Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
...Suasana yang semula penuh ketegangan mendadak berubah menjadi dingin saat suara tawa yang hambar pecah dari bibir Abbas. ...
...Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu bangkit berdiri dengan tatapan mata yang tak lagi memelas, melainkan penuh kebencian yang selama ini ia pendam rapat....
...Abbas tertawa sinis, sebuah tawa yang merobek sisa-sisa kenangan manis di hati Stella....
..."Ini yang aku tidak suka dari kamu, Stella!" desis Abbas, suaranya naik satu oktav, penuh dengan racun harga diri yang terluka. ...
..."Kamu merasa sok kaya. Merendahkan aku setiap saat dengan fasilitas yang kamu berikan! Kamu pikir dengan uang papamu, kamu bisa mengontrol hidupku? Aku suamimu!!"...
...Stella tertegun sejenak, dadanya terasa sesak seolah dihantam batu besar....
...Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada pengkhianatan fisik yang ia temukan tadi....
..."Merendahkan? Aku merendahkan kamu?" ulang Stella dengan suara yang bergetar hebat karena menahan tangis amarah....
...Ia melangkah maju, menatap mata suaminya yang kini tampak seperti orang asing....
..."Mas, aku sampai mengalah tidak bekerja untuk melayani kamu dan kamu mengatakan aku merendahkan kamu?"...
...Stella menunjuk dirinya sendiri, suaranya pecah. "Aku meninggalkan karierku, aku menanggalkan mimpiku hanya untuk memastikan setiap hari kamu pulang ke rumah yang hangat dan perut yang kenyang!"...
...Abbas hanya memalingkan wajah, namun Stella belum selesai. ...
...Ia mencengkeram kerah kemeja Abbas, memaksanya untuk menatap kehancuran yang ia buat sendiri....
..."Papa menentangku untuk menikah dengan kamu, Mas! Tapi apa yang aku lakukan? Aku merayu Papa, Mas!!" teriak Stella di depan wajah Abbas....
..."Aku meyakinkan Papa bahwa kamu pria baik, bahwa kamu pejuang keras! Aku mempertaruhkan hubunganku dengan keluargaku demi laki-laki yang sekarang menuduhku merendahkannya!"...
...Si kembar, Axel dan Alexander, hanya bisa terdiam melihat kakak mereka menumpahkan segala luka yang selama ini ia simpan. ...
...Mereka ingin sekali menghajar Abbas lagi, namun mereka tahu Stella perlu mengeluarkan semua duri di hatinya....
..."Kamu tidak pernah direndahkan, Abbas," lanjut Stella dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat rendah dan dingin....
..."Kamu hanya merasa kerdil karena bayangan kesuksesan keluargaku, lalu kamu melampiaskan rasa rendah dirimu dengan cara mencari wanita murahan yang bisa kamu 'beli' dengan uangku. Kamu bukan laki-laki, Mas! Kamu hanya parasit yang tidak tahu terima kasih."...
...Abbas terdiam, napasnya memburu. Kebenaran yang diucapkan Stella barusan menamparnya lebih keras daripada pukulan Alexander tadi. ...
...Di ruang makan yang hancur itu, kini tak ada lagi cinta, yang tersisa hanyalah puing-puing harga diri yang hangus terbakar dendam....
...Malam yang pekat itu menjadi saksi bisu hancurnya sebuah mahligai yang dibangun di atas fondasi pengkhianatan. ...
...Di tengah puing-puing piring yang berserakan di lantai marmer, Stella berdiri tegak, meski napasnya tersengal oleh sesak yang menghimpit dada....
..."Sekarang keluar atau aku memanggil polisi!" ancam Stella, suaranya menggelegar menembus keangkuhan Abbas yang baru saja memuntahkan racun egonya....
...Abbas menatap Stella dengan tatapan benci yang bercampur ketakutan. ...
...Ia tahu posisi hukumnya lemah, namun harga dirinya yang terluka tetap mencoba memberontak....
..."Baik, aku keluar! Tapi aku tidak mau bercerai dengan kamu!" teriak Abbas lantang dengan sebuah penolakan yang lebih terdengar seperti upaya untuk terus menjadi parasit di hidup Stella....
...Tanpa mempedulikan teriakan Stella, Abbas masuk ke kamarnya dan mengambil semua pakaiannya dengan kasar. ...
...Ia menyambar apa saja yang bisa ia bawa, memasukkannya ke dalam koper dengan gerakan serampangan. ...
...Dengan langkah berat dan rahang yang mengeras, ia keluar dari rumah Stella malam itu juga, membiarkan pintu depan terbanting keras di belakangnya....
...Begitu bayangan Abbas menghilang ditelan kegelapan malam, kekuatan yang sedari tadi menopang tubuh Stella seketika luruh. ...
...Ketegangan yang memuncak sejak di rumah sakit tadi pagi kini mencapai titik jenuhnya....
...Si kembar memeluk kakaknya erat-erat, mencoba menyalurkan kekuatan yang mereka miliki. Namun, Stella hanya bisa terisak di bahu Axel....
..."Aku kurang apa..." bisik Stella lirih dengan sebuah pertanyaan pilu yang tak akan pernah menemukan jawaban yang adil....
...Detik berikutnya, tubuh Stella mendadak lemas. Kesadarannya meredup seiring dengan beban mental yang tak lagi sanggup ia pikul. Stella langsung jatuh pingsan di pelukan adik-adiknya....
..."Kak!!" teriak Alexander panik....
...Dengan sigap, Alexander membopongnya dan membawanya ke kamar lantai atas, meletakkannya dengan hati-hati di atas ranjang yang kini terasa dingin. ...
