NovelToon NovelToon
Ogah Kalah Taruhan

Ogah Kalah Taruhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fanfic / Enemy to Lovers / Idol / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Idola sekolah
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.

Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.

Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.

Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.

Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.

Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

“Lo?!” seru Yeri nggak nyangka akan lihat Joshua di depannya.

Pelayan yang tadi nganter Yeri langsung memandangnya dengan tatapan tegas.

“Nona, tolong jaga kesopanan. Meskipun kalian seumuran, tetap ingat posisi Anda sebagai tutor.”

Yeri langsung tersadar dan menegakkan badan, pipinya panas karena malu sendiri.

Sementara itu Joshua malah ngakak dengan tatapan antagonis, terlalu sinis banget.

“Gila… dari semua manusia di bumi, kok bisa lo yang jadi tutor gue?” katanya sambil bangun dari tempat tidur, ngambil sebuah map kuning di meja samping. Dia buka isinya foto, nilai rapor, biodata Yeri.

Pelayan membungkuk sopan. “Saya tinggal dulu. Silakan melanjutkan.”

Lalu menutup pintu, ninggalin mereka berdua.

Yeri ngambil napas dalam. “Oke. Kita mulai hari pertama belajar—”

“Enggak.” Joshua langsung motong. “Gue nggak mau.”

Yeri berusaha tetap senyum profesional. “Gue yakin gue bisa bantu nilai lo naik.”

Joshua nyengir remeh. “Gue nggak mau tutor yang isi biodatanya aja nggak lengkap. Kenapa lo kosongin bagian identitas ortu? Lo pikir itu nggak penting?”

Yeri nahan napas, sedikit menunduk. “Itu… nggak perlu. Yang penting nilai akademik gue.”

“Ini apa? Nama lengkap Yeri Marliana L.? Lampu? Lemot? Lumpur? Sok misterius banget.”

“Lo nggak perlu tau, itu juga nggak ada hubungannya sama pelajaran.”

Joshua ngelihat biodata Yeri kayak baca buku aneh yang udah di edit nggak pada tempatnya. “Hah? Aneh banget. Kenapa Marcel bisa nerima lo ya? Cuma gara-gara nilai lo tinggi, gitu? Padahal kita satu sekolah, gue tahu lo bukan siapa-siapa.”

Ada kalimat itu yang nusuk, tapi Yeri cuma menarik kursi dan duduk, mencoba fokus.

“Joshua, kita mulai aja belajarnya ya—”

“Tapi gue lapar.”

Joshua bangkit seenaknya, duduk di meja kecil yang penuh snack mahal, terus mulai ngemil tanpa beban.

Dia lalu ngelirik Yeri. “Ikut sini. Makan aja.”

Yeri geleng cepat. “Nggak perlu. Gue ke sini buat ngajar, bukan makan.”

Joshua berdiri pelan. Melangkah ke arah Yeri dengan cepat. Yeri natap bingung.

Semakin dekat...

Dan makin dekat...

Sampai wajah mereka jaraknya cuma beberapa senti, bikin Yeri refleks mundur tapi kursinya kejepit meja. Jadi dia cuma bisa nahan nafas pas idung itu udah nyentuh idungnya. Bibirnya udah tinggal beberapa senti lagi. Nafas Joshua yang setengah mint dan ada aroma snack tercium kuat.

“Hm.” Joshua menyipit. “Gue cuma mau nanya… lo sama Johan kemarin pergi ke mana?”

Yeri nutup mata, nggak mau jawab.

“Jawab.”

“Gue nggak wajib lapor ke lo.”

Joshua menaikkan alis, wajahnya makin dingin. “Terus kenapa lo nggak sekolah dari kemarin? Sakit? Atau… ngumpet dari gue?”

“Gue nggak mau ngomongin itu.”

“Satu langkah lagi, lo kena cium loh. Bener ngga mau bilang?”

“Ng…nggak…”

Joshua tiba-tiba berdiri tegak dan nyengir puas. Yeri yang dari tadi nahan nafasnya mulai bisa normal bergerak.

“Oke. Kalau gitu gue nelpon Marcel sekarang. Suruh dia pecat lo. Gampang.”

Joshua muter badan, jalan menuju ponselnya yang ada di meja nakas.

