NovelToon NovelToon
Riyan & Vania

Riyan & Vania

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rini IR

"Kan ku kejar, akan ku cari kemanapun, dimanapun, di sudut Dunia sekalipun, akan ku dapatkan kamu, lagi. Tidak ada alasan lain, selain karna aku ingin hidup dengan mu, selamanya. " ~Riyan Adijaya

Berkisah tentang Riyan dan Vania, kisah cinta manis berujung pahit. Dimana, setelah satu tahun berkuliah di Jerman, Riyan mengalami kecelakaan mengakibatkan Amnesia Retrograde pada dirinya. Dan melupakan, Vania.

Setelah dua tahun kemudian, Riyan malah di paksa untuk menjadi guru pengganti di SMA MERAH PUTIH. SMA di mana Vania berada.

Akankah, kisah asam manis keduanya masih berlanjut? akankah mereka benar -benar bersanding di pelaminan, nanti? Ataukah, itu memang hanya masa lalu belaka?

yuk simak~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Vania Keyland

***

"Pak? Serah deh bapak mau nyinyirin aku apa. Tapi,  bapak ngapain duduk di sini? Bukannya kamar aku ini kacau, jelek,  kucel,  enggak eatetik?"

"seluruh rumah ini milik ku,  sudut manapun di rumah ini milik ku,  jadi mau kemanapun aku itu terserah ku aku bebas,  karna aku pemilik rumah ini. Kau sa--"

"Iya aku tau aku emang cuman numpang di rumah ini,  tapi bukan berarti bapak bisa keluar masuk kamar aku! "

Deg.

Riyan terdiam seketika, bukan begitu maksud Riyan. Dia sama sekali tak ingin menyinggung Vania yang menumpang. Hanya saja mulutnya sudah terlatih begitu.

"Buk-Bukan be--"

"Bukan apa pak? " Vania menatap lurus ke arah Riyan.

Shit! Sial!

"Terserah lah, aku tidak peduli. " Riyan bangikit berdiri, berjalan cepat keluar dari kamar Vania.

Tes tes

Setelah di rasa Riyan benar-benar telah pergi. Air mata Vania jatuh sendiri,

Aku tau. Aku sendirian di dunia ini. Hanya seorang diri, sebatang kara.

Vania melipat tangannya, menenggelamkan wajah mungilnya di sana. Moodnya untuk mengerjakan tugas sudah hilang.

***

Mentari telah naik, begitupun juga dengan Vania yang telah bangun. Gadis itu mulai memakai dasi miliknya, mengikat rambut panjangnya.

"Semoga hari ini jadi hari yang baik. " gumam gadis mungil itu, ia berjalan menyambar tas yang terletak di atas kasurnya.

Dia berjalan, namun ada yang aneh saat dia melewati pintu kamar Riyan. Pintu kamar manusia itu sedikit terbuka, Dari celah kecil itu Vania bisa melihat bahwa Riyan tengah kesusahan memakai dasinya.

Namun, mengingat kejadian kemarin malam yang cukup membangkitkan kesedihan. Vania sama sekali tak ingin berurusan dengan Riyan lagi.

Jalan aja ah, aku belum sarapan juga,

Vania melanjutkan langkah dengan kaki pendeknya.

"Hoi! Tunggu! " Teriak Riyan dari dalam. Sontak Vania menghentikan langkahnya.

Riyan keluar dari kamarnya, matanya langsung menangkap sosok mungil Vania di depannya. Pandangan Riyan jatuh pada dasi yang sudah terpasang manis di leher Vania.

"Hey! Om mesum! Apa yang kau lihat?! " bentak Vania, entah apa yang ada di dalam otak kecilnya itu. Dia mendadak menutupi tubuh bagian depannya dengan tas.

"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Jaga pula mulut mu itu, atau kau akan menyebabkan kesalahpahaman yang akan merusak nama ku." Sarkas Riyan, menatap datar sosok itu.

