NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sinar matahari siang itu memantul di permukaan air kolam yang jernih, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di dinding taman belakang rumah Vino. Suasana begitu hangat, bukan hanya karena cuaca, tapi karena tawa Kelompok Sableng yang tak henti-hentinya pecah. Sandi, yang tadi sempat "tumbang", kini sudah duduk bersandar di kursi malas dengan wajah yang jauh lebih segar. Balsem dari Anggita sepertinya bekerja ajaib meredakan kram di perutnya.

Sandi sedang asyik menikmati ice cream stick rasa stroberi pemberian mamanya Vino. Namun, perhatian seluruh kelompok justru tertuju pada sosok di sampingnya. Saskia, sang "Oneng" kebanggaan kelompok, sukses menjadi bulan-bulanan. Ia memakan ice cream cone-nya dengan sangat antusias—terlalu antusias, sampai-sampai pipi dan area sekitar bibirnya penuh dengan noda putih vanila.

"Gila lo, Sas! Itu makan ice cream apa habis simulasi kena bom salju?" ledek Andra sambil menunjuk wajah Saskia yang celemotan.

Vino ikut menimpali sambil terpingkal, "Sas, lo itu siswi SMP Pejuang Bangsa atau anak TK yang lagi darmawisata? Berantakan banget, ampun dah!"

Anggita sampai harus memegangi perutnya karena tertawa melihat ekspresi polos Saskia yang merasa tidak berdosa. "Bener-bener ya, kecantikan lo luntur seketika tertutup vanila, Sas!"

Saskia hanya mengerucutkan bibirnya yang penuh krim, lalu menjilat sisa terakhir di tangannya. Begitu cone-nya habis, matanya yang bulat mulai melirik ke arah tangan Sandi. Di sana, ice cream stroberi milik Sandi masih utuh, baru digigit sekali di bagian ujungnya.

Tanpa malu-malu, Saskia menggeser duduknya mendekati Sandi. Ia mulai mengeluarkan jurus andalannya: mata memelas dan suara merengek yang manja. "Sansan.. mau dong. Punya aku sudah habis, tapi aku masih pengen yang stroberi kayak punya kamu," rajuknya sambil menarik-narik ujung kaus Sandi.

Andra, Vino, dan Anggita yang melihat pemandangan itu makin tidak kuat menahan tawa. Mereka sampai terpingkal-pingkal, bahkan Vino hampir saja terjungkal ke dalam kolam karena geli melihat tingkah laku Saskia yang benar-benar tidak tahu malu demi mendapatkan suapan stroberi dari Sandi.

Sandi hanya bisa menatap ice cream-nya, lalu menatap wajah celemotan Saskia dengan ekspresi antara pasrah dan gemas. "Saskia! Muka lo udah kayak badut begini masih mau nambah? Nanti yang ada stroberinya malah nempel di jidat lo!"

Suasana di tepi kolam renang yang semula diwarnai tawa riuh mendadak berubah menjadi arena "pertempuran" kecil yang sangat menggemaskan. Saskia, dengan kegigihan tingkat dewa yang hanya dimiliki oleh seorang Oneng, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Matanya yang bulat terus terkunci pada batang es krim stroberi di tangan Sandi, seolah benda dingin berwarna merah muda itu adalah harta karun paling berharga di dunia.

"Satu gigit saja, San! Pelit banget sih!" rengek Saskia sembari tangannya mulai agresif mencoba meraih stik es krim tersebut.

Sandi, yang masih bersandar malas di kursi panjang, hanya mendengus geli. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara, memanfaatkan keunggulan tinggi badannya untuk menjauhkan es krim itu dari jangkauan Saskia. "Nggak ada! Muka lo sudah kayak donat tumpah gula, Sas! Cuci muka dulu sana baru minta-minta!"

