Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
“Guru, ketika Dimas mengantar Mbok Ratmi ke pasar, orang-orang disana pada membicarakan tentang siluman perempuan. Kata mereka siluman itu masih kecil dan punya sayap.”
Dengan antusias Dimas Arya, anak angkat Dewandaru bercerita tentang kejadian di pasar.
Dewandaru terkejut,
“Apalagi yang mereka bicarakan?” Tanya Dewandaru penuh dengan rasa penasaran.
“Mereka takut kalau siluman itu akan sampai di desanya dan meminta tumbal, hiiiii…” lanjut Dimas Arya.
“Jangan sembarangan!!” Bentak Dewandaru sambil berdiri tiba-tiba.
Dimas Arya terhentak ke belakang saking kagetnya.
“Apa ucapan saya ada yang salah, Guru?”
Dims Arya heran dengan reaksi Ki Dewandaru yang di luar dugaannya.
“Kita belum mengenal siapa siluman itu. Tidak pantas kita membicarakan hal yang belum tentu benar tentangnya.” Jawab Dewandaru sambil berusaha menenangkan gejolak di hatinya.
“Tapi kan kebanyakan siluman memang jahat, Guru?”
“Jaga ucapanmu!!” Bentak Dewandaru lagi, tapi kali ini Dimas Arya sudah tidak terlalu terkejut.
Dimas Arya bertambah heran, mengapa Ki Dewandaru begitu membela siluman yang belum pernah ditemuinya.
“Aku harus pergi. Tolong sampaikan ke Nyai Danastri bahwa aku pergi ke Pringgondani!” Titah Dewandaru lantas melayang pergi.
“Baik, Guru!” Jawab Dimas Arya setengah berteriak karena Dewandaru sudah mulai jauh.
Dewandaru sudah tidak nampak lagi pada helaan nafas Dimas Arya yang selanjutnya.
Dimas Arya buru-buru mencari Nyai Danastri sesuai Titah guru sekaligus bapak angkatnya, Dewandaru.
Ditemuinya Nyai Danastri di taman bunga sedang memberikan pupuk pada bunga-bunga kesayangan Ibu Angkatnya itu.
“Nyuwun sewu Nyai, saya mendapat titah dari Romo Guru untuk menyampaikan kepada Nyai, bahwa Romo Guru harus segera berangkat ke Pringgondani.” Kata Dimas Arya sambil ikut berjongkok di depan Nyai Danastri.
Tata bahasa dan nada bicara yang digunakan Dimas Arya ketika berbicara dengan Nyai Danastri sangatlah berbeda dengan saat Dimas Arya berbicara dengan Ki Dewandaru.
“Ada apa ya koq Romo Gurumu begitu tergesa-gesa sampai tidak sempat pamit?”
Perasaan Nyai Danastri tidak enak, baru kali ini Dewandaru pergi tanpa pamit.
“Mohon maaf Nyai, saya kurang tahu. Hanya saja… ketika saya menceritakan tentang rumor di pasar tentang anak siluman, waj….”
“Siluman?” Belum selesai Dimas Arya menjelaskan, Nyai Damastri sudah memotong pembicaraannya.
“Betul Nyai. Siluman bersayap. Semua orang di pasar sedang membicarakannya.” Jawab Dimas Arya.
‘Ini kenapa ya? Tiap kali kusebut siluman koq Romo sama Nyai langsung kaget? Bahkan Romo Guru sempat membentakku tadi sebelum pergi.'
'Apa mereka mengetahui sesuatu tapi belum sempat menceritakannya kepadaku?’ Batin Dimas Arya.
Danastri seketika menghentikan aktifitasnya. Pikirannya langsung tertuju pada Anandhita.
‘Bagaimana jika yang mereka bicarakan betul Anandhita? Apa yang harus aku lakukan?
'Haruskah aku menyusul Dewandaru? Tapi bagaimana kalau nanti Dewandaru kembali tetapi aku belum pulang?'
'Bagaimanapun, kecepatan lari kudaku tidak akan bisa mengalahkan kecepatan terbang Dewandaru.’ Batin Danastri gelisah.
