“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9.Undangan kerajaan dan rencana tersembunyi.
Hari berganti hari, dan kabar mengenai acara istana menyebar bagaikan angin yang berhembus kencang ke seluruh penjuru Kota Avalon.
Seperti yang dijanjikan Ratu Delia, surat-surat undangan mewah bersegel emas kerajaan dikirimkan ke setiap rumah bangsawan, kediaman pejabat tinggi, hingga kaum terpandang di kota ini. Tidak ada satu pun keluarga penting yang terlewatkan.
Namun, kali ini undangan itu memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Biasanya, acara minum teh atau pesta yang diadakan oleh Ratu memang selalu ditujukan untuk kaum wanita—para istri dan putri bangsawan—agar mereka bisa bersilaturahmi, berbagi cerita, dan mempererat tali persaudaraan di antara kalangan elit. Itu adalah tradisi yang sudah berjalan lama dan dianggap sangat wajar.
Tapi kali ini, ada semangat yang berbeda. Ada antisipasi yang tegang di udara.
Meskipun secara resmi tertulis "Pesta Teh Kebersamaan dan Silaturahmi", para orang tua dan para bangsawan tua sudah bisa menebak aroma politik di baliknya. Mereka tahu, ini bukan sekadar acara minum teh biasa. Ini adalah ajang "pemilihan".
Di setiap kediaman keluarga besar, malam-malam sebelum acara dihabiskan dengan persiapan yang mewah dan penuh perhitungan. Gaun-gaun terbaik dikeluarkan dari lemari, perhiasan dipoles hingga berkilau, dan para putri dilatih tata krama agar tampil sempurna di hadapan Ratu dan... kemungkinan besar, di hadapan Pangeran Ka el.
Namun, tidak semua orang tahu niat sebenarnya. Ada yang tahu persis, dan ada yang sama sekali tidak menyangka bahwa takdir besar sedang menunggu di depan mata.
DI KEDIAMAN UTAMA KELUARGA STAR BORN
Malam itu, di ruang makan utama kediaman keluarga Star born yang megah namun kaku. Suasana makan malam terasa formal dan dingin.
Di kepala meja duduk Tuan Star born, pria yang memegang tampuk kepemimpinan keluarga saat ini. Di sebelahnya duduk Nyonya Star born, wanita yang cantik namun wajahnya selalu terlihat angkuh dan penuh perhitungan.
Dan di ujung meja yang lain, duduklah Lae ria Star born yang merupakan saudara kembar Luna ria.
Gadis itu sangat cantik, wajahnya lembut yang mirip dengan mata biru cerah yang membedakan antara Luna ria dengan dirinya.Mata biru ciri khas keturunan asli keluarga Star born. Ia mengenakan gaun malam yang indah, dan setiap gerak-geriknya menunjukkan betapa ia dijaga dan dimanja dengan sangat baik.
Lae ria adalah kebanggaan keluarga. Satu-satunya putri yang dianggap sempurna. Ia memiliki bakat sihir Bumi yang sangat kuat sejak kecil, cerdas, anggun, dan memiliki wajah yang memukau. Baginya, dunia ini seharusnya memang berjalan sesuai keinginannya.
Hanya satu hal yang selalu mengganjal di hati keluarga ini, dan juga di hati Lae ria... yaitu keberadaan saudara kembarnya yang lain.
"Luna ria..." gumam Nyonya Starborn pelan saat pelayan sedang menuangkan sup, suaranya penuh dengan nada bersalah. "Dia pasti sudah besar. Aku sangat merindukan nya."
Tuan Star born mendengus kasar. "Dia pasti baik-baik saja. Setiap bulan kita selalu mengirimkan jatah hidup. Kehadirannya di sini hanya akan membuat malu keluarga kita. Aku tahu kerinduan mu dan rasa bersalah mu, tapi keluarga besar tidak akan setuju membawanya pulang."
Lae ria tersenyum tipis mendengar omongan orang tuanya. Ia merasa muak, setiap makan malam ibunya selalu membicarakan saudaranya itu,padahal saudara kembarnya itu dibuang untuk melindunginya.
“Ibu, tenang saja Luna ria anak yang baik dirinya mengerti alasan kalian membawanya di villa. ”ucap Lae ria dengan berpura-pura simpati.
“Kau benar nak. ”
“Bukan cuma kamu istriku yang merasa bersalah, aku sebagai kepala keluarga tidak kuat untuk melindungi putri kita. ”
Sunyi.
Sunyi yang tidak disukai Lar ria, dengan kesal dia memakan makanan di meja makan.
‘Kenapa?... Mereka selalu membicarakan anak buangan itu. Apa tidak bosan?.’suara hati Lae ria.
Sebenarnya Lae ria tidak merasa sedih, kehilangan.Justru ia merasa senang. Karena dengan begitu, semua perhatian, semua kekayaan, dan semua kehormatan hanya miliknya sendiri.
"Sudahlah Ayah, Ibu...jangan terlalu khawatir pada Luna ria.Setiap kalian membicarakan dia, aku merasa bersalah pada saudariku itu.Sebaiknya kita makan," Ucap Lae ria manja sambil mengaduk supnya.
Nyonya Star born langsung tersenyum melihat putri kesayangannya. "Iya sayang, maafkan Ibu. Kita bahas hal yang menyenangkan saja."
Tiba-tiba, Nyonya Star born teringat sesuatu. Ia menepuk jidatnya pelan.
