Prolog
Karya ini merupakan lanjutan dari Novel Gadis Desa Dengn Sejuta Mimpi yang sudah tamat.
Kali ini author akan menceritakan perjalanan Ayuna sebagai Ibu dari anak nya yang sudah remaja. Keseruannya menjadi seorang Ibu membuat cemburu Suaminya yang masih saja posesif dan tidak mau ada yang menganggu kesayanganna.
Banyak kejutan dan cerita menarik lainnya yang akan author persembahkan.
Kisah cinta para sahabat Ayu yang masih saja melajang juga akan di sajikan dengan apik.
Selamat menikmati setiap coretan yang author sajikan, semoga karya ini akan bisa mneghibur sedikit lelahnya para pembaca yang sudah bekerja keras menjalani hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Rindu
Ayu bergelayut manja di lengan Riyan yang baru saja masuk ke apartemen. Rindu sekali Ayu pada Riyan kecilnya yang sekarang sudah menjadi bendahara sukses perusahaan yang Jofan kelola. Dia hebat, dia berdiri di kakinya sendiri meskipun Jofan menopangnya dengan kuat.
Semenjak kepergian kedua orang tua mereka yang tiba-tiba karena kecelakaan, Ayu memaksa Riyan tinggal dengannya, Riyan menolak. Dirinya bersikeras ingin menjadi apa yang dia inginkan tanpa bantuan dari Malik yang memang punya kendali besar.
Ayu bangga, Riyan sudah membuktikannya. Bapak dan Ibu pasti sangat bangga. Riyan bahkan menguatkan Ayu yang hampir saja menyerah, meminta Ayu kuat agar Riyan juga bisa percaya diri menjalani hidupnya.
Begitu banyak yang mencintai Ayu dan dirinya, jangan menyerah pada takdir Tuhan yang menyedihkan, bangkit karena masih banyak keindahan yang bisa di untai dengan takdir lain yang Tuhan hadirkan.
"Mbak Ayu kenapa muntah-muntah?" Yang ditanya malah tidak menjawab dan sibuk memeluk Riyan.
Riyan tahu Mbak nya sedang ingin manja padanya, memang mereka sedekat ini dulu, sebelum Ayu merantau dan terpisah jauh dari sanak saudara nya di kampung.
"Harus sakit dulu yang supaya kalian semua kumpul begini?" Ucapnya pelan. "Aku kesepian, kalian semua sibuk." Keluhnya.
"Mbak kalau kesepian bilang Mbak, kan aku, Mas Jofan, Kak Malik atau yang lain bisa gantian menemani Mbak jalan-jalan." Menyesal harus mendengar Ayu merasa di abaikan.
"Aku kan gak mau kalian repot, tapi Mbak jujur sangat rindu Dek." Menahan air matanya yang sudah menganak sungai di pelupuk mata.
"Aku akan sering mampir. Sudah jangan menangis Mbak, nanti muka mu jadi keriput." Ayu tertawa. Melepaskan pelukkannya.
"Sejak kapan air mata membuat wajah keriput sih." Masih tidak bisa berhenti tertawa. Riyan sangat pelit bicara, tapi kalau untuk menghibur Ayu, dia akan gunakan jurus lawaknya yang tidak terbaca. Selalu berhasil membuat Ayu tertawa.
"Tahu tidak Mbak, sepertinya sebentar lagi akan ada undangan pernikahan." Melan heboh saat mendengar ucapan Riyan.
Bruukkkkkkkk
Awwwww…..
Teriaknya kesakitan. Kaki Melan terpentok meja karena bergerak tidak hati-hati.
"Kak Melan...." Riyan lari meraih kaki Melan, lututnya merah. Riyan membantu Melan duduk dengan benar. "Kenapa selalu saja ceroboh." Marahnya tanpa alasan jelas.
"Aku penasaran, siapa yang menikah?" Tanyanya membuat Riyan dan Ayu lega kaki Melan baik-baik saja. "Kenapa melihatku begitu?" Membuat orang khawatir tapi dirinya tidak merasa bersalah.
"Mas Jofan tadi tidak sengaja menabrak Kak Sandra di Lobby." Senyum terukir di sudut bibir Ayu dan Melan.
“Terus Dek…” Ayu Penasaran.
“Apa yang mereka lakukan?” Membayangkan keduanya berciuman mesra setelah sekian lama. Otak mesum Melan.
"Aku tidak lihat kelanjutannya karena lift nya terbuka."
"Yahhhhh....." Teriak keduanya kompak.
"Kau ini, buat orang penasaran saja." Ayu dan Melan saling menatap. "Kau tau apa yang aku pikirkan Mel?" Melan mengangguk.
"Mereka lama sekali, pasti sedang melepas rindu. Ahhhh....lucu sekali mereka berdua." Ucap Melan gemas.
Yang di tunggu tidak lama sampai di apartemen Ayu, Sandra dan Jofan masih terlihat sama. Mereka saling tidak bertegur sapa. Masih canggung.
"Kau sakit apa sayang? Kenapa bisa sakit?" Ayu mengintip Sandra yang berdiri di belakang Jofan yang sedang memeluknya.
"Aku hanya mual Mas, aku tidak sakit." Jofan menempelkan telapak tangannya di kening Ayu, memeriksa suhu tubuh adik perempuan kesayangannya.
"Syukurlah....aku senang kau baik-baik saja." Mengedipkan mata pada Sandra.
