Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Rama tidak bisa tidur setelah mendengar cerita istrinya.
"Sebaiknya kamu nggak usah sering sering ke hotel dulu ya sayang, saya nggak mau Dewi tau tentang kamu, saat ini jangan dulu ya. Saya nggak tau gimana reaksinya kalau sampai dia tau kamu suami saya " Kata kata Aini berputar putar lagi di kepala Rama.
Menyesal....
Hanya itu yang Rama rasakan saat ini, Kenangan bersama Dewi dan Yan terus mengusik pikirannya. Dia meninggalkan Dewi begitu saja membuatmu tidak berani mendekati Dewi.
Karena rasa cintanya kepada Aini dia meninggalkan Dewi yang sedang mengandung anaknya. Bahkan meminta Dewi menggugurkan kandungan. Rama awalnya hanya menjadikan Dewi sebagai pacar mainan saja. Tapi justru Dewi hamil, Dewi dan Rama kuliah di universitas yang sama. Sedangkan Aini kuliah universitas lain jurusan perhotelan.
Rama sebenarnya menyukai Dewi, walaupun Rama hanya menganggap Dewi kekasih gelapnya. Hingga akhirnya Rama lebih memilih Aini, Aini tidak pernah tahu kalau Rama sudah memiliki seorang anak. Setelah pernikahan mereka berjalan beberapa tahun, akhirnya Rama menceritakan semua pada Aini.
Dan kini, kedua anaknya sudah besar. Ingin sekali Rama menemui mereka tapi ada keraguan jika mereka tidak menerimanya.
"Dewi...mau kah kamu memaafkan semua kesalahan saya?". Batin Rama.
Sementara di rumah lain, sepasang suami istri sedang menikmati malam pertama mereka.
Randi dan Mariam, sedang menikmati penyatuan mereka. Sebagai seorang istri yang baik Mariam melayani suaminya dengan sepenuh hati.
"Semoga secepatnya kita dapat kabar baik sayang" Randi mengelus perut Mariam setelah melakukan penyatuan.
"Pasti sayang, saya sehat dan kamu tau sayang, hanya kamu satu satunya pria yang menyentuh saya, Secepatnya kita akan mendapat kabar baik " Jawab Mariam dengan senyum manisnya dan dengan penuh rasa percaya diri.
Pagi ini Dewi sedang mengantarkan barang barang pesanan beberapa langganan nya Dewi melewati rumah kakak iparnya, dari kejauhan tampak Mariam sedang menemani Randi duduk.
Dewi melewati rumah itu begitu saja, tanpa Dewi tau Randi sedang memperhatikan Dewi dari kejauhan. Jantung Randi berdebar. Ada rasa takut dan rasa bersalah pada Dewi.
Mengingat kembali bagaimana Keinginannya ingin memiliki anak membuat harus melakukan ini.
"Sayang,. tolong ambilkan minum saya di meja depan" Kata Randi pada Mariam.
Randi terus memperhatikan Dewi yang sedang berdiri di depan rumah orang yang memesan barang.
"Kak... lihat apa sih kok serius banget ?" Mariam ikut melihat ke arah jalan itu.
"Oh nggak ada sayang, cuman perhatikan jalan aja "
Mariam tidak percaya begitu saja, dia terus melihat ke arah jalan itu.
Tatapan Mariam tertuju pada sosok kakaknya, sebuah senyum seringai di wajah tampak seperti merendahkan Dewi. Beruntunglah Dewi tidak melihat mereka.
"Kenapa nggak di panggil ke sini aja kak?" Tanya Mariam sengaja
Perkataan Mariam tidak membuat Randi senang, Randi merasa sikap Mariam berlebihan. Dia menatap Mariam dengan tatapan tajam.
"Apakah kamu ingin sekali kakakmu tau tentang kita?"
Mariam terdiam..
"Kamu pengen sekali ya pamer ke kakak mu kalau kamu sudah jadi istri saya, begitu ya dek?
Mariam tidak bisa menjawab sama sekali..