"Aduh, benar juga! Ada kabar bagus nih. Tadi pagi utusan istana datang membawa undangan."
"Undangan?" tanya Tuan Star born sambil memotong daging. "Undangan apa?"
"Undangan Pesta Teh dari Ratu Delia," jawab Nyonya Star born dengan mata berbinar. "Kata utusan itu, Ratu ingin mengumpulkan semua istri dan putri bangsawan. Katanya sih mau mempererat tali persaudaraan, sekaligus memperkenalkan budaya dan adat istiadat kerajaan. Wah, ini acara bergengsi sekali!"
Lae ria yang tadinya santai, langsung menghentikan gerakan tangannya. Matanya berbinar penuh antusiasme.
"Pesta Teh di Istana? Benarkah, Bu?"
"Benar dong sayang. Dan undangannya ditujukan untuk Ibu dan juga kamu, Lae ria. Karena kamu kan sudah resmi dewasa beberapa bulan lalu. Ini pertama kalinya kamu diundang ke acara resmi istana sebagai wanita dewasa."
Wajah Lae ria langsung berseri-seri. Ia sangat senang. Selama ini ia hanya belajar sihir dan tata krama di rumah, atau pergi ke acara-acara kecil. Tapi ini adalah Istana Avalon! Pusat kekuasaan! Tempat di mana Raja, Ratu, dan Pangeran Ka el tinggal!
"Aku mau pergi! Aku mau pergi!" seru Lae ria tidak sabar, tangannya menepuk-nepuk meja pelan karena kegirangan. "Aku ingin melihat bagaimana kemegahan istana itu! Aku ingin bertemu Ratu Delia yang cantik itu! Dan... dan..."
Lae ria menahan senyumnya, pipinya memerah.
"...Apakah benar Pangeran Ka el akan ada di sana?"
Mendengar nama itu, Tuan Starborn dan istrinya sempat terdiam sejenak. Ada rasa takut yang muncul secara naluriah.
Pangeran Ka el... Legenda hitam itu.
Nyonya Star born tersenyum kecut. "Entahlah sayang. Biasanya Pangeran jarang muncul di acara wanita seperti itu. Tapi siapa tahu... kebetulan lewat atau bagaimana."
Sebenarnya, Tuan dan Nyonya Star born juga sudah mendengar bisikan-bisikan bahwa Ratu mengadakan acara ini karena ingin mencarikan istri baru untuk Ka el. Tapi mereka tidak terlalu memikirkannya secara serius.
Mereka berpikir, 'Ah, itu pasti untuk putri keluarga lain. Keluarga Valerius atau Fair mind mungkin. Lagipula, putri kita Lae ria masih terlalu muda dan berharga untuk dikorbankan pada pria yang membawa sial itu.'
Lalu dengan tegas dan memberikan peringatan. “Lae ria, ayah peringatkan padamu buang jauh-jauh pikiranmu untuk mendekati putra mahkota. Dia itu duda, umur kalian terpaut jauh dan lagi bintang kesepian menaunginya. ”
“Benar yang dikatakan ayahmu, kami tidak mau kamu menjadi korban berikutnya. ”
“Tapi yah—”
“Jika kamu memaksa untuk ikut, jangan berpenampilan mencolok. Ayah tidak mau kamu menjadi daya tarik keluarga istana. ”
Lae ria pun sedikit kecewa, dia pun tertunduk.
“Baik yah. ”
Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa target utama Raja dan Ratu malam ini justru adalah darah daging mereka sendiri.
Malam itu kediaman Star born memerintahkan pelayannya memilihkan pakaian dan dandanan Lae ria biasa tidak mencolok.Baik itu pakaian, perhiasan maupun make up juga tipis tidak menggoda.
Hanya untuk menghindari perhatian keluarga kerajaan, dan menjaga putrinya dari takdir menjadi istri putra mahkota.
Mereka tidak mau putri mereka menjadi korban berikutnya.
KEMBALI KE ISTANA AVALON
Di ruang kerja pribadi Raja Alva, suasana terasa tenang namun penuh strategi.
Raja Alva berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman bunga malam yang diterangi cahaya bulan. Di tangannya ia memegang segelas anggur merah mahal.
Di belakangnya, Ratu Delia sedang duduk di sofa empuk sambil memeriksa daftar nama-nama tamu yang akan hadir.
"Semua undangan sudah tersampaikan dengan baik, Yang Mulia," lapor Ratu Delia pelan. "Semua keluarga besar merespons dengan antusias. Mereka tidak berani menolak undangan kita."
Raja Alva tersenyum miring. "Tentu saja mereka tidak berani. Walaupun mereka takut pada nasib Ka el, tapi mereka juga takut pada kemarahan kita. Bagaimana dengan daftarnya? Apakah nama yang kita targetkan ada di sana?"
Ratu Delia menggeser jarinya di atas kertas itu, lalu berhenti di satu baris nama.
"Ada. Keluarga Star born. Mereka mengkonfirmasi kehadiran. Nyonya Star born dan... Putri Lae ria Star born."
Raja Alva menoleh, matanya menyipit penuh arti.
"Lae ria... Hmm.Aku harap dia menjadi istri terakhir untuk putra kita."
Ratu pun sependapat dengan suaminya, mereka tidak sabar menjadikan pesta teh itu sebagai acara perjodohan untuk Ka el.