Zaskia harus menelan pil pahit, menjelang pernikahannya yang tinggal menghitung hari, dia dihadapkan kalau Adnan calon suaminya itu selingkuh dengan temannya sendiri bahkan sampai hamil.
Sedih, hancur, marah, bahkan trauma harus dirasakan oleh Zaskia. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan luka dalam hatinya.
Tapi bagaimana jika sudah sekian lama bisa melupakannya, tiba-tiba saja dipertemukan kembali dalam situasi dan kondisi yang berbeda.
Akankah Zaskia memaafkan dan kembali kepada sang mantan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
8 bulan kemudian.....
Tidak terasa sudah 8 bulan berlalu, dan sekarang usia kandungan Julia sudah 9 bulan. Sebenarnya sudah sejak malam, Julia mengalami kontraksi tapi Julia tidak berani membangunkan Adnan.
Pagi ini dia berniat akan pergi ke rumah sakit sendiri, dia tidak peduli lagi Adnan dan kedua orangtuanya mau ikut atau tidak karena Julia sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi dari Adnan dan keluarganya.
Julia hanya menghubungi kedua orangtuanya yang ada di Palembang, mereka hanya bisa mendo'akan semoga anak dan Ibunya selamat karena mereka tidak bisa datang ke Jakarta.
Kedua orangtua Julia hanyalah seorang buruh di perkebunan yang gajinya tidak seberapa bahkan untuk makan pun susah jadi Julia sangat memahami akan keadaan orangtuanya.
Julia mulai menuruni anak tangga dengan sangat perlahan sembari memegang perutnya yang sudah terasa semakin menyakitkan.
"Ya Allah, kuatkan hambamu ini," batin Julia.
Sesampainya di bawah, baru saja Julia ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba Julia merasakan ada cairan yang mengalir di kakinya dan ternyata ketuban Julia sudah pecah.
"Aw...."
Julia ambruk, dan ART yang melihat Julia segera menghampiri Julia.
"Ya Allah, Mba Julia kenapa?"
"Perut aku sakit Bi, sepertinya aku mau melahirkan."
ART itu langsung panik dan membangunkan Adnan serta kedua orangtua Adnan.
Tok..tok...tok....
"Mas Adnan, Mas Adnan!"
Adnan yang masih tertidur menutup telinganya dengan bantal, tapi suara teriakan ARTnya sudah sangat mengganggu hingga akhirnya dengan terpaksa, Adnan pun bangun.
"Ada apa sih Bi? Teriak-teriak, berisik tahu!" sentak Adnan.
"Itu Mas, sepertinya Mba Julia mau melahirkan."
"Terus kenapa kalau mau melahirkan? Bibi saja sana yang mengantarnya ke rumah sakit," kesal Adnan.
"Tapi Mas, Mba Julia sudah pecah ketuban kasihan Mba Julia."
Akhirmya dengan sangat terpaksa, Adnan pun menuruni anak tangga. Adnan melihat kalau Julia sudah lemas, dan ada sedikit rasa kasihan di hati Adnan melihat keadaan Julia sekarang.
"Adnan, cepat bawa Julia ke rumah sakit," seru Papi Kusuma.
Adnan pun dengan sigap mengangkat tubuh Julia dan segera membawanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Julia langsung dibawa ke ruangan bersalin.
Adnan tidak ikut serta ke dalam karena memang Adnan tidak mau menemani Julia, tapi walaupun begitu ada sedikit rasa khawatir Adnan kepada Julia.
"Bagaimana keadaan Julia?" tanya Mami Yanti yang baru saja datang bersama Papi Kusuma.
"Tidak tahu Mi, masih ditangani dokter," sahut Adnan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi membuat hati Adnan bergetar dibuatnya. Dokter pun keluar dan Adnan segera menghampirinya.
"Bagaimana Dokter?" tanya Adnan.
"Alhamdulillah, persalinannya berjalan dengan sangat lancar, Ibu dan anaknya pun sehat. Bayinya berjenis kelamin perempuan."
"Alhamdulillah."
Ada perasaan bahagia dan terharu di hati Adnan, Adnan pun masuk ke dalam ruangan bersalin kemudian Dokter menyerahkan bayi perempuan itu ke gendongan Adnan.
"Silakan Bapak mengadzani dulu putrinya," seru Dokter.
Adnan pun memperhatikan wajah bayi mungil itu, tidak terasa mata Adnan tampak berkaca-kaca. Dengan suara yang bergetar, Adnan pun mengadzani putrinya itu.
Julia tampak meneteskan airmatanya, dia berharap Adnan akan berubah pikiran dan tidak jadi menceraikannya dengan kehadiran putri mereka.
***
Satu minggu kemudian....
Julia sudah sangat sehat dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Adnan menyuruh Mama Yanti untuk membawa anak perempuan yang diberi nama Kinan itu.
Sedangkan Adnan pulang bersama Julia karena Adnan ingin mengatakan sesuatu kepada Julia.
"Julia, kamu ingat kan dengan perjanjian kita? Kalau aku akan menceraikanmu saat kamu sudah melahirkan bayi itu," seru Adnan.
"Adnan, kamu tega membiarkan anak kita tumbuh tanpa seorang Ayah? Bagaimana kalau dia sudah dewasa dan menanyakan tentang keberadaan Ayahnya? Apa yang harus aku katakan kepadanya?"
"Dia tidak akan menanyakan sosok Ayahnya karena dia akan hidup bersamaku," seru Adnan.
Deg....
Jantung Julia berdetak tak karuan saat Adnan mengatakan hal seperti itu.
"Maksud kamu apa, Adnan?"
"Kinan akan tinggal bersamaku dan kamu boleh pulang ke Palembang."
"Kamu jahat Adnan, mana mungkin kamu bisa melakukan hal sekejam itu kepadaku? mana mungkin aku bisa memberikan anak yang sembilan ini aku kandung dan aku lahirkan dengan nyawa taruhannya!" bentak Julia dengan deraian airmata.
"Itu terserah kamu, kalau pun kamu mau membawa Kinan tidak apa-apa, tapi jangan harap aku akan menafkahi dia!" sentak Adnan.
Julia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, kalau Kinan ikut dengannya, terus bagaimana dengan masa depannya pasti akan sangat suram tapi berbeda kalau Kinan ikut dengan Papanya, pasti kehidupan Kinan akan terjamin.
"Kamu benar-benar jahat Adnan, aku pikir setelah Kinan lahir, kamu akan berubah dan mencintai aku tapi pada kenyataannya, kamu malah semakin kahat kepadaku."
"Jangan mimpi kamu Julia, dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak pernah mencintaimu dan aku akan menceraikanmu setelah kamu melahirkan. Apa kamu lupa?"
"Kamu keterlaluan Adnan."
Julia memukuli lengan Adnan saking emosinya Julia kepada Adnan.
"Apa-apaan kamu, Julia? Hentikan, aku sedang menyetir."
Julia tidak menghentikan pukulannya, dia ingin melampiaskan semua emosinya kepada Adnan. Sedangkan laju mobil Adnan tampak olenh oleh kelakuan istrinya sendiri, hingga tidak lama kemudian Adnan membelalakan matanya karena mobilnya benar-benar oleng.
Bruuaaakkkk...
Suara benturan sangat keras terdengar, tubuh Julia terlempar keluar mobil sedangkan kaki Adnan terjepit oleh badan mobil. Seketika semua orang berkumpul untuk melihat kecelakaan itu, ada yang memotretnya, dan ada pula yang langsung menghubungi polisi.
.
.