Dulu, aku adalah seseorang yang menjadi inspirasi hidupmu, Aku lah wanita yang selalu kau bangga-banggakan pada siapapun yang bertanya perihal siapa sosok di balik kesuksesan mu.
Namun sekarang, aku hanya sebuah nama yang terkubur bersama masa lalu mu. Kau sembunyikan aku jauh dari hidup mu. Semua sudah berubah, hanya karena orang-orang baru, aku tersingkirkan dari sisi mu.
Terima kasih Mas, kau pernah memeluk ku dengan erat, meski pada akhirnya kau melepaskan ku demi dia. Ya, dia yang jauh lebih sempurna di bandingkan diriku.
Dari dirimu aku belajar, pernah dibahagiakan bukan berarti tidak akan disakiti. Pernah di cintai bukan berarti tidak akan dibenci dan aku mengerti. Aku tidak akan pernah bisa selamanya menjadi orang yang berharga di hati mu. Karena aku bukanlah pelabuhan hati mu yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam ini Ferdy mengajak diriku untuk pergi makan di luar, ia membelikan sebuah gaun malam berwarna senada dengan jas yang ia kenakan malam ini.
Ia begitu tampan dengan setelan jas berwarna abu-abu. Kami berjalan bergandengan memasuki sebuah restauran yang nampak lengang dan sepi. Tak ada satu pun pengunjung di restoran itu selain kami berdua.
Ferdy terus membawaku masuk ke dalam bagian restoran, semakin dalam kami melangkahkan kaki, semakin terlihat beberapa orang yang tengah berkumpul.
Semua mata tertuju pada kami yang baru saja tiba di tempat itu. Aku mengedarkan pandangan ketika aku sadari orang-orang yang berkumpul di restauran ini adalah sebagian saudara ku.
"Fer, kenapa mereka ada disini? Apa kamu mengundang mereka?" Tanya ku dengan menatap wajah Ferdy yang tengah tersenyum menyapa mereka.
"Tentu saja aku mengundang mereka. Karena malam ini aku akan melamar mu dihadapan keluarga mu dan juga keluarga ku." Jawab Ferdy yang membuat ku terkejut.
"Lea, maukah kau menikah dengan ku, menjadikan ku teman hidup mu dalam suka mau pun duka." Ucap Ferdy yang malah duduk bersimpuh melamar ku
"Ya Tuhan, tolong katakan jika ini bukanlah mimpi," gumam ku dalam hati mendapatkan perlakuan manis dari Ferdy yang tak pernah aku dapatkan dari Mas Doni sebelumnya.
Aku sungguh tak percaya jika Ferdy secepat itu melamar ku. Namun dibalik kebahagiaan yang kini aku rasakan, terselip rasa sedih yang ku rasakan, karena aku tak melihat sosok Papi di antara mereka.
Mata ku terus mengedar kesuluruh penjuru. Mencari keberadaan cinta pertama di dalam hidupku. Tak ku dapati ia, hanya kedua orang tua Ferdy yang berdiri, tersenyum melihat ke arahku.
Semua orang menyemangati untuk menerima lamaran Ferdy yang masih duduk bersimpuh di hadapan ku, dengan sebuah kotak cincin berlian yang ia tunjukkan pada ku.
"Terima...terima... terima," teriak mereka yang begitu bising di telinga ku.
Aku menatap haru wajah Ferdy yang masih setia menunggu jawaban dari ku. Aku ingin menerimanya, tapi aku menerima lamarannya atas restu Papi ku. Aku tak ingin lagi menikah tanpa restu darinya.
Aku menitikkan air mata ku, berharap Papi ada di samping ku, memberikan restunya untuk ku menerima lamaran pria yang selalu memberikan ku kebahagiaan selama ini, bukan pria yang hanya sekedar memberikan ku sebuah janji bahagia tapi malah menyakitiku setiap harinya.
