Tidak mudah menjadi seorang putri dari pengusaha kaya raya yang terkenal. Terlebih lagi jika pengusaha itu adalah pengusaha yang menjalankan bisnisnya di dunia hitam sekali pun. Dunia yang setiap harinya harus bermain dengan obat-obatan terlarang, hingga peredaran senjata api ilegal.
Hal itulah yang terjadi pada Alika Tiffany Raendra. Bukan hanya pihak berwajib yang sering mengincarnya agar dapat menangkap sang ayah, tetapi musuh ayahnya pun kerap kali ingin mencelakakannya, sehingga sang ayah meminta beberapa bodyguard untuk mengawasi Tiffany.
Siapa sangka Tiffany malah jatuh cinta pada salah satu bodyguard bertugas untuk menjaganya, bodyguard itu bernama Rama. Walau pada awalnya mereka kerap bertengkar, tetapi Tiffany akhirnya balik mengejar Rama dan bertekad untuk mendapatkan cinta dari Rama.
Akan tetapi, saat akhirnya Rama mulai tersentuh dengan ketulusan dari Tiffany, sebuah musibah datang.
Apakah musibah itu?
Dan apakah Tiffany dan Rama dapat melewati musibah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIFFANI, PENEMBAK JITU
Mona segera keluar dari dalam mobil dan mengikuti apa yang Rama perintahkan. Ia menyeberangi jalanan yang sepi menuju patung bunga tulip dan bersembunyi di antara semak lavender yang tumbuh subur.
Sebenarnya tempat Rama dan Mona sekarang berada adalah sebuah taman kota yang terlantar. Tidak adanya petugas yang membersihkan taman tersebut membuat tanaman menjadi tumbuh berantakan, bahkan di sela-sela bunga terdapat banyak tanaman rambat liar yang mengganggu pemandangan. Kondisi taman yang tidak terurus itu membuat pengunjung semakin hari semakin berkurang hingga hampir tidak ada lagi yang datang ke sana.
Jalan Cendrawasih sendiri memiliki beberapa jalan tembusan yang bisa digunakan oleh para pengendara jika ingin menghindari padatnya arus lalu lintas di jalanan utama. Terdapat banyak persimpangan juga yang pasti akan membuat bingung siapa saja yang tidak pernah melewati jalan itu. Itulah sebabnya Rama meminta agar Pak Slamet memutar ke jalan Cendrawasih, agar ia dapat menggagalkan aksi para penguntit yang ingin mencelakai Tiffany.
Rama sekarang sedang menunggu. Ia mengetuk-ngetuk jemari di roda kemudi sambil sesekali melirik arloji yang terpasang di pergelangan tangannya.
"Seharusnya sebentar lagi," gumam Rama, sambil mengeluarkan Glock Mayer 22 yang ada di saku bagian dalam jasnya.
"Lima." Rama mulai menghitung, sambil menatap ponselnya yang langsung terhubung dengan aplikasi pelacak di ponsel Tiffani.
"Dua." Rama merentangkan tubuhnya, melepas jasnya, dan menggulung lengan kemejanya.
"Tiga." Titik merah yang ada di layar ponselnya sekarang semakin dekat dengan titik biru yang merupakan tanda lokasi keberadaannya dan keberadaan Tiffani.
"Dua." Rama bersiap untuk menginjak pedal gas. Tatapannya begitu tajam dan fokus menatap lurus ke depan untuk memastikan agar ia tidak salah menabrak.
"Satu."
Sebuah sedan melesat dengan cepat ke belokan yang mengarah ke kiri jalan, menuju patung bunga tulip. Tidak lama kemudian sebuah sedan kembali muncul, tetapi sedan itu bergerak lurus, tidak ikut berbelok seperti sedan pertama yang melintas di depan mobil Rama. Di saat itulah Rama langsung menginjak pedal gas dan mobil yang ia kendarai meluncur dengan cepat, menabrak sedan yang baru saja melintas di hadapannya.
Bruk!
Tabrakan pun tak terhindarkan. Satu mobil berhasil Rama tabrak, maka dua mobil selanjutnya sudah pasti akan bergabung bersama dengan mobil yang pertama. Tabrakan beruntun!
Rama meringis sejenak, darah turun dari dahi ke pipinya, tatapannya kabur dan rasa nyeri begitu terasa hingga membuatnya mual, tetapi ia berusaha untuk tetap fokus pada tugasnya. Dengan cepat ia keluar dari dalam mobil yang bagian depannya mulai mengeluarkan asap, lalu dengan gesit ia mengarahkan Glock Mayer 22 miliknya ke beberapa pria yang masih sadarkan diri dan berhasil keluar dari dalam mobil, sama seperti dirinya.