Namun, Saskia justru semakin nekat. Ia berlutut di pinggir kursi malas Sandi, lalu mulai mendongakkan badannya ke depan dengan posisi yang sangat tidak stabil. Kakinya berjinjit, jemarinya menggapai-gapai udara, sementara satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi. Namun, nasib sial rupanya sedang ingin melucu. Saat ia hampir berhasil menyentuh tangan Sandi, tumpuannya selip karena permukaan kursi yang licin terkena tetesan air kolam.

"Aaakh!" pekik Saskia saat tubuhnya limbung ke depan.

Dengan refleks seorang atlet yang terlatih karena sering membawa beban berat, Sandi dengan sigap menangkap bahu dan pinggang Saskia agar gadis itu tidak jatuh terjembab ke lantai atau lebih parahnya, tercebur ke kolam. Namun, hukum fisika tidak bisa dihindari. Tubuh Saskia terhempas maju dan wajahnya yang penuh dengan sisa-sisa celemotan es krim vanila mendarat telak—terbenam sempurna—di bagian dada kaus hitam yang dikenakan Sandi.

Puk!

Hening sejenak. Anggita, Andra, dan Vino terpaku melihat pemandangan itu sebelum akhirnya ledakan tawa paling keras sepanjang hari itu pecah. Mereka bertiga sampai jatuh terduduk di lantai, memegangi perut yang mulai kram karena tertawa tanpa henti.

"Gila! Ceplakan bibir!" teriak Andra sembari menunjuk-nunjuk kaus Sandi. Di sana, tepat di bagian dada, terbentuk bercak putih melingkar sempurna dari sisa es krim di mulut Saskia, lengkap dengan pola bibirnya yang belepotan.

"San, itu kaus lo jadi ada motif 'kiss' rasa vanila! Estetik banget, sumpah!" timpal Vino di sela-sela tawanya yang tersedak.

Sandi melotot tak percaya menatap dadanya yang kini basah dan lengket. "Saskia Fiana Putri! Lo bener-bener... ah elah! Kaos kesayangan gue jadi korban 'teror' mulut lo!" seru Sandi frustrasi.

Namun, di saat Sandi sedang sibuk meratapi noda di kausnya dan lengah menjaga pertahanannya, Saskia justru beraksi dengan licik. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar stik es krim stroberi dari tangan Sandi yang posisinya sedang turun.

"Dapet!" seru Saskia dengan nada kemenangan yang tinggi.

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Saskia langsung melahap es krim stroberi itu, menggigit bagian yang tadi sudah pernah digigit oleh Sandi. Ia duduk kembali dengan santai, mengayun-ayunkan kakinya sembari menikmati kemenangan manisnya. Rasa asam-manis stroberi itu terasa jauh lebih enak karena berhasil direbut dari "musuh besarnya".

Sandi hanya bisa menghela napas panjang, pasrah total menghadapi tingkah ajaib sahabatnya ini. Ia mengambil tisu di atas meja, mencoba mengusap noda putih di dadanya yang justru malah membuat noda itu semakin melebar.

"Bener-bener ya, punya temen satu tapi rasanya kayak ngasuh sepuluh anak macan," gumam Sandi pasrah, sementara Saskia hanya membalasnya dengan kerlingan mata nakal dan mulut yang kini kembali celemotan—kali ini dengan warna merah muda stroberi.

Matahari mulai condong ke arah barat, membiaskan cahaya jingga yang memantul di riak air kolam renang rumah Vino. Jam di dinding ruang terbuka itu sudah menunjukkan pukul 14.23 WIB. Anggita, sebagai sosok yang paling terorganisir di antara mereka, mulai merapikan barang-barangnya ke dalam tas ransel.

"Guys, sepertinya kita harus akhiri pertemuan seru kita hari ini deh," ujar Anggita sambil menyampirkan tasnya. "Sudah sore, dan kalian tahu sendiri kan Jakarta kalau Sabtu sore begini? Takutnya jalanan macet total sama orang-orang yang mulai keluar buat kencan malming-an, ditambah lagi orang-orang yang baru pulang kerja setengah hari. Bisa-bisa kita tua di jalan."