"Bukan kah kau sendiri yang merusak nama mu? Kau menatap dada seorang gadis muda dengan ekspresi mengerikan seperti itu. Siapa yang tidak takut? "

"Tcih! Jangan ke Ge-eran. Aku cuma melihat dasi mu, aku tidak bisa pakai dasi. Lagipula, siapa yang berselera dengan dada kecil seperti itu. "

"Tcih! Nyinyinyi alasan! "

Benar juga, selama yang ku tau. Om galak bin nyinyir emang ga pernah pasang dasi sendiri. Selalu tante Airin yang bantuin.

Batin Vania, dia hanya mengingat cerita Airin saja.

"Hey bocah! Kau bisa pasang dasi kan? Ayo pasangkan dasi ku! " titah Riyan layaknya dia bos besar.

"Ogah, rugi dong aku. "

"Pasangkan atau ku kurung kau di kamar?!"

Vania berdecak kesal. Dengan terpaksa dia mendekati Riyan dan mulai memakaikan dasinya.

Hmmmm aroma tubuhnya wangi sekali. Sabun apa yang di pakainya? Dia juga begitu pendek yah? Bulu matanya juga lentik,

Deg deg deg

Secara tiba-tiba jantung Riyan berpacu lebih cepat dari normalnya. Mendadak kepalanya pusing.

Om galak!

Satu suara, dua kata, suara anak-anak yang terus terngiang di kepala Riyan selama Vania memakaikannya dasi. Riyan masih mencoba untuk tetap menahannya. Rasanya kepapanya berat sekali. Pusing hebat itu masih Riyan tahan.

"Oke, udah. Aku mau sarapan dulu. " Vania mundur, dia melanjutkan jalannya ke lantai bawah.

Riyan sendiri langsung kembali masuk ke kamarnya. Kali ini dia tidak meminum obat yang di anjurkan dokter. Riyan langsung melemparkan kasar tubuhnya di kasur. Suara anak kecil itu masih terus terngiang di kepala Riyan.

***

"Nona vania udah selesai sarapan? Kalau udah biar bapak aja yang antar sini. " Suara lembut bapak setengah usia itu menghampiri Vania yang tengah asyik sarapan seorang diri.

"Eh, bapak? Bukannya biasanya pak Riyan? " heran Vania.

"Tuan muda sedang ada urusan penting sebentar. Jadi dia meminta saya untuk mengantar anda. "

"Humm, oke degh pak. Bentar yah, aku habisin sarapan dulu. "

Bapak itu mengangguk dan tersenyum ramah, sembari terus menunggu Vania.

***

Vania yang duduk di bangku belakang, layaknya nona muda biasanya. Gadis mungil itu menatap keluar jendela, dengan lamunan yang masih sama.

Yah wajar sih, om galak gak mau anterin. Dia kan nganterin aku nunggu di perintah sama om Agung.

Mendadak mobil yang Vania kendarai berhenti.

"Sebentar Nona, saya periksa lebih dulu. " pak Jun, nama pelayan itu. Pak Jun segera keluar dan memeriksanya.

Vania bisa melihat, pak Jun tengah mengotak atik mesin mobil ini.

"Maaf nona muda, mobilnya mogok. Kayanya bapak juga harus manggil montir. Nona muda, mau saya pesankan taksi? "

"Hemm, enggak usah deh pak. Lagian sekolahnya udah dekat juga. Vania jalan kaki aja udah sampai, vania dari gang encot sebelah kiri itu. Kayaknya ga bakal telat deh. " saran Vania, dia sama sekali tak ingin merepotkan siapapun lagi.

"Begitu kah non? Apa enggak lebih baik naik taksi? "

"Enggak usah pak, jalanan udah dekat juga. "

Vania keluar dari mobil, berpamitan dengan pak Jun, lalu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Kaki Vania berbelok ke kiri, mengarahkannya pada gang tua dab sempit di area itu. Itu memang adalah jalan potong yang bagus untuk ke sekolah.

Satu langkah lagi, dan wuh!!

Vania memundurkan kakinya, dia segera sembunyi di balik pohon beringin yang tua. Napasnya terengah-engah. Jantungnya berpacu lebih cepar dari biasanya.

Tawuran? Pagi-pagi begini? Arghh sial! Aku lupa, gang ini kan memang gang tawuran! Tapi, mana aku tau mereka akan tawuran pagi-pagi sekali! Gimana nih!!

