dan kini tuhan balas semua doa dan rasa sakit ku,, kini aku bisa bahagian dengan putra putri ku yang semua bergelar dan memiliki pangkat tinggi serta di pandang baik di lingkungan,, terimakasih tuhan setidaknya setelah badai menghantam kau berikan aku pelangi..
kulupakan semua rasa sakit yang ada dan kujalani hidup bahagia ku di masa tua bersama anak anakku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja di ufuk barat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
selalu mengalah
entah mengapa rasanya tinggal di rumah sendiri serasa tidak nyaman, semenjak suamiku terlalu mementingkan pembangunan rumah yang kian lama kian banyak saja pengeluaran nya
Pohon sawit yang berada di pekarangan belakang rumah kamui,, yang seharusnya kami yang memanen dan menikmati hasilnya,, nyatanya aku tak pernah melihat sepeserpun uangnya
Selalu mertua ku yang memanen dan saat suamiku menanyai uang hasil penjualan buah nya selalu saja jawaban mertuaku uang nya sudah habis untuk beli paku dan lainya
tetapi selalu mertua ku meminta uang dengan alasan untuk beli paku lah,, semen kurang lah atau beli yang lain yang berhubungan dengan rumah padahal uang dari hasil kebun bisa di bilang lumayan kalau hanya untuk tambahan,, sementara untuk pembelian kue dan makanan pekerja kami yang mengcover
Dan Diki pun bukanya menolak,, malah selalu memberikan uang nya,, padahal untuk makan sendiri saja masih kurang
kami pun semakin hari harus mencari penghasilan yang lebih dan lebih tiap bulannya.
sangking sibuknya aku dengan pekerjaan sampai sampai untuk merawat tubuh sendiri saja sudah tak bisa.
tubuh yang dulu berisi kini menjadi kurus tinggal tulang,, kulit yang dulu putih kini menjadi hitam tak terawat,, sampai ada salah satu tetangga di dekat rumah ku yang berkata aku terlalu kurus dan kumal
Tetangga:"sin kok kayaknya kamu sekarang makin kurus dan makin item ya,, kayak udah gak kerawat"
Sinta:"yah gimana mau ngerawat badan sendiri mbak,, wong kerjaan aja gak ada abis abisnya" jawab ku
Tetangga:"makanya jangan terlalu sibuk kerja dong,, sisahin waktu buat ngurus badan juga,, emang gak capek berangkat pagi pulang petang anak juga jadi kurang kasih sayang orang tua kan jadinya"
Sinta:"demi keamanan rumah tangga mbak,, gak mau ribut aja,, nanti kalau aku bilang ini itu pasti mas Diki marahin aku,, boro boro beli bedak atau istirahat di rumah,, minta pulang cepet aja dia langsung ngomel"
Sambil mengendus nafas panjang aku hanya bisa bicara sendiri dalam hati
ah apa lah daya aku hanya mampu mengalah dan bersabar,, kalau aku ngadu sama suami ku adanya nanti malah ribut,, mending ngalah deh daripada harus ribut
Semakin hari tetangga tetangga ku semakin menyinyiri hidup kami,, tak jarang mereka langsung melontarkan kata kata kasar ke kami karena kami sering pulang petang
suami Tetangga:"nginep aja sekalian dik,, bawa lampu kan biar bisa makin banyak dapet buah nya"
dan setiap kali di katai begitu Diki tak pernah membalas perkataan mereka,,
Tak jarang juga terdengar di telingaku mereka mengatai kami ini hanya ingin cari muka kepada atasan.
Huh padahal,, untuk apa kami cari muka,, emang kerja di perkebunan sawit kalo bos suka sama kita gajih bakal naik gitu,, atau bakal naik pangkat kan enggak juga,, mana ada sih diperkebunan yang namanya budak bawahan seperti kami bisa naik pangkat,,
Belum pernah ku dengar sejarahnya seorang pemanen bisa menjadi mandor
Apa lagi jika aku mulai membeli barang barang elektronik selalu tetangga pada kepo dengan barang yang ku beli,, tak jarang mereka berkumpul di gang depan rumah ku untuk sekedar mengomongi aku
Yah ternyata semakin ke sini semakin aku tau bahwa hidup di PT tak seindah yang ku pikirkan,,
Semakin kita di atas semakin banyak pembenci yang berada di sekeliling kita untuk mencari kesalahan kesalahan kita..
Bukan itu saja kebencian mereka terhadap kami kian lama kian brutal.
pernah sekali di saat aku baru saja pulang kerja,, kudapati tanaman ku sudah hancur berantakan,, ingin sekali aku menangis sudah pulang kerja capek di tambah melihat tanaman hancur semua
Bukan itu saja seringkali saluran air rumah ku di sumbat mereka,, sehingga kami seringkali tak kebagian jatah air,,
bukan hanya itu anakku Arkan pun sering kali ku dapati badannya yang tak terurus Kumal dan kian hari kian kurus..
Ingin sekali aku merabrak mereka tapi Diki selalu melarang ku,, dengan alasan gak usah cari ribut di tempat orang
Padahal bukan aku yang memulai tapi mereka semua,, dan aku hanya ingin membuktikan aku tak selemah yang mereka kira tapi Diki selalu melarang ku jika aku ingin melabrak mereka
Hasilnya mereka jadi semena mena dengan kami,, dan makin berani
Terkadang sedih jika harus melihat anak seperti itu tapi harus bagaimana lagi aku tak bisa melakukan apa apa setiap aku bicara dengan Diki ia selalu memarahiku dan melarang ku,,
Di sisi lain aku juga paham Diki sedang banyak memikirkan bagaimana agar rumah cepat selesai supaya kamu bisa pindah dari sini supaya tidak ada lagi yang menggangu kami,,
Biarpun kadang cara dia itu terbilang terlalu berlebihan,,
jangan kan memberi kan ku uang lebih buat beli skincare untuk sekedar membeli daging ayam saja dia sulit sekali,, dengan alasan takut kurang nanti buat beli makanan tukang
Terkadang sering aku merasa kecewa dengan sikap dia yang kelewatan terkadang ingin rasanya aku pulang ke rumah orang tua ku..
Sedari gadis tak pernah aku merasakan hidup yang sudah sesusah ini,, tapi semenjak menikah
Selama tinggal sama mertua aku selalu tersiksa dan mengalah,,
selama tinggal di PT pun aku masih tetap harus mengalah demi ke haromnisan rumah tangga kami,,
Seakan-akan aku lah yang banyak mengorbankan perasaan dan juga kebahagiaan ku
Apakah karena aku seorang istri yang membuat ku harus sering mengalah dan menurut
Dan apakah seorang suami itu selalu benar dan di turuti biarpun hati kita hancur