Mendengar instruksi pulang, raut wajah Saskia mendadak berubah. Ia tidak ingin momen kebersamaan ini berakhir begitu saja. Dengan gerakan perlahan, ia mendekati Sandi yang baru saja selesai mengelap noda es krim di kausnya. Jemarinya menarik-narik ujung kaos Sandi dengan ritme yang ragu namun menuntut perhatian, matanya menatap Sandi dengan binar penuh harap yang sulit diartikan oleh orang awam.

Sandi menoleh, mendapati sepasang mata cokelat Saskia yang seolah sedang mengirimkan sinyal darurat. Sandi terdiam sejenak, menatap dalam-dalam mata sahabatnya itu. Seolah memiliki ikatan batin yang sudah teruji oleh waktu, Sandi langsung menangkap apa yang sedang berkecamuk di pikiran "Si Oneng" ini.

"Guys, tunggu sebentar," sela Sandi, menghentikan gerakan Vino dan Andra yang hendak beranjak. "Hari ini kan kita sudah sukses besar ngerjain tugas di rumah Vino. Nah, gue punya usul. Kalau guru sejarah atau guru lain kasih tugas kelompok berikutnya, gimana kalau kita 'invasi' rumah Saskia? Sebenarnya dia pengen banget ngundang kita semua ke sana, tapi anaknya nggak berani ngomong langsung."

Saskia yang melihat Sandi begitu peka terhadap keinginannya langsung merasa sangat bahagia. Tanpa aba-aba, ia berniat menghamburkan pelukannya ke arah Sandi sebagai tanda terima kasih yang meluap-luap. Namun, Sandi rupanya sudah hafal di luar kepala setiap gerak-gerik impulsif gadis itu. Sebelum tubuh Saskia sempat menempel, telapak tangan Sandi sudah lebih dulu mendarat di kening Saskia, menahan kepala gadis itu agar tetap berada pada jarak aman.

"Nope! Enggak ada peluk-peluk! Kass gue sudah cukup menderita hari ini karena es krim lo, Sas!" seru Sandi sambil terkekeh, sementara tangan Saskia menggapai-gapai udara karena tertahan.

Pemandangan itu membuat Anggita, Vino, dan Andra tertawa terpingkal-pingkal. Anggita kemudian mengangguk setuju dengan gaya bos besar. "Gue sih setuju banget! Refreshing juga ganti suasana ke daerah selatan. Gimana Ndra, Vin? Lo berdua siap studi banding ke istana Saskia?"

Vino menyahut dengan semangat membara, "Gue sih oke banget! Seumur hidup gue cuma lewat doang di depan gerbang perumahan elit Pondok Indah. Penasaran juga gue, apa bener di sana aspalnya lebih empuk daripada di sini?"

Andra yang sedang mengikat tali sepatunya mendongak, menatap Saskia dengan tatapan menyelidik namun antusias. "Beneran nih, Sas? Enggak keberatan kalau gerombolan sableng kayak kita berantakin rumah lo?"

Saskia mengangguk mantap dengan senyum yang merekah lebar hingga ke telinga. Pipinya merona merah karena senang usulnya—yang disampaikan lewat bahasa kalbu kepada Sandi—disambut baik oleh semuanya.

Sandi kemudian menimpali dengan nada final, "Oke, berarti fix ya. Kalau ada tugas kelompok lagi, markas besar kita pindah ke Pondok Indah. Kita lihat sesultan apa sebenarnya si Oneng satu ini kalau sudah di kandangnya sendiri."

Kelompok Sableng mengangguk mantap secara serentak, menandakan kesepakatan itu telah sah. Sambil berjalan beriringan menuju gerbang depan, mereka mulai membayangkan keseruan apa lagi yang akan terjadi di rumah mewah Saskia nantinya. Pertemuan Sabtu itu ditutup dengan tawa yang masih tersisa, mempererat ikatan persahabatan mereka yang semakin tak terpisahkan.