Tidak ada jawaban. Beralih menetap Riyan yang mengangkat pundaknya tidak paham. Ayu menaikkan sudut bibirnya, kecewa masih belum ada perubahan.
Padahal berharap melihat keduanya masuk dengan mesra, bergandengan tangan.
Rey dan Anna juga datang, Ayu sangat senang semua berkumpul di huniannya yang nyaman. Bercengkrama saling menceritakan kejadian demi kejadian yang bisa di jadikan bahan lelucon.
Mata Ayu masih tidak bisa lepas dari Mas nya yang sendu. Dia hanya terlihat mampu mencuri pandang ke arah wanita pujaan hatinya.
Sandra terlihat lebih tenang, entah apa yang sedang terjadi diantara mereka.
Ayu berharap keduanya mau mengalah dan mengakui perasaan masing-masing yang saling masih sama-sama membutuhkan. Keras kepala sekali, batin Ayu merutuki kebodohan kedua sahabatnya.
"Memikirkan apa Mom?" Tanya Ranu yang menatap lekat mata wanita kesayangannya.
Tertangkap basah, Ranu paling tidak bisa lihat Momm nya banyak pikiran. Takut semestanya goyah dan membuat fokus nya berantakan.
"Abang....makan sayang, hari ini Abang dan Kak Mahes boleh makan apa saja yang ada di sini. Mommy tidak akan larang-larang." Mengalihkan pembicaraan. Tidak mau Putranya tahu kegundahan hati nya.
"Mommy tidak istirahat saja, sudah malam Mom." Sudah melebihi jam biasanya Ayu masuk ke dalam kamar. Mahes bermaksud menggoda Daddy nya.
"Tidak apa Nak, Mommy sedang bahagia kalian semua datang. Daddy tidak keberatan." Senyum merekah di wajah Ayuna, suaminya memang sesekali melanggar peraturan yang dia buat sendiri.
"Kau sangat beruntung, aku iri." Ucap Sandra bermaksud menyindir Jofan agar bisa lebih peka dengan keinginannya. Jangan diam saja dan saling menunggu.
"Kau juga beruntung, kau di cintai laki-laki yang setia menunggu keputusan mu, kau harus putusakan mau di bawa kemana hubungan kalian." Anna kesal Sandra hanya memikirkan perasaannya sendiri. Adiknya juga terluka.
"Kak..." Jofan menggenggam erat tangan Anna. Mencoba mereda emosi Anna yang saat ini entah kenapa ingin meledak. Membakar sanubarinya.
"Maaf...Kak Anna tidak bermaksud bicara seperti itu." Menunduk merasa bersalah.
Kelembutan hati Anna retak, terluka melihat adik kesayanganya berjuang selama ini. Melihat sendiri bagaimana Adiknya kesakitan.
Anna hanya tidak bisa terus-terusan melihat Jofan menderita, dia pura-pura baik-baik saja padahal hancur. Jofan tidak pandai berkata-kata manis, Sandra juga keras kepala.
Tapi kali ini Anna melewati batas, dia hanya kesal adiknya tidak berdiri kokoh karena sayapnya terluka. Dia harus bisa mengambil keputusan, jangan membuat batas.
"Sayang...." Rey memeluk hangat wanita kesayangannya yang memang jadi saksi hancurnya Jofan saat mengambil keputusan menyakitkan.
"Kak Anna benar, aku sangat beruntung. Jofan yang tidak, dia harus rela mengurusku yang banyak maunya, nakal, tidak bisa di atur, keras kepala." Matanya berkaca-kaca menatap sendu ke arah Jofan.
“San…maaf.” Jofan tidak mampu membalas. Tenggorokannya tercekat.
Jofan senang Sandra mau mengutarakan isi hatinya. "Aku juga Rindu...." Terisak pilu, Sandra tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dadanya sesak. Matanya panas menahan air mata yang banjir di pelupuk matanya.
Tentu saja Jofan dengan senang hati memeluk Sandra hangat. Mendekapnya erat seolah dirinya sedang meyakinkan Sandra semua akan baik-baik saja.
Senyum terukir di setiap wajah orang-orang yang menyayangi mereka, seharusnya mereka memang tidak berjalan sendirian, mereka harus tetap saling bertaut karena cinta nya yang tulus.
"Katakan apapun please....aku malu." Jofan tersipu mendengar Sandra yang masih ada di pelukkannya berbisik.
"Aku akan menikahi Sandra." Ucapnya tegas.
"Yachhhh...." Teriaknya merasa terkejut. Dan semakin malu.
"Kali ini aku tidak main-main, aku tidak mau kehilangan mu lagi karena kekonyolan mu San. Mau yah…." Menunggu jawaban Sandra penuh harap.
Sandra mengangguk, dirinya juga secinta itu pada Jofan.
Yeayyy....yeayyy...yeayyyy...
Mereka bersorak ikut bahagia, kabar yang sekian lama mereka tunggu akhirnya datang juga. Melan menatap Riyan yang terbengong tidak percaya, ucapannya menjadi kenyataan. Dengan tidak tahu malu Jofan mencium Sandra di depan semua orang
"Yeaaaaacchhhhh......mata anak-anakku ternodai." Teriak Malik kesal.
Mereka semua tertawa, malam ini di tutup penuh kebahagiaan. Pasangan kekasih yang terpisah karena keegoisan kini kembali menyatu. Menjalin hubungan yang lebih serius agar tidak ada lagi keraguan menatap masa depan bersama. Saling meyakinkan bahwa semua harus berjalan dengan benar sesuai tempatnya.