NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Di bawah temaram lampu jalanan London yang dingin, Shafira berdiri di samping ambulans yang sedang mempersiapkan keberangkatan Archio. Ia menatap Andreas dengan tatapan empati seorang ibu sekaligus profesionalisme seorang dokter. Ia mengeluarkan sebuah map kulit tua yang selalu ia simpan berisi catatan medis awal yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup Marsha.

Shafira membuka lembaran pertama, sebuah dokumen yang sudah agak menguning namun terawat rapi. "Mr. Halvard, Anda harus memahami kondisi Marsha saat kami pertama kali menemukannya. Ini bukan sekadar trauma psikis, tapi ada benturan fisik yang cukup serius saat itu."

Andreas mendekat, matanya menelusuri istilah-istilah medis yang tertulis di sana dengan tangan gemetar.

"Waktu itu, kami melakukan kunjungan rutin ke panti asuhan di pinggiran Paris untuk pemeriksaan kesehatan anak-anak telantar," lanjut Shafira lembut. "Laporan medis dari rumah sakit pertama yang menangani Marsha menyatakan bahwa ia ditemukan dengan luka memar di bagian temporal kepala. Kemungkinan besar ia terjatuh atau terbentur saat mencoba mencari jalan pulang di Paris."

Shafira menunjuk pada baris diagnosis. "Marsha mengalami Amnesia Disosiatif yang diperparah oleh trauma fisik. Dia kehilangan seluruh memori otobiografinya. Dia tidak tahu siapa namanya, dari mana asalnya, atau siapa orang tuanya. Satu-satunya hal yang terus ia gumamkan saat demam tinggi adalah dua kata: Marsha dan Papah Andreas."

Andreas memejamkan mata, setetes air mata jatuh ke atas kertas rekam medis itu. "Dia memanggilku... bahkan saat dia lupa segalanya, dia tetap memanggilku."

"Itu sebabnya kami mempertahankan nama Marsha," sela Erlan, yang kini berdiri di samping istrinya. "Kami tahu nama itu adalah satu-satunya jangkar yang ia miliki dengan masa lalunya. Kami mencintainya sejak detik pertama melihatnya di panti asuhan itu. Dia tampak begitu rapuh, namun matanya memiliki binar keberanian yang luar biasa."

Shafira menutup map tersebut dan menatap Andreas dalam-dalam. "Kami mengadopsinya secara legal dan memberikan nama belakang kami demi melindunginya secara hukum internasional. Kami ingin dia memiliki masa depan yang stabil tanpa harus terus-menerus dihantui oleh identitas yang 'hilang'. Kami mohon, mengertilah... kami tidak pernah bermaksud mencuri putri Anda. Kami hanya ingin menyembuhkannya."

____

Pelukan Persaudaraan

Di dekat mereka, Xabiru yang baru saja selesai dijahit oleh Marsha, mendengarkan penjelasan itu dengan kepala tertunduk. Rasa benci yang sempat ia rasakan pada "orang asing yang mengambil adiknya" kini menguap, digantikan oleh rasa syukur yang mendalam.

Marsha mendekati Xabiru dan Andreas. Ia menggenggam tangan Andreas, lalu beralih menggenggam tangan Erlan. Ia berdiri di tengah-tengah dua pria yang sama-sama mencintainya sebagai seorang ayah.

"Pa..." Marsha menatap Andreas. "Mungkin ingatanku tentang masa kecil di Paris belum kembali seutuhnya. Tapi saat aku melihat Papa dan Abang tadi, ada sesuatu di sini..." ia menyentuh dadanya, "...yang terasa sangat hangat. Seperti potongan puzzle yang akhirnya terpasang."

Xabiru mencoba berdiri meski pinggangnya terasa nyeri. Ia merangkul bahu Marsha dengan lengan yang tidak terluka. "Tidak apa-apa jika kau tidak ingat sekarang, Sha. Kita punya sisa hidup kita untuk membuat ingatan-ingatan baru yang lebih indah."

Suasana menjadi lebih tenang saat petugas medis mulai menutup pintu ambulans Archio. Polisi London memberikan isyarat bahwa Selena sudah dalam perjalanan ke kantor polisi pusat untuk diproses secara hukum.