Suasana di depan kediaman Vino sore itu mendadak riuh oleh deru mesin yang membelah keheningan perumahan. Andra sudah bertengger gagah di atas motor bebeknya, sementara Anggita dengan lincah naik ke boncengan, siap menempuh perjalanan pulang. Di sisi lain, Ninja hijau milik Sandi sudah menyala, namun sang pemilik motor masih tertahan karena sosok gadis di sampingnya hanya berdiri mematung. Saskia tidak bergerak sedikit pun, matanya melirik-lirik gelisah ke arah jok belakang motor Sandi, lalu beralih menatap Sandi dengan tatapan penuh kode yang sangat transparan.

Vino, yang masih setia berdiri memegangi gerbang pagar rumahnya, menyadari gelagat canggung itu. Ia menyenggol udara ke arah Sandi. "San, itu... Saskia kayaknya belum ada hilalnya mau pulang," goda Vino sambil menahan tawa.

Sandi menoleh, dahinya berkerut dalam. "Lah, Sas? Lo bukannya dijemput nyokap lo?"

Saskia menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya memilin ujung bajunya. "Tadi kan aku sudah bilang ke Mama kalau aku dari sini mau dijemput Nanda buat kencan malam mingguan. Jadinya Mama nggak perlu jemput. Tapi kan barusan rencananya batal karena saudara sepupunya datang. Jadi... ya aku nggak ada jemputan," jawabnya dengan nada yang sengaja dibuat memelas.

Sandi menghela napas panjang, suaranya terdengar frustrasi namun ada nada peduli di sana. "Kenapa nggak lo telepon nyokap lo pas Nanda kasih tahu batal? Pondok Indah ke sini kan lumayan, Sas. Kalau lo telepon dari tadi, mobil lo mungkin sudah sampai di depan gerbang ini sekarang."

Saskia kembali menggeleng, kali ini dengan binar mata yang lebih keras kepala. "Kan aku tadi pagi sudah bilang sama kamu, San. Aku mau naik motor kamu. Aku kangen dibonceng kamu keliling Jakarta."

Sandi mendengus, mencoba mencari logika di balik sikap sahabatnya itu. "Lah, tadi pagi itu kan lo lagi bahas skenario kalau gue keterima kerja di stasiun radio, bukan berarti itu jadi tiket gratis buat gue anterin lo sekarang! Lo ini bener-bener ya, pusing gue."

Melihat Saskia yang mulai menunduk dalam-dalam seolah-olah dunia akan runtuh jika ia tidak pulang naik motor Ninja hijau itu, Sandi hanya bisa menengadah ke langit. "Ya Tuhan! Kenapa lagi sih hamba harus dipertemukan dengan anak ajaib satu ini setiap hari? Ujian kesabaran macam apa ini?"

Anggita, Andra, dan Vino tidak bisa menahan tawa mereka. Suara tawa mereka menggema di jalanan sepi itu, menertawakan penderitaan Sandi yang selalu kalah melawan kemanjaan Saskia.

"Sudah lah, San. Ngalah saja kenapa sih? Anggap saja ini warming up sebelum lo jadi penyiar radio terkenal," celetuk Anggita sambil menepuk pundak Andra. "Anterin dia saja, daripada dia jadi patung di depan rumah Vino sampai besok pagi."

Sandi terdiam sejenak, lalu menatap Vino. "Vin, pinjam helm satu lagi dah. Helm buat penumpang." Ia lalu beralih ke Saskia dengan tatapan tajam yang pura-pura galak. "Sas! Dengerin gue. Kalau bukan karena janji gue ke nyokap lo tadi pagi buat jagain lo sampai tuntas, gue ogah banget anterin lo sore-sore begini. Paham?"

Saskia langsung mendongak, matanya berbinar ceria seolah baru saja mendapat hadiah lotre. Ia mengangguk patuh dengan sangat cepat. Vino segera berlari masuk ke dalam rumah dan kembali membawa sebuah helm retro milik mamanya yang masih sangat bersih.