Entah berapa lama Danastri hanya mondar-mandir di taman, sesekali menggigit bibir dan menghempaskan nafas dalam-dalam, sambil meremas-remas jari-jarinya hingga Dimas Arya menyadarkannya.
“Nyuwun sewu Nyai, apa Nyai masih mau melanjutkan berkebun?”
Danastri berhenti dan menatap Dimas Arya.
“Kalau Nyai sudah selesai, boleh saya membereskannya?” Lanjut Dimas Arya.
Damastri hanya mengangguk dan meninggalkan Dimas Arya.
***
Gayatri dan beberapa orang abdi dalem melihat Dewandaru mendarat di halaman Griya Utama.
Mereka menghampirinya kemudian menundukkan badan sebagai tanda hormat.
“Dimana Ndoromu?” Tanya Dewandaru.
“Selamat datang di kadipatenan Kanjeng Romo, Kanjeng Nyai Dewi Astjarjana sedang berada di perpustakaan bersama Kanjeng Roro Dewi Anandhita.” Jawab Gayatri.
“Apakah perlu saya sampaikan bahwa Kanjeng Romo datang berkunjung?” Lanjutnya.
“Tidak perlu, aku akan kesana sendiri.” Jawab Dewandaru. Ia langsung melangkahkan kakinya ke perpustakaan.
“Baik Kanjeng Romo..” Jawab Gayatri. Matanya mengekor mengikuti Dewandaru yang berjalan tergesa-gesa.
‘Pasti tentang Kanjeng Roro Anandhita.’ Gunam Gayatri.
Gayatri lantas melanjutkan tugasnya mengatur para abdi dalem di kadipatenan tempat keluarga Elang Ganendra tinggal.
***
“Bumi kita besar ya Ibu...” Kesimpulan Anandhita setelah mendengarkan penjelasan Dewi Astjarjana tentang peta dunia di tangannya.
“Iya Sayang… Anandhita harus mengerti banyak bahasa dan kebudayaan kerajaan lain bila ingin berkeliling dunia.
"Coba bayangkan kalau Anandhita pergi ke Kerajaan Britania Raya, dan Anandhita tidak bisa bahasanya. Ketika Anandhita mau pipis, bagaimana cara bertanya dimana ada padusan atau sungai kecil untuk pipis?"
"Haruskah eh, ih, ih, eh,…” Dewi Astjarjana memperagakan sedang menepuk seseorang.
Kedua pahanya merapat kemudian telunjuknya menunjuk ke arah bawa perut dengan mimik panik membuat Anandhita tertawa.
“Trus kalau lapar bagaimana? Harus bilang begini juga?"
"Eh eh.. ih.. ih..” Dewi Astjarjana kembali memperagakan menepuk seseorang kemudian mengelus-elus perutnya.
“Iya kalau orang yang mengerti Anandhita lapar, kalau dikira Anandhita mau *ek bagaimana?” Lanjutnya.
Anandhita tertawa terbahak-bahak. Ibunya yang anggun dan dihormati banyak orang, bertingkah lucu di hadapannya.
Anandhita juga senang dengan cerita Ibunya.
‘Suatu saat aku akan mengelilingi dunia. Aku akan membawa ibuku.’ Batinnya.
“Dewi…” Sapa Dewandaru ketika memasuki pintu.
“Romo…” Dewi Astjarjana membenarkan posisi berdirinya, dan membungkuk memberi hormat.
“Kakeeek…. Anan rinduuu…” Sambut Anandhita langsung melompat ke arah gendongan Dewandaru.
“Ha.. ha… ha.. Kakek juga rindu Anandhita. Bagaimana kabarmu anak cantik?”
Dewandaru mencium pipi dan kening Anandhita yang ada di gendongannya.
“Anandhita bahagia Kek. Anan ingin mengelilingi bumi. Anan akan mengajak Ibunda nanti kalau Anan sudah besar.”
“Ibu saja? Kakek bagaimana?” Kata Dewandaru dengan raut wajah berpura-pura protes karena tidak diajak.
“Kakek kan bisa terbang? Nanti Kakek gendong Nenek, Anan gendong Ibu."
"Kita keliling dunia sama-sama ya Kek.” Lanjut Anandhita membuat Dewandaru dan Dewi Anandhita tertawa.
Haha, salam dari Clarissa ❣️