"Tanda tangani ini dan pergi! Kau hanya alat untuk menghancurkan ayahmu," ucap Elkan dingin.
Lima tahun lalu, Siska diusir dalam keadaan mengandung. Kini, ia kembali bukan sebagai istri yang lemah, melainkan sebagai pesaing bisnis yang siap menghancurkan kerajaan Elkan.
Namun, saat Siska mulai menyerang, ia menemukan rahasia kelam: Elkan sengaja menjadi iblis agar Siska tetap hidup. Di antara dendam dan cinta yang belum padam, siapakah musuh yang sebenarnya?
"Aku kembali untuk menghancurkanmu, Elkan. Bukan untuk jatuh ke pelukanmu lagi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUNGAN DI UJUNG DERMAGA
Deru mesin mobil SUV hitam itu meraung memecah kesunyian kawasan pelabuhan lama Tanjung Priok. Ban mobil mencicit keras saat Roy membanting setir, berhenti tepat di depan bangunan seng raksasa bertuliskan 'Gudang 4' yang tampak terbengkalai. Hujan gerimis mulai turun, menambah kesan kelam malam itu.
Belum sempat mobil berhenti sempurna, Jessica sudah mendorong pintu. Angin laut yang dingin menerpa wajahnya, namun panas amarah di dadanya jauh lebih membakar. Di belakangnya, Elkan turun dengan langkah yang dipaksakan tegak. Wajahnya pucat pasi, dan keringat dingin membasahi pelipisnya, namun sorot matanya sekeras karang.
"Tuan, Nona, tim keamanan kita dan polisi sedang mengepung area belakang. Jangan masuk sendirian," bisik Roy waspada, memegang sebuah alat kejut listrik di tangannya.
"Aku tidak bisa menunggu, Roy. Anakku ada di dalam," jawab Jessica dingin. Ia melangkah mantap, mendobrak pintu besi gudang yang sudah berkarat hingga terbuka lebar.
BRAK!
Suara hantaman pintu menggema di dalam ruangan yang luas dan pengap itu. Di tengah-tengah gudang, di bawah sorotan satu-satunya lampu gantung yang remang-remang, Arlan terikat di kursi. Kepala bocah kecil itu terkulai lemas, tampaknya kembali tak sadarkan diri akibat kelelahan dan rasa takut.
"Arlan!" pekik Jessica, hampir saja berlari ke depan jika Elkan tidak segera menahan lengannya.
"Tunggu, Siska. Ini jebakan," bisik Elkan, suaranya berat dan terengah-engah. Matanya menyapu kegelapan di sekeliling mereka.
"Hahaha! Tepat waktu seperti biasa, sepupuku yang hebat!"
Suara tepuk tangan yang menggema memecah keheningan. Gilang Pratama muncul dari balik tumpukan kontainer tua. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah pisau lipat yang berkilau tajam, sementara tangan kirinya memegang sebuah jeriken berisi bensin. Bau bahan bakar mendadak menyengat indra penciuman mereka.
"Gilang! Lepaskan anakku! Kau sudah kalah, polisi sudah mengepung tempat ini!" teriak Jessica, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.
"Kalah? Siapa yang kalah?!" Gilang berteriak gila, matanya melotot lebar. Ia menumpahkan cairan bensin itu ke sekeliling kursi tempat Arlan terikat. "Aku tidak peduli tentang polisi! Jika aku harus masuk penjara atau mati malam ini, aku akan memastikan anak haram kalian ini ikut denganku ke neraka!"
"Gilang, hentikan!" Elkan melangkah maju, melepaskan pegangannya dari Jessica. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya, namun ia terus bergerak. "Urusanmu adalah denganku. Kau membenciku, bukan? Kau ingin Pratama Group? Aku bisa memberikan seluruh sisa aset pribadiku atas namamu. Tapi biarkan anak itu pergi. Dia tidak tahu apa-apa!"
Gilang menatap Elkan dengan pandangan penuh penghinaan. "Aset pribadi? Kau pikir aku bisa hidup tenang dengan uang sedekahmu setelah ayahku membusuk di sel?! Tidak, Elkan! Aku ingin melihatmu merasakan kehilangan yang sesungguhnya. Aku ingin melihatmu mati perlahan karena penyesalan!"
Dengan gerakan cepat, Gilang menyalakan sebuah korek api gas di tangan kirinya. Api kecil itu menyala, bergoyang ditiup angin laut yang masuk dari celah dinding seng.
"Jangan!" teriak Jessica histeris.