"Mr. Halvard," Erlan memecah keheningan. "Archio akan dibawa ke St. Mary's Hospital. Itu tempat saya dan Marsha bekerja. Dia akan mendapatkan perawatan terbaik di sana. Saya sarankan Anda dan Xabiru tinggal di rumah kami malam ini. Kita perlu bicara banyak, dan anak-anak ini butuh istirahat."

Andreas menatap rumah keluarga Dominic yang hangat, lalu menatap Marsha yang kini tersenyum padanya. "Terima kasih, Erlan. Aku berhutang nyawa anak-anakku pada keluarga kalian."

Malam itu, di bawah langit London, dua keluarga yang dipisahkan oleh pengkhianatan satu wanita, akhirnya disatukan oleh dedikasi sepasang dokter dan cinta seorang ayah yang tak pernah padam selama dua puluh tahun.

Bab: Dua Ayah di Koridor Putih

​Di koridor St. Mary’s Hospital yang tenang, aroma antiseptik memenuhi udara. Archio baru saja keluar dari ruang operasi pengangkatan proyektil peluru di lengannya dan kini sedang dalam masa pemulihan di ruang VIP.

​Andreas berdiri di sudut koridor, menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Matanya tidak lepas dari pemandangan di depannya. Di sana, di dekat meja administrasi, Marsha sedang merapikan kerah jas putih Erlan Dominic.

​“Daddy… mau ke ruang rawat lagi? Ya ampun, Daddy sudah tua, kenapa sih nggak mau kurangi jadwal?” protes Marsha, nada suaranya manja namun penuh kekhawatiran yang tulus.

​Erlan terkekeh, mengacak rambut Marsha dengan sayang sebuah gerakan yang sangat akrab. “Iya, sayang… Dokter di sini sangat diperlukan. Setelah kamu selesai spesialis bedah jantung nanti, baru Daddy usahakan kurangi jadwal.”

​Marsha mencebikkan bibirnya, lalu tersenyum bangga. “Tenang saja, anak Daddy kan pinter banget. Nanti aku yang ambil alih semua pasien sulit Daddy.”

​Rasa yang Terbagi..

​Andreas menarik napas panjang, ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Itu adalah jenis kedekatan yang seharusnya ia miliki dengan Marsha. Ia membayangkan 20 tahun yang hilang seharusnya ia yang menggandeng Marsha ke sekolah, ia yang mendengarkan keluhan manjanya, dan ia yang bangga melihat putrinya menjadi dokter.

​Xabiru yang duduk di kursi tunggu dengan perban di pinggangnya, menyentuh lengan ayahnya. “Sakit ya, Pa? Melihatnya sesayang itu pada pria lain?”

​Andreas tersenyum pahit, namun matanya tetap lembut. “Bukan sakit, Biru. Hanya… menyadari betapa hebatnya Erlan dan Shafira menjaganya. Ayah cemburu, itu manusiawi. Tapi Ayah juga bersyukur. Jika bukan karena disiplin dan kasih sayang mereka, mungkin Marsha tidak akan seberani ini menghadapi Selena tadi.”

​Kehadiran Valerina..

​Di tengah pembicaraan itu, ponsel Andreas bergetar. Sebuah panggilan internasional dari Jakarta. Nama Valerina muncul di layar.

​“Halo, Pa? Bagaimana di London? Apa Kak Biru dan Archio sudah menemukan Marsha?” suara Valerina terdengar cemas di seberang sana.

Sebagai anak ketiga yang juga kehilangan adik bungsunya, Valerina tidak bisa ikut ke London karena harus mengurus urusan darurat di Jakarta pasca-penangkapan Selena.

​Andreas menatap Marsha yang sedang tertawa bersama Erlan di ujung koridor. “Sudah, Val. Kami sudah menemukannya. Dia… dia sehat, cantik, dan sangat pintar. Dia seorang dokter di sini.”

​“Benarkah?” Valerina terisak haru. “Aku ingin segera ke sana, Pa. Aku ingin memeluknya.”

​“Sabar, sayang. Kondisi di sini masih sedikit kacau. Archio tertembak oleh Mamamu, tapi dia sudah stabil sekarang.”

