Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Rosetta dan Vione masih terdiam ditempatnya.
Keduanya tersentak begitu Caily menoleh dan menatap kearah mereka berdua dengan tatapan bingung.
Namun sebelum sempat mengatakan pertanyaan, Rein kembali yang segera mengembalikan kesadaran keduanya.
Rosetta dan Vione segera kembali bersembunyi ke semak semak untuk menghindari kecurigaan Rein.
Rein yang melihat Caily tampak tercengang ditempatnya segera mendekatinya sambil membawa karung kosong yang akan diisi oleh rumput.
"Ada apa?" Tanya Rein yang membuat Caily tersadar.
Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil sesekali melirik kearah semak semak tempat dimana Rosetta dan Vione bersembunyi.
Rein tidak menanyakan hal lebih lanjut dan segera melakukan tugasnya, memasukka semua rumput hasil kerja keras Caily dan membawanya kembali ke kandang kuda.
"Rein!" Panggil Caily hingga membuat pria itu menoleh.
"Ya, ada apa nona?" Tanya Rein.
"Pekerjaan mu sudah selesai, setelah itu tidak usah kembali kesini, langsung istirahat saja, sisanya nanti aku yang bawa." Ucap Caily yang membuat Rein merasa heran.
Tapi ia tetap mengangguk dan segera pergi dari sana.
Caily menghela napas panjang lalu melirik kearah semak semak dengan perasaan waspada.
sedangkan Rosetta dan Vione yang merasa jika Rein sudah pergi jauh segera keluar dari persembunyian.
"Siapa? dan mau apa?" Tanya Caily tanpa basa basi, dia cukup bingung mengapa dua pelayan itu sampai ditempat ini.
Rosetta dan Vione mendadak bingung, rencananya tidak seperti ini dan mereka tidak menyiapkan rencana lain.
"Eee, kami tersesat." Balas Rosetta dengan nada canggung yang malah membuat Caily semakin waspada.
"Tersesat? sejauh ini?" Caily dengan mata menyipit menatap kedua gadis itu.
Vione melambaikan tangannya dengan gugup.
"Kami- kami pelayan baru, belum begitu hapal dengan tempat ini." Dengan tergesa-gesa menjelaskan.
Rosetta mengangguk anggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah polos yang palsu.
"Ya ya ya, kediaman ini sangat luas, ini hari pertama kami bekerja dikediaman ini." Katanya dengan nada yang dibuat segagap mungkin hingga terlihat natural.
Caily mendengus sinis dan hanya mengangguk saja, lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya, memasukkan rumput kedalam karung lalu kembali pulang.
Rosetta dan Vione mengikutinya dari belakang.
.
.
.
Keesokan harinya, Rosetta dan Vione kembali bekerja di kediaman Valkey sembari mengawasi gerak gerik Caily.
Caily tentu merasakan niat mereka hingga ia bergerak dengan hati hati.
Saat ini Vione dan Rosetta sedang membersihkan meja makan, baru saja seluruh keluarga Valkey makan malam.
"Dia memang aneh." Gumam Vione sambil menumpuk piring kotor dimeja.
"Hm... antara dia reinkarnator dari masa depan atau dia mengulang masa lalunya." Sahut Rosetta sambil mengelap meja.
"Opsi kedua mungkin lebih masuk akal." Ucap Vione.
"Kenapa lo ngerasa yakin? bisa aja dia sama kayak kita." Balas Rosetta.
"Entah, gue cuma gak bisa mikir kalo dia juga dari masa depan." Sahut Vione.
"Kenapa? kalo Caily emang dari masa depan harusnya masih masuk akal, kita aja dari masa depan juga." Balas Rosetta.
Vione diam dan tidak membalas dan keduanya kembali bekerja.
berhari hari mereka berada dikediaman Valkey hanya untuk mengawasi Caily, namun nihil, mereka tidak mendapatkan hasil sama sekali yang menunjukkan jika Caily memang orang dari masa depan.
Merasa tidak mendapatkan apa apa, keduanya pergi secara diam diam dari kediaman Valkey.
Disisi lain Caily yang sudah merasakan jika kedua pelayan baru yang menurutnya mencurigakan itu pergi, menghela napas lega dan kembali pada rutinitas hariannya, yaitu merawat kuda kuda dikediaman itu.
Mengambil rumput, memberi makan kuda kuda lalu memandikan para kuda itu, dia juga membantu Rein membersihkan area kandang kuda.
Sesekali ia juga belajar menunggangi kuda dan dibantu oleh Rein.
Christopher dan Calief hanya memandangi semua aktivitas Caily secara diam diam, mengumpati kedekatan anatara kedua orang itu dan menahan rasa cemburu yang entah kenapa timbul dalam hati mereka.
.
.
.
Rosetta yang baru saja kembali ke istana malah berpapasan dengan Charlos dan Alisa.