"Nih Sas, pakai saja helm Nyokap. Daripada berdebu di lemari, mending buat lindungi kepala 'Oneng' lo yang berharga itu," canda Vino.

"Makasih banyak ya, Vin. Maaf banget jadi merepotkan kamu gara-gara aku," ujar Saskia dengan nada tulus yang jarang ia tunjukkan.

"Woles, Sas. Kayak sama siapa saja," balas Vino santai.

Saskia meraih helm itu dan bersiap naik ke jok belakang. Namun, baru saja satu kakinya terangkat, tangan Sandi bergerak cepat menarik lengan Saskia. Dengan telaten, Sandi merapikan posisi helm di kepala Saskia yang miring, lalu mengaitkan tali helmnya hingga terdengar bunyi klik. Ia memastikan tali itu terpasang sempurna di bawah dagu Saskia agar tidak terlepas saat diterjang angin.

"Sudah! Jangan banyak gaya, buruan naik lo," ucap Sandi sambil memberikan pukulan pelan di bagian atas helm Saskia, sebuah gestur kasar namun penuh kasih sayang yang membuat jantung Saskia berdesir.

Saskia tersenyum sangat manis di balik kaca helm. Ia naik ke boncengan dan secara instan melingkarkan kedua tangannya dengan erat di perut Sandi. Sandi tersentak, ia segera menepuk-nepuk tangan Saskia yang mengunci perutnya. "Woi, Oneng! Tangan lo dikondisikan! Perut gue masih kram sisa 'serangan' lo tadi di sofa. Jangan kencang-kencang meluknya, ntar gue sesak napas!"

Anggita dan Andra kembali terkekeh melihat pemandangan itu. Vino kemudian melambaikan tangan. "Guys, gue masuk dulu ya. Capek juga nungguin drama kalian. Hati-hati di jalan, jangan sampai nyasar ke hati yang salah!"

"Vino! Makasih banget buat semuanya hari ini. Jamuannya juara! Salam buat Nyokap dan Bokap lo ya, oke!" teriak Sandi sambil memberikan jempol. Vino mengangguk mantap sebelum menutup gerbang pagar rumahnya yang kokoh.

Sandi menoleh ke arah Andra yang sudah siap memacu motornya. "Ndra! Lo lewat jalur bypass kan?"

Andra mengangguk. "Iya, kenapa emangnya? Mau balapan?"

"Enggak lah, gila lo. Kalau gue sendirian, pasti gue bisa barengan sama lo lewat jalur cepat. Tapi karena gue bawa 'beban' manja ini ke arah Pondok Indah dulu, kita pisah di sini saja ya. Gue ambil jalur memutar lewat sebelah sini biar nggak terlalu kena macet parah," jelas Sandi.

Anggita mengangguk setuju. "Hati-hati ya, San. Sas, pegangan yang kuat ya! Sandi itu suka lupa diri kalau sudah di atas motor, penumpangnya sering dianggap karung beras kalau dia lagi asyik ngebut."

Saskia, yang mendengar instruksi Anggita, bukannya waspada malah makin bersemangat. Ia kembali memeluk erat perut Sandi, bahkan kali ini lebih kuat dari sebelumnya.

"Saskia Fiana Putri! Gue bilang apa barusan? Perut gue masih sakit! Jangan kencang-kencang pegangannya!" protes Sandi lagi, meski ia tidak benar-benar menepis tangan itu.

Andra dan Anggita tertawa untuk terakhir kalinya sebelum kedua motor itu bergerak ke arah yang berbeda. Akhirnya, Sandi dan Saskia menempuh belantara aspal Jakarta menuju kawasan elit Pondok Indah. Di boncengan belakang, Saskia memejamkan mata, tersenyum begitu manis. Ia membenamkan wajahnya di punggung tegap Sandi, menikmati aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau matahari dan balsem, merasa bahwa ini adalah perjalanan paling indah meskipun tujuannya hanyalah pulang ke rumah.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!