Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Ari menghela nafas kasar. Ia merebahkan badannya menatap ke langit-langit kamar. Resahnya seakan bertambah, sebab terlalu mengkhawatirkan Kiran.
Penculikan itu memang sudah direncanakan dengan baik. Ia tahu jelas siapa pelakunya. Berulang kali ia mencoba menghubungi pria tersebut dari ponsel Kiran namun hasilnya nihil. Ponsel pria itu tak aktif. Ingin ia menghubungi kepolisian, namun Radit melarangnya. Kakaknya menjanjikan akan melacak dan menemukan Kiran secepatnya.
Ari merasa menyesal terlambat menyadari jika ternyata si pelaku sudah mengerti benar jika orang suruhannya hanya mengawasi Kiran ketika di luar kantor. Pengawasan itu ditiadakan ketika Kiran berada di kantor. Lebih parahnya, pelaku memanfaatkan dengan baik posisinya di perusahaan Regan sehingga mempermudahnya melancarkan aksi.
Di meja Kiran tadi, Ari terpikir kembali sepuluh orang yang menyerang Kiran. Sewaktu di ruang operator, ia terlalu emosi, jadi tidak menyadari jika mobil yang membawa Kiran tidak membawa kesepuluh pria itu seluruhnya. Hanya empat orang, dua di depan dan dua di belakang bersama Kiran.
Setelah ingat, ia langsung memberikan instruksi pada operator untuk mengecek dengan cara apa sisa para pria penculik Kiran tadi pulang. Benar saja mereka dijemput kembali oleh truk perusahaan Regan.
Sekuriti mengatakan jika truk milik Regan itu kembali lagi pada malam hari setelah sebelumnya datang pada sore hari. Alasan kembalinya truk itu karena ada barang mereka yang tertinggal.
Ari membentak empat orang sekuriti yang membolehkan truk Regan masuk tadi. Empat sekuriti itu gemetar mendengar hardikannya. Mereka berlutut meminta maaf.
Ari menyadari, sekuriti itu tidak sepenuhnya salah. Karena gerakan mereka sama sekali tidak mencurigakan. Mobil yang digunakan untuk membawa Kiran itu pun adalah mobil yang biasa dipakai pihak Regan ketika datang ke kantornya. Semua berjalan sebagaimana biasanya.
Amarah Ari hari ini serasa ingin meledak-meledak saja. Arogansinya muncul. Empat sekuriti tadi saja sampai kaget, melihat sang direktur yang tidak seperti biasanya. Kekhawatirannya yang menggila membuat ia cepat naik pitam.
Ia memang tidak perlu ragu soal keamanan Kiran karena pasti si penculik tak akan berani melukai gadis itu. Yang ia takutkan, semua rencana yang telah dilakukannya gagal dan Kiran membatalkan rencana pernikahan mereka.
Ari merasa hatinya terpaut dalam dengan gadis itu. Selain karena ia membutuhkan calon istrinya itu mendampinginya mengelola perusahaan, ia juga merasa gadis itu telah menjadi pusat dunianya. Hidupnya seakan berwarna sejak berdekatan dengan Kiran, terlebih lagi setelah gadis itu setuju menikah dengannya.
Membiarkan Kiran bersama si penculik membuat banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi sehingga mungkin saja Kiran akan berpaling darinya dan bisa jadi akan membencinya. Rahasia yang coba ia tutupi, takutnya akan terbongkar nanti.
Berulang kali Ari mendengkus kesal menahan geram. Menyesalkan tindakan penculikan ini yang sama sekali tak diduganya. Lebih kesal melihat dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Hanya bisa terbaring resah menatap langit-langit kamar menunggu kabar dari Kakaknya.
Sempat ia mendatangi kamar Kakaknya tadi saat pulang dari kantor. Namun Kakaknya itu ternyata belum pulang. Saat bertanya pada Mama perihal Kakaknya, Mama hanya mengatakan jika Radit izin lembur sehingga pulang lebih malam.
Ada desakan untuk menelpon Radit juga. Tapi ia mengurungkannya. Ia tahu benar jika Radit paling tidak suka diganggu jika sedang sibuk. Takutnya bukannya jawaban yang ia terima, malah bentakan pula nanti yang ia dengar.
Ia semakin resah, karena tidak ada teman bicara. Radit melarangnya untuk bercerita dengan Mama. Jika saja boleh, maka hatinya tidak gundah gulana seperti sekarang.
Terlalu banyak marah-marah dan khawatir berlebih ternyata membuat Ari lelah. Langit-langit kamar tempatnya menatap seakan bertambah buram sejalan dengan matanya yang mulai menutup. Akhirnya ia tertidur.
Ari terbangun ketika tubuhnya terguncang. Ia membuka matanya dengan malas. Kemudian tersentak menyadari bahwa ia telah tertidur. Ia memaki dirinya sendiri yang masih bisa tidur, sementara Kiran belum juga ditemukan.