"Sudah kuduga kalau kamu pasti akan menjadi pengacau!" Johan menyeka darah yang mengalir dari keningnya, sambil menghampiri Rama dan kemudian menendang Rama dengan kuat.
Rama yang masih belum fokus karena rasa sakit di kepalanya pun terjatuh. Pandangannya masih berkunang-kunang hingga sosok Johan terlihat tidak jelas oleh pandangannya.
"Tidak sehebat yang kukira ternyata." Johan berkomentar.
Rama tertawa. "Jagoan selalu menang belakangan," ujarnya, lalu mulai menyerang Johan dengan gerakan cepat, tetapi Johan selalu bisa menghindar. Tidak mengherankan, karena Johan pun merupakan pengawal terbaik yang dimiliki Burhan Lubis, sehingga tidak semudah itu mengalahkan Johan.
Sementara itu Tiffani yang tidak lagi gemetar seperti sebelumnya langsung membuka kaca jendela mobil dan melihat apa yang tengah terjadi.
"Fan, kita harus pergi sekarang," ujar Mona yang sudah duduk di samping Pak Slamet. "Ayo, Pak, kita lanjut perjalanannya," ujar Mona lagi.
"Tidak." Tiffani berteriak. "Kita tidak boleh meninggalkan Rama. Apa kamu tidak lihat kalau dia bisa mati karena dikeroyok," ucap Tiffani dengan panik, saat ia melihat beberapa pria yang keluar dari dalam mobil. Dengan langkah gontai pria-pria itu menghampiri Rama dan melayangkan tinju ke Rama. Walaupun berhasil menghindar, Tiffani menebak bahwa Rama pasti akan kalah juga, toh Rama kalah jumlah.
"Rama bisa menanganinya, kamu tenang saja, yang terpenting adalah nyawamu sekarang. Kamu itu--"
"Adalah prioritas." Tiffani memotong ucapan Mona, ia lalu mengalihkan pandangan ke Mona. "Mulai sekarang jangan katakan itu, Mon. Kita semua berhak untuk hidup. Bukan hanya nyawaku yang harus diprioritaskan."
Kedua mata Mona berair. Ia tidak pernah mendengar kalimat demikian keluar dari bibir Tiffani, hingga wajar saja jika ia sangat terharu sekarang. Tiffani yang angkuh dan tidak peduli pada nasib orang-orang yang ada di bawahnya tiba-tiba saja menjadi perhatian. Sungguh suatu keajaiban.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Mona. "Kita tidak bisa berbuat banyak, apalagi mereka mengincarmu, Fan, jika mereka melihatmu, mereka pasti akan langsung menangkap atau menembakmu."
Tiffani mengangguk. "Aku tahu, tapi kita tidak harus turun dari mobil agar dapat menolong Rama." Tiffani kemudian menunduk, lalu ia membuka sebuah kotak rahasia di bawah kursi tempat duduknya dan mengeluarkan sebuah senjata api yang memang selalu ada di dalam sana.
"Ini dia, sesuatu yang hanya boleh kugunakan dalam keadaan darurat." Tiffani memperlihatkan sebuah pistol ke Mona."
Mona menatap benda yang dipegang Tiffani dengan tatapan ngeri. "Apa kamu bisa menggunakannya?" tanya Mona.
Tiffani mengangguk. "Aku sering main game tembak-tembakkan."
Mona meneguk saliva. "Game?!"
Tiffani nyengir. "Mundurkan mobilnya, Pak," perintah Tiffani pada Pak Slamet.
"Tapi, Non--"
"Sudahlah, mundurkan saja," ujar Tiffani lagi.
Pak Slamet langsung menuruti perintah Tiffani. Ia memundurkan mobil perlahan. Sekarang jarak mobil Tiffani dan tempat Rama dan Johan berkelahi sudah semakin dekat.
Tiffani mengarahkan senjata apinya ke beberapa pria yang berusaha menjatuhkan Rama dan langsung menarik pelatuk.
"Argh!"
"Argh!"
Jeritan demi jeritan terdengar saat bidikan Tiffani mengenai sasaran, yaitu kaki para pria berjaket hitam.
Melihat beberapa lawannya tumbang karena sebuah tembakan, Rama langsung mencari sumber dari mana peluru itu berasal, dan Rama sangat terkejut ketika ia melihat Tiffani sedang menodongkan senjata api melalui jendela mobil.
"Nona," gumam Rama.