Gadis itu tidak menahan rasa bencinya terhadap Charlos ataupun Alisa hingga setiap bertemu dengan mereka, dia hanya menatap lurus kedepan tanpa berniat memberikan salam ataupun menyapa.
Memandang pun ia tak sudi.
Namun sepertinya Alisa adalah gadis yang suka mencari masalah, dia menghentikan langkah kaki Rosetta dengan cara menyentuh tangannya dan menyapa dengan nada lembutnya yang entah pura pura atau memang sungguhan, tapi yang pasti Rosetta merasa terganggu dengan tingkah lakunya.
"Rose, kamu sudah beberapa hari ini tidak pulang, kamu kemana?" Tanya Alisa dengan nada yang terdengar seperti menghawatirkan keadaannya.
Rosetta menepis tangan Alisa dan mengibaskan tangannya sendiri seolah berusaha melepaskan hal kotor dari tangannya.
"Ada hal penting." Balas Rosetta dengan acuh tak acuh.
"Hal penting apa?" Tanya Alisa dengan nada cerianya seperti biasa.
Rosetta mengerutkan keningnya, terakhir kali dia hampir mati karena gadis itu sangat ikut campur dengan urusannya.
"Apa aku harus melaporkan semua aktivitas ku padamu?" Tanya Rosetta dengan nada datar dan tatapan dingin.
Alisa menggelengkan kepalanya dengan ekspresi gugup dan tampak merasa bersalah.
Tapi Charlos nampaknya tidak suka dengan sikap Rosetta yang menurutnya sangat kasar.
"Rose, jaga bicaramu, kau terlalu kasar." Tegur Charlos dengan wajah dingin.
"Jangan menyebut namaku seperti itu seolah kita akrab." Ujar Rosetta menegur balik.
"Charlos, sudah tenanglah, dia mungkin hanya sedang memiliki masalah." Ucap Alisa sambil menatap Charlos dengan senyum manisnya yang membuat Charlos tenang.
Rosetta mendengus pelan dan melewati mereka begitu saja dan pergi dari sana.
Alisa menunduk dengan wajah sendu yang membuat Charlos lagi lagi semakin membenci Rosetta.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Rosetta pergi dari istana menggunakan kereta kuda tanpa lambang kerajaan.
Liburan musim panas telah berakhir dan ia harus kembali ke akademi, menurut ingatan yang ia dapatkan, pemilik aslinya adalah murid sampah yang memiliki peringkat paling bawah.
Menjadi bahan pembicaraan dikalangan para murid dan pengajar, dijauhi dan diperlakukan berbeda.
Bahkan setelah pesta debutnya, para gadis bangsawan enggan mengundangnya ke pesta teh mereka.
Bahkan tak satupun surat undangan yang ia dapatkan.
Jika biasanya setelah debutante seorang gadis bangsawan, mereka akan mendapatkan banyak surat lamaran.
Tapi Rosetta tidak mendapatkan satu surat pun meski ia keturunan raja, ia masih keluarga kerajaan dan setidaknya mereka mengajukan lamaran meskipun demi kekuasaan, tapi yang terjadi bahkan tak satupun surat yang datang saking jijiknya mereka terhadap Rosetta.
Berbeda dengan Vione yang disanjung sanjung oleh para guru dan beberapa murid karena kekuatan dan kekuasaannya.
Banyak para murid wanita yang mendekatinya hanya karena dia salah satu murid dari menara sihir berharap mereka bisa masuk ke sana melalui Vione.
Tentu saja dibaliknya mereka benci dengan betapa arogannya sikap gadis itu.
Beberapa saat kemudian, kereta kuda berhenti didepan sebuah gerbang besar.
Rosetta turun dengan anggun dari kereta kuda dan memandang betapa megahnya akademi itu.
Rosetta yang mengagumi kemegahan akademi itu tidak menyadari jika banyak orang yang masih berada diluar gerbang memandangnya dengan takjub.
Mereka benar benar terpukau dengan betapa cantiknya penampilan gadis itu.
Dalam sekali lihat mereka tahu jika dia adalah Rosetta si aib kerajaan lewat rambut pirang dan mata emasnya, hanya saja mereka masih enggan mempercayai jika Rosetta memiliki wajah amat cantik seperti itu.
Si suram itu mungkin tidak akan mereka gunakan untuk mengolok olok Rosetta setelah melihat penampilannya hari ini.
tapi untuk aib kerajaan mungkin masih terpakai karena dia tidak memiliki bakat sihir.
Beberapa saat kemudian, kereta kuda berwarna putih khas menara sihir berhenti dibelakang kereta kuda milik Rosetta.
Disana, Vione keluar dengan anggun dan mulai mendekatkan Rosetta.
"Gimana, udah bisa lihat ramalannya?" Tanya Vione dengan suara pelan.
Rosetta menggelengkan kepalanya dan balik berbisik.
"Masih kurang, tapi poin nambah setelah kita kerja jadi babu dirumahnya Caily, sekarang ada 30 poin."
