Setelah melewati begitu banyak hal yang menegangkan, akhirnya seorang Alia Ragasy bisa merasakan kehidupan yang tenang dan damai seperti orang lain pada umumnya, namun bukan berarti jika dia bisa lepas dari kehidupan lamanya. Saat ia pikir itu adalah hal terakhir dari masalah yang selalu mengganggunya, namun itu justru menjadi awal dari kehidupannya yang lebih sulit dari sebelumnya!
Saran author sebelum baca season ini baca yang season 1 dulu yah, karena ada beberapa bab yang akan flashback ke season 1, biar nggak bingung hehe
selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restia pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
...Di balik mata INDIGO season 2...
...BAB 15 ...
...Cerita Melisa...
Alia dan Azam terdiam karena merasa terkejut, mereka berdua kembali saling bertatapan untuk beberapa saat sampai akhirnya Alia mulai bicara.
"15 tahun? tapi itu kan waktu yang cukup lama, lalu kenapa Ibu itu bersikap seperti itu kepada saya?" tanya Alia dengan rasa penasarannya.
"Sebenarnya... istri saya seperti itu sejak 5 tahun lalu. Dulu dia sudah bisa menerima kepergian anak semata wayangnya, namun sejak lima tahun terakhir dia sering datang ke tempat itu, menangis hingga kejiwaannya mulai terganggu." jelas bapak itu, sorot matanya mulai berkaca-kaca saat ia menceritakan tentang istrinya.
"Kalau boleh tahu... bagaimana Melisa meninggal Pak?" tanya Alia.
Bapak itu menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya, matanya memandang jauh mencoba untuk mengingat kembali kejadian 15 tahun lalu.
...*****...
...Cerita Melisa......
Pagi itu langit sangat cerah, seorang anak berusia 7 tahun sedang memandangi setangkai bunga Mawar merah yang baru saja mekar di depan rumahnya. Senyuman terpancar jelas di wajah anak perempuan itu.
"Nak... Ibu mau cari kayu bakar dulu yah, kamu di rumah saja!" ucap seorang wanita yang keluar dari dalam rumahnya. Wanita itu adalah Marni, Ibu dari Melisa.
"Meli ikut Bu..." pinta Melisa dengan nada suara yang sangat manja.
"Ya sudah ayo, tapi nanti jangan jauh-jauh dari ibu yah." ucap Marni kepada putrinya.
Marni sangatlah menyayangi putri semata wayangnya, meskipun mereka hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, namun Melisa sama sekali tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Marni dan Melisa berjalan masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar, karena di rumah mereka tidak memiliki kompor, jadi Marni selalu mencari kayu bakar untuk digunakan sebagai bahan bakar pawon (tungku perapian yang menggunakan kayu bakar).
Pekerjaan Marni hanyalah pembuat gula merah atau gula kelapa, jadi dia lebih sering di rumah, paling ke luar hanya untuk sekedar mencari kayu bakar, sedangkan pekerjaan Joko yaitu ayah Melisa adalah mencari badheg atau bahan baku pembuatan gula merah, sering di sebut juga dengan sebutan nderes.
Pagi itu Marni dan Melisa mencari kayu bakar tak jauh dari pagar besi berwarna hijau yang mengelilingi sebuah batu besar. Karena di sana banyak pohon besar, maka biasanya banyak juga ranting kayu yang berjatuhan di sekitarnya.
Samar-samar Melisa melihat sebuah kain putih tergeletak tak jauh dari sebuah pohon besar yang berada di samping pagar besi itu. Ia melihat ibunya masih sibuk mengumpulkan kayu bakar, jadi diam-diam dia berjalan mendekati kain putih yang tergeletak di sekitar akar pohon besar yang timbul ke tanah.
Begitu melihatnya dengan jelas, Melisa langsung tersenyum sumringah karena ternyata kain putih itu adalah gaun dari sebuah boneka Barbie yang sangat cantik. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, berharap jika boneka itu bukanlah milik siapa-siapa.
Setelah memastikan tidak ada yang memiliki boneka itu, dengan cepat Melisa pun memungutnya dan memeluknya.
Sejak dulu Melisa memang sangat ingin sekali memiliki mainan boneka yang cantik seperti itu, namun karena keterbatasan ekonomi, bapak dan ibunya belum mampu membelikan boneka yang melisa inginkan.
Tak lama kemudian Melisa berlari menghampiri Marni.
"Ibu... Ibu..." teriak Melisa sambil berlari-lari kecil.
"Kenapa sayang?" ucap Marni.