"Wah, gadis itu menarik sekali. Selain cantik dan seksi, ternyata dia juga pandai menggunakan pistol. Lain kali aku pasti akan memilikinya," ujar Johan, yang sekarang juga sedang menatap Tiffani, sama seperti Rama.
Mendengar apa yang Johan ucapkan, Rama tersenyum sinis. "Jangan berani-berani menyentuhnya."
"Ah, yang benar? Aku bisa menyentuhnya jika aku mau. Aku rasa aku benar-benar tertarik padanya."
Dor!
Rama menembakan satu peluru ke kaki Johan, membuat Johan mengerang kesakitan dan terjatuh di atas rerumputan.
"Rama, cepat!" Tiffani berteriak dari jendela yang terbuka.
Rama segera berlari menuju mobil Tiffani, membuka pintu mobil dan membanting tubuhnya di samping Tiffani.
"Cepat, Pak, kita harus cepat pergi dari sini," ujar Mona, yang terlihat panik.
"Ba-baik." Pak Slamet langsung menginjak pedal gas, meninggalkan Johan dan kawanannya.
"Kenapa kalian tidak langsung pergi? Bukankah perintahku sudah jelas tadi, Mona, kalau aku meminta kalian harus pergi secepat mungkin sementara aku menghadang mereka," ujar Rama, setelah beberapa saat.
"Aku langsung meminta Pak Slamet untuk pergi, tapi Tiffani melarang," jawab Mona.
Rama menghela napas sambil melempar tatapan kesal ke Tiffani. "Keputusan Anda yang teledor itu membuat kami semua dalam bahaya, Nona, seharusnya Anda langsung pergi. Jika terjadi sesuatu pada Anda, kami semua bisa mati," omel Rama.
Tiffani menatap Rama dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya Rama bicara seperti itu setelah ia berusaha menolong Rama. "Wah, padahal aku memilih tinggal karena aku tidak ingin kamu mati di sana, tapi teganya kamu mengatakan itu padaku."
Rama menegakkan duduknya kemudian menghadap ke Tiffani, dan kembali berkata. "Anda tidak mengerti, Nona, keselamatan kami tidak ada artinya dibanding keselamatan Anda. Anda adalah prioritas utama, jadi tolong jika salah satu bodyguard Anda sudah berusaha untuk melindungi Anda, Anda harus bekerja sama dengan cara melindungi diri Anda sendiri, yaitu lari dan menjauhlah dari tempat terjadinya keributan ... argh! argh!" Rama menjerit, karena Tiffani baru saja menendang tulang keringnya dengan begitu keras.
"Astaga, Fan, apa yang kamu lakukan?" tanya Mona. "Rama kesakitan. Lihatlah, wajahnya saja sudah penuh dengan luka, sekarang kamu malah menendangnya."
"Biar saja. Aku tidak peduli. Seharusnya kubiarkan dia mati di sana. Dasar tidak tahu terima kasih!" ujar Tiffani, lalu menatap ke luar jendela. Ia kesal sekali pada Rama yang tidak menghargai pertolongannya.
***
Burhan Lubis memukul meja kerja yang ada di hadapannya dengan kesal. Ia tidak percaya jika Johan kini gagal menjalankan tugas, padahal biasanya Johan tidak pernah gagal.
"Kenapa kalian bisa gagal dua kali, hah? Menangkap seorang gadis seperti Tiffani saja kalian tidak bisa!" bentak Johan, pada anak buahnya yang berdiri di hadapannya dengan tubuh penuh luka.
Johan mendongak, walau ia masih merasakan sakit yang luar bisa pada sebelah kakinya, tetapi ia tetap berusaha untuk bicara setegas mungkin pada Burhan Lubis.
"Tiffani memiliki seorang bodyguard yang lumayan, Tuan," ujar Johan.
"Lumayan?! Maksudmu, bodyguard itu begitu hebat sampai-sampai kalian yang sebanyak ini tidak mampu untuk mengalahkannya?" tanya Burhan.
Semua pengawalnya mengangguk.
"Dia sangat gesit, kami kurang persiapan tadi. Aku berjanji, Tuan, untuk selanjutnya aku pasti akan membawa Tiffani ke hadapan Anda," ujar Johan
Burhan Lubis menghela napas. "Aku pegang janjimu, Johan, tapi ada perubahan rencana. Jika bodyguard Tiffani begitu hebat, maka untuk mendapatkan Tiffani, kita harus menyingkirkan si bodyguard terlebih dahulu, benar?"
Jihan mengangguk. "Benar, Tuan."
Burhan tersenyum licik. "Bunuh dia kalau begitu. Aku ingin semua penghalang yang menghalangi jalanku untuk menghancurkan Richard, harus segera disingkirkan."
Bersambung.