NovelToon NovelToon
Mekanik Sang Ustadz

Mekanik Sang Ustadz

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beban di balik kertas gadai

Ketenangan di rumah Farhan setelah badai Pak Broto berlalu ternyata hanya permukaan saja. Dua hari setelah kejadian itu, Alika menemukan sebuah amplop cokelat di laci meja kerja Farhan saat ia sedang merapikan ruangan. Niatnya hanya ingin membersihkan debu, namun rasa penasarannya terusik ketika melihat logo sebuah lembaga pembiayaan non-bank yang cukup ternama.

Alika membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Isinya adalah surat perjanjian pinjaman kilat dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan bengkel milik Farhan. Nominalnya persis lima ratus juta rupiah. Di sana tertera bunga bulanan yang cukup tinggi dan tenggat waktu pelunasan yang sangat singkat.

Lutut Alika terasa lemas. Ia terduduk di kursi kerja Farhan. Pantas saja suaminya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam hitungan jam. Farhan tidak menggunakan tabungan; dia mempertaruhkan satu-satunya aset yang menjadi sumber penghidupan mereka dan para mekanik di bengkel. Farhan menggadaikan masa depannya demi menyelamatkan ayah mertua yang selama ini menghinanya.

"Bodoh... kenapa kamu lakukan ini, Farhan?" bisik Alika pada ruang kosong.

Malam itu, saat Farhan pulang dengan wajah lelah namun tetap berusaha tersenyum, Alika tidak bisa menahan diri. Ia meletakkan surat gadai itu di atas meja makan tepat saat mereka akan memulai makan malam.

Farhan tertegun melihat kertas itu. Ia menghela napas panjang, lalu duduk dengan tenang. "Saya tidak bermaksud menyembunyikannya selamanya, Alika. Saya hanya tidak ingin kamu terbebani pikirannya saat kita sedang fokus mengurus Alya."

"Terbebani? Farhan, ini bengkelmu! Ini tempat kerja sepuluh orang mekanik yang bergantung padamu! Kalau kita tidak bisa bayar dalam tiga bulan, mereka akan menyita tempat ini!" suara Alika meninggi, bukan karena marah pada Farhan, tapi karena rasa bersalah yang mencekik lehernya. "Semua ini gara-gara keluargaku. Gara-gara utangku tujuh juta kemarin, lalu sekarang lima ratus juta untuk Ayah."

Farhan meraih tangan Alika, menggenggamnya kuat. "Dengar. Uang bisa dicari, Alika. Tapi kehormatan kakakmu dan keselamatan orang tuamu tidak ada harganya. Bengkel ini masih beroperasi. Kita masih punya pendapatan. Kita akan cari jalan keluarnya bersama."

Namun, Alika tidak bisa diam saja. Ia tahu pendapatan bengkel sedang stabil, tapi untuk melunasi lima ratus juta plus bunga dalam waktu singkat adalah hal yang nyaris mustahil tanpa ada suntikan dana besar.

Besok paginya, tanpa memberi tahu Farhan, Alika pergi ke gudang tua di belakang rumah. Ia membuka penutup kain sebuah motor sport yang sudah lama tidak ia sentuh. Motor itu adalah satu-satunya harta berharga miliknya sebelum menikah—hasil dari memenangkan berbagai taruhan jalanan. Ia menatap motor itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Alika mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dari masa lalunya: Jaka, seorang pemilik bengkel modifikasi yang sering mengadakan kontes motor legal maupun ilegal.

"Jaka, aku butuh uang. Cepat," kata Alika tanpa basa-basi saat telepon diangkat.

"Wah, Ratu Jalanan kembali? Mau turun balapan lagi? Ada taruhan besar minggu depan di sirkuit resmi, tapi hadiahnya lumayan," sahut Jaka di seberang telepon.

"Aku tidak mau balapan lagi. Aku mau jual motorku, atau aku kerja di bengkelmu sebagai mekanik mesin. Aku tahu seluk-beluk mesin motor besar lebih baik dari anak buahmu," tegas Alika.

"Menarik. Kalau kamu mau jadi mekanik di sini, aku bayar tinggi. Tapi kamu harus kerja lembur karena banyak motor balap yang butuh sentuhanmu. Tapi Al, suamimu si Farhan itu kan punya bengkel sendiri, kenapa malah mau kerja di tempatku?"

"Jangan banyak tanya. Aku mulai besok pagi. Dan jangan pernah bilang pada siapa pun, terutama Farhan," Alika menutup teleponnya.

Maka dimulailah kehidupan ganda Alika. Pagi hari ia tetap menjadi istri yang manis, menyiapkan sarapan untuk Farhan dan Ummi. Namun setelah Farhan berangkat ke bengkelnya sendiri, Alika pamit dengan alasan "menemani Alya" atau "belanja kebutuhan rumah". Kenyataannya, ia pergi ke bengkel Jaka di pinggiran kota, mengganti gamisnya dengan celana kargo dan kaos hitam, lalu berkutat dengan oli dan mesin hingga sore hari.

Alika sangat ahli. Tangannya yang ramping ternyata sangat cekatan membongkar blok mesin dan melakukan fine-tuning pada karburator atau sistem injeksi. Dalam seminggu, ia berhasil mendapatkan upah tambahan dan komisi dari pelanggan yang puas. Ia mengumpulkan setiap rupiah ke dalam rekening rahasia.

Namun, kelelahan mulai nampak. Wajah Alika sering kuyu, dan tangannya yang mulai kasar tidak bisa lagi disembunyikan meski ia sudah mencucinya dengan sabun berkali-kali. Bau bensin dan oli masih sering tertinggal di balik kuku-kukunya.

Suatu sore, Farhan pulang lebih awal. Ia menemukan Alika sedang tertidur pulas di sofa dengan tangan yang hitam di bagian sela-sela kuku. Farhan mendekat, ia meraih tangan istrinya dan memperhatikannya dengan saksama. Ia mencium aroma yang sangat ia kenal: aroma pembersih mesin industri yang biasa digunakan di bengkel besar.

Farhan terdiam. Ia menatap wajah istrinya yang nampak kelelahan dalam tidurnya. Ada rasa sesak di dada Farhan. Ia tahu Alika sedang melakukan sesuatu di belakangnya, dan ia tahu persis mengapa Alika melakukannya.

Ia tidak membangunkan Alika. Ia hanya menyelimuti istrinya, lalu keluar menuju teras, menelepon seseorang. "Halo, Jaka? Ini Farhan. Tolong jujur pada saya, apa yang dilakukan istri saya di tempatmu?"

Di dalam rumah, Alika mengigau pelan, menyebut-nyebut angka "lima ratus juta". Ia tidak sadar bahwa rahasianya sudah berada di ujung tanduk, dan kejujuran yang Farhan minta dulu kini sedang diuji kembali oleh rasa kasih sayang yang salah jalan.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NN
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!