"Melisa nemu ini... cantik!" ucap Melisa sembari menunjukan boneka cantik yang baru saja ia pungut di bawah pohon besar tadi.
"Cantik! tapi itu boneka siapa nak... kamu dapat dari mana?" tanya Marni dengan nada agak khawatir kalau-kalau ternyata boneka itu masih adaa pemiliknya.
"Nemu di bawah pohon itu Bu, nggak ada orang, jadi pasti nggak ada yang punya!" ucap Melisa dengan polosnya.
"Wah mungkin sudah di buang sama pemiliknya, tapi ini masih bagus kok, ya sudah ayo kita bawa pulang." ucap Marni yang juga merasa senang karena akhirnya Melisa bisa memiliki sebuah mainan.
Sesampainya di rumah Melisa langsung masuk ke dalam kamarnya dan mulai asyik memainkan boneka Barbie yang kini akan menjadi teman bermainnya. Sementara itu Marni langsung ke dapur dan mulai menyalakan api untuk membuat gula merah.
Sore harinya... Pak Joko pulang dari pekerjaannya, dia duduk di dapur dan mengambil segelas air yang langsung ia teguk.
"Melisa mana Bu?" tanya Joko yang penasaran karena tidak melihat putrinya di sana.
Pada saat Joko pulang, biasanya Marni sedang mulai mencetak gula merah buatannya, dan Melisa pasti selalu ada di sampingnya untuk meminta gula yang masih hangat itu, namun karena hari ini ia baru saja mendapatkan mainan baru, jadi ia masih asyik di kamarnya sambil bermain dengan boneka Barbie bergaun putih itu.
"Di kamar Pak, lagi mainan." ucap Marni.
"Kok tumben dia mainan di kamar, biasanya kan selalu mengganggu Ibu mencetak gula?" tanya Joko yang penasaran.
"Iya... tadi pagi dia baru saja dapat mainan baru, jadi mungkin masih belum bosan main sama mainannya itu." ujar Marni.
"Ya sudah Bapak lihat dulu ya Bu." ucap Joko sembari bangun dari tempat duduknya dan berniat menghampiri Melisa.
Di depan pintu kamar Melisa, Joko melihat putri semata wayangnya sedang asyik bermain boneka Barbie yang bergaun putih. Joko ingin mendekati namun saat ia melihat boneka itu dengan jelas ia lantas menghentikan langkahnya.
Joko mencoba mengucek kedua matanya untuk memastikan apakah yang ia lihat itu benar atau salah. Setelah mengucek kedua matanya, ia lalu mengedipkan matanya untuk beberapa kali, namun hal ia lihat itu tidak berubah.
"Mainan baru yang di sebutkan Ibu tadi itu... apa benar boneka jelek itu?" gumam Joko pelan.
Yang Joko lihat saat itu adalah boneka Barbie dengan wajah yang hitam seperti gosong karena terbakar, rambutnya acak-acakan dan juga gaun yang terlihat berubah warna menjadi agak coklat karena noda tanah.
"Loh Bapak sudah pulang? Bapak ngapain berdiri di situ?" ucap Melisa yang melihat Bapak nya berdiri di depan pintu kamarnya.
"Eh i iya nak... kamu lagi main apa?" ucap Joko agak gugup karena kaget.
Melisa pun beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Joko, ia lalu mencium punggung tangan Bapaknya dengan lembut.
"Boneka cantik Pak, ayo sini Melisa kasih lihat!" ujar Melisa lalu menarik Joko masuk ke dalam dan duduk di sebuah ranjang sederhana yang terbuat dari bambu dengan kasur tipis di atasnya.
"Tadi Melisa nemu boneka cantik ini di bawah pohon dekat batu besar yang di hutan sana pak!" ujar Melisa dengan senyum yang terus terpancar di wajahnya.
"Ini dia Pak, cantik kan!" imbuhnya sembari menunjukkan boneka Barbie itu kepada Joko.
Melihat boneka yang ditunjukkan oleh Melisa, Joko kembali mengucek kedua matanya dan mengedipkan beberapa kali. Ia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Tadi jelas-jelas dia melihat boneka itu dengan wujud yang sangat jelek, tapi kenapa yang ia lihat sekarang adalah boneka Barbie yang sangat cantik, bahkan warna gaunnya pun putih bersih layaknya boneka baru.
...*...
...*...
...*...
...Jangan lupa dukung author yah! like komen dan juga kasih vote di karya author ini!...
sampai aku baca berkali² kirain baru ternyata sama😄
next thor next 😭
kenapa sangat berduka sekali crita ini thor...😭😭😭
lanjut lagii thor penasaran banget 🤭