NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."

​Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.

​Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.

​Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?

​"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

​Satu minggu telah berlalu sejak insiden di gedung pusat Prayudha Group, dan bagi Adrian Kalandra Prayudha, tujuh hari ini terasa seperti berjalan di dalam labirin tanpa ujung. Meskipun ia masih menjalankan aktivitasnya sebagai CEO dengan ketegasan yang sama masuk kantor tepat waktu, memimpin rapat dengan tatapan tajam, dan menandatangani ratusan dokumen ada sesuatu yang hilang dari ritme hidupnya. Kehadiran Isvara yang biasanya menjadi "lawan debat" paling seimbang di kantor, kini digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

​Selama seminggu ini, semua urusan teknis dan manajerial yang seharusnya berada di tangan Isvara, diambil alih secara bergantian oleh Sinta dan Rima.

Mereka bekerja dengan efisiensi yang luar biasa, seolah-olah Isvara telah melatih mereka untuk menjadi mesin yang tidak bisa ditembus. Dan hari ini, giliran Sinta yang berdiri di depan ruang rapat untuk memaparkan progres material vendor Grand Prayudha Resort Bali.

​Andra duduk di kursi utamanya, matanya tertuju pada layar presentasi, namun pikirannya mengembara. Secara teknis, apa yang dipaparkan Sinta sangat sempurna. Datanya akurat, bicaranya lugas dan solusinya cerdas. Namun bagi Andra, presentasi kali ini terasa hambar. Seperti melihat lukisan mahakarya yang difotokopi; bentuknya sama, tapi "nyawanya" tidak ada. Tidak ada kilatan mata elang yang menantang, tidak ada nada bicara merendahkan yang elegan, dan tidak ada aura otoritas absolut yang hanya dimiliki oleh Isvara Kalandra.

​Dua jam kemudian, rapat berakhir. Andra memberikan kode singkat melalui gerakan tangan kepada seluruh tim dan staf untuk segera meninggalkan ruangan. Ia butuh ruang privat. Sinta, yang sedang merapikan tablet dan dokumennya, menyadari kode itu. Ia tidak beranjak, hanya berdiri dengan tenang sambil menunggu pintu besar itu tertutup rapat, menyisakan dirinya dan pria yang secara hukum adalah suami bosnya itu.

​Setelah ruangan sunyi, Sinta tidak membuang waktu. Ia menatap Andra dengan tatapan datar yang menusuk.

​"Jika Anda menyuruh semua orang keluar karena ingin melakukan interogasi terhadap saya mengenai keberadaan dan keadaan Nyonya Isvara, sebaiknya Anda simpan tenaga Anda, Tuan Adrian," ucap Sinta tanpa basa-basi. "Saya tidak akan memberitahu satu kata pun tentang beliau saat ini kepada Anda."

​Reaksi itu seketika memicu api di dada Andra. Ia menggebrak meja marmer di depannya hingga suaranya menggelegar. "Jaga bicaramu, Sinta! Kamu pikir kamu sedang bicara dengan siapa? Aku ini suaminya! Aku yang membayar semua biaya hidupnya dalam kontrak ini! Kamu hanyalah asisten yang dibayar untuk mengurus jadwalnya, bukan untuk menjadi penghalang antara aku dan istriku sendiri!"

​Sinta justru tersenyum tipis sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Isvara, senyum yang merendahkan lawan bicaranya. "Suami? Secara hukum, mungkin iya. Tapi secara fungsional dan emosional, Anda hanyalah orang asing yang berbagi nama belakang dalam dokumen. Posisi saya di hidup Nona Isvara jauh lebih penting dan lebih teruji dibandingkan peran anda yang selalu memojokkan dan tidak memposisikan Nona saya dengan baik. Saya selalu ada dibagian penting kehidupan nona Isvara, sementara Anda?." Ucap Sinta menggantung dan melihat ke arah Andra. "Tanyakan dimana posisi anda!!." Ucap Sinta dengan kata-kata yang cukup sadis.

Sebenarnya kata-kata ini sama sekali tidak di breafing oleh Isvara kata-kata ini murni muncul karena kekesalan Sinta terhadap suami bosnya.

​"Kurang ajar!" Andra berdiri, wajahnya merah padam karena murka. "Aku bisa memecatmu sekarang juga! Aku bisa menghancurkan kariermu dalam satu telepon!"