Yeri langsung panik. “Jangan dong!”

Joshua udah mau ambil ponsel ketika Yeri refleks nangkep pergelangan tangannya.

Pegangannya kuat sambil gemetar.

“Jangan telpon Pak Marcel,” suara Yeri bergetar tapi tetap tegas. “Tolong… jangan, ya.”

Joshua berhenti. Menoleh pelan, matanya turun melihat tangan Yeri yang masih mencengkeramnya erat.

Sudut bibirnya terangkat. “Kenapa?” tanyanya dengan nada lembut tapi intonasi mengancam.

“Takut banget ya kehilangan kerjaan ini? Butuh duit ya?”

Yeri nggak menjawab. Dia cuma nahan tangan Joshua semakin kencang, berusaha supaya ponsel itu tetap jauh dari jangkauan.

Joshua bergerak setengah selangkah mendekat, suara rendahnya makin menusuk.

“Atau…” dia mendekat lagi sampai aroma napasnya terasa. “Yang lo takutin itu… gue?”

Yeri akhirnya melepaskan pegangan tangannya, tapi tubuhnya tetap gemetar. Dia tarik napas dalam-dalam, mencoba menahan suaranya biar nggak pecah.

“Joshua…” Yeri menunduk, bahunya turun lemas. “Kemarin nenek gue masuk rumah sakit.”

Joshua berhenti bergerak. Senyuman ejekan yang daritadi tersematkan tiba-tiba luntur seketika. Kedua alisnya perlahan naik. Yeri nerusin kalimat barusan, suaranya makin pelan tapi cukup jelas.

“Dokter bilang mungkin perlu operasi. Gue… gue butuh uang buat biaya perawatan. Makanya gue ambil kerjaan ini.”

Yeri menutup mata sebentar, terus tanpa dia sadar lututnya lemes dan dia jatuh berlutut di depan Joshua.

“Please,” suaranya pecah dan bergetar. “Jangan pecat gue. Gue butuh kerjaan ini… banget.”

Joshua kaget setengah mati. Yeri yang dia kenal selama ini sangat keras kepala, suka ngelawan, selalu berdiri tegak walaupun dia injek harga dirinya tiba-tiba berlutut. Kelihatan rapuh.

Dan entah kenapa, itu nggak enak banget buat hati Joshua. Bukan kasihan lebih ke… nggak suka lihat Yeri kayak gitu. Nggak cocok. Joshua ngelirik ke samping, lalu mendesah panjang sambil garuk rambutnya sendiri.

“Udahlah, berdiri cepet!” Nada suaranya datar tapi bukan marah.

Yeri masih nunduk di lantai. “Jadi lo… nggak bakal mecat gue?”

Joshua mendengus. “Untuk hari ini aja.”

Yeri ngangkat kepala cepat. Matanya merah. “Hari ini… aja?”

“Minggu depan jangan dateng lagi,” kata Joshua, langsung to the point.

“Gue nggak butuh tutor kok. Lo cuma nyusahin.”

Kalimatnya pedes, tapi dibanding ancaman barusan, itu tetap terasa kayak kelegaan besar buat Yeri. Walaupun hatinya ngilu, dia tetap ngangguk.

“Oke… gue ngerti.”

Joshua menghela napas sekali lagi, terus dia malah duduk di kursi meja belajarnya. Dia buka buku tugasnya dengan malas, terus ngetuk halamannya.

“Yaudah, buruan.” Dia menatap Yeri sambil menaikkan dagu. “Mulai dari mana?”

Yeri bengong. “Tadi… lo bilang minggu depan gue nggak boleh datang lagi.”

“Ya itu minggu depan,” katanya ketus. “Hari ini gue suruh lo ngajar, ya lo ngajar lah. Jangan banyak mikir.”

Yeri berdiri perlahan, masih agak limbung. Dia bergerak tarik kursi dan duduk di samping Joshua, walaupun jaraknya dijaga ketat.

Joshua membuka pulpen dan ngeliatin halaman rumus Matematika yang jelas-jelas dia nggak ngerti.

“Ini apaan? Kenapa banyak angka?” gumamnya kesal.

Yeri hampir ketawa kecil, tapi dia tahan. “Namanya soal Matematika, Josh.”