"Posisinya sudah diketahui. Ayo, kita jemput dia sekarang." ajak Radit. Ari membelalak kaget. Sinar harapannya datang. Ia mengangguk cepat kemudian segera bangun dari tidurnya. Mengganti bajunya kemudian keluar rumah bersama Radit.
"Katakan pada Mama kalau kami sudah berangkat ke kantor. Kami berdua sarapan di luar karena ada agenda meeting dengan klien penting." pesan Radit pada Tina yang mengantar mereka sampai depan pintu. Tina mengangguk.
"Pastikan lagi Mama jangan sampai khawatir." tambah Radit lagi yang kemudian dijawab dengan anggukan cepat dari Tina.
Radit dan Ari masuk ke dalam mobil. Bara sudah berada di belakang kemudi. Selain mobil mereka terdapat dua mobil lagi mengikuti mereka dari belakang. Ari tahu benar jika kedua mobil itu berisikan para pengawal Sang Kakak.
Mereka memacu mobilnya dengan cepat membelah jalanan yang sunyi. Udara begitu dingin. Sebab waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi.
❇❇❇❇
Secara perlahan Kiran membuka matanya. Ia merasa pusing dan bingung. Memperhatikan ruangan di mana ia berada. Kamar ini begitu asing.
Matanya menyipit, silau terkena cahaya lampu kamar. Ia ingin menutupi matanya. Seketika itu ia tersadar bahwa tangan dan kakinya sedang terikat sekarang. Terikat ke tiap tiang tempat tidur.
Kiran menarik kedua tangannya yang terikat, percuma, ikatannya terlalu kencang. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya hingga tiba di kamar ini.
Kiran mencoba menyusun rentetan peristiwa yang membawanya ke kamar ini. Sebelumnya ia ingin menjumpai seseorang di basement, namun bukan pria itu yang dijumpainya, malah sepuluh pria tinggi besar yang menyambutnya. Hingga kemudian ia tak sadarkan diri.
Kiran menelan salivanya dengan susah payah. Merasa gundah atas apa yang telah terjadi padanya. Gadis itu berpikir cepat, strategi apa yang harus dibuat agar bisa keluar dari tempat ini. Ia harus mencari akal.
Terdengar suara dari luar ruangan. Suara tawa bercampur dentingan suara gelas. Kiran bergidik ngeri. Siapakah yang tega menculiknya? Apakah dia?
Ia mencoba kembali mengendurkan ikatan pada tangannya. Berusaha secara perlahan menggeliatkan tangan agar ikatannya longgar. Menyabarkan diri bahwa perbuatannya ini tidak sia-sia.
Terserah suara langkah kaki mendekati kamar. Kiran menarik nafas panjang. Menutup mata dan mencoba serileks mungkin agar terkesan tidur.
Ceklek! Suara gagang pintu terdengar.
Seseorang masuk ke dalam kamar. Terdengar suara memutar kunci. Sepertinya seseorang yang masuk tadi mengunci kamar. Kiran ingin sekali memicingkan matanya. Merasa penasaran siapakah yang datang. Tentu saja ia harus mengurungkannya.
Seseorang itu mendekat kemudian duduk di tepi tempat tidur. Kiran masih berusaha maksimal menjalankan perannya seakan-akan masih tertidur.
Perlahan gadis itu merasakan sentuhan ujung jari pada pelipisnya. Kemudian belaian pada wajahnya. Tangan itu membelai pipinya, lekukan hidungnya, hingga bibirnya. Mengusap agak lama di sana. Kiran menenangkan debaran jantungnya agar tidak berdetak dengan kencang.
"Kenapa kamu lama sekali bangunnya?" Suara itu? Kiran kenal betul suara itu! Ini pasti dia!
Kiran membuka matanya. Ia sangat terkejut menatap seorang pria yang ada di hadapannya. Mata pria itu tampak sayu dengan kedua kantung mata yang menghitam. Rambutnya tak tersisir rapi seperti biasanya. Bajunya bahkan tampak semrawut, tidak rapi seperti biasanya. Pria itu hanya mengenakan jeans dan kaos oblong.
Tidak! Ini bukan dia, kan?!
Pria itu juga terkejut melihat Kiran yang tiba-tiba membuka mata. Raut wajahnya memancarkan sinar kerinduan. Senyumnya mengembang. Tak lama kemudian semua itu menghilang. Raut wajahnya menunjukkan kebencian dan kemarahan. Senyumannya berubah menjadi seringai yang mengerikan. Tatapan sendunya sudah hilang, beralih menjadi tatapan dengan sorot mata yang tak kalah mengerikan.
"Kamu sudah bangun, Kiran?" tanya pria itu kemudian.
.