...Sementara itu, dengan tangan yang gemetar karena khawatir, Axel menghubungi Askhan....
..."Khan! Kak Stella pingsan lagi! Cepat ke sini, kondisinya sangat drop!" seru Axel melalui sambungan telepon yang langsung direspons dengan nada darurat di seberang sana....
...Di dalam kamar yang sunyi, si kembar menatap wajah kakak mereka yang pucat pasi. ...
...Mereka bersumpah dalam hati, ini adalah terakhir kalinya Stella menangis karena pria itu. ...
...Deru mesin mobil yang berhenti mendadak di halaman rumah memecah keheningan malam yang mencekam. ...
...Tak berselang lama, Askhan datang dengan tas medisnya, wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam....
...Ia langsung berlari menuju kamar Stella tanpa mempedulikan napasnya yang memburu....
...Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di depannya membuat hati Askhan mencelos. ...
...Ia melihat Stella yang merintih kesakitan dan mengigau dalam tidurnya yang tidak tenang. ...
...Keringat dingin membasahi keningnya, dan bibirnya yang pucat terus menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, seolah sedang bertarung dengan bayang-bayang pengkhianatan di alam bawah sadarnya....
..."Stella, apakah kamu mendengar suaraku," bisik Askhan lembut sambil memeriksa denyut nadi Stella yang sangat cepat dan lemah....
...Tanpa membuang waktu, Askhan segera menyiapkan peralatan medisnya. ...
...Dengan gerakan yang sangat hati-hati namun cekatan, Askhan memasang selang infus ke pergelangan tangan Stella. ...
...Cairan bening itu mulai mengalir, membawa nutrisi dan obat penenang untuk menstabilkan kondisi fisik Stella yang sudah mencapai titik nadir akibat tekanan mental dan sisa sedatif yang masih ada di tubuhnya....
..."Kondisinya sangat drop. Tekanan darahnya rendah sekali," ujar Askhan kepada si kembar dengan nada rendah namun penuh penekanan....
...Sementara itu, di lantai bawah, suasana masih berantakan dengan pecahan piring dan sisa makanan yang berserakan—saksi bisu kemurkaan Stella. ...
...Axel memanggil pelayan Mama untuk membersihkan kekacauan di ruang makan sesegera mungkin. ...
...Ia tidak ingin Stella melihat sisa-sisa kehancuran itu saat ia terbangun nanti....
..."Bersihkan semuanya. Jangan biarkan ada satu pun pecahan yang tersisa," perintah Axel dengan suara dingin....
...Rumah besar itu kini terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara tetesan infus dan helaan napas berat dari orang-orang yang mencintai Stella. ...
...Di dalam kamar, Askhan terus berjaga di sisi ranjang, menatap wajah sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. ...
...Di tangannya, ia memegang kendali atas pemulihan Stella, sementara di luar sana, badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai bagi Abbas....
...Suasana di dalam kamar Stella yang semula hening mendadak pecah oleh suara derit ranjang yang hebat. ...
...Askhan yang baru saja terduduk di kursi samping tempat tidur langsung tersentak berdiri....
...Tengah malam, Stella mengalami kejang hebat. Tubuhnya menegang, matanya mendelik ke atas, dan napasnya terdengar tersengat-sengat. ...
...Reaksi traumatis dari tekanan mental yang ekstrem bercampur sisa sedatif di tubuhnya memicu serangan saraf yang mengerikan....
..."Stella! Stella, dengarkan aku!" seru Askhan panik namun tetap berusaha profesional....
...Askhan segera memberikan pertolongan pertama. ...
...Ia memiringkan tubuh Stella agar lidahnya tidak menyumbat jalan napas dan menahan kepalanya agar tidak terbentur pinggiran ranjang yang keras. ...
...Dengan tangan gemetar, ia menyuntikkan obat antikonvulsan ke dalam selang infus yang baru saja dipasangnya beberapa jam lalu....
..."Axel! Alexander! Kemari!" teriak Askhan memanggil si kembar yang sedang berjaga di luar kamar....
...Si kembar mendobrak pintu, wajah mereka pucat pasi melihat kakak mereka yang sedang bergulat dengan maut di atas kasur....
..."Apa yang terjadi, Khan?!" teriak Alexander, matanya memerah menahan tangis....
..."Kondisinya kritis! Aku tidak bisa menanganinya sendirian dengan peralatan terbatas di sini!" sahut Askhan sambil terus memantau denyut nadi Stella yang tidak stabil....
...Tanpa membuang waktu lagi, Askhan menghubungi ambulans untuk datang ke rumah Stella sesegera mungkin...
... "Halo, IGD? Kirimkan satu unit ambulans ke alamat ini sekarang juga! Pasien mengalami kejang berulang dan penurunan kesadaran. Cepat!"...
...Suara sirine ambulans yang meraung-raung di kejauhan mulai memecah kesunyian kompleks perumahan elite itu. ...
...Axel dan Alexander berdiri mematung di ambang pintu, menatap tubuh kakak mereka yang kini melemas setelah kejangnya mereda, namun napasnya masih terasa sangat tipis....
..."Kalau sampai terjadi apa-apa pada Kak Stella, aku bersumpah akan membunuh Abbas dengan tanganku sendiri," desis Axel dengan suara rendah yang penuh dengan kebencian mendalam....
...Malam itu, di bawah sorot lampu ambulans yang berkedip merah dan biru, Stella dilarikan ke rumah sakit. ...
...Rumah mewah yang tadinya penuh tawa kini menjadi saksi bisu sebuah tragedi, sementara di suatu tempat, Abbas mungkin masih merasa jemawa, tidak tahu bahwa ia telah hampir merenggut nyawa wanita yang pernah mencintainya dengan tulus....