​"Silakan dicoba, Tuan," tantang Sinta dingin sembari menyampirkan tasnya di bahu. "Tapi perlu Anda ingat, kontrak saya adalah dengan Vara Interior Design, bukan dengan Prayudha Group. Dan selama Nona Isvara tidak mengatakan saya dipecat, saya akan tetap berada di sampingnya, melindungi beliau dari orang-orang seperti Anda. Permisi."

​Sinta melangkah keluar dengan anggun, meninggalkan Andra yang gemetar karena amarah yang tertahan. Tanpa menunggu lama, Andra langsung mengambil ponselnya dan menghubungi tim keamanan pribadinya.

​"Ikuti SUV hitam milik Sinta sekarang juga. Jangan sampai kehilangan jejak. Laporkan setiap titik pemberhentiannya ke saya," perintah Andra dengan suara rendah yang penuh ancaman.

​Di jalanan Jakarta yang padat, Sinta melajukan mobilnya dengan tenang. Melalui spion tengah, ia melihat sebuah sedan perak yang menjaga jarak sekitar tiga mobil di belakangnya. Sinta hanya tersenyum tipis. Ia sudah belajar banyak tentang insting pengintaian dari Isvara selama bertahun-tahun. Baginya, pengintaian amatir suruhan Andra ini sangat mudah dideteksi.

​Ia mengenakan hands-free dan menekan sebuah nomor yang sangat rahasia.

​"Halo, Bu? Maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucap Sinta lembut.

​Di sebuah kamar VVIP rumah sakit yang aksesnya dijaga ketat, Isvara sudah siuman sejak tiga hari yang lalu. Ia sedang duduk bersandar di ranjang medisnya dengan wajah yang masih pucat namun matanya sudah kembali tajam. Ia sedang menjalani bedrest total atas bujukan atau lebih tepatnya paksaan Dokter Liana.

​"Ada apa, Sinta?" tanya Isvara singkat.

​"Sepertinya saya harus main-main dulu dengan para pengintai ini, Bu," lapor Sinta sembari melirik spion lagi. "Tuan Andra mengirim orang untuk mengikuti saya setelah rapat tadi."

​Isvara terdiam sejenak. Ia sudah bisa menebak bahwa suaminya yang keras kepala itu tidak akan tinggal diam setelah satu minggu kehilangan kendali atas dirinya. Ada rasa geli sekaligus miris di hati Isvara; Andra baru mencarinya saat dia benar-benar "menghilang", bukan saat dia masih ada di depan matanya.

​"Hati-hati. Jangan sampai mereka tahu lokasi ini. Putar-putar mereka di daerah padat lalu hilangkan jejak di parkiran mal," instruksi Isvara tenang. "Biarkan dia merasa menang sebentar, lalu buat dia frustrasi lagi."

​"Siap, Bu. Saya mengerti," jawab Sinta sebelum memutuskan sambungan.

​Isvara meletakkan ponselnya, lalu menatap Rima yang sedang duduk di sofa ruangan itu dengan tablet di tangannya. Rima langsung mendongak.

​"Bagaimana progres pengerjaan lobi resort di Bali? Apa vendor marmer dari Italia sudah mengonfirmasi jadwal pengiriman?" tanya Isvara, langsung masuk ke mode kerja meskipun selang infus masih menempel di tangannya.

​"Sudah, Bu. Saya sudah menangani semuanya secara detail. Sinta juga sudah memaparkannya di depan Tuan Andra tadi," lapor Rima. "Sekarang, yang paling penting adalah kesehatan Ibu. Dokter Liana bilang detak jantung Ibu baru mulai stabil pagi ini."

​Isvara mengabaikan peringatan soal kesehatannya itu. "Rima, berikan ponsel pribadiku yang ada padamu. Aktifkan kembali sekarang. Satu minggu tanpa suara rasanya sudah cukup bagi mereka."

​Rima sempat ragu, namun ia tahu tidak ada gunanya membantah Isvara. Ia menyerahkan ponsel tipis berwarna hitam itu. Begitu layar dinyalakan dan koneksi data tersambung, ratusan notifikasi masuk secara beruntun. Suara denting notifikasi itu memenuhi ruangan selama beberapa detik.

​Isvara menggeser layar, melihat tumpukan pesan. Matanya tertuju pada dua nama yang sangat kontras: Arini dan Maya.

