Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 PGS
Malam pun tiba.....
Ariel dan Mamanya saat ini sedang membereskan barang-barang yang akan mereka bawa. Pagi-pagi sekali mereka akan pergi ke Jakarta untuk menjemput Rosa yang akan pulang dari sekolahnya di luar kota. Rosa dijadwalkan akan pulang siang, dan mereka memutuskan akan menginap dulu di hotel Jakarta satu malam dan akan pulang keesokan harinya.
Rosa baru saja menyelesaikan pendidikannya di Kota Jogja, dia kuliah ambil jurusan pertanian seperti yang diinginkan oleh Papanya. Setelah kuliahnya selesai, Rosa memutuskan untuk kembali ke kampung. Sifat Rosa tidak jauh berbeda dengan Ariel, kedua anak Tama memang sombong-sombong.
"Pa, Papa yakin tidak akan ikut ke Jakarta? Mama nginap loh di Jakarta satu malam," seru Mama Ningsih.
"Maafkan Papa Ma, Papa tidak bisa ikut nanti Papa kirim uang saja untuk kalian supaya kalian bisa jalan-jalan dulu di Jakarta," sahut Juragan Tama santai.
"Tapi Papa sendirian di sini?"
"Sendirian bagaimana? ada si Yosep, ada supir juga, belum lagi karyawan perkebunan. Sudah Mama jangan khawatir, Papa gak apa-apa kok," ucap Juragan Tama meyakinkan.
"Rasa merasa gak enak saja kalau harus bepergian tanpa Papa, biasanya kalau pergi ke mana pun Papa selalu ada," seru Mama Ningsih sedih.
Tama merangkul Ningsih. "Jangan berlebihan, lagipula cuma satu malam kok kaya yang mau berpisah beberapa tahun saja," seru Juragan Tama.
"Ya, sudah Papa jaga diri baik-baik Mama cuma pergi satu malam saja. Maaf ya, besok Mama tidak bisa menemani Papa tidur," ucap Mama Ningsih sedih.
"Justru saya ingin Wita yang menemani saya tidur, saya sudah bosan dengan kamu," batin Juragan Tama dengan khayalannya.
Tama semakin gila, dia benar-benar ingin menjadikan Wita istrinya. Jika Ningsih mengizinkan, maka Tama ingin menjadikan Wita menjadi istri ke dua tapi jika Ningsih tidak mengizinkan, maka Tama akan menceraikan Ningsih. Segila itu memang obsesi Tama, tapi yang jadi pertanyaannya memangnya Wita mau menikah dengan Tama?
***
Keesokan harinya....
Ariel sudah memanaskan mobilnya karena dia dan Mamanya akan berangkat ke Jakarta. Tama pura-pura sedih, padahal sebenarnya dia sangat bahagia setidaknya dua hari satu malam ini dia akan bebas mendekati Wita. "Pa, kita berangkat dulu!" pamit Ariel.
"Jaga Mama kamu baik-baik Ril, jangan lupa kamu ajak Mama kamu jalan-jalan dulu kasihan Papa tidak pernah ngajak Mama mu jalan-jalan," seru Juragan Tama.
"Mama pamit dulu ya, Pa," ucap Mama Ningsih.
Ariel dan Mamanya pun segera pergi menuju Jakarta. Kebetulan sekali hari ini adalah hari sabtu dan merupakan long week end. Diperjalanan, Ariel melihat Sherina sedang berjalan menuju perkebunan mungkin Sherina akan membantu Tri dan juga Syarif.
"Rajin juga dia pagi-pagi sudah pergi ke kebun," batin Ariel.
"Eh, itu anaknya Pak Tri ya? yang kerja di kebun kita?" tanya Mama Ningsih.
"Iya," sahut Ariel.
"Cantik banget ya, beda kalau datang dari kota kelihatan banget seperti artis," puji Mama Ningsih.
"Sebentar lagi juga dia bakalan buluk Ma, soalnya dia sudah gak punya uang lagi buat perawatan paling bulan depan juga sudah berubah tuh," ledek Ariel.
"Ishh, kamu jangan seperti itu gak baik," seru Mama Ningsih.
Sementara itu, Sherina menemui Daddy dan juga adiknya. Tri dan Syarif memang rajin pagi-pagi sudah berangkat ke kebun, entah kenapa keduanya lebih senang berada di kebun meskipun capek tapi mereka merasa tenang bisa bergaul dengan warga asli kampung itu. "Daddy!" teriak Sherina.