Joshua mendelik. “Jangan manggil gue Josh. Panggil gue, sayang.”

“Oke, Joshua.” Yeri mencondongkan tubuh, meski tetap jaga jarak. “Kita mulai dari dasar dulu, biar lo nggak bingung.”

“Ck... Panggil tuan muda aja,” ralat Joshua.

Yeri narik napas dalam sambil tersenyum palsu. “Baik Tuan muda, mari kita mulai.”

Joshua nahan senyum kecil karena udah berhasil jahilin Yeri.

***

Waktu berjalan sampai hampir dua jam, dan Yeri sudah hampir kehabisan suara karena harus ngulang penjelasan berkali-kali. Joshua lebih sering rebahan, nyengir, atau pura-pura tidur daripada dengerin. Tapi anehnya, beberapa kali dia tetap ikutin arahan Yeri… meski sambil ngedumel.

Akhirnya alarm di ponsel Yeri bunyi tandanya waktu belajar selesai. Joshua langsung bangkit, mengambil ponselnya.

“Udah ya. Pulang.” Nadanya ketus, seperti biasa.

“Dan jangan balik lagi. Gue nggak butuh tutor.”

Yeri berdiri sambil rapihin bukunya. Wajahnya lelah, tapi matanya tegas.

“Gue… bakal datang lagi minggu depan.”

Joshua spontan noleh cepat. “Hah? Lo tuli? Gue bilang jangan kesini lagi.”

Yeri menggeleng dengan keras kepala. “Gue butuh kerjaan ini. Jadi meskipun lo usir, gue akan tetap datang.”

Joshua melotot, nggak percaya ada orang yang berani ngomong kayak gitu ke dia. “Lo nggak ngerti bahasa manusia, ya?”

Yeri angkat dagunya sedikit. “Yang gue ngerti, gue harus cari uang buat nenek gue. Itu aja.”

Tiba-tiba Joshua narik tangan Yeri dan ngedorongnya kuat ke arah tembok. Joshua natap Yeri tajam sambil senyum sinis.

“Gue tau caranya agar lo bisa cepet dapet uang banyak,”  katanya dengan nada menggoda. Perlahan Joshua ngedeketin wajahnya ke wajah Yeri.

1
Rosalina Ayyaee
aih ciumannya nah mantep btul🤭
Rosalina Ayyaee
Kesian bgt pdhl lu kaya Yeri, apa gk bsa dikuat2in aj dsono
SuryaNingsih
si Josh ini, nggak ada yg belagak kaya ratu🤣 dia aja yg sensitif bgt
SuryaNingsih
Waduh udh kena kunci 🤣 Kalau udh di cium sih udh pasti ngga bkal bsa lolos
Wulandarry
Lo ngape bahas suami😩 pacaran aja belom kalian
Wulandarry
Hadeuh, romantisnya abis nganu dipukul deh bijinya🤭
Fitri Pujianti
Kenapa tiba2 bahas istri dah😄 Joshua udh mau bawa yeri kawin kah🤭
Fitri Pujianti
Sedapp Joshua dapett first kissnya Yeri🤭
Fitri Pujianti
tadi ngusir🤣 pas udh mau plg malah mo ikutan 🤣 Josh ini gengsi apa moody
Fitri Pujianti
Nggak ditulis jelas emg karena ngga mau ktawan
Yerim Naira
🤣🤣 Malah brantem lagi... tapi emg Josh nya curi ksmpatan itu🤣
Yerim Naira
Yeri lumayan kebawa arus juga🤭
Yerim Naira
Masa lalunya kaya gitu ya ... Hmm trus itu yg bkin Yeri kabur dari rmh
Yerim Naira
ketahuan sama josh😩
Nurani Putri
ngomongnya sih najis ya tapi pas di kokop yg semangat yg blg najis🤭
Nurani Putri
🤣🤣 Duh pdhl va sdh momen itu
Nurani Putri
parah juga masa lalunya😩 tapi elu malah kejebak sama playboy juga Yeri😩
Nurani Putri
Nha kan🤭 mrasq bersalah kan
Wulandarry
udah mulai deket ya, dari rasa kehilangan yg sama. dan jg mba Yeri ud trbuka
ainnuriyati
🤭 Player ini sedang mencoba menggali masa lalu y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!