Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Entah kenapa harus ini Laras merasa badanya kurang sehat. Kepalanya terasa pusing dan perutnya seperti di kocok - kocok.
"Ya ini kenapa dengan diriku?" gumam Laras pada dirinya sendiri. Laras memijit kepalanya dengan kedua tangannya berharap rasa sakit di kepalanya berkurang. Rasa mual kembali datang mendera membaut Laras harus kembali berlari menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya tapi karan sudah keluar semunya uang terasa hanya air liur bewarna kuning dan meninggalkan rasa pahit.
Laras mencoba mengoleskan minyak kayu putih di kening, perut dan pinggangnya serta mencium aroma menyegarkan minyak kayu putih.
"Apa aku masuk angin kali ya?" kembali Laras menggumam sendiri.
"Bisa jadi sih, aku kan belum makan dari tadi siang." Laras membenarkan dugaannya.
"Permisi non, ada apa? Bibik dengar dari luar non muntah - muntah." bibik masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu karna kwatir terjadi sesuatu pada nonanya. Tugasnya memang harus memastikan bosnya baik - baik saja.
"Ga tau nih bik, kepala aku pusing dan perutku juga mual terus." jelas Laras apa adanya.
"Apa mungkin non masuk angin?" tebak bibik.
"Ga tau, bik. Pusingnya ga mau hilang dan mualnya datang tiba - tiba."
"Kalau gitu nona tunggu bentar saya akan menghubungi dokter keluarga dulu untuk memeriksa keadan nona." bik Siti langsung menghubungi dokter pribadi keluarga satrio dan tak lupa juga menghubungi tuan mudanya memberi tahu keadan Laras.
Tak berselang lama lam datanglah seorang dokter wanita berpakain muslim. Dokter langsung memeriksa keadan Laras sambil sesekali mengajukan pertanyaan. Tapi yang di tanya malah nampak tertidur karna kelelahan bolak balik wastafel memuntahkan isi perutnya, jadi pertanyaan dari dokter bibik Siti yang menjawab.
"Kenapa nona saya dok?" tanya Bik Siti nampak sangat mengkhawatirkan keadan Laras.
"Ga apa - apa kok, ini biasa terjadi pada trimester permata kehamilan." jelas dokter membuat bibik terkejut.
"Apa dok? hamil ?" tanya bik Siti memastikan pendengaranya tak salah.
"Hmmm...." angguk dokter. Bibik tersenyum ikut merasakan kebahagian nonanya.
"Alhamdulillah isi juga." ucap bibik.
"Isi apa, bik? Laras gimana keadaannya? dia kenapa?" Dafa memberondong bik Siti dengan banyak pertanyaan.
"Tanya dokter Astrid aja, tuan."
"Gimana istri saya dok?" Dafa beralih mengajukan pertanyaan pada dokter yang bernama Astrid.
"Non Laras ga kenapa - kenapa, tuan. Hanya sedikit gangguan yang bisa dialami ibu hamil."
"Ibu hamil, jadi maksud dokter istri saya hamil gitu?" tanya Dafa.
"Hmm...." angguk dokter sembari tersenyum.
"Beneran ini dok?" kembali Dafa bertanya karna masih belum yakin dan kembali dokter mengangguk.
"Sebaiknya besok tuan membawa nona Laras ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan dan memastikan keadaannya baik - baik saja." ujar dokter Astrid.
"Baik dok, makasih." Dafa nampak begitu bahagia. Di pandangi wajah istrinya yang tengah tertidur karna kelelahan. Tangan Dafa terulur mengusap perut Istrinya yang masih datar.
"Jadi di sini ada anak kita." gumam Dafa dengan mata berkaca - kaca, jadi gini rasanya bakal jadi seorang ayah. Gerakan tangan Dafa mengangu tidur Laras sehingga membuat wanita itu terbangun.
"Tuan, udah pulang ya? Maaf saya ketiduran." Laras berusaha untuk duduk tapi ditahan Dafa.
"Ga apa - apa, sebaiknya kamu istirahat aja biar anak kita sehat. " ucap Dafa lembut.
"Anak, maksud tuan?" Laras menatap suaminya mencoba mencerna apa yang Dafa barusan suaminya katakan. Apakah pendengaranya baik - baik saja? Atau dirinya yang halu?
...****************...
Assalamualaikum kk, selamat pagi. Selamat beraktivitas kembali.
Di tunggu saran dan masukannya serat jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪🙏🙏😘