Tri menoleh dan segera menghampiri Sherina. "Ada apa Nak? kok tumben nyusul Daddy ke kebun?" tanya Daddy Tri.
"Daddy, siang ini Sherina harus ke Jakarta dulu," sahut Sherina.
"Kenapa? ada masalah dengan perusahaan?" tanya Daddy Tri cemas.
"Tidak Daddy, Om Hari cuma bilang jika besok ada investor dari Belanda dan orang itu ingin bertemu langsung dengan Daddy atau aku jadi orang itu gak mau bertemu dengan Om Hari katanya," sahut Sherina.
"Oh begitu."
"Daddy mau ikut gak ke Jakarta?" tanya Sherina.
"Kamu saja lah yang pergi, Daddy yakin kamu bisa melakukannya. Lagipula jika Daddy pergi, takutnya ada yang curiga," sahut Daddy Tri.
Seketika Sherina ingat dengan ucapan Mommy. "Ah, benar juga Daddy lebih baik jangan ikut kasihan Mommy nanti kesepian," ucap Sherina.
"Kamu hubungi saja Wanto buat jemput kamu," ucap Daddy Tri.
"Sudah, Pak Wanto sudah dalam perjalanan ke sini," sahut Sherina.
"Ya, sudah kamu hati-hati ya di jalan kalau sudah sampai di Jakarta, kamu kasih kabar," ucap Daddy Tri.
"Dek, Lu mau nitip apa?" seru Sherina.
"Bawa PS gua, Kak. Boring juga kalau libur gak ngapa-ngapain," sahut Syarif.
"Ok."
"Satu lagi, beli makanan kalau pulang. Gua rindu makanan Jepang, Lu beliin yang banyak ya, Kak," sambung Syarif.
"Bawa makanan yang banyak, mana duitnya?" seru Sherina sembari mengulurkan tangannya kepada Syarif.
"Yaelah, Lu kan banyak duit bahkan duit Lu sudah gak berseri lagi, beli makanan Jepang gak ada apa-apanya buat Lu. Nanti kalau gua sudah kerja, gua ganti duit Lu, Kak," sahut Syarif.
"Lah, sekarang 'kan sudah kerja," ledek Sherina.
"Astaga, gaji di sini imut banget Kak, malahan gua rasanya sayang banget buat beliin uang gua. Sudah capek-capek kerja tapi habis gajihan dipakai buat jajan, rasanya sakit banget berhubung gua nyarinya sampai napas berasa sakaratul maut," sahut Syarif.
Sherina terkekeh. "Nah, itulah rasanya nyari uang makanya jangan boros," ledek Sherina.
"Lah, kalau kerja di kantor 'kan enak gak capek beda sama di sini," keluh Syarif.
"Beda apanya? yang namanya kerja itu pasti capek Dek, Lu hanya tahu sekarang enaknya doang padahal Lu gak tahu 'kan bagaimana jatuh bangunnya Daddy membangun perusahaan itu menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang?" seru Sherina.
"Iya, juga sih."
Tidak lama kemudian, terlihat Tama datang. "Juragan Tama datang, Daddy dan Syarif harus kembali bekerja. Kamu kalau mau pergi, pergi saja ya, jangan pamitan lagi ke sini takutnya Daddy lagi dibagian ujung sana," seru Daddy Tri.
"Ok, Dad."
Tri dan Syarif pun segera pergi, sedangkan Sherina bangkit dari duduknya dan hendak pergi. "Kamu putrinya Pak Tri ya?" seru Juragan Tama.
"Iya."
Sherina hendak pergi tapi Tama menghentikannya. "Nak, jika kamu butuh apa-apa, kamu bisa bilang sama saya takutnya Pak Tri tidak bisa memberikannya untuk kamu," seru Juragan Tama.
Sherina mengepalkan tangannya. "Maaf Juragan, saya harus pulang dulu," seru Sherina.
Sherina pun pergi, sedangkan Tama tersenyum sumringah. "Lihat Yosep, sebentar lagi dia akan menjadi anak sambung saya. Dia cantik sekali seperti Jeng Wita," seru Juragan Tama dengan percaya dirinya.
Yosep terpaksa tersenyum dan mengangguk, dia tidak berani berkomentar apa-apa.
oh Ariel punya sekolah TK juga ya ..kirain SD di kampung itu aja dulu ...rasakan sekarang susah kau jadi tukang ojek