Apa tujuan dari kehidupan?
Kekayaan?
Kekuasaan?
Kejayaan?
Tidak, tujuan dari kehidupan hanyalah kesenangan.
Ketika mereka mendapatkan kekayaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kekuasaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kejayaan, mereka senang.
Tujuan hidup sesimpel itu, pada akhirnya ketika mereka meraih tujuan, mereka akan senang.
Dan aku bereinkarnasi kedua kalinya untuk kesenangan.
Menggunakan segudang harta kekayaan dan pengetahuan, aku akan mencari kesenangan di kehidupanku yang ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermit of Imagination, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
015. Ini jelas jebakan
Ferdinand. ini orang terlihat sangat menyebalkan, terutama mukanya. Itu seperti bisa membuat setiap wanita yang dia temui berteriak 'kyahh'. menyebalkan
Dia memiliki tubuh sekitar seratus delapan puluh sentimeter, sangat langsing tapi penuh dengan otot, para wanita pasti akan menyebutnya seksi. sangat menyebalkan.
Meskipun dia adalah seorang polisi yang sudah berpengalaman dalam pertarungan. Tapi entah kenapa kulitnya sangat putih mulus tanpa ada bekas luka yang terlihat. ini juga menyebalkan
Dia memiliki mata yang sangat tajam dengan iris biru yang akan membuat jantung wanita berdetak kencang hanya dengan berpapasan mata. Lebih menyebalkan lagi.
Fitur wajahnya tajam, setajam pedang. Pokoknya menyebalkan.
Dan rambutnya, dia memiliki rambut yang hitam lurus yang diikat ponytail. Aku berharap dia akan tampak seperti banci, tapi kenyataannya itu tambah membuatnya keren. Dangat amat menyebalkan
Dia benar-benar tampak seperti seorang protagonis dari novel yang hanya bisa mengandalkan betapa Badass nya protagonis untuk menarik pembaca.
Pokoknya semua tentang orang ini sangat menyebalkan.
"Hoi, bolehkah aku memukulmu."
"Hmph." Hanya itu saja. Dia sok keren, dengan berperilaku cuek. Benar-benar menyebalkan.
Tapi aku akan mengesampingkan itu sekarang.
Ini lubang, ternyata sangat dalam. Sudah beberapa menit kami masuk dan cahaya sudah mulai berkurang, bahkan kami sudah mulai mengandalkan benda sihir untuk pencahayaan.
Aku dan Ferdinand berada di yang paling belakang dari kelompok. Menurut Ferdinand, sebagai wakil komandan, dia selalu ditempatkan di bagian paling belakang untuk menjaga bagian paling belakang, sedangkan komandan ditempatkan di bagian paling depan sebagai pemimpin.
Berdasarkan pengalamanku ini merupakan tempat pewarisan, dan juga jebakan bagi Stella.
Tempat pewarisan, itu adalah tempat yang didirikan oleh penyihir terdahulu untuk mewariskan harta dan juga pengetahuannya. Biasanya, warisan itu diberikan kepada garis keturunan, tapi ada kalanya yang tidak memiliki garis keturunan, atau penyihir yang memiliki tujuan tertentu akan mendirikan tempat pewarisan.
Biasanya tempat warisan itu memiliki sistem seleksi, itu akan memiliki banyak sekali ujian bagi yang ingin mendapatkan warisan. Tapi, tentu saja hanya mereka yang bisa melewati ujian yang terpilih untuk mendapatkan warisan.
Ujian itu sangatlah bervariasi, itu sangat banyak macamnya sampai aku malas menyebutkan.
Warisan, bagi para penyihir itu sangatlah penting. Karena dengan adanya warisan, sihir bisa maju seperti sekarang.
Dengan pengetahuan yang diwariskan, pengetahuan itu akan digunakan untuk memajukan sihir lebih maju lagi. Lagipula jika tidak ada pengetahuan yang diwariskan, dunia akan kembali ke zaman primitif lagi.
"Generasi sihir yang tak terhitung jumlahnya.
Para tetua mewariskan sihir untuk generasi muda.
Dari awal peradaban, pewarisan dan pewarisan.
Demi membentuk sebuah era kejayaan.
Pengetahuan terakumulasi dari generasi ke generasi.
Demi membentuk jalan sihir yang yang dicapai.
Yang muda berbakat mendapat apa dari sang tua.
Melanjutkan impian penyihir yang sudah tiada."
Aku tanpa sadar membuat puisi.
"Apaan?"
"Hiraukan saja aku, hanya hobi."
"Tidak, maksudku, apakah ini menurutmu adalah tempat pewarisan."
"Hmph." Aku cuek padanya.
"Hoi, aku serius ini." Dia memiliki muka jengkel bercampur marah di wajahnya sambil mengepalkan telapak tangannya. "Mau aku pukul kau?"
"Hah, iya iya iya ~" aku menjawab acuh tak acuh bercampur rasa tidak sabar. "Ini memang tempat warisan, dan ini juga jelas-jelas jebakan bagi kalian."