Sementara itu, Dewi sedang bicara dengan dokter yang pernah memeriksa Dewi dan Randi.
"Loh Bu Dewi, apa kabar?"
" Baik Bu dokter"
"Gimana keadaannya? "
"Ya seperti yang ibu lihat, masih sama..." Jawab Dewi
"Yang sabar aja ya Bu, Apakah suaminya bisa menerima keadaannya juga ?"
"Sampai sekarang dia belum tau Bu dokter, nggak tega bilang ke dia "
"Hum.. Ada baiknya di beritahu saja Bu Dewi. Takutnya malah ibu yang di salahkan "
"Pengen sekali ngomong ke suami saya Bu dokter tapi setiap kali melihat harapan di matanya saya malah nggak tega"
"Iya Bu Dewi, kadang malah kita yang di sangka mandul. Jangan sampai itu terjadi Bu "
"Hehehe iya Bu dokter "
Setelah melakukan pembayaran, Dewi kembali ke rumah. Dewi lagi lagi melewati rumah kakak iparnya. Dan kali ini di rumah sebelah Rani. Mereka sedang duduk bersama.
Keluarga bahagia, seperti itulah yang terlihat.
"Istri kamu kok nggak menoleh sama sekali ke sini dek?" Tanya Rani penasaran
"Bagus dong kak.."Jawab Mariam
"Terburu buru kayaknya kak " Randi mencoba membela istrinya.
"Hum... baguslah dia nggak melihat ke sini "
"Kak Dewi lihat juga emang kenapa kak ?" Tanya Mariam
"Kamu udah siap di cap pelakor sama kakak kamu sendiri?".Kata kata yang langsung membuat Maria terdiam. Randi juga tidak begitu suka dengan sikap Mariam.
Sebelum mereka bertunangan semua sudah di jelaskan, karena begitu cinta nya Mariam pada Randi. Dia mengatakan rela menjadi yang kedua.
"Nggak kak, saya cuman berpikir mau sampai kapan ini di sembunyikan? Kalau kak Dewi tau, ya biarin aja. Toh dia juga sadar dengan kekurangannya yang nggak bisa memberi anak pada kak Randi"
Mereka berpikir ada benarnya juga apa yang di katakan Mariam " Tapi tidak untuk saat ini dek, biarkan berjalan apa adanya saja" Sahut Randi, entah kenapa sekarang Randi merasa tidak tega mengatakan pada Dewi tentang Mariam.
"Baiklah kak" jawab Mariam dengan seringai licik
*
"Wuih... Pesan barang aja sama dia " Batin Jack, Setelah melihat beberapa baju, sepatu dan lain lain di story WhatsApp Dewi. Dia tersenyum puas karena mendapatkan ide untuk bisa berkirim pesan pada Dewi.
"Kak... saya mau pesan celana ini, ukuran 32 sama sepatu 43 ya kak. Sendal juga kak "
Dewi melihat pesan masuk dari Jack yang memesan barang.
Huft
"Baiklah Jack, barang sampai seminggu lagi ya"
"Ok sip kak.. alamat rumah ini ya kak.." Balas Jack memberikan alamat rumahnya
"Iya Jack, Makasih ya "
"Sama sama kak "
Sementara di seberang sana Jack senyum senyum sendiri membaca pesan balasan dari Dewi.
"Hei dek, kau kenapa senyum senyum sendiri?" Tanya kakak perempuan Jack.
"Ehh nggak kak "
"Alahhh padahal sebentar lagi kalian mau nikah, masih juga kayak orang yang pacaran gitu"
"Ihh maksud kakak apa ?"
"Ya Reni, kalian kayak yang baru pacaran aja "
"Kak.. Udah deh, Kakak diam aja kalau nggak tau apa apa, Siapa juga yang ngobrol sama Reni "
"Terus ?"
Jack menatap kakaknya lama ", Kak... Wajar nggak sih kalau tiba-tiba aja ada orang yang suka sama cewek yang udah menikah, umur juga beda "
Kening kakak perempuan Jack semakin berkerut
"Maksud kamu, kamu suka cewek kayak gitu? Terus Reni? Jangan aneh aneh kamu ya Jack"
"Kak... saya kan cuman tanya kak, wajar apa nggak?"
