NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~15 Doa yang menjadi Titah

Setelah selesai membantu di dapur Layla berjalan kearah kamarnya, ia juga ingin bersiap, karena Raja Gustaf memintanya datang di pengadilan nanti.

Sore menjelang, di sayap utara istana, Layla melepas celemek kain yang basah bekas bubur kacang hijau. Tangannya merah terkena uap. Tapi senyumnya tidak hilang. Anak kecil pelayan tadi masih menggenggam jarinya sampai belokan lorong.

“Ratu, besok masak lagi ya?” kata bocah itu.

Layla berjongkok, mencubit pipinya. “Iya...Tapi besok giliran kamu yang ngaduk, biar jadi juru masak paling hebat di Jaya Wijaya.”

Ia berdiri, lalu berjalan pelan ke kamarnya. Kamar itu di sayap utara. Dulu kamar ini milik neneknya Raja Gustaf yang sudah wafat. Kasurnya tebal, ruangannya luas. Tapi jendelanya menghadap ke ladang gandum. Itu yang membuat Layla suka.

Sampai di depan pintu, ia berhenti. Mengusap kebaya biru muda yang sudah terkena tepung. "Raja Gustaf minta aku datang ke pengadilan nanti... bukan ruang tahta, tapi pendopo pengadilan untuk rapa, ada hal apa?." Layla mengerutkan keningnya.

Jantungnya tidak takut. Tapi berat. Ia pikir akan diadili lagi. Diinterogasi lagi.

Di dalam kamar, ia menuang air dari kendi ke baskom tembaga. Mencuci tangan, muka, sampai adonan hilang. Tidak ada pelayan yang membantunya. Ia menolak. “Aku bisa sendiri, Dayang. aku sudah terbiasa.” kata Layla saat para Dayang membantunya mandi.

Dari celah pintu yang tidak dikunci rapat, Ratu Yasmin berdiri diam. Tadi Ibu Ratu menyuruh dia melihat Layla dari jauh, sebelum besok megajarkan nya memasak.

Ratu Yasmin melihat Layla tidak pakai minyak wangi mahal. Tidak pakai sisir gading. Ia hanya menyisir rambutnya pakai jari, lalu mengikatnya sederhana. Ia buka peti kayu, mengeluarkan satu-satunya kebaya yang ia bawa dari Candra: warna putih gading. Kebaya itu hadiah dari ibunya, bahkan ibunya juga yang menjahitkannya langsung.

"Ya-Dewi Laksmi, aku rindu Candra." Layla menarik nafas berat.

Layla menempelkan kebaya itu ke pipi, lalu berbisik lagi: "Andai saja ada keberuntungan datang, izinkan aku menginjak kembali tanah kelahiranku Candra."

Ratu Yasmin menutup mulutnya mengunakan tangan. Selama 10 tahun ia punya 20 peti kebaya sutra. Tapi ia tidak pernah berbisik “semoga ridho” ke siapapun sebelum memakai baju. Ia hanya berpiki: “Apa Yang Muli suka warna ini?”

Layla lalu duduk di tempat Puja, lalu ia berdoa dengan khusyu. “Ya-Dewa... kalau Engkau panggil hamba ke pengadilan nanti untuk dihakimi, kuatkan. Kalau Engkau panggil untuk jadi saksi kebenaran, lancarkan lidah hamba."

Tidak ada rias. Tidak ada minyak wangi. Cuma doa khusyu dan, bau cendana.

Yasmin memejamkan mata. Dadanya sakit lagi. Tapi sakit yang beda. Sakit karena malu. "10 tahun aku siap 3 jam cuma untuk 10 menit ketemu raja. Dia siap 10 menit... untuk menghadap keadilan."

Langkah kaki terdengar dari lorong. Pangeran Serasa datang, Ratu Yasmin segera pergi dari sana.

Pangeran Serasa mengetuk pintu dua kali. “Putri Layla, Baginda titip pesan. Pengadilan nanti bukan untuk menghakimi. Baginda mau rakyat lihat... perempuan yang berani menahan pedang itu seperti apa. Biar mereka percaya damai ini nyata.”

Layla membuka matanya, ia berdiri, membenahi selendangnya. Ia menunduk hormat ke arah pintu.

“Aku mengerti, Serasa. Aku akan datang.” kata Layla.

Serasa mengangguk, lalu pergi. Dari depan kamar Layla.

Layla langsung bersiap. Ia berjalan kearah pengadilan, disana semua orang telah berkumpul. Panglima, penasehat, orang kepercayaan Raja Gustaf, ibu ratu, para selir, kepala permaisuri Ratu Yasmin. Juga sudah ada disanan.

Layla langsung mengambil posisi duduknya, ia duduk di tengah, sisi kirinya ada Ratu Anaya. Ratu kedua Raja Gustaf, dan di sisi kanannya ada Ibu mertuanya permaisuri Ratna.

