Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah sakit
Sebelum tidur nambah satu chap lagi deh..
Di tunggu dukungannya ya, biar author tambah semangat ngupdate-nya..
~
Mobil yang di kendarai mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Nara ke luar dari mobil di bantu Daffin, ia memapah Nara sampai di lobi. Remon yang masuk lebih dulu mengambilkan kursi roda untuk Nara.
Sampai di UGD Nara segera di periksa dokter. Dokter mengatakan jika malam ini Nara perlu menginap untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.
"Gue balik ke perkemahan dulu sama Mia." pamit Baim seraya menepuk bahu Daffin. Daffin mendelik horor pada tangan Baim, repleks Baim melepaskan tangannya.
"Jagain Nara ya Fin. Jika ada apa apa elo hubungin gue! Sampe-in maaf gue karena gak bisa nemenin dia di sini." tutur Mia. Walau hatinya merasa was-was meninggalkan Nara dengan Daffin tapi untuk saat ini ia tidak punya pilihan.
"Hm."
Selepas kepergian Baim dan Mia. Tama dan Remon pun pamit pulang atas permintaan Daffin.
Tinggalah Daffin duduk termengung di kursi yang di sediakan di samping tempat tidur Nara saat ini. Beberapa saat yang lalu Nara sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
Daffin galau antara harus memberi tau orang tua mereka atau tidak.
"Sebaiknya gue tunggu hasil pemeriksaannya besok." gumamnya pelan.
Daffin melirik benda bulat yang terpajak apik di dinding. Waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari, tapi ia sama sekali belum tidur. Daffin mendesah ia melihat Nara yang sudah pulas di ranjangnya.
"Sory." Daffin meraih tangan Nara "Gue gak bisa jagain elo, gue belum bisa jadi suami yang baik buat elo." tiba-tiba rasa bersalah itu menyeruak di dalam hatinya.
Beberapa saat ia terdiam dengan tatapan masih fokus pada wajah Nara, namun kantuk mulai menyerangnya dan ia pun bergerak menuju sofa di depan brankar Nara.
~
Matahari mulai merambat naik. Sinarnya mulai menyelusup masuk melalui jendela kamar rawat Nara. Sejak pagi Nara sudah bangun bahkan dokter yang bertugas sudah memeriksa kondisinya.
Siang nanti ia sudah di perbolehkan pulang. Karena memang tidak ada luka serius pada Nara, ia hanya mengalami syok dan beberapa luka goresan di tangan serta kakinya.
Daffin masih belum bergerak bangun, sepertinya ia sangat kelelahan. Nara dengan iseng melempar Daffin dengan anggur yang dari tadi ia makan.
Daffin terkejut, seketika ia melompat dari sofa, dengan mata melihat ke sana ke mari. Nara terkekeh geli di tempatnya.
"Ra, tadi gue mimpi ada yang nimpuk." Nara memiringkan wajahnya bibirnya tertutup rapat menahan tawa.
"Kenapa lo, ngetawain gue?" Nara menggeleng melihat Daffin mendatamginya.
"Cuci muka sana, jorok tau gak" Daffin mendengus tapi tetap nurut.
Tak lama ia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, walau rambutnya acak-acakan tapi tak mengurangi ketampanannya dan Nara sadar itu. Apa lagi melihat Daffin tersenyum padanya walau terkesan dipaksakan.
"Fin elo sarapan dulu sana, nanti siang kita pulang." Daffin menoleh.
"Siapa suruh elo pulang?"
"Dokter."
"Kapan?"
Nara memutar bola matanya malas "Tadi waktu elo tidur Daffin Prasetya."
"Sukur deh, gue gak suka lama-lama di sini, ngeri." Daffin bergidig, Nara terkekeh.
"Heh. Elo kok bisa gelantungan di bibir jurang?" Daffin baru ingat apa yang menjadi penyebab Nara berakhir di sini "Mau jadi tarzan lo?"
Nara terdiam, jika ia jujur maka Daffin pasti tidak akan mengampuni kedua adik kelasnya itu. Membayangkannya saja ia tidak mampu apalagi jika sampai itu benar-benar terjadi.
"Ngapa elo diam hah?" Daffin menyentil kening Nara, "jawab Nara Cahaya Prasetya?"
"Sakit Daffin." Bibir Nara mengerucut "Gue-gue kepeleset, pas waktu mau pulang dari sungai." Nara memalingkan wajahnya.
"Bener?" tanya Daffin lagi, ia mendekatkan wajahnya.
"Iya, ih jangan deket-deket." Nara mendorong wajah Daffin dengan telunjuknya.
"Kenapa? Gue suami elo, sah-sah aja dong."
"Iya sah, cuma elo 'kan udah janji sama bokap elo buat gak nyentuh gue dulu."
Pletak
"Otak elo ngeres Nara." lagi, satu sentilan mendarat di kening Nara.
"Enak aja." Nara menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Daffin tertawa puas bisa mengerjai istrinya itu.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.