"Terimalah Lea, Papi merestui pilihan mu kali ini," ucap suara Papi yang berdiri tepat di belakang ku.
Seketika aku membalikkan tubuh ku, ku pandangi sejenak wajah tuanya yang tak sedingin siang tadi menatap ku. Ia mengangguk dan mengedipkan matanya, seakan memberi kode pada ku untuk menerima lamaran Ferdy.
Aku menatap Ferdy yang masih setia menunggu jawabanku dengan senyum manis yang terukir di wajah tampannya.
"Fer, aku mau menjadi teman hidup mu, berbagi suka dan duka bersama mu, terima kasih telah membawa Papi ku ke sini." Jawab ku dengan tetesan air mata kebahagiaan.
Ferdy segera memasangkan cincin berlian itu di jari manisku, ia berdiri dan memeluk ku, setelah itu aku membalikkan tubuh ku dan memeluk cinta pertama ku untuk pertama kalinya setelah dua tahun aku tak bersua dengannya.
"Papi maafkan Lea, Lea janji tak akan mengulanginya lagi," ucap ku sembari menangis di dalam pelukannya.
"Jadilah istri yang baik untuk Ferdy yang memang jodoh mu. Jangan lagi kamu bertindak bodoh Lea, menyia-nyiakan emas permata hanya demi sebuah batu krikil yang tak bernilai." Balas Papi yang terus mengusap punggung ku.
Malam itu menjadi malam yang begitu membahagiakan bagi hidupku, dimana Ferdy melamar ku dengan restu kedua orang tuaku.
*
*
*
Tak terasa tiga bulan sudah waktu berjalan, hari pernikahan kamu tinggal di depan mata. Rencana meneruskan kuliah hanya menjadi suatu wacana. Aku malah di sibukkan dengan persiapan hari bahagiaku dengan Ferdy.
Aku tetap menjadi sekertarisnya, hingga sekertaris yang cuti melahirkan itu kembali masuk. Sekertaris itu mendapatkan cuti spesial dari Ferdy yang tidak mungkin ia dapatkan di perusahaan manapun. Karena Ferdy memberikan cuti selama satu tahun lamanya.
Hari ini seperti biasanya aku menemani calon suamiku bekerja. Kali ini kami pergi mengecek pabrik konfeksi miliknya di daerah pinggiran pelabuhan. Dengan menaiki mobil sedan mewah keluaran negara Inggris tanpa seorang supir.
Ya, selama ini Ferdy memang jarang menggunakan jasa seorang supir, ia lebih leluasa menyetir sendiri kemana arah tujuannya pergi, apalagi sudah ada aku yang setia menemaninya.
Mobil yang di kendarai Ferdy berhenti tepat di parkiran pabrik. Kedatangan kami memang tidak di rencanakan, hingga membuat bagian manajemen pabrik kewalahan. Apalagi manager produksi mereka belum tiba hingga jam 10 pagi.
Aku berjalan di belakang Ferdy, mengikuti Ferdy dengan setia berkeliling pabrik miliknya, melihat para buruh sedang sibuk bekerja. Di saat waktu bekerja, aku menempatkan diri ku sebagai sekertarisnya bukan sebagai calon istrinya.
Ferdy terlihat begitu santai melihat kondisi para pekerjanya yang begitu serius dalam bekerja. Meskipun aku tahu dia sedikit menahan kesal karena manager produksi tak ada di tempatnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, hampir mendekati jam makan siang.
Beberapa staff manajemen terus menerangkan beberapa hal yang di tanyakan oleh Ferdy mengenai kondisi pabriknya. Menurutku pabrik ini cukup baik tapi menurut Ferdy kondisi pabrik belum ada kemajuan.
Tepat pukul 11.00 siang, seorang pria dan seorang wanita datang berlarian menghampiri kami yang berada di dalam gudang.
"Maaf saya datang terlambat Tuan Ferdy," sapa pria itu dengan nafas yang terengah-engah.