berai??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nasiroh Iroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 15 membuatmu tetap tinggal 2
Diruang belajar Tuan Gio menatap kertas kertas diatas mejanya sambil menoleh pada Bimo sekertarisnya
"Yang aku lakukan ini benar bukan, ini cara satu satunya untuk membuatnya tetap tinggal"
" Tentu saja Tuan, Nona Gisela akan sangat sedih jika Nannynya benar benar pergi
"Apa aku tidak bersikap terlalu jahat padanya dengan memaksanya tetap tinggal"
"Tidak Tuan sepertinya Nona Amanda memang tulus menyayangi Nona Gisela, lambat laun dia pasti akan melupakan masa lalunya"
"Bagaimana jika mereka bertemu nanti, Amanda akan pergi dan memilih ayah dari bayinya kan" menatap Bimo mencoba meminta sebuah jawaban
"Apa Tuan juga tidak mau Nona Amanda benar benar pergi"
"Bimo Saputra ,keluar kau" ucap Tuan Gio dengan nada tinggi dan tatapan tajam membunuhnya
"Maaf Tuan, baik saya permisi" jawab Bimo langsung menundukan kepala dan melangkah keluar segera
'kenapa kau tidak mengakuinya saja kenapa kau malah menatapku seperti ingin membunuh aku kan hanya bertanya' batin Bimo dalam hati sambil menggenggam handle pintu dan berbalik menatap Tuannya
"Benarkah aku menyukai gadis itu, tapi aku sungguh bahagia melihatnya tertawa bersama Gisela, Gisela sangat menyayanginya tentu saja Belinda tidak pernah memperlakukan Gisela dengan baik, aku merasakan ketulusan dari segala perlakuan gadis itu pada Gisela, aku akan membuatnya tetap tinggal dan tidak akan membiarkannya pergi "
Bayangan pada malam itu ketika tengah malam dia melihat sosok gadis memasuki kamar Gisela, dia langsung meraih smartphone miliknya dan melihat layar CCTV untuk bisa melihat kedalam kamar Gisela
Dia melihat gadis itu menangis dan membelai wajah putrinya yang telah terlelap, dia menatapnya dan terus menatapnya seolah tidak ingin ada satu kejadianpun terlewat dia tersentuh dan untuk pertama kalinya dia meneteskan airmata, mengutuki keegoisannya hingga tidak disadarinya telah begitu menyakiti hati putrinya yang sangat dia sayangi
"Kenapa kau meninggalkanku Belinda , kenapa ... aku bisa memberikan dunia ini beserta isinya untukmu, tapi kau malah memilih pergi dan menyusahkan dirimu sendiri dengan bekerja demi mengejar impianmu, kau memilih karirmu dan pergi meninggalkanku dan Gisela"
"Belinda belinda belinda aaaahhh".... Tuan Gio berteriak dan menjatuhkan semua benda diatas meja
Dia menyandarkan punggung dikursi kebesarannya dan menutup matanya mencoba menetralkan kembali emosinya
Dalam keadaan mata yang tertutup dia melihat senyum dan tawa Gisela bersama Amanda sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan indah
"Amanda" ucap Tuan Gio saat membuka mata
Dia lalu beranjak keluar dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya hingga dia membuka pintu kamarnya dan melihat sosok gadis berdiri didepannya dia melangkah mendekati gadis itu dengan senyum yang sudah dia sembunyikan
"Kau belum tidur" sapanya gadis itu tidak menjawab dia hanya menatapnya diam
" Tidurlah ini sudah larut" ucapnya lalu berbalik dan melangkah menuju kamar mandi
'Kenapa dengan jantungku kenapa selalu seperti ini jika didepan Tuan Gio, aahh aku sampai tidak bisa bicara, tidak Amanda kamu harus berani kamu tidak boleh takut kamu harus tahu alasannya menikahimu tiba tiba'
"Ya aku harus berani aku tidak boleh takut berani berani berani ayoo Amanda" Amanda berbicara menyemangati dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan keudara tanpa menyadari Tuan Gio telah keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk yang melilit dipinggangnya
"Kenapa kau berteriak aku menyuruhmu tidur"ucap Tuan Gio berjalan menghampiri Amanda tanpa rasa bersalah hanya memakai handuk dipinggangnya
"Aaaahhhh" Amanda berteriak dan menutup mata dengan kedua tangannya dan berbalik badan
"Tuan kenapa anda tidak memakai pakaianmu, apa anda tidak malu hanya memakai handuk seperti itu"
"Kenapa aku harus malu, bukankah aku melakukannya didepan istriku, cepat ambilkan pakaian gantiku" ucap Tuan Gio yang sudah duduk di tepi ranjang
"Baik Tuan" Amanda segera berlari keruang ganti tanpa menoleh pada Tuannya yang sedang tersenyum tipis melihatnya
'Apa apaan itu tadi dia keluar hanya memakai handuk dengan tidak ada rasa malunya, dan apa tadi dia bilang istri, aaahh ' gumam Amanda setelah sampai diruang ganti dan menutup pintu menyendarkan tubuhnya dibalik pintu
"Kau mau membuatku mati kedinginan kenapa lama sekali" ucap Tuan Gio dengan berteriak
