Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Asing
Ario menarik tangannya kembali, seolah tersengat oleh kelembutan Helen. Ia kembali ke mejanya dan memutar salah satu layar laptop ke arah Helen. Di sana terlihat ribuan baris kode dan grafik yang bergerak cepat.
"Lihat ini," kata Ario. "Beatrix pikir dengan mengirim kita ke Aruba, dia memutus aksesku. Dia tidak tahu bahwa aku telah membangun server bayangan di Singapura setahun yang lalu sebagai antisipasi."
"Apa yang kau lakukan?" tanya Helen, mencoba mengerti kerumitan di layar itu.
"Aku sedang melakukan serangan balik secara gerilya," jelas Ario, matanya kembali berkilat penuh tekad. "Saat dia sibuk menghapus nama papamu secara fisik di Jakarta, aku sedang menguras dana taktisnya melalui celah di sistem perbankan Belanda yang dia banggakan. Aku juga sedang menghubungi beberapa mantan jenderal yang dulu berhutang budi pada papamu."
Helen tertegun. "Mereka mau membantu?"
"Mereka tidak suka dengan cara Beatrix membawa orang-orang Eropa untuk menguasai pasar domestik," jawab Ario. "Nasionalisme mereka terusik. Dan aku menggunakan nama 'Nyonya Helen Diangga' sebagai simbol bahwa pewaris sah Kusuma masih ada dan sedang mengumpulkan kekuatan."
Helen merasakan sebuah tanggung jawab besar tiba-tiba hinggap di pundaknya. "Jadi, pernikahannya... kau menggunakannya untuk ini?"
Ario terdiam sejenak, menatap mata Helen dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan. "Pernikahan itu adalah satu-satunya cara agar kau memiliki legalitas untuk menuntut kembali asetmu. Tanpa status istriku, kau hanyalah buronan kasus pencurian perhiasan yang dia buat. Dengan status ini, kau adalah mitra dari Diangga Group. Kita adalah satu entitas hukum sekarang."
"Hanya entitas hukum?" tanya Helen lirih, ada nada kecewa yang tak mampu ia sembunyikan.
Ario tidak menjawab pertanyaan itu. Ia kembali menghadap layarnya. "Pergilah istirahat, Helen. Besok kita akan mulai melakukan panggilan video rahasia dengan para pemegang saham yang mulai tidak puas. Kau harus tampil sebagai seorang ratu yang sedang dalam pengasingan, bukan sebagai korban yang malang."
Helen berjalan menuju ranjang besar yang dihiasi kelopak mawar berbentuk hati—sebuah pemandangan yang terasa sangat ironis. Ia merebahkan dirinya, mendengarkan deru ombak Karibia yang menghantam pantai di kejauhan, berpadu dengan suara ketikan keyboard Ario yang tak kunjung berhenti.
Di Aruba yang indah ini, Helen menyadari bahwa ia terjebak dalam dua dunia. Dunia keindahan semu yang ditawarkan Karibia, dan dunia perang dingin yang dikobarkan suaminya. Ia adalah tawanan dalam penjara emas, menunggu saat yang tepat untuk membakar penjara itu dan kembali ke Jakarta untuk merebut kembali apa yang menjadi haknya.
****
Sementara di Jakarta, Beatrix van Amgard tertawa sambil menuangkan sampanye di atas meja yang dulu menjadi tempat Aditya Kusuma bekerja. Ia merasa telah menang sepenuhnya. Ia tidak tahu bahwa di ujung dunia, di sebuah hotel mewah, sepasang pengantin baru sedang merajut jaring-jaring kematian untuknya, satu baris kode demi satu baris kode.
"Nikmatilah malammu, Helen," bisik Ario tanpa menoleh, suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin laut. "Karena saat kita kembali nanti, tidak akan ada lagi pasir putih. Hanya akan ada darah dan api."
****
Pagi di Jakarta tak pernah benar-benar bersih. Polusi menggantung seperti tirai kelabu di atas gedung Van Amgard International, namun di dalam kantor utama, segalanya berkilau dengan kedinginan baja.
Bambang, pria yang kini menjadi anjing penjaga paling setia bagi Beatrix, masuk dengan langkah terburu-buru. Di tangannya terdapat laporan intelijen siber. Ia tampak ragu, keringat dingin membasahi pelipisnya saat melihat sang Nyonya Besar tengah menyesap kopi pahitnya sambil menatap peta distribusi tekstil global.
"Nyonya," suara Bambang tertahan. "Ario Diangga... dia tidak sedang berbulan madu. Tim IT kita mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan dari server bayangan di Singapura. Dia sedang mencoba menyusup ke aliran dana taktis kita di Belanda. Dia juga mulai menghubungi para jenderal dan pemegang saham lama."
Bambang mengira Beatrix akan meledak dalam amarah. Ia bersiap untuk melihat gelas kristal itu melayang ke arahnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Beatrix menurunkan cangkirnya perlahan. Sebuah senyum tipis—senyum yang lebih mengerikan daripada kemarahan—muncul di wajahnya yang pucat.
