Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan!
Ketika seorang wanita dihadapkan pada dua pilihan, satu pria dewasa yang menolak tua dan satunya lagi pria muda yang sok dewasa…
Mana yang akan dipilih?
"Meskipun tuaan elu, kan belum tentu matinya duluan elu!" kata pria yang lebih muda.
Aku memilih pria yang lebih tua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Cara Mencari Uang, Pertama Pontang-panting. Kedua Posting-posting.
Miris! batinku.
Seumur hidup aku tak pernah meminjam uang. Sekalinya meminjam uang dijawab dengan penolakan yang sangat halus.
Begitu saja sudah membuatku jera!
Aku tak yakin berani lagi meminjam uang.
Tapi lalu Nathan mengirim pesan, "Kalo mau makan, kalo bisa bon, bon dulu di warung!"
Aku mengerang dan membanting ponselku ke tempat tidur. Entah kenapa aku merasa marah sekali dengan idenya.
Dia tidak mengerti!
Ini bukan tentang diganti atau tidak diganti.
Tapi masalahnya aku tak pernah berhutang kepada siapa pun. Aku tak punya keberanian untuk mengutarakan hal-hal sensitif semacam itu.
Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian mengambil ponselku lagi. Memutuskan untuk berterus terang. "Aku gak pernah ngutang," balasku.
"Aku kan gak nyuruh kamu ngerampok!" balasnya.
Ya, Tuhan! pikirku frustrasi. Kemudian mencampakkan ponselku lagi. Tak tahu harus membalas apa.
Ponselku bergetar tak lama kemudian.
Aku mengabaikannya. Pasti Nathan, pikirku. Dia mungkin khawatir karena aku tidak membalas pesannya lagi.
Aku membekap telingaku dengan bantal. Tak ingin mendengar panggilan itu. Aku sedang tak ingin bicara dengannya saat ini. Aku bisa menangis karena kesal.
Panggilan itu akhirnya berakhir.
Aku masih membekap telingaku dengan bantal.
Ponselnya tidak berbunyi lagi.
Setelah perasaanku sedikit lebih baik, aku memeriksa ponsel itu dan terkejut mengetahui panggilan tadi bukan dari Nathan. Tapi Jo.
Tanpa pikir panjang aku pun segera membuat panggilan balik.
"Gaje lu, Anjeng," gerutu Jo sebagai ganti sapaan halo.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu itu, aku akhirnya bisa tertawa.
"Girang lu ditelepon artis?" semburnya dari seberang panggilan.
"Mana, Tis?" balasku sambil terkekeh.
"Ngapa seh, neleponin gua?" hardiknya pura-pura marah. "Ganggu show gua aja!"
"Gua mo pinjem duit," kataku dalam gumaman manja kekanak-kanakan. Itu terucap begitu saja tanpa kupertimbangkan terlebih dulu. Aku tidak malu mengatakan hal-hal sensitif pada Jo. Tapi tak pernah tentang uang.
Baru kali ini!
"Berapa juta?" rongosnya macam bos galak tapi dermawan.
"Tujuh ratus ribu," jawabku masih dalam gumaman kekanak-kanakan.
"Jadah bat! Tujuh ratus rebu aja kudu artis yang turun tangan!" rutuknya, semerdeka otaknya. "Ambil ke rumah gua!" katanya.
"Otw!" seruku antusias. Aku menarik tubuhku dari tempat tidur dan berlanting dengan gembira. Benar-benar tertolong! batinku senang. Aku menyambar sweater-ku dan bergegas keluar kamar setengah berlari setengah berjingkrak. Lalu menghambur ke rumah Jo lewat gang belakang.
Begitu sampai di rumahnya, aku mendapatinya sedang melahap sepiring siomay di ruang tengah sambil bersandar di sofa.
Aku menerobos ke dalam rumah itu dan menoyor pelipisnya sambil mengomel, "Katanya lagi show lu, Bangsad!"
Dia hanya mendelik menanggapinya, kemudian memiringkan tubuhnya untuk merogoh kantong celananya dan menarik keluar sejumlah uang dan melemparkannya ke meja. "Kalo kurang bilang," katanya songong.
"Kurang!" kataku sambil mengambil uang itu di meja dan menghitungnya. Jumlahnya ada tujuh ratus lima puluh ribu. Aku menarik lima puluh ribu dan mengembalikannya pada Jo.
"Udah ambil!" katanya sambil menjejalkan segarpu penuh siomay ke dalam mulutnya. "Buat jajan sebulan," ia menambahkan di antara kunyahannya.
Aku langsung terkekeh sambil menjejalkan semua uang itu ke dalam saku sweater-ku.
"Jan taro situ, Anjeng!" semburnya sambil memelototiku. "Ilang, nangis lu! Kaga tau ape nyarinya ampe empedu naek ke tenggorokan?!"