Amanda langsung tersadar dan segera mengambil pakaian ganti lalu keluar
"Maaf Tuan" ucap Amanda dengan masih tersengal karna sedikit berlari lalu menyerahkan pakaian ganti Tuannya
Tuan Gio langsung mengambil pakaian gantinya dan berdiri dan hendak melepaskan handuknya
"Tuan anda mau apa" tanya Amanda yang mengulurkan tangan kedepan melihat Tuannya yang hendak melepas handuk
"Diam disitu kalau kau ingin melihat, dan balikan badanmu jika tidak melihatnya" ucap Tuann Gio sambil melepas handuknya
Amanda langsung membalikkan badan
'Dasar Tuan dingin yang gila,seenaknya saja bertelanjang tanpa rasa malu'
"Tuan apa sudah" tanya Amanda
Tidak ada jawaban hanya handuk yang sukses mendarat diatas kepala Amanda hingga menutupi wajahnya, dengan kesal dia mengambil handuk dan membalikkan badannya , menaruh handuk dikeranjang baju dan berdiri didepan Tuannya yang sedang duduk bersandar diranjang sambil membaca buku
"Tuan ada yang ingin saya bicarakan,apa Tuan ada waktu" Amnada berbicara dengan cepat dan menatap Tuannya yang tidak menjawab dan tidak beralih dari bukunya
'bicara saja lah dia pasti dengarkan nanti'
" Tuan kenapa anda menikahi saya, Tuan tahu pasti saya sedang hamil saat ini" Amanda akhirnya memberanikan diri bertanya dengan tangan yang terkepal sangat dingin terasa
"Untuk membuatmu tetap tinggal" jawab Tuan Gio singkat tanpa beralih dari buku didepannya
"Tapi Tuan" Amanda beralih memegang kancing bajunya erat
"Aku tidak akan menyentuhmu" jawabnya lagi masih fokus pada bukunya
"Apa aku boleh mencari pekerjaan lain" Amanda berpikir sangat keras dengan pertanyaan ini, bagaimana dengan pekerjaan dengan gajih 10kali lipatnya, apa dia masih mendapatkan gajihnya lagi setelah menikah atau tidak, jelas itu sangat menakutkan bagi Amanda, bagaimana dia akan mengirimi uang untuk ibu dan adiknya jika dia tidak bekerja
"Apa itu alasanmu untuk bisa kabur dari sini" Ucap Tuan Gio menutup bukunya kasar dan menatap tajam Amanda
'Kabur apa itu tadi kau sama saja dengan putrimu, memangnya aku penjahat yang sedang dikurung apa, kenapa harus kabur juga,aku bahkan sudah meminta izin dengan baik untuk pergi'
"Apa yang kau pikirkan, mencari cara lain untuk bisa kabur lagi" ucap Tuan Gio sudah meninggikan lagi suaranya
" Bukan seperti itu Tuan" jawab Amanda cepat sambil terus menunduk takut untuk melihat tatapan mengerikan Tuannya, sepertinya menunduk jauh lebih baik
"Kau bahkan tidak boleh keluar selangkahpun dari mansion ini" ucap Tuan Gio penuh penekanan
"Jika saya tidak bekerja lagi bagaimana nasib ibu dan adik saya dikampung Tuan" ucap Amanda sambil menyeka airmatanya yang sudah turun deras tanpa dikomando mengingat keadaan keluarganya dikampung dan ayahnya yang telah tiada, Amandalah tulang punggung keluarganya sekarang
Tuan Gio menatap lekat Amanda ada rasa sesak melihat tangis yang coba ditutupi Amanda, tapi jelas terlihat kesedihan yang mendalam dirasakan Amanda saat ini
"Bimo akan mengurus keluargamu nanti, sekarang kau tidurlah istirahat dan jangan berpikir apapun" suara Tuan Gio terdengar lembut, Amanda tidak percaya apa itu benar suara Tuan Gio dia lalu mendongak seolah memastikan bahwa masih Tuan Gio yang sedang berbicara padanya
"Baik Tuan,maaf sudah mengganggu waktu anda, dan terima kasih" ucap Amanda masih dengan sedikit kebingungan tersadar apa yang dia katakan dia melangkah menuju sofa dengan wajah masih kebingungannya
'Maaf dan terima kasih kenapa aku bingung dengan kata kataku sendiri, maaf untuk apa memang aku mebuat kesalahan,dan terima kasih, ya terima kasih dia bilang akan membantu keluargaku kan, ah sudahlah kenapa aku jadi memikirkan kata kataku sendiri'
"Aku tidak mengizinkanmu tidur sofa" nada tinggi Tuan Gio menyetel lagi ditelinga Amanda
"Apa, lalu apa saya harus tidur di lantai, ah lebih baik saya kembali ke pavilium tidur dikamar saya sendiri" ujar Amanda beranjak dari sofa dan hendak melangkah keluar
" Siapa yang mengizinkanmu kembali ke pavilium, kau bukan pelayan" ucap Tuan Gio penuh penegasan kembali
"Lalu saya harus tidur dimana Tuan" tanya Amanda ragu ragu
"Kau boleh tidur dikamar manapun di mansion ini, ada banyak kamar di mansion jangan kembali ke pavilium, atau kau ingin tidur disini" ucap Tuan Gio sambil menepuk bantal sebelahnya dan tersenyum tipis
"Ah tidak Tuan terima kasih saya akan kembali kekamar Nona Gisela saja,
" Selamat malam Tuan , selamat istirahat , saya permisi" ucap Amanda menundukan kepala dan segera melangkah keluar
'Aahh bagaimana mungkin dia menyuruhku tidur bersamanya'
tapi yang ngasi Vote kok dikit yaa
semangat Kakak