"Salam hormat kepada Yang Mulia Raja!!!." teriak salah satu Prajurit, saat Raja Gustaf masuk kedalam balai pengadilan.

Pendopo Pengadilan Jaya Wijaya, senja itu.

Genta tembaga berdentang 3 kali. Semua kepala menunduk.

Raja Gustaf memasuki ruangan. Jubah kebesarannya tidak dipakai. Hanya surjan hitam polos, sabuk kulit, dan keris tanpa sarung di pinggang. Tidak ada mahkota. Rambutnya masih basah, bau sabun kayu manis. Menyerbak keseluruh ruangan.

Ia langsung duduk di singgasananya.

Suasana hening. Hanya terdengar suara angin lewat celah bambu pendopo.

Raja Gustaf mengangkat tangan. Prajurit yang tadi teriak langsung terdiam. “Duduk,” katanya pelan. Tapi seluruh pendopo menurut.

Semua langsung kembali duduk bersila. Panglima, penasehat, Ibu Ratu, Ratu Yasmin, Ratu Anaya, bahkan selir-selir.

Mata Gustaf menyapu ruangan. Berhenti paling lama di Layla yang duduk di tengah, sisi kanan Ibu Ratu, sisi kiri Ratu Anaya.

Kebaya putih gading Layla paling mencolok dimatanya, dibandingkan dengan pakian para wanita yang lainnya.

Rambutnya disanggul sederhana, ditusuk kembang goyang. Perhiasan yang ia kenakan juga sedikit. Tidak ada permata yang terlalu mencolok, namun saat di tatap mata Layla dan kecantikanya lebih mahal dari apapun.

Gustaf berdiri lagi. Langkahnya pelan ke tengah pendopo. Ia berhenti tepat 3 langkah .

“Apdi Jaya Wijaya,” suara Gustaf berat tapi jelas. “15 tahun aku memerintah dengan pedang. Hari ini, aku buka pengadilan bukan untuk menghukum. Tapi untuk meminta maaf.”

Seisi pengadilan kaget pecah. Ratu Anaya mengerutkan kening. Panglima Wijaksa mengepalkan tangan di gagang pedang.

Gustaf menoleh ke Layla, baru kali ini matanya bertemu.

“Perempuan ini datang 2 hari lalu. Tangan kosong. Tanpa pasukan. Tanpa mahkota. Yang ia bawa cuma dadanya untuk menahan pedang ayahnya sendiri.”

Ia jeda. Lalu menunjuk dadanya sendiri. “Aku yang punya istana, punya prajurit, punya 3 ratu... tapi 15 tahun aku gagal menahan pedang itu. Dia yang cuma punya doa... berhasil.” kata Raja Gustaf tangannya menunjuk tepat kearah Layla. Dibalik tirai pembatas.

Ratu Yasmin menunduk dalam. Jari-jarinya meremas ujung selendang. Ia ingat kata Ibu Ratu siang tadi: “Kau berharga karena kau bertahan.”_ Tapi sekarang ia melihat, bertahan saja tidak cukup kalau tidak berani.

Ibu Ratu, langsung meraih dan menggenggam tangan Layla. Dingin. Tapi Layla tidak menarik. Ia tetap menatap lurus ke lantai ubin.

Gustaf berbalik ke para penasehat. “Hari ini tidak ada dakwaan. Tidak ada saksi. Ada 1 pengakuan: Aku, Raja Gustaf, mengakui kalah. Kalah sama keberanian perempuan yang mampu menjembatani, masalah politik.”

"Dan untuk memberikan apresiasi kepada Ratu baru Jaya Wijaya. Aku ingin besok bagikan koin emas dan juga makanan untuk para Rakyat ku. Serta besok sore, aku akan berencana mendatangi kerajaan Candra sebagai menantu bersama Ratu Layla." kata Raja Gustaf.

Disambut dengan sorakan penghuni pengadilan, mengucapkan kata takzim.

Layla tidak menjawab. Air matanya jatuh. Ia tidak percaya beberapa jam yang lalu, ia berdoa pada Dewi Laksmi, ingin kembali menginjakan kaki ke tanah kelahirannya. Dan besok doanya akan terkabul.

"Selamat, Layla, besok kau akan berkunjung ke Candra. Bersama Gustaf." Ibu Ratu memeluk Layla erat.

Layla mengangguk haru, ia tersenyum kearah Ratu Anaya. Ratu Anaya membalas senyumannya begitu terpaksa.

Sementara Ratu Yasmin mengangkat wajah. Matanya merah. Tapi kali ini ia tidak menunduk pilu. "Melihat lagi-lagi Layla selalu dirayakan, entah menggapa bukannya aku ingin berubah. Tapi aku menjadi semakin iri terhadapnya." batin Ratu Yasmin terseyum sinis.

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!