Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suasana di lantai teratas gedung Mahendra Corp terasa sunyi dan eksklusif, sangat kontras dengan kegelapan yang mencekam di lantai dasar.
Baskara duduk di balik meja kerjanya yang luas, sesekali melirik pintu jati besar yang masih tertutup rapat.
Perasaannya mulai gelisah; Ambar tidak biasanya terlambat tanpa memberi kabar.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Bukan Ambar yang masuk, melainkan Clara yang melangkah dengan gemulai, mengenakan parfum yang menyengat dan senyum kemenangan yang dipaksakan.
"Bas, Sayang. Sudah lama ya kita tidak mengobrol sedekat ini," ucap Clara dengan nada manja.
Ia berjalan mendekati meja Baskara, mencoba duduk di pinggiran meja dan menyentuh bahu pria itu dengan jemarinya yang lentik.
Baskara segera menepis tangan Clara dengan kasar. Tatapannya sedingin es.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Clara? Dan bagaimana kamu bisa melewati keamanan?"
Clara tertawa kecil, mengabaikan penolakan itu. "Aku hanya merindukanmu. Kudengar kamu menikahi wanita 'sampah' itu hanya untuk membalas dendam pada keluarga Wijaya, kan? Sudahlah, Bas. Aku jauh lebih berkelas dan berguna untuk citra perusahaanmu daripada dia."
Clara mencoba merayu lebih jauh, mencondongkan tubuhnya ke arah Baskara, berusaha mengalihkan perhatian pria itu agar tidak mencari keberadaan istrinya.
Sementara itu, di kedalaman gudang logistik yang pengap...
Ambar berjuang dengan sisa tenaganya. Tangannya yang terikat di belakang punggung mulai memar karena gesekan tali plastik yang tajam.
Ia mencoba menggeser tubuhnya ke arah tumpukan palet kayu, berharap ada bagian tajam yang bisa memutus tali itu.
"Mmmmpphh!!! Mmmppphh!!!"
Suara Ambar hanya terdengar seperti gumaman lirih di balik sumpalan kain yang tebal.
Debu-debu di gudang itu beterbangan, masuk ke dalam indra penciumannya.
Udara di ruangan sempit itu semakin menipis. Ambar merasa dadanya sangat sesak, paru-parunya seolah terbakar karena kekurangan oksigen.
Pandangannya mulai mengabur. Titik-titik hitam menari di depan matanya.
Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ambar mencoba menarik napas dalam-dalam, namun sumpalan kain itu justru membuatnya semakin tercekik.
Bas, tolong aku." bisik Ambar dalam hati yang kian melemah.
Hingga akhirnya, kesadaran Ambar hilang sepenuhnya.
Tubuhnya yang lemas jatuh merosot ke lantai gudang yang dingin.
Ia langsung jatuh pingsan dalam posisi terikat, sendirian di tengah kegelapan, sementara di atas sana, wanita yang menculiknya sedang mencoba merebut suaminya.
Baskara tidak lagi bisa menahan amarahnya. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol saat ia menatap Clara dengan pandangan yang sanggup membunuh.
Ia menekan tombol interkom di mejanya dengan kasar.
"Gabby! Masuk sekarang!" teriak Baskara.
Pintu jati besar itu terbuka lebar. Gabby masuk dengan wajah pucat, membawa tablet di tangannya.
Ia segera melirik Clara dengan tatapan tidak suka sebelum menghadap tuannya.
"Usir wanita ini sekarang juga! Dan pastikan dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di gedung Mahendra mana pun di dunia ini!" perintah Baskara, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Clara tersentak, wajahnya pucat pasi. "Bas! Kamu tega melakukan ini demi wanita itu?"
"Keluar, Nona Clara. Sebelum saya memanggil petugas kepolisian," ucap Gabby tegas sambil memberi isyarat pada dua pengawal di ambang pintu.
Clara diseret keluar dengan teriakan histeris yang tak dihiraukan oleh siapa pun. Namun, kegelisahan Baskara tidak mereda. Ia menatap Gabby dengan tajam.
"Dimana Ambar? Kenapa dia belum sampai juga?"
Gabby menelan ludah, jarinya bergerak cepat di atas layar tablet.
"Itu dia masalahnya, Tuan. Saya baru saja memeriksa sistem parkir. Mobil Ferrari merah milik Nyonya Ambar sudah ada di depan lobi sejak lima belas menit yang lalu. Mesinnya sudah mati, tapi Nyonya tidak pernah melewati gerbang sensor lift menuju ruangan ini."
Baskara membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang oleh firasat buruk yang mendalam.
"Apa?! Mobilnya ada, tapi dia tidak ada?"
Baskara segera memutar kursi rodanya menuju layar monitor besar di dinding ruangannya yang terhubung dengan seluruh CCTV gedung.
"Gabby! Buka rekaman lobi lima belas menit terakhir! Sekarang!"
Layar itu menampilkan rekaman Ambar masuk dengan anggun, namun kemudian langkahnya dihentikan oleh Clara.
Baskara melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana istrinya dibekap, diikat, dan diseret oleh orang-orang suruhan Clara menuju lift barang.