" Ya wajar wajar aja tapi nggak untuk kamu, beberapa bulan lagi kamu akan menikah sama Reni. Jangan lakuin hal hal yang membuat ibu marah dan sampai sakit Jack "
"Ya kak....lagian belum tentu juga cewek itu suka sama saya " Jawab Jack dengan Lirih
Jack tak lagi bertanya pada kakaknya, entah kenapa dengan perasaan nya. Dia sendiri tidak mengerti, ingin sekali dia mendekati Dewi. Tapi dia juga sadar , Dewi adalah calon kakak iparnya. Dia juga tau Dewi tidak akan mau bicara dengannya kalau sampai Dewi tau niatnya.
"Ya Kamu tau itu....Tu kamu di panggil sama ibu"
Jack bangun segera berlalu menemui ibunya.
"Jack......siapa wanita yang selalu kamu bawa ke hotel?" Tanya ibu Jack
"Cih.. Ibu pasang mata mata lagi ya?"
"Sebentar lagi kamu akan menikah nak, ibu nggak mau sampai Reni tau gimana kelakuan kamu. Reni itu wanita yang sempurna yang ibu pilihkan untuk kamu Jack "
"Sempurna untuk ibu.."
"Jack.... Reni itu juga pilihan kamu sendiri, ibu nggak memaksa kamu. Ingat itu nak. Reni anak yang baik Jack. Dia pantas untuk kamu "
"Iya Bu.... Jack nggak akan lakukan itu lagi"
"Kamu serius?"
"Iya Bu... percaya sama Jack " Jawab Jack tersenyum sambil berlalu pergi.
Ibu Jack menatap kakaknya "Anak ibu sepertinya lagi jatuh cinta sama cewek lain "
"Apa........?"
"Sssttt.... Ibu pelan pelan "
"Maksud kamu apa nak ?"
"Sepertinya anak ibu itu, lagi jatuh cinta sama istri orang Bu"
" Ya Tuhan .."
"Hum.....aneh aneh kan ?"
Hingga pukul tiga sore Dewi baru selesai mengantar barang pesanan. Dewi sedang duduk di warung pinggir lapangan. Sambil menikmati es kelapa muda, Dewi memeriksa barang barang yang akan di pesan lagi.
"Dewi....." Dewi mematung mendengar suara itu lagi. Tanpa melihat siapa yang memanggilnya Dewi sudah tau , Dewi segera bangun.
"Tunggu Dewi, saya hanya ingin bicara sebentar"
Dewi merasakan dadanya sesak, sekuat tenaga Dewi menahan amarahnya, Dewi menatap Pria itu.
"Nggak ada hal penting yang perlu di bicarakan sama kamu....dan saya nggak punya waktu." Rama terpaku.
"Maaf Dewi, Sebenarnya ada hal yang ingin saya sampaikan "
Dewi ingin sekali tertawa, seharusnya dia tau dari awal kalau Rama mendekatinya bukan karena apa apa. Ada yang dia butuhkan dari dirinya
"Apa ada masalah lain yang belum kita selesaikan ?" Tanya Dewi dengan jidat berkerut
Rama sendiri bingung ingin menyampaikan keinginannya, tapi bagaimana caranya.. apakah Dewi akan menerima begitu saja setelah apa yang dia lakukan pada Dewi?
Alasan apa yang harus dia katakan pada Dewi.. Helaan nafas panjang Rama semakin membuat Dewi kesal.
"Sekarang atau kapan pun nggak ada lagi yang harus di selesaikan, bagi saya kamu bukanlah siapa-siapa dan juga nggak ada apa apa kok di antara kita, jadi nggak ada yang perlu di bicarakan, Permisi...........".
.
.
.
.
Bersambung......
Ceritanya masih paaaaaanjang ya readers.
jangan lupa tinggalkan jejak ya ☺️☺️
sudahlah miskin belagu pulak tuh