Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13: BUNGA MISTERIUS DI TEPI SUNGAI (NERO POV)
౨ৎ
Malam itu, setelah gue ngelihat bunga Wijayakusuma mekar, gue ketiduran di pinggir sungai beralaskan rumput. Di situ, gue dapet mimpi paling aneh sekaligus paling nyata yang pernah mampir ke otak gue.
Gue berada di sebuah padang luas yang warnanya serba abu-abu, nggak ada ujungnya. Di tengah padang itu, berdiri seorang perempuan. Dia nggak pake hijab pink kayak Ainun, tapi seluruh tubuhnya tertutup kain tebal yang teksturnya aneh. Kain itu terbuat dari kulit berwarna kemerahan gelap, kayak warna darah yang udah kering. Kulitnya halus tapi kelihatannya kuat banget, entah kulit hewan apa, gue nggak pernah liat yang kayak gitu di dunia nyata.
Wajahnya ketutup kerudung dari bahan kulit yang sama. Gue coba mendekat, tapi tiap kali gue melangkah, jarak kita kayak nggak pernah berkurang.
"Siapa lo?" teriak gue. Suara gue menggema, hampa.
Perempuan itu nggak bergerak. Tapi tiba-tiba, suaranya masuk ke kepala gue. Bukan lewat telinga, tapi kayak langsung bergema di pikiran. Suaranya berat, kuno, tapi entah kenapa bikin gue merinding sekaligus tenang.
Dia ngomong satu kalimat yang bikin gue langsung terbangun dengan keringat dingin.
"Jangan mencari cahaya di luar rumahmu, Nero. Karena api yang kau butuhkan untuk menghangatkan jiwamu, hanya akan menyala jika kau berani membakar egomu sendiri."
Gue langsung tegak, napas gue tersengal-sengal. Api unggun di depan gue udah tinggal sisa abu yang masih merah. Suasana hutan sepi banget, cuma ada suara air sungai yang ngalir konstan.
Gue pegang kalung salib di leher gue. Tangan gue gemeteran. Pesan itu... "membakar ego"? Apa maksudnya gue harus bener-bener ngelepas jati diri gue sebagai 'Nero sang pembalap' yang sombong? Atau ini soal hubungan gue sama Ainun yang emang butuh pengorbanan ego raksasa gara-gara perbedaan kita?
Perempuan misterius berbaju kulit merah itu berasa kayak peringatan. Dia bukan Ainun, tapi dia seolah tahu jalan buntu yang lagi gue hadapi.
Gue ngelihat ke arah bunga Wijayakusuma tadi. Bunganya udah layu, tertunduk lesu seiring datangnya cahaya subuh yang mulai tipis-tipis muncul di ufuk timur.
"Membakar ego ya..." gumam gue sambil ngusap muka.
Gue berdiri, ngerasain dinginnya embun pagi. Gue tahu, perjalanan gue di desa ini bukan lagi sekadar nunggu hukuman selesai. Mimpi itu kayak kode kalau ada sesuatu yang lebih besar yang harus gue selesaikan di dalam diri gue sendiri sebelum gue berani melangkah lebih jauh ke arah Ainun.
.
.
.
Pagi harinya, gue nggak langsung balik ke rumah Oma. Dengan mata yang masih agak sembab dan baju yang sedikit bau asap api unggun, gue langsung meluncur ke rumah Ustadz Davi. Gue nemuin dia lagi nyiram tanaman di depan rumahnya, masih pake sarung tapi auranya tetep aja kelihatan fresh.
"Dav, gue butuh otak lo," kata gue tanpa basa-basi.
Davi nengok, ngelihat penampilan gue yang berantakan, terus dia senyum maklum. "Abis bertapa di sungai ya? Ayo masuk, kita ngobrol sambil sarapan."
Di teras rumahnya, sambil ditemenin teh anget dan singkong rebus, gue nyeritain semuanya. Tentang bunga Wijayakusuma yang mekar malem-malem, sampai sosok perempuan misterius berbaju kulit kemerahan yang ngomong soal "membakar ego".
Davi dengerin tanpa motong sedikit pun. Matanya fokus, kayak lagi nganalisis data di kepalanya. Setelah gue selesai cerita, dia narik napas dalem.
"Nero, dalam tradisi spiritual, mimpi itu kadang jadi cermin buat kondisi jiwa kita," kata Davi pelan. "Perempuan berbaju kulit merah itu... kulit sering melambangkan perlindungan atau penghalang. Kemerahan bisa berarti gairah, tapi bisa juga berarti peringatan atau pengorbanan."
"Tapi maksud omongannya apa, Dav? Membakar ego?" tanya gue penasaran.
Davi nyruput tehnya bentar. "Gini, Mas. Ego itu adalah rasa 'aku'. Aku yang hebat, aku yang paling bener, aku yang pengen memiliki sesuatu sesuai kemauan aku. Kamu pengen deket sama Ainun, kan? Tapi selama kamu masih pake ego 'Nero si pembalap kota' atau 'Nero yang pengen menaklukkan', kamu nggak akan pernah nyampai ke dia."
Gue tertegun.
"Membakar ego artinya kamu harus siap ngelepas semua atribut sombongmu itu. Kamu harus jadi 'kosong' dulu biar bisa diisi dengan hal baru. Mungkin itu tandanya, kalau kamu mau serius sama sesuatu yang suci kayak Ainun atau jalannya, kamu nggak bisa bawa diri kamu yang lama. Kamu harus 'lahir baru' lewat api perjuangan batin kamu sendiri."
Gue nyender di kursi kayu, ngerasa omongan Davi telak banget kena mental gue. "Berarti mimpi itu kayak warning kalau gue nggak bisa setengah-setengah ya?"
"Bisa jadi," Davi senyum, tatapannya dalem banget. "Itu juga ujian toleransi buat kamu, Ro. Apakah kamu mencintai Ainun karena kamu pengen memilikinya buat kesenanganmu, atau kamu mencintai karena kamu pengen jadi manusia yang lebih baik? Kalau karena ego, kamu bakal maksa. Kalau egomu terbakar, kamu bakal ikhlas."
Gue diem seribu bahasa. Gue liat kalung salib gue. Gue sadar, pengorbanan yang diminta mimpi itu bukan cuma soal pindah agama atau apa, tapi soal gimana gue ngelepas kesombongan gue selama ini.
"Dunia ini luas, Ro. Dan Ainun ada di Kairo sekarang buat belajar jadi 'cahaya'. Kalau kamu tetep jadi 'asap' karena ego yang belum kebakar, kamu cuma bakal bikin dia sesek," tambah Davi lagi.
Gue narik napas panjang. "Berat banget ya, Dav. Padahal gue cuma mau jatuh cinta doang."
"Jatuh cinta itu gampang, Nero. Yang susah itu memantaskan diri buat orang yang dicintai," jawab Davi sambil nepuk bahu gue.
Gue pulang dengan pemikiran yang makin berat tapi makin jernih. Mimpi itu bukan horor, tapi semacam kick-start buat gue biar nggak cuma jadi cowok menye-menye yang nungguin cewek balik. Gue harus mulai 'membakar' Nero yang lama.