"KEAMANAN!!!" raung Baskara hingga suaranya bergema ke seluruh lantai kantor.
"Kunci seluruh pintu keluar! Jangan biarkan satu tikus pun meninggalkan gedung ini! Gabby, lift barang itu berhenti di lantai dasar. Gudang logistik! Cepat ke sana!"
Baskara tidak menunggu lift tamu. Ia memacu kursi rodanya menuju lift pribadi dengan kecepatan penuh.
Di dalam hatinya, ia terus berdoa agar Ambar baik-baik saja.
Jika terjadi sesuatu pada sehelai rambut istrinya, ia bersumpah akan meratakan siapa pun yang terlibat dengan tanah.
BRAKK!!
Suara keras besi itu berdentum keras, menggema di seluruh lorong gudang yang sunyi.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalamnya membuat jantung Baskara seakan berhenti berdetak.
Di sudut ruangan yang gelap dan berdebu, Ambar tergeletak lemas dengan tangan terikat ke belakang dan kain tebal yang menyumpal mulutnya hingga menutupi sebagian hidungnya.
Wajah Ambar sudah pucat pasi, tak ada tanda-tanda pergerakan dada yang menandakan ia masih bernapas.
"SAYANG!!" raung Baskara.
Dalam kepanikan yang luar biasa, Baskara tidak peduli lagi dengan keterbatasan fisiknya.
Ia memaksakan tubuhnya turun dari kursi roda, jatuh tersungkur ke lantai beton yang dingin, dan mulai merangkak dengan sisa tenaga di lengannya menuju tubuh istrinya yang tak bergeming.
Setiap jengkal tarikan tubuhnya terasa seperti keabadian.
"Bangun Ambar!! Tolong, jangan tinggalkan aku!" suaranya serak karena tangis dan amarah.
Begitu sampai di samping Ambar, Baskara dengan tangan gemetar segera menyambar kain yang menyumpal mulut istrinya dan membuangnya kasar.
Kemudian ia merobek tali plastik yang mengikat tangan Ambar dengan pisau lipat yang selalu ia bawa.
Baskara menarik tubuh Ambar ke pangkuannya, menepuk-nepuk pipinya yang dingin.
"Ambar! Buka matamu! Aku di sini! Gabby! Panggil ambulans! SEKARANG!"
Baskara mendekatkan telinganya ke dada Ambar, mencoba mencari detak jantung yang tersisa, sementara air matanya jatuh membasahi wajah istrinya yang malang.
Ia tidak akan membiarkan maut mengambil Ambar tepat di saat mereka baru saja menemukan kebahagiaan.
Baskara tidak membuang waktu. Dengan tangan gemetar namun penuh tekad, ia memberikan napas buatan, mencoba menyalurkan setiap embusan oksigen ke paru-paru Ambar yang sempat berhenti bekerja.
"Kumohon, Sayang. Jangan tinggalkan aku," bisik Baskara di sela-sela usahanya.
Beberapa detik yang terasa seperti keabadian berlalu, hingga tiba-tiba tubuh mungil itu tersentak.
Ambar terbatuk-batuk kecil, menghirup udara dengan rakus seolah baru saja muncul dari dasar laut yang dalam.
Matanya terbuka sayu, menatap wajah Baskara yang basah oleh air mata sebelum akhirnya kembali terpejam karena kelelahan yang luar biasa.
Tim paramedis yang baru saja tiba, dengan sigap mengangkat Ambar ke atas tandu.
Baskara, yang masih terduduk di lantai gudang dengan kaki yang tak berdaya, menolak dibantu sebelum ia memastikan Ambar aman di dalam ambulans.
Begitu sirine ambulans menjauh menuju rumah sakit, aura di sekitar Baskara berubah drastis. Kelembutan yang tadi ia tunjukkan pada Ambar menguap, digantikan oleh kegelapan yang mematikan.
Ia kembali ke kursi rodanya, namun kali ini ia tampak seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa.
Ia segera menghubungi pengacara pribadinya melalui telepon satelit.
"Dengarkan aku baik-baik," desis Baskara, suaranya dingin dan tajam seperti sembilu. "Clara. Aku ingin dia membusuk di penjara. Gunakan seluruh pengaruh Mahendra Corp. Jangan biarkan dia melihat sinar matahari lagi. Cari sel paling kejam, pastikan tidak ada pengacara yang berani membelanya, dan sita seluruh aset keluarganya sampai mereka tidak punya sepeser pun untuk membeli air minum."
"Tapi Tuan, ancaman hukumannya mungkin tidak seumur hidup jika—"
"Aku tidak peduli dengan 'mungkin'!" potong Baskara dengan nada yang menggetarkan ruangan.
"Jika hukum tidak bisa memberikan hukuman seumur hidup, maka buatlah hidupnya di dalam sana terasa seperti ribuan tahun di neraka. Sekarang!"
Baskara menutup teleponnya dengan kasar. Ia kemudian menatap lobi kantornya yang kini dipenuhi polisi.
Baginya, menyakiti Ambar adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan seseorang, dan ia akan memastikan Clara membayar setiap detik sesak napas yang dirasakan istrinya dengan penderitaan yang tak berujung.