NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan Pertama Berupa Angka

Pukul sembilan pagi, lantai tiga puluh dua Gedung Tamara Tower yang terletak di jantung kawasan bisnis Sudirman tampak begitu sunyi.

Kantor sementara Van Doren Group yang disewa oleh Arka didesain dengan konsep minimalis modern yang sangat kaku. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca tebal yang menampilkan panorama pencakar langit Jakarta yang diselimuti polusi tipis, sementara interiornya didominasi oleh warna abu-abu arang dan marmer hitam. Tidak ada dekorasi yang berlebihan; hanya ada sebuah meja kerja eksekutif berukuran raksasa, beberapa kursi kulit mahal, dan aroma kopi arabika yang pekat.

Elena Van Doren duduk di balik meja kerja tersebut. Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru dongker (navy blue) dengan potongan bahu yang tegas, dipadukan dengan kemeja sutra putih berkerah tinggi.

Penampilannya memancarkan citra seorang wanita karier kelas atas yang tidak mengenal kompromi. Di hadapannya, sebuah komputer tablet menampilkan draf kontrak investasi yang telah dimodifikasi oleh tim hukum rahasia Arka.

Pintu kaca ruangan itu bergeser terbuka setelah ketukan dua kali. Budi melangkah masuk dengan ekspresi wajahnya yang selalu tenang dan profesional.

"Madam Elena, Tuan Rendy Pratama dari Adiguna Group sudah tiba di lobi bawah bersama tim keuangannya," lapor Budi seraya membungkuk hormat. "Mereka datang lima belas menit lebih awal dari jadwal."

Elena tidak langsung mendongak. Jemarinya yang lentik mengetuk permukaan meja marmer dengan ritme yang teratur. "Apakah dia membawa Lisa?" tanya Elena, nada suaranya datar namun sarat akan selidik.

"Tidak, Madam. Sesuai dengan instruksi halus yang saya sampaikan kepada sekretarisnya kemarin, Tuan Rendy hanya membawa Direktur Keuangan dan kepala tim legalnya. Nona Lisa tampaknya ditinggalkan di kantor pusat mereka."

Elena menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman dingin yang mengerikan. "Bagus. Rendy mungkin rakus, tapi dia tidak bodoh. Dia tahu wanita simpanannya itu hanya akan merusak reputasinya di depan investor profesional. Biarkan mereka naik, Budi. Berikan mereka waktu lima menit untuk menunggu di ruang rapat agar mental mereka sedikit tertekan."

"Baik, Madam." Budi berbalik dan keluar dari ruangan.

Di balik dinding kaca yang memisahkan ruang kerja Elena dengan ruang rapat utama, Arka berdiri di kegelapan koridor kecil yang terhubung dengan ruang monitor rahasia.

Pria itu mengawasi segalanya melalui kamera CCTV beresolusi tinggi yang terpasang tersembunyi di sudut-sudut ruangan. Di tangannya terdapat secangkir kopi hitam tanpa gula. Ia tidak akan menampakkan diri hari ini. Perannya sebagai penguasa bursa saham mengharuskannya tetap berada di dalam bayangan, membiarkan Elena menjadi ujung tombak yang mengoyak pertahanan Rendy.

Lima menit kemudian, Rendy Pratama melangkah masuk ke ruang rapat utama dengan langkah yang sengaja dibuat tegap dan percaya diri. Di belakangnya, dua orang pria paruh baya berpakaian rapi membawa koper kerja kulit tebal, tampak sedikit tegang melihat kemegahan kantor Van Doren Group yang terkesan sangat eksklusif.

Rendy mengenakan setelan jas hitam terbaiknya. Begitu melihat Elena masuk dari pintu samping dengan aura kepemimpinan yang begitu kuat, Rendy segera bangkit dari kursinya dan melebarkan senyumnya.

"Selamat pagi, Madam Elena," sapa Rendy dengan suara baritonnya yang penuh karisma. "Terima kasih atas kesempatan yang Anda berikan hari ini. Saya memastikan bahwa tim saya membawa seluruh data paling komprehensif mengenai Adiguna City."

Elena berjalan ke ujung meja rapat, menduduki kursi utama tanpa menawarkan jabat tangan terlebih dahulu. Sikapnya yang dingin dan menjaga jarak ini sengaja dipelihara untuk membuat Rendy merasa berada di posisi yang inferior, posisi seorang pemohon yang membutuhkan bantuan.