​Langkah Pertama Menuju Memori

​Marsha menyadari tatapan Andreas. Ia berpamitan pada Erlan, lalu melangkah mendekat ke arah ayah kandungnya dan Xabiru. ​“Papa Andreas?” panggil Marsha ragu. Sebutan 'Papa' itu masih terasa asing di lidahnya, namun ia ingin mencobanya.

​Andreas tersentak, wajahnya langsung cerah. “Iya, sayang?”

​“Archio sudah sadar. Dia terus memanggil nama 'Acha'… Erlan Daddy bilang, itu mungkin nama panggilan kecilku dulu?” Marsha menatap Andreas dengan rasa ingin tahu yang besar.

​Andreas mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca. “Iya. Acha. Itu nama kesayangan kami untukmu. Valerina yang memberikan nama itu karena dulu dia sulit memanggil namamu dengan lengkap.”

​Marsha tersenyum tipis. “Acha… Marsha Zaiva Dominic Halvard.” Ia mencoba menggabungkan semua identitasnya. “Boleh aku masuk menemui Archio? Aku ingin mengganti perbannya sendiri.”

​Xabiru berdiri, merangkul bahu Marsha. “Tentu saja. Dia pasti sangat senang dirawat oleh adik bungsunya yang hebat ini.”

​Saat mereka masuk ke kamar rawat, Andreas tertinggal sejenak di pintu. Ia melihat Erlan Dominic memperhatikannya dari kejauhan. Erlan memberikan anggukan hormat, seolah memberikan izin secara tidak langsung.

​Malam itu, di sebuah rumah sakit di London, potongan-potongan keluarga Halvard mulai menyatu kembali, meski harus dijahit dengan benang bedah dan rasa sakit yang dalam.

​Bab: Rahasia Valerina dan Keadilan yang Melintas Batas

​Di Jakarta, Valerina tidak bisa duduk diam. Sebagai anak ketiga yang paling dekat usianya dengan Marsha sebelum tragedi Paris, ia menyimpan sebuah kotak kecil yang selama ini ia sembunyikan di bawah ubin kamarnya kotak yang berisi catatan harian Selena yang ia curi beberapa tahun lalu saat ia mulai curiga pada ibunya.

​Valerina mendarat di Heathrow, London, dengan mata sembap namun tekad yang baja. Ia langsung menuju St. Mary’s Hospital. Saat ia melangkah masuk ke ruang rawat Archio, ia melihat pemandangan yang membuatnya membeku: Marsha sedang memeriksa denyut nadi Archio dengan stetoskop di lehernya. ​"Acha?" suara Valerina bergetar.

​Marsha menoleh. Ia melihat seorang wanita muda yang wajahnya sangat mirip dengan cerminannya sendiri, hanya sedikit lebih dewasa. "Val... Kak Valerina?" Marsha mencoba memanggilnya, mengikuti apa yang diceritakan Xabiru sebelumnya.

​Valerina berlari dan memeluk Marsha begitu erat, tangisnya pecah. "Maafkan aku... maaf aku tidak bisa melindungimu dulu. Aku tahu, Sha. Aku tahu semuanya."

​Setelah suasana sedikit tenang, Valerina membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Ia menyerahkannya kepada Andreas dan Erlan yang juga ada di sana.

​"Ini alasan kenapa Mama begitu membenci Marsha," ucap Valerina pelan. "Di dalam sini, Mama menulis bahwa Marsha bukan sekadar 'anak kesayangan Papa'. Mama merasa Marsha adalah bukti kegagalannya menjadi seorang ibu karena Marsha lahir dengan kondisi kesehatan yang lemah dan selalu butuh perhatian lebih dari Papa. Mama merasa tersisih."

​Andreas membaca catatan itu dengan tangan gemetar. Di sana tertulis rencana Selena sejak berbulan-bulan sebelum liburan ke Paris. Selena sudah merencanakan untuk "menghilangkan" Marsha agar ia bisa mendapatkan perhatian penuh dari Andreas kembali. ​"Dia sudah sakit sejak lama," gumam Andreas pedih.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!