"Ini memang terlihat seperti itu. mayat ditempatkan dengan sangat jelas, seperti dia sengaja dengan itu. Jika dilihat masa lalu pelaku yang selalu berhati-hati melakukan tindakan, bahkan sampai di tahap tidak meninggalkan barang bukti sekalipun, ini sangat aneh. Terlebih waktu kejadiannya mepet dengan waktu kami lewat, ini seolah-olah dia berusaha memancing kami, Dan juga tempatnya dia melakukan kejadian sangat berdekatan dengan tempat dia bersembunyi, seolah-olah dia ingin kita masuk kedalam markasnya."
"Kau punya otak juga ternyata!?"
"Sialan, aku otak utama di Stella."
"Penipu."
"Terserah." tau ini bukan waktunya bertengkar, dia mengabaikan ejekan ku sebelum lanjut. "Tapi kenapa dia melakukanya?"
"Tentu saja karena dia membutuhkan pengorbanan untuk membuka warisan."
"Pengorbanan?"
"Benar, kalianlah pengorbanannya. Jika ini terus berlanjut kalian akan terjebak oleh sihir, dan hanya bisa menjadi ikan di talenan. Bayangkan saja apakah kau pikir pelakunya orang yang bodoh tanpa persiapan. Setelah begitu banyak upaya untuk memanci-" sebelum aku menyelesaikan perkataanku, aku menabrak orang di bawah, selama ini ketika aku berbicara dengan Ferdinand, aku hanya menatapnya tanpa memperdulikan jalan. Lagipula semua orang memiliki kecepatan yang sama. "Aduh … apaan?"
Aku baru sadar bahwa semua orang berhenti bergerak dan melihatku, bahkan komandan Stella yang paling depan/dibawah. "Apaan … secantik itukah aku sampai kalian menatapku seperti itu … maaf ya, aku bukan murahan, jadi bisakah kalian mengalihkan pandangan, itu memuakkan." Aku bersikap narsis.
"NGGAK MUNGKIN BEGITU, GOBLOK!!!" Ferdinand berteriak karena jengkel. "Mereka melihatmu karena ucapanmu."
"Lucy, apakah yang kau katakan itu benar." Komandan Stella datang kepadaku dan bertanya."
"Tentu saja benar." Aku menunjuk dinding di sebelah kananku. "Itu akan meledak."
"Eh, tapi kami tidak merasakan adanya jebakan."
"Benar, bahkan aku tidak mendeteksi benda sihir."
"Bagaimana itu bisa meledak."
"Itu sederhana." Aku menjelaskan. "Sihir jiwa lebih halus dari kebanyakan sihir, karena energi jiwa jauh lebih halus daripada kebanyakan energi spiritual dan mana."
"Apakah itu artinya warisan ini adalah warisan dari penyihir aliran jiwa dan jiwa kita akan di-" sebelum Ferdinand menyelesaikan kalimatnya, aku menariknya ke depanku sambil setengah berteriak "Perisai!"
BOOM
Benar-benar terjadi bedakan.
"Sialan kau." Ferdinand berkata dengan nada tinggi.
"Nggak papa, yang penting semua selamat." Ordo Stella ini, mereka benar-benar berpengalaman, mereka dengan cepat mengaktifkan perisai mereka dengan cepat tanpa menunda waktu setelah aku berteriak, hasilnya mereka semua selamat. Dan juga bukanlah perisai ungu mereka itu terlalu kuat.
"Lain kali omong lebih cepat, sialan. Hampir mati kita semua." Ferdinand masih menggerutu. "Dan juga, jangan menggunakan aku sebagai perisai."
Aku mengabaikannya. "Meskipun skala ledakannya sangat luas, tapi kerusakan yang dihasilkan sangat kecil. sebegitu lemahnya kah sihir jiwa itu?" padahal aku ingin menganut aliran jiwa.
"Mungkin tujuannya, untuk menimbun kita dengan reruntuhan hasil ledakan." Komandan berbicara
"Jika seperti itu harusnya dia memasang kanan kiri, depan belakang."
"Menurutmu, gimana Ferdi?" dia bertanya kepada otak utama Stella.
"Kemungkinan dia baru belajar sihir jiwa, bagaimanapun, sihir utamanya darah."
"Tidak seperti itu, Ferdi." Aku membantah argumennya.
"Sudah aku bilang, jangan panggil aku seperti itu."
"Alasannya adalah membuat kalian berpikir seperti itu, dan membuat kalian lengah. Dua sampai lima jebakan lagi, kemungkinan efek meledaknya sama seperti yang pertama, tapi tidak dengan yang keena, yang keenam pasti yang paling besar."
"Dan kenapa kau begitu percaya diri? " Ferdinand bertanya.
"Insting." insting yang terbuat setelah memasuki ribuan tempat pewarisan.
"Itu terlalu absurd untuk dijadikan alasan."
"Bagaimana kalau bertaruh argumen siapa yang benar."
"Siapa juga yang takut."
"Sudah cukup." komandan Stella melerai kami. " yang penting sekarang bagaimana melewati ini."
"Bukankah itu cukup mudah."
"Gimana. "
"Kau cukup perintahkan saja kapten kedua itu!"
pakai nama aja Thor
saudaraku mohon ini yg sering baca novel saya gk enak baca pakai pihak pertama
Salam Permata Elemen.
🔥SEMANGAT TERUS THOR NGETIKNYA👏👏👏🔥
'setelah meminumnya' yang bener thor