"Jadi babu juga dapat poin?" Tanya Vione sedikit terkejut.
"Menurut penjelasan peri sistem, kita disana bukan pelayan sungguhan, jadi kerjaan kita bisa dihitung bantu bantu kerjaan pelayan yang lain." Jelas Rosetta.
Vione mengangguk paham.
"Tapi setelah ini, kita mau nambah poin darimana?" Tanyanya setelah memikirkan jika di akademi tidak ada orang yang bisa dibantu.
Sebab mereka punya kemampuan masing-masing, jikapun perlu sudah pasti mereka akan melaporkannya pada guru.
"Meningkatkan kemampuan disetiap mata pelajaran, simplenya kita cuma perlu buat prestasi aja." Jelas Rosetta.
Vione mengangguk dan seketika ia ingat tentang penjelasan dari peri sistem milik Rosetta.
Keduanya mengobrol sambil melangkah masuk ke dalam akademi.
Banyak tatapan mata yang mengarah pada mereka berdua, bingung mengapa seorang gadis arogan seperti Vione tiba tiba berteman dengan Rosetta yang dulu sempat di-bully oleh Vione sendiri.
Ada juga yang berbisik bisik mengagumi keindahan dan kecantikan yang mereka berdua miliki.
Ada juga yang berbisik bisik mencemooh dan menebar kebencian mereka terhadap Rosetta, mengatakan jika Rosetta tidak pantas berteman dengan Vione.
.
.
.
Disisi lain Caily yang tiba tiba dipanggil oleh ayahnya dengan malas turun dari kuda dan menaruh kuda itu kembali dalam kandang.
"Rein, kuda yang tadi kasih minum, mungkin dia kelelahan!" Seru Caily dan langsung pergi dari sana.
Rein hanya mengangguk dan membawa ember berisi air dan memberikannya pada kuda yang baru saja Caily gunakan untuk berlatih.
Caily langsung pergi menuju ruang kerja sang ayah tanpa membersihkan diri atau setidaknya mengganti pakaiannya.
Penampilannya yang tampak berantakan membuat Duke Albert menghela napas.
"Ada apa?" Tanya Caily tanpa basa basi dan tanpa memberi salam.
Duke Albert terdiam sambil menatap wajah datar Caily, Dia merasa terganggu dengan betapa dingin dan acuh tak acuhnya sikap gadis itu sekarang.
Duke Albert ingat apa yang dikatakan oleh para prajurit bayangan yang ia tugaskan untuk mengawasi setiap aktivitas Caily dan menemukan jika gadis itu hanya akrab dengan satu orang.
"Jika tidak ada hal penting, lain kali jangan panggil aku lagi." Ucap Caily yang berbalik hendak pergi dari sana.
Namun terhenti saat mendengar ucapan Duke Albert.
Gadis itu berbalik dan menatap Duke Albert dengan satu alis terangkat.
"Apa maksudmu?" Tanya Caily.
"Mulai besok kau akan pergi ke akademi dan melanjutkan pelajaranmu disana." Jelas Duke Albert memperjelas maksudnya.
Caily mengerutkan keningnya dan menatap dengan mata menyipit.
"Kenapa? apa aku diusir dari kediaman ini dengan dalih belajar diakademi?" Tuduh Caily.
Duke Albert menggelengkan kepalanya.
"Tidak, hanya saja jika diakademi kau bisa belajar lebih banyak dari para guru, kau mungkin juga bisa mendapatkan teman?" Seperti duke Albert ragu dengan kata katanya sendiri.
Tahu jika orang tanpa bakat sihir sudah pasti akan dicemooh dan dijauhi.
Tapi yang tanpa diduga Caily hanya mendengus sinis dan menyetujuinya tanpa banyak membantah, dia pergi tanpa mengatakan apapun.
Duke Albert mengetuk ngetuk meja kerjanya dengan resah, ia awalnya berharap Caily membantah atau apapun itu sehingga obrolan menjadi sedikit lebih lama.
Tapi disisi lain, ia senang dengan keputusan yang telah Caily ambil.
Pengajuan itu juga direncanakan oleh Christopher dan Calief.
Rasa cemburu mereka terhadap kedekatan Caily dan Rein membuat keduanya mengajukan agar Caily dipindahkan saja ke akademi agar tidak terlalu sering berdekatan dengan Rein.
Christopher dan Calief berencana akan mendekati Caily diakademi.
jika Caily dirundung mereka bisa membantunya dan membuat gadis itu merasa aman.
mungkin saja pada akhirnya Caily akan luluh, mau memaafkan dan bergantung pada mereka berdua.
Disisi lain Duke Albert dan duchess Sabina juga menyetujui tentang hal itu, mereka merasa sikap Caily sangat tidak adil karena mau berdekatan dengan Rein yang notabenenya bukan siapa siapa, sedangkan keluarganya sendiri dia jauhi.
Sepertinya mereka tidak sadar diri dengan kelakuan mereka dimasa lalu terhadap Caily yang asli.