"Mati kalian semua!" Gilang bersiap melemparkan korek api itu ke genangan bensin di bawah kursi Arlan.
Dalam pecahan detik yang sangat krusial itu, Elkan mengabaikan seluruh rasa sakit di tubuhnya. Menggunakan sisa kekuatan terakhir dari denyut jantungnya yang kian melemah, Elkan melompat menerjang tubuh Gilang sebelum korek api itu menyentuh lantai.
BRUK!
Kedua pria itu berguling di atas lantai semen yang kotor. Korek api di tangan Gilang terpental jauh, padam sebelum sempat menyulut bensin.
"Keparat kau, Elkan!" Gilang mengumpat, ia mengayunkan pisau lipatnya secara membabi buta.
SRET!
Pisau itu menggores lengan jaket Elkan hingga merobek kulitnya, mengeluarkan darah segar. Namun, Elkan seolah tidak merasakan sakit. Ia mencengkeram pergelangan tangan Gilang dengan kekuatan penuh, mencoba merebut pisau tersebut.
Sementara kedua pria itu bergulat, Jessica tidak membuang waktu. Ia berlari kencang menuju ke arah Arlan. Dengan tangan gemetar, ia membuka ikatan tali yang melilit tubuh kecil putranya.
"Arlan... Arlan, bangun, Sayang. Ini Mama," Jessica menepuk-nepuk pipi Arlan dengan panik.
Arlan membuka matanya sedikit, melihat wajah ibunya yang basah oleh air mata. "Mama..." bisiknya lemah, langsung menyandarkan kepalanya yang pusing ke bahu Jessica.
"Iya, ini Mama. Kita pulang, Sayang," Jessica menggendong tubuh ringkih putranya, bersiap untuk mundur ke arah pintu keluar di mana Roy sudah bersiap menyambut mereka.
Namun, di belakang mereka, situasi semakin kritis. Elkan berhasil merebut pisau dari tangan Gilang dan melemparkannya menjauh, namun hantaman fisik yang bertubi-tubi membuat jantungnya mengalami syok berat. Wajah Elkan mendadak berubah menjadi biru keunguan. Ia melepaskan cengkeramannya dari Gilang, memegangi dadanya dengan kedua tangan sembari berlutut di lantai, megap-megap mencari oksigen yang seolah hilang dari paru-parunya.
"Hahaha! Rasakan itu! Mati kau, Elkan!" Gilang yang melihat Elkan tumbang segera bangkit. Ia melihat sebuah balok kayu besar di dekatnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, bersiap untuk menghantam kepala Elkan yang sudah tidak bisa mempertahankan diri.
"ELKAN! AWAS!" teriak Jessica memutar tubuhnya.
BANG! BANG!
Dua suara tembakan menggema keras di dalam gudang. Polisi bersama tim keamanan Wijaya Capital akhirnya mendobrak masuk dari pintu belakang. Dua timah panas bersarang tepat di kaki dan bahu Gilang, membuat pria gila itu menjerit kesakitan dan ambruk ke lantai, melepaskan balok kayunya sebelum sempat menyentuh Elkan. Petugas kepolisian dengan cepat merangsek maju dan meringkus Gilang yang mengerang kesakitan.
"Tuan Elkan!" Roy berlari mendekat, namun tubuh tegap Elkan sudah terlanjur ambruk ke samping, tidak sadarkan diri di atas lantai semen yang dingin.
Jessica menurunkan Arlan dengan hati-hati ke dalam dekapan Roy. "Roy, bawa Arlan ke mobil! Jangan biarkan dia melihat ini!" perintahnya dengan suara yang pecah.
Jessica berhamburan mendekati Elkan, membalikkan tubuh suaminya dan memangku kepalanya. Tangan Jessica meraba saku celana Elkan dengan panik, mencari tabung obat kecil yang sempat ia lihat di buku catatan medis. Ia menemukannya, membuka tutupnya dengan gigi, dan mencoba memasukkan sebutir obat darurat itu ke bawah lidah Elkan yang sudah membeku.
"Elkan... bangun... Arlan sudah aman. Kau sudah berjanji padaku untuk menjawab semua pertanyaannya," ratap Jessica, air matanya menetes deras menimpa wajah pucat Elkan. "Jangan tinggalkan kami lagi... aku mohon, Elkan... aku mencintaimu..."
Di tengah kegelapan malam pelabuhan dan suara sirine polisi yang bersahutan, Jessica memeluk erat tubuh suaminya yang tak bergerak, bertaruh sekali lagi dalam ketidakpastian antara takdir kehidupan dan bayang-bayang kematian yang kian erat mencengkeram.