"Selamat pagi, Tuan Rendy. Silakan duduk," sahut Elena ketus. Ia melirik sekilas ke arah dua pria di belakang Rendy. "Saya harap orang-orang yang Anda bawa hari ini benar-benar mengerti tentang matematika bisnis, bukan sekadar pandai menyusun presentasi yang indah."

Rendy berdeham kecil, merasa sedikit tersentil namun ia segera menyembunyikannya dengan tawa kecil yang dipaksakan. "Tentu saja, Madam. Ini adalah Tuan Hendra, Direktur Keuangan kami, dan Tuan Januar dari divisi legal. Kami sangat siap."

Selama satu jam berikutnya, ruang rapat itu dipenuhi oleh proyeksi angka, grafik pertumbuhan, dan analisis pasar yang dipaparkan oleh tim Rendy.

Adiguna City digambarkan sebagai proyek masa depan yang akan menghasilkan keuntungan hingga tiga ratus persen dalam waktu lima tahun. Rendy berbicara dengan sangat fasih, matanya berapi-api saat menjelaskan potensi keuntungan yang akan didapatkan oleh Van Doren Group jika menanamkan modal di sana.

Elena mendengarkan seluruh paparan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Di dalam hatinya, ia merasa muak sekaligus ingin tertawa. Ia tahu betul setiap jengkal tanah di proyek itu.

Dialah yang dulu terjaga hingga larut malam, membuat draf konsep awal, menganalisis kelayakan lingkungan, dan bahkan meyakinkan pemilik tanah adat untuk menjual lahan mereka dengan harga yang adil saat Rendy masih belum mengerti cara bernegosiasi yang benar. Kini, pria itu mempresentasikan hasil kerja keras Alana seolah-olah itu adalah murni buah pemikiran jeniusnya sendiri.

Ketika presentasi berakhir, Rendy menatap Elena dengan penuh harap. "Jadi, bagaimana menurut Anda, Madam Elena? Angka-angka ini tidak berbohong. Proyek ini adalah emas mentah yang hanya membutuhkan sedikit sentuhan likuiditas untuk bersinar di bursa saham."

Elena perlahan menutup berkas fisik yang ada di depannya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, menatap Rendy dengan pandangan yang menusuk.

"Angka yang Anda tunjukkan memang sangat indah, Tuan Rendy. Terlalu indah, hingga membuat saya sedikit curiga," ucap Elena, membuat senyum di wajah Rendy perlahan memudar.

"Curiga? Apa maksud Anda, Madam?" tanya Rendy, mendadak merasa ada setitik keringat dingin yang muncul di tengkuknya.

Elena memberi kode kepada Budi yang berdiri di sudut ruangan. Budi segera membagikan sebuah draf kontrak baru yang bersampul hitam kepada Rendy dan timnya.

"Van Doren Group tidak pernah menginvestasikan dana tanpa jaminan keamanan yang mutlak," ujar Elena, suaranya terdengar sangat berwibawa di dalam ruangan yang sunyi itu. "Dua triliun rupiah adalah angka yang kecil bagi konsorsium kami, namun kami tidak suka membuang uang kepada perusahaan yang memiliki masalah transparansi."

Hendra, Direktur Keuangan Adiguna Group, dengan cepat membuka dokumen tersebut. Matanya langsung membelalak saat membaca halaman ketiga. Ia berbisik panik kepada Rendy, "Tuan, lihat klausul ini. Mereka meminta audit internal menyeluruh."

Rendy merebut dokumen itu dari tangan Hendra. Ia membaca baris demi baris dengan dahi yang berkerut dalam. Di sana tertulis dengan sangat jelas: [Van Doren Group berhak menunjuk auditor independen internasional untuk memeriksa seluruh aliran dana masuk dan keluar Adiguna Group selama enam bulan terakhir, termasuk asal-usul modal awal proyek Adiguna City, sebelum termin pertama dana investasi dicairkan.

]

Jantung Rendy berdegup kencang seperti dipukul palu besi. Audit internal menyeluruh. Itu berarti para auditor asing itu akan mengendus aliran dana dari klaim asuransi jiwa atas nama Alana Adiguna yang baru cair dua minggu lalu.

Aliran dana sebesar lima puluh miliar rupiah yang ia gunakan secara ilegal untuk membayar utang vendor pertama agar proyek tidak disegel. Jika asal-usul dana itu dipertanyakan, atau jika ada indikasi bahwa klaim asuransi tersebut melibatkan investigasi kriminal yang belum selesai, seluruh reputasinya akan hancur.

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!