Kantong sweater itu memang cetek, tak cukup aman untuk menaruh uang. Aku memindahkan uangnya ke saku celana pendek yang khusus untuk rebahan. Kemudian menyelinap ke sisi Jo, bersiap untuk merebut suapannya.
Bersamaan dengan itu, ibu Jo muncul di ambang pintu yang menghubungkan ruang keluarga dan dapur.
Keluarga Jo sudah tidak menganggap aku sebagai orang lain. Tidak akan ada yang terkejut sekalipun mereka memergokiku sedang tidur di kamar Jo. Tidak akan ada yang mencurigai aku berbuat macam-macam kecuali berebut makanan dan saling baku-hantam.
Bisa jadi mereka juga sudah tidak menganggap aku sebagai anak perempuan.
Jadi begitu melihatku, ibunya hanya bertanya, "Dari mana aja lu kaga pernah kemari?"
"Udah punya pacar dia sekarang," seloroh Jo mengambil alih jawaban ketika suapannya berhasil kurebut.
Aku nyaris tersedak siomay mendengar ocehan recehnya.
"Lu pacaran ama cewek apa ama cowok?" ibu Jo menoleh padaku dengan mata terpicing.
"Cowok, sih!" jawab Jo lagi. "Tapi kek cewek—rambut panjang, muka lancip kek manekin!"
"Seh! Seh!" semburku sambil menjambak rambut Jo. "Sapa lu?"
"Berondong kedai kopi!" ejek Jo sambil terbahak-bahak.
"Monyet!" geramku sambil menarik rambutnya hingga kepalanya tertunduk.
"Kedai Kopi Berondong?" tanya ibu Jo.
"Bohong, Ma! Bohong!" sergahku cepat-cepat.
"Lah emang ngapah?" gumam ibu Jo sambil duduk di lengan kursi di sampingku. "Beneran juga kaga ngapa-ngapah!"
"Buseh anak bocah, Ma!" gerungku tak sabar.
"Orang kalo udah kerja udah bukan bocah, Ga!" tukas ibu Jo.
"Maksud Galang umurnya di bawah Galang, Ma!" sanggahku dengan gaya kolokan.
"Kalo jodoh mah kaga pandang umur, Ga!" nasihat ibu Jo.
"Amin!" teriak Jo sambil melompat dari sofa dan menghambur ke dapur.
"Seh—" geramku sambil menoleh padanya, melontarkan tatapan tajam. Tapi hanya menghujam punggungnya.
Cowok berengsek itu sudah mencapai pintu dapur dan tidak menoleh lagi.
"Makan, gih! Mama masak banyak, noh!" ibu Jo menawarkan.
"Enggak ah," tolakku bernada merajuk. Aku memang senang bermanja pada orang tua teman-temanku. Terutama ibu Jo.
"Mau jadi apa lu, kaga pen makan masakan gua?" gerutu ibu Jo.
Aku langsung tertawa menanggapinya.
Meski terkadang aku tidak ketemu makan, aku tidak pernah menunjukkan pada dunia bahwa aku begitu kelaparan. Jadi, setiap kali aku datang ke rumah teman-temanku, aku tidak mentang-mentang ditawari terus bisa seenaknya.
Perasaan tak enak selalu mengikuti ke mana-mana, bahkan ke tempat aku tidak dianggap sebagai orang lain.
Aku tahu persis ibu Jo benar-benar tulus menawariku makan. Dia selalu begitu setiap kali aku berkunjung ke rumah mereka.
Tapi aku tidak selalu menerimanya. Bukan menolak rezeki, hanya berusaha menjaga sikap.
"Ntar malem jadwal gua kosong!" teriak Jo dari dapur. "Gua bantuin lu ntar!"
"Yes!" seruku sambil berjingkrak.
"Jadi sekarang lu netep nyanyi di situ? Di kedai berondong itu?" tanya ibu Jo. "Gua pernah liat lu di situ seliwat," katanya.
"Iya," jawabku. "Lagi kapan Mama liat Galang?"
"Tempo ari!" jawabnya dengan logat Betawi kental.
"Atuh Mama gak manggil?"
"Ilok gua gegeroan? Lu duduk depan speaker!"
Aku hanya terkekeh menanggapinya.
"Itu dia pacar lu, di situ?" tanya ibu Jo lagi.
"Ish! Mama!" gerungku dengan merajuk. "Si Jo didengerin."
"Tapi gua liat anak-anak yang jaga di situ cakep-cakep!" tukas ibu Jo.
"Ya udah Mama aja yang pacarin!" semburku sambil mendelik pura-pura marah.
"Atuh kalo gua masih seumur elu mah jan ditanya!" sergah ibu Jo.
"Buseh!" aku spontan mendongak memelototinya.