Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Obsesi
Sejak pertemuan tak terduga di pinggir jalan dengan Zayn, sifat Axel berubah drastis. Ia menjadi jauh lebih protektif, posesif, dan waspada terhadap segala hal. Kemanapun Aruna pergi, bayang-bayang pria itu selalu ada di sana. Tidak ada satu detik pun Aruna dibiarkan sendirian. Kalaupun memang terpaksa harus sendirian, Aruna tetap dijaga ketat banyak pengawal pribadi.
Apalagi acara pertunangan mereka akan diadakan esok hari. Axel memperketat pengawasan, melarang Aruna pergi kemana-mana demi keamanan gadis itu.
Siang itu, Aruna sedang berjalan-jalan santai di taman belakang rumah. Ia berjalan tanpa alas kaki, membiarkan telapak kakinya yang putih menyentuh rumput yang sejuk, berusaha mengusir rasa bosan yang mulai menyerang, karena terlalu lama diam di rumah.
Tiba-tiba...
Sebuah tangan kuat mencengkeram pinggangnya dengan sangat erat, dan menariknya mundur dengan kasar.
Jantung Aruna berdegup kencang, tapi ia langsung mengenali aroma parfum maskulin yang khas itu. Itu bau Axel. Namun anehnya, pria itu sama sekali tidak bicara. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Wajahnya tertutup masker hitam, membuat Aruna tidak bisa melihat ekspresinya sama sekali.
Sebelum sempat bertanya lebih jauh, tubuh mungilnya sudah diangkat dan digendong seperti boneka. Pria itu membawanya masuk ke dalam mobil dengan gerakan cepat dan kaku.
"Axel... kenapa kamu pakai masker segala? Kamu sakit atau apa?" tanya Aruna heran, matanya menyipit mencoba mencari jawaban di balik kacamata hitam yang dipakainya.
Namun "Axel" itu tetap diam membatu. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Suasana di dalam mobil menjadi aneh dan mencekam. Entah karena efek perjalanan, atau karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang dengan sangat kuat, mata Aruna terasa berat. Perlahan tapi pasti, kesadarannya menghilang, dan ia pun tertidur pulas.
***
Aruna membuka matanya perlahan. Pandangannya masih sedikit kabur, namun saat fokusnya kembali, ia sontak terbelalak kaget. Di hadapannya, bukan wajah Axel yang ia temui, melainkan wajah tampan namun dingin milik Zayn. Pria itu duduk di tepi tempat ia berbaring, tangannya dengan santai mengelus lembut helai rambut Aruna.
"Zayn?!" Aruna langsung duduk terkejut, mundur menjauh hingga punggungnya menabrak sandaran. "Ngapain kamu di sini? Dan... aku di mana? Kenapa aku bisa ada di tempat begini? Lalu kemana Axel?" tanyanya bertubi-tubi, matanya mengelilingi ruangan yang terlihat mewah namun sangat asing dan gelap.
Zayn tersenyum tipis, senyum yang terlihat manis namun menyimpan banyak rahasia.
"Lupakan soal semua itu. Satu hal yang jelas... Aku merindukanmu.. my queen..." bisiknya pelan. Dengan gerakan cepat ia menarik tubuh Aruna agar berada dalam dekapannya, lalu mengecup pipi gadis itu dengan posesif.
PLAK!
Aruna langsung menepis kasar wajah Zayn untuk menjauh. Wajahnya memerah menahan kesal.
"Zayn. Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Jangan main-main!" pinta Aruna tegas.
Zayn menghela napas panjang, lalu menatap lurus manik mata gadis itu.
"Hm... aku sudah menculikmu," ungkapnya dengan nada santai seolah baru saja mengatakan hal biasa.
"WHAT? BUT WHY??" teriak Aruna tak percaya, matanya membelalak lebar.
"Jelas karena aku tidak mau kamu jadi milik Axel..." balas Zayn lembut, jari-jarinya kembali berani membelai pipi mulus Aruna yang kini menegang.
Aruna menatap tajam pria di depannya. Otaknya mulai menyusun potongan-potongan kejadian yang lalu. Tatapan preman yang lari ketakutan, peringatan Axel di mobil, dan sekarang penculikan ini.
"Apa mungkin... apa yang dikatakan Axel itu benar?" tanya Aruna pelan namun tajam. "Kamu itu... bos mafia?"
Tanpa ragu sedikitpun, Zayn mengangguk mantap, dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Ya."
Jawaban singkat dan padat yang seharusnya membuat orang lain gemetar ketakutan.
Namun reaksi Aruna sungguh di luar dugaan. Ia justru mendengus kesal, lalu berkata dengan wajah datar,
"Hm... oke, terserah! Aku tak perduli siapa kamu sebenarnya. Yang jelas aku mulai lapar. Mau makan buah."
Zayn sampai terdiam kaku, matanya berkedip beberapa kali tidak mengerti. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak, tawa renyah yang menggema di seluruh ruangan.
"Kamu tidak takut denganku, Aruna?" tanyanya di sela tawanya, benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir wanita di hadapannya ini.
