NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Derai Kepedihan

"Oh, tentu saja!" Helen tertawa getir, tawa yang penuh luka. "Bagimu, setiap orang adalah ancaman. Setiap kebaikan adalah konspirasi. Kau terlalu sibuk berperang dengan hantu-hantu masa lalumu sampai kau lupa bahwa aku adalah manusia, bukan salah satu baris kode di laptopmu!"

Helen mencoba melewati Ario, namun tangan kuat pria itu mencengkeram lengannya. Tidak menyakitkan, namun sangat posesif.

"Lepaskan aku, Ario," desis Helen.

"Tetap di sini, Helen. Ini demi keselamatanmu," ucap Ario, matanya menatap dalam, mencari kepatuhan.

"Keselamatanku? Atau egomu?" Helen menyentakkan lengannya hingga terlepas. "Kau takut aku menemukan kebahagiaan yang tidak ada hubungannya dengan strategi balas dendammu? Kau mengekangku karena kau tidak tahu cara mencintaiku tanpa mengendalikan aku!"

Helen menyambar ponselnya dan berjalan keluar, membanting pintu suite dengan keras. Ario terpaku di tengah ruangan, tangannya masih mengepal di udara. Ia ingin mengejar, namun sebuah alarm di laptopnya berbunyi nyaring—serangan siber baru dari Jakarta sedang menghantam pertahanannya. Ia terjepit di antara cinta yang tak bisa ia ungkapkan dan perang yang tak boleh ia kalahkan.

****

Di belahan bumi yang lain, di kantor Van Amgard International yang dingin, Beatrix sedang melakukan sebuah ritual penghancuran. Ia berdiri di depan sebuah brankas besar milik Aditya yang baru saja berhasil dibuka paksa oleh ahli kunci dari Jerman.

Di dalamnya bukan hanya emas atau surat berharga. Di dalamnya tersimpan sejarah. Foto-foto pernikahan Aditya dengan ibu kandung Helen, surat-surat cinta yang ditulis tangan, hingga koleksi kain batik kuno yang ditenun khusus untuk kelahiran Helen.

Beatrix mengambil selembar kain batik tulis motif Parang yang halus. Kain itu adalah simbol kekuasaan dan perlindungan dalam budaya Jawa, budaya yang selalu ia benci karena ia anggap terlalu lembek.

"Bawa semua ini ke halaman belakang," perintah Beatrix pada Bambang. "Bakar. Jangan sisakan sehelai benang pun."

"Tapi Nyonya," Bambang ragu. "Ini barang antik. Nilainya miliaran—"

"Geld is niet alles, Bambang," (Uang bukan segalanya, Bambang,) potong Beatrix dengan nada jijik. "Identiteit is alles. Als Helen terugkomt, mag ze niets vinden. Geen herinneringen, geen wortels. Ze moet een vreemde zijn in haar eigen huis." (Identitas adalah segalanya. Saat Helen kembali, dia tidak boleh menemukan apa pun. Tidak ada kenangan, tidak ada akar. Dia harus menjadi orang asing di rumahnya sendiri.)

Beatrix berjalan menuju meja kerja kaca miliknya. Di sana, ia sedang merancang dokumen hukum baru. Ia akan menggabungkan Van Amgard International dengan konsorsium Eropa, sebuah langkah yang akan secara otomatis menghapus sisa-sisa saham yang dimiliki oleh Helen. Ia memastikan bahwa saat Helen menginjakkan kaki di Jakarta nanti, ia tidak akan memiliki akses bahkan ke makam ayahnya sekalipun.

"Biarkan dia bermain-main dengan pria pirang itu di Karibia," gumam Beatrix sambil menyesap anggur merahnya yang sewarna darah. "Semakin dia jatuh cinta, semakin mudah bagiku untuk menghancurkannya. Cinta adalah lubang hitam bagi kecerdasan."

****

Helen melangkah keluar ke lobi hotel, napasnya masih memburu karena emosi. Saat ia melihat Andre Willson berdiri di dekat mobil jeep terbuka, dengan kacamata hitam dan senyum yang menenangkan, ia merasa seolah-olah baru saja keluar dari gua yang gelap menuju cahaya matahari.

"Kau tampak... sedang berperang dengan badai," sapa Andre lembut saat Helen mendekat. Ia membukakan pintu mobil dengan sopan, sebuah gestur yang tak pernah Ario lakukan akhir-akhir ini.

"Aku hanya butuh pergi dari sini, Andre. Sejauh mungkin," jawab Helen lirih.