Vania menarik napasnya, harus gadis mungil itu akui. Dia memang ketakutan saat ini. Syukurlah pohon yang Vania singgahi itu besar. Dan mampu menutupi tubuh mungilnya.

***

Setelah kepalanya terasa mendingan, Riyan turun dan memakan sarapannya.

Pak Jun masuk dari pintu utama.

"Kau sudah kembali? Apa gadis itu tidak terlambat ke sekolah? " pertanyaan Riyan itu menyambut datangnya pak Jun.

"Maaf Tuan muda, saya memang mengantarkan Nona Vania ke sekolah. Tapi tidak sampai gerbangnya. Di tengah jalan mobil kami mogok. Dan Nona bilang akan melanjutkan perjalanan nya jalan kaki saja. Dia akan memotong jalannya, melalui sebuah gang kecil."

Gang kecil? Satu-satunya gang sempit dan kecil di dekat SMA Merah Putih adalah Gang Encot?!!!

Seketika gambaran ingatan orang-orang tawuran hinggap di otak Riyan.

***

Yang dari bangun subuh nungguin Novel ini, mana tadi :v wkwkwk

1
Qaisaa Nazarudin
DASAR GILA,DIA YG MABOK MALAH NYALAHIN ANAKNYA..
Qaisaa Nazarudin
Ratden kalo niat mau nolong Vania tuh jangan setengah2,Tolong sampe tuntas..
Qaisaa Nazarudin
Lha ternyata Shandy beneran suka sama Vania? ku pikir cuman iseng nakal doang,udah terbiasa bercanda gitu..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan lagi tambah kepo aku,Apa maksud Rayden dgn rasa BERSALAH??
Qaisaa Nazarudin
Kok aku curiga ya sama Ortunya Riyan??
Dan aku masih kepo apa maksud Rayden tadi soal kecelakaan ortunya Vania?? 🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Lha kalo ia terus apa hubungannya dgn loe..Kenapa loe yg marah2? Dasar gak jelas..
Qaisaa Nazarudin
Noh udah sembuh kan dari Amnesianya..
Qaisaa Nazarudin
OMG Raka sakit apa??
Qaisaa Nazarudin
Nah pasti sembuh nih Amnesia nya. 🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kamu udah gede Vania,Masih punya Rumah sendiri,Usaha Cafe sendiri,Kenapa harus bertahan jafi benalu di rumah orang? Dulu kamu masih kecil jadi ortu nya Riyan kasian sama kamu yg hidup sendiri.. Sekarang belajarlah untuk hidup mandiri..
Qaisaa Nazarudin
Kok tau tuh bibi kerja udah puluhan tahun?? katanya Amnesia..😅😅😜😜
Qaisaa Nazarudin
Whaat baru 20 tahun umurnya yg bener thor? Saat Vania 3 SMP umur Vania 15 tahun,Dan umurnya Riyan 19 tahun lho,BEDA UMUR MEREKA 4 TAHUN lho, Sekarang Vania umur 18 Tahun, Masa ia Riyan masih 20 tahun?? Mana hilang umurnya Riyan yg lagi 2 tahun ya?? 🤔🤔🤔🤔🤣🤣🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kok manggilnya Om?? Beda umur 4 doang,Lagian Riyan umurnya baru 19 tahun juga..Ku pikir Vanoa manggil Om tuh umurnya Riyan udah 26-27 tahun gitu 🤣🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
3 SMP Berarti Vania umur 15 tahun ya,Riyan 19 tahun,Beda cuman 4 tahun doang..
Qaisaa Nazarudin
Waahh memory otak Riyan mundur beberapa tahun nih...
Qaisaa Nazarudin
Emang umur nya Vania ini berapa thor?
Yo rin
karena ganti hp sampai lupa sama novel ini
Siti Mas Ulah Ulah
si nathan noh bapaknya arfen,si legenda
🐾❤︎❣︎𝕲𝖗𝖊𝖞𝖓𝖆𝖙𝖙𝖆✰༆🌿
arka balik yuk nak, belum saatnya masuk😭
🐾❤︎❣︎𝕲𝖗𝖊𝖞𝖓𝖆𝖙𝖙𝖆✰༆🌿
udah pernah baca tapi gak bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!