"Alah, aku gak peduli kamu siapa!" ceplos Aruna ketus. "Kalaupun kamu mau bunuh aku, kenapa harus takut? Mungkin itu memang sudah takdir... tapi beneran deh, aku lapar banget sekarang, perutku bunyi nih."
Zayn terus tertawa, gelengan kepalanya menunjukkan betapa sangat terkesannya dia, dan semakin tergila-gila pada keunikan gadis itu. Sementara di tempat lain, Axel mungkin sedang menghancurkan separuh kota hanya untuk mencari keberadaan Aruna, namun di sini, sang korban penculikan justru santai meminta jatah makan.
"Aku akan berikan apapun yang kamu mau, sayang... tapi ada syaratnya.." ucap Zayn kemudian, matanya menyipit sedikit menatap gadis itu dengan senyum menggoda.
"Ah jangan pakai syarat donggg!" rengek Aruna kesal, wajahnya manyun.
"Aku udah lapar banget tau. Udah jangan pelit gitu deh. Nanti kan bahaya, kalau orang lapar terus emosi. Bisa-bisa aku bakar tempat ini."
Aruna bicara seenaknya, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang menjadi tawanan.
Di dalam hatinya, ia mulai menyusun potongan kejadian tadi. Ia sadar betul, orang yang menariknya di taman tadi bukanlah Axel sungguhan. Itu Zayn yang menyamar. Ia berpakaian seperti Axel, bahkan memakai parfum yang wanginya persis sama.
Tapi Aruna baru sadar sekarang... bau parfum itu ternyata tidak biasa. Wangi itu ternyata sudah dicampur dengan obat bius yang sangat ampuh. Itulah sebabnya mengapa ia merasa sangat mengantuk dan pingsan sepanjang jalan tanpa sadar.
Namun, apapun yang terjadi, Aruna tetaplah Aruna. Gadis ini memang unik dan tak ada duanya. Kematian saja bukan hal yang ia takuti. Sejak kecil, sudah begitu banyak kejadian fatal yang menimpanya, membuat nyawanya sering kali berada di ujung tanduk. Tapi sampai detik ini ia masih hidup, dan baginya itu sudah sebuah keajaiban.
Dulu pun Aruna bukanlah gadis biasa. Sejak kecil ia tak bisa diam, adrenalinnya tinggi luar biasa. Hobinya saja aneh-aneh, salah satunya berkuda dan memanjat atap genteng rumah, berjalan-jalan santai di sana layaknya di jalan raya. Pemandangan itu selalu membuat orang-orang yang melihatnya bergidik ngeri dan jantungnya copot, takut kalau-kalau ia terpeleset dan jatuh.
Dan yah, beberapa kali dia terpeleset dari atap. Jatuh, masuk rumah sakit. Bahkan pernah di amuk oleh Kuda, sampai tulangnya patah, tapi sampai detik ini dia masih hidup, itu memang sebuah keajaiban.
Maka dari itu, saat tahu kalau Zayn adalah bos mafia, Aruna sama sekali tidak gemetar. Justru ia berpikir santai, 'Kalau aku mati di tangan dia, ya itu takdir. Ngapain juga harus takut sama mati? Lagian semua orang ujungnya pasti mati juga.'
"Zayn... ayo dong, aku lapar tauuu..." pinta Aruna lagi, kali ini suaranya dibuat-buat memelas.
Zayn menghela napas panjang, tapi matanya penuh kekaguman.
"Hah... baiklah. Aku akan siapkan apa yang kamu inginkan."
"Sambil menunggu makanan datang, aku mau jalan-jalan keliling sini, boleh ya?" tanya Aruna tiba-tiba, matanya berbinar ingin tahu isi tempat persembunyian itu.
"Aruna... kamu ini sadar atau tidak, jika aku sedang menculikmu?" tanya Zayn heran setengah kesal.
"Alah... jangan kaku gitu dong!" Aruna melambaikan tangan santai. "Kan aku mau bebas dulu sebelum mati. Siapa tau besok udah gak ada kesempatan."
Mendengar jawaban ceplos itu, Zayn kembali tertawa terbahak-bahak. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir wanita di hadapannya ini.
"Yasudah yasudah... jalan-jalan saja sana," ucapnya akhirnya menyerah sambil menggelengkan kepala. "Tapi janji jangan kabur."
"Gak bakalan kabur kok," jawab Aruna santai sambil berjalan mondar-mandir. "Lagian ngapain juga melakukan hal yang sia-sia."
Zayn tersenyum lebar. Ia sangat terkesan dengan kewarasan, keyakinan diri, dan keberanian Aruna. Selama hidupnya yang penuh dengan kekejaman dan kepalsuan, Zayn tak pernah bertemu dengan gadis seunik ini. Kebanyakan wanita lain pasti sudah menangis, pingsan, atau merayunya agar dilepaskan.
Tapi Aruna? Ia justru bersikap seolah sedang menginap di hotel bintang lima. Dan hal itulah yang membuat obsesi Zayn padanya semakin menjadi-jadi.
***