​Pesan dari Arini berisi cacian dan makian berantai: "Heh, perempuan panti asuhan! Kamu sengaja ya sembunyi supaya Kak Andra kasihan? Jangan sok suci! Dasar beban keluarga!". Isvara hanya menatap pesan itu dengan datar, tanpa emosi sedikit pun. Baginya, Arini hanyalah lalat yang bising namun tidak berbahaya.

​Kemudian ia membuka pesan dari Maya, adik bungsu Andra: "Kak Isvara... Kakak di mana? Aku sangat khawatir. Tolong kabari aku kalau Kakak sudah lebih baik. Jangan dengarkan Mama dan Arini, mereka memang keterlaluan.".

​Isvara hanya membaca pesan-pesan itu tanpa ada niat untuk membalas. Ia mematikan layar ponselnya kembali. Baginya, diam adalah senjata yang paling mematikan saat ini. Ia ingin melihat sejauh mana Andra akan mengejarnya, dan sejauh mana keluarga Prayudha akan merasa kehilangan saat "alat" paling berharga mereka tidak ada untuk membereskan kekacauan mereka.

​"Rima, siapkan berkas kerja untuk besok pagi," ucap Isvara dingin sembari menatap ke luar jendela kaca VVIP yang memperlihatkan langit Jakarta yang kelabu. "Aku tidak akan membiarkan penyakit ini atau Andra menghentikan kelas yang sudah aku bangun."

​Rima hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa meskipun tubuhnya di rumah sakit, jiwa Isvara Kalandra tetap berada di medan perang yang ia ciptakan sendiri.

1
lin sya
sbnrnya jodohnya isvara siapa thor, gk dewa gk andra , sama2 nykitin, lbih baik isvara fokus sm kesehatannya, sayangi diri sndiri pnting💪
Riza Afrianti
kapan si Andra kena karma nya yaa
Wayan Sucani
Apa hanya saya saja yg menangis..menjadi Isvara sangat menyakitkan...
blcak areng: ya ampun kak, peluk"🫂🫂🫂🫂
total 1 replies
Wayan Sucani
Sungguh sakit jd dirimu Isvara...
Wayan Sucani
Apa yg terjadi dimasa lalu Isvara???. rasanya sesak jd dirimu... tanpa cinta... berusaha kuat... dan baik2 saja...
Aku sesak Isvara...
lin sya
gk tau apa yg ada diotak isvara trllu memaksakan tubuhnya pdhl udh mau tumbang, apa krn judulnya rahasia dibalik nafas terakhir isvara makanya isvara kuat diluar tp rapuh didlm, kacian thor isvara kejayaannya ada ditangan suami angkuhnya bkn ditangan dia sndiri /Whimper/
lin sya
klo isvara bneran dibuat mati oleh tekanan ego andra buat dia bertransmigrasi ke tubuh pemeran lain thor, yg lbih kaya trus byk yg sayang, klo boleh saran ya thor, kacian isvara dibalik sikap dinginnya krn gak mau diksihani atau tdk mau trlihat lemah dia tiap hri hrs sllu kuat, gak suami, gak mertua, gk kluarga kndung gk ada yg beres, klo ditubuh baru kan bsa bls dendam dan bikin andra menyesal atas kematiannya💪/Sob/
blcak areng: Terima kasih ya Kak atas masukannya... nanti bisa jadi bahan pertimbangan 😍
total 1 replies
lin sya
gw bknnya bnci dgn karakter isvara justru kacian dan terkesan krn hebat bertahan dri tekanan org2 toxic disekitarnya, mmpu bertahan dgn pnykit jg bsa pnya karier yg bagus, smga klo lepas dri kluarga suami minimal pnya relasi atau org yg bsa jd pelindung agar ttp smgt hdup/Smile/
lin sya
smgt isvara mental mu kuat sekali plus bsa cerdik mnutupi pnyakit , musuhmu bkn hnya kk dan ibu mu tp kluarga suami mu, kira2 isvara bsa dpt donor jantung gak thor plus bsa kluar dri rmh tangga toxic dan dpt jodoh yg lbih baik bahkan isvara keren menutupi kelemahannya dgn skp dingin dan biar lah dianggap buruk pdhl ia pnya sisi rapuh😍
lin sya: ok kk author💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!