"Ario, Ario... kau pikir kau adalah satu-satunya orang yang tahu cara bermain di pasar gelap Eropa?" gumam Beatrix.
Ia tidak membuang waktu. Dengan gerakan anggun, ia meraih telepon satelitnya. Ia menekan nomor internasional dengan kode negara +31. Begitu sambungan terhubung, bahasa Belanda yang cepat, tajam, dan penuh otoritas meluncur dari bibirnya, sebuah bahasa yang terdengar seperti rentetan tembakan bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Hallo, Pieter? Hier Beatrix," (Halo, Pieter? Di sini Beatrix,) suaranya rendah namun penuh penekanan. "We hebben een kleine rat in Jakarta die denkt dat hij de banken in Amsterdam kan omzeilen. Ik heb je nodig om de muren op te trekken. Sluit alle achterdeurtjes. Zorg ervoor dat zijn investeringen in Europa als 'terroristische financiering' worden aangemerkt." (Kita punya tikus kecil di Jakarta yang pikir dia bisa mengakali bank di Amsterdam. Aku butuh kau membangun tembok. Tutup semua pintu belakang. Pastikan investasinya di Eropa ditandai sebagai 'pendanaan teroris'.)
Beatrix berbicara hampir tiga puluh menit. Ia sedang merajut jaring-jaring hukum internasional untuk mencekik leher finansial Ario. Ia sedang memastikan bahwa ke mana pun Ario berlari di dunia digital, ia akan membentur tembok besi perbankan Belanda.
"Dank je, Pieter. De koningin vergeet haar vrienden nooit," (Terima kasih, Pieter. Sang ratu tak pernah melupakan kawan-kawannya,) tutup Beatrix sambil memutus sambungan.
Ia menoleh ke arah Bambang yang masih mematung. "Biarkan dia bermain-main dengan komputernya di Aruba. Dia sedang membangun istana dari pasir, sementara aku sedang membangun benteng dari beton. Bagaimana dengan Helen?"
"Nona Helen... dia tampak sering keluar hotel sendirian, Nyonya. Ario terlalu sibuk dengan laptopnya," lapor Bambang.
Beatrix tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat puas. "Bagus. Kesepian adalah racun yang paling efektif bagi wanita lemah seperti Helen. Biarkan dia mencari pelipur lara. Itu akan membuat kehancurannya jauh lebih dramatis."
****
Ribuan mil dari kemelut Jakarta, Aruba menawarkan surga yang menyakitkan bagi Helen. Matahari Karibia yang terik menyengat kulitnya yang pucat, namun rasa perih di kulit itu tak sebanding dengan kekosongan di hatinya.
Pagi ini, Ario kembali menguncinya secara emosional. Pria itu nyaris tak tidur, matanya merah menatap barisan kode, jari-jarinya menari di atas keyboard seolah sedang mengetik surat kematian bagi musuh-musuhnya. Saat Helen mencoba mengajaknya sarapan di tepi pantai, Ario hanya menjawab singkat tanpa menoleh: "Jangan menggangguku, Helen. Aku sedang menyelamatkan hidup kita."
Kata-kata itu terasa seperti usiran.
Helen akhirnya memutuskan untuk berjalan sendiri. Ia mengenakan gaun pantai linen tipis berwarna biru langit dan topi lebar. Ia menyusuri bibir Pantai Eagle, tempat di mana pohon-pohon Divi-divi yang ikonik tumbuh meliuk mengikuti arah angin. Pasir di sini begitu putih dan lembut, seolah-olah ia sedang berjalan di atas awan.
Namun, air matanya jatuh juga. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas. Ia memiliki suami, tapi suaminya adalah seorang prajurit yang sedang berperang, bukan seorang kekasih yang mendekapnya dalam duka.
Tiba-tiba, embusan angin kencang menerbangkan topi lebarnya.
"Oh, tidak!" seru Helen saat topinya berguling-guling di atas pasir menuju ke arah laut.
Sebelum topi itu sempat terseret ombak, sebuah tangan yang kuat dan besar menangkapnya dengan sigap. Helen berhenti melangkah, napasnya sedikit terengah.
"Aku rasa ini milikmu, Nona?" sebuah suara bariton yang lembut, dengan aksen Eropa yang sangat halus, menyapa telinganya.
Helen mendongak. Di hadapannya berdiri seorang pria kulit putih yang tampak sangat kontras dengan Ario. Pria itu memiliki rambut pirang gelap yang berantakan tertiup angin, mata berwarna hijau zamrud yang jernih, dan senyuman yang begitu hangat hingga seolah mampu mencairkan es di kutub. Ia mengenakan kemeja putih longgar yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kulit yang kecokelatan sehat terkena matahari.
"Terima kasih," ucap Helen gugup sambil menerima topinya. "Sangat baik darimu."
"Sama-sama. Aku Andre, Andre Willson," pria itu mengulurkan tangan. Genggamannya hangat dan lembut, tidak keras dan menuntut seperti genggaman Ario. "Kau tampak sedang membawa beban dunia di bahumu, padahal kau sedang berada di pulau paling bahagia di dunia."