Jeep itu melaju, membelah angin laut. Andre membawa Helen menjauh dari kawasan turis menuju pantai berkarang di sisi utara pulau yang liar. Di sana, ombak menghantam tebing dengan kekuatan yang murni, menciptakan buih-buih putih yang terbang ditiup angin.

"Suamimu," Andre memulai pembicaraan saat mereka duduk di atas sebuah batu besar, menatap cakrawala. "Dia tampak seperti pria yang membawa beban seluruh Jakarta di pundaknya."

Helen tersentak. "Bagaimana kau tahu?"

Andre menoleh, matanya yang hijau zamrud menatap Helen dengan empati yang begitu dalam, seolah ia bisa merasakan denyut luka di hati wanita itu. "Ada jenis kegelapan tertentu pada pria seperti dia, Helen. Kegelapan yang seringkali menelan orang-orang di sekitarnya. Kau terlalu cerah untuk dibiarkan padam di sisinya."

Helen menunduk, memainkan pasir di sela jemarinya. "Dia melakukan ini untuk melindungiku. Setidaknya itu yang dia katakan."

"Perlindungan tanpa kebebasan adalah penjara, Helen," bisik Andre. Ia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Helen dan mengangkat wajahnya agar mereka bertatapan. "Di sini, di Aruba, kau bukan tawanan siapa pun. Kau adalah Helen. Wanita tercantik yang pernah kutemui di bawah langit Karibia."

Wajah Andre mendekat. Helen bisa merasakan hangat napas pria itu. Untuk sesaat, ia ingin menyerah. Ia ingin melupakan Ario, melupakan dendam, melupakan identitasnya yang hancur. Ia ingin menjadi wanita biasa yang dicintai dengan sederhana, tanpa syarat, tanpa strategi.

Namun, di sela-sela desiran angin, sebuah kilasan ingatan muncul: tangan Ario yang bergetar saat memeluknya di bawah jembatan layang, dan janji pria itu untuk membayarnya dengan nyawa.

Helen menjauhkan wajahnya sedikit, rasa bimbang menyiksa batinnya. "Aku... aku sudah menikah, Andre."

Andre tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. "Pernikahan karena cinta, atau pernikahan karena keadaan, Helen? Aku bisa melihat perbedaannya dari cara matamu meronta setiap kali kau menyebut namanya."

Andre merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya terdapat sebuah gelang perak dengan liontin berbentuk kerang kecil. "Ini untukmu. Sebagai pengingat bahwa kau punya pilihan. Bahwa kau tidak harus selalu mengikuti arus yang diciptakan orang lain."

Helen menerima gelang itu. Dinginnya perak menyentuh kulitnya, namun hatinya justru kian panas oleh konflik. Di satu sisi ada Ario, suaminya yang dingin namun menjadi satu-satunya pelindungnya di tengah badai. Di sisi lain ada Andre, pria asing yang menawarkan kedamaian namun kehadirannya terasa terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan.

Saat matahari mulai terbenam, memberikan rona merah membara di atas laut, Helen menyadari satu hal: ia sedang berdiri di persimpangan jalan yang mematikan.

****

Di Jakarta, Beatrix sedang membakar kenangan masa kecilnya. Di kamar hotel, Ario sedang berperang dengan dunia digital untuk menyelamatkan masa depan mereka. Dan di sini, di pelukan angin Karibia, Helen sedang mempertaruhkan hatinya pada seorang pria yang mungkin saja adalah jebakan terindah yang pernah dikirim oleh takdir—atau oleh musuhnya.

"Ayo kita kembali," ucap Helen pelan. "Suamiku pasti sedang mencariku."

"Tentu," sahut Andre, matanya tetap menatap laut dengan kilat yang misterius. "Tapi ingatlah, Helen... air laut yang tenang seringkali menyimpan arus bawah yang paling kuat."

Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi. Saat Helen melangkah kembali ke dalam kamar hotel, ia menemukan Ario masih di depan laptopnya, namun tubuhnya tampak lunglai. Pria itu menoleh, matanya kosong saat melihat gelang perak baru di pergelangan tangan Helen.

"Kau kembali," ucap Ario datar, suaranya mengandung kepedihan yang disembunyikan dengan buruk.

"Aku kembali," jawab Helen, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya: Bagian mana dari diriku yang sebenarnya sudah pergi?

Di kegelapan malam Karibia, dua orang yang terikat sumpah itu tidur di satu ranjang namun dipisahkan oleh ribuan rahasia. Sementara di Jakarta, api di halaman belakang kantor Van Amgard telah padam, menyisakan abu dari sejarah keluarga Kusuma yang kini terbang ditiup angin malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!