Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sebelum baca jangan lupa gambar jempolnya ditowel dulu ya... Komentarnya ditunggu juga loh... Terima kasih 😘😘😘😘
"Gampang gundulmu!" jawab pak Hendra kesal.
Pak Susilo langsung terdiam mendengar makian atasannya.
"Mulai besok dia tidak usah kerja lagi!" kata pak Hendra sambil keluar dari kantor kecil itu.
Pak Susilo mau tidak mau harus menjalankan perintah atasannya. Dia harus memecat Rahma jika masih ingin bekerja di perkebunan itu.
"Rahma, kamu dengar tadi kata Pak Manajer 'kan?" tanya pak Susilo pada Rahma.
Rahma mengangguk mengiyakan pertanyaan pak Susilo.
"Besok saya tidak usah kerja di sini lagi, Pak!" jawab Rahma lirih, air mata yang ditahannya akhirnya menetes juga.
"Dengan berat hati, Rahma! Saya minta maaf tidak bisa menolong kamu," ucap pak Susilo.
"Sekarang selesaikan kerjaan kamu hari ini, habis itu kamu pulang. Gaji kamu selama di sini akan diberikan saat gajian," lanjutnya.
Rahma hanya bisa menelan kekecewaan. Baru seminggu bekerja di kantor Divisi harus dipecat karena umur yang belum cukup.
Dua jam kemudian Rahma membereskan semua berkas di mejanya. Semua pekerjaan yang dilimpahkan padanya telah selesai dikerjakan. Semua berkas sudah tersusun rapi sesuai tanggal dan pekerjaan karyawan di lapangan.
"Pak, pekerjaan saya sudah selesai. Saya minta maaf jika selama saya di sini membuat masalah. Maaf juga bila ada salah kata dan perbuatan saya yang tidak berkenan. Saya pamit!" ucap Rahma sambil menyalami satu persatu orang yang ada di kantor tersebut.
"Aku juga minta maaf, nggak bisa bantu kamu!" jawab Agus saat Rahma menyalam tangannya.
"Nggak apa-apa, Bang! Mungkin belum saatnya Rahma bekerja kantoran. Terima kasih sudah mau berbagi ilmu." ucap Rahma kemudian berjalan menuju meja pak Susilo yang berada di sudut ruangan.
Ruang pak Susilo berada dalam kubik kaca di sudut ruangan. Saat ini pak Susilo merasa sangat kacau, antara rasa sedih kehilangan Rahma dan rasa bersalah karena menyalahi prosedur yang ada.
Rahma mengetuk pintu sebelum memasuki ruang berkubik kecil itu.
"Pak, saya pamit. Terima kasih sudah diberi kesempatan untuk bekerja dan menimba ilmu di sini." ucap Rahma dengan kepala menyembul dari balik pintu.
Pak Susilo yang melihat kepala Rahma saja yang masuk hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum ramah.
"Masuk dulu! Duduk, baru bicara! Tidak sopan seperti itu, ngerti?" kata pak Susilo tersenyum melihat tingkah Rahma.
Jika anak pertama pak Susilo masih ada, mungkin seumuran Rahma. Pak Susilo suka dengan Rahma karena keuletan dan kepandaian yang dimiliki, bukan suka sebagai seorang laki-laki dan perempuan. Anak dan istrinya tinggal di ibukota karena mereka tidak betah tinggal di perkebunan.
"Baik, Pak!" jawab Rahma sambil membuka lebar pintu kaca itu kemudian masuk dan duduk di kursi depan meja pak Susilo.
"Maafkan Bapak tidak bisa mempertahankan kamu di kantor ini. Setelah ijazah kamu keluar, kamu bisa membuat surat lamaran ke sini. Aku akan bantu sebisaku," ucap pak Susilo sesaat setelah Rahma duduk.
"Nggak apa-apa, Pak! Saya sangat berterima kasih sudah diberi kesempatan untuk belajar dan menambah pengalaman di sini."
"Bapak tidak usah khawatir, saya tidak apa-apa berhenti bekerja di kantor ini, yang penting saya masih boleh mengutip berondolan di lapangan," jawab Rahma mengeluarkan isi hatinya.
"Kamu masih tetap boleh mengutip berondolan, memupuk ataupun meracun sampai kamu bosan!" kata pak Susilo mencoba menghibur Rahma.
Mengutip berondolan \= mengumpulkan buah sawit yang rontok berserak di bawah pohon sawit. Memupuk \= menebar pupuk di bawah pohon sawit. Meracun \= membunuh rumput dan anak kayu yang tumbuh di sekitar pohon sawit.
"Iya, pak!" Rahma menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kamu boleh pulang sekarang!" kata pak Susilo akhirnya.
"Baik, Pak! Sekali lagi terima kasih sudah diberi kesempatan untuk belajar di sini." ucap Rahma sambil melenggang pergi setelah menyalami tangan pak Susilo.
"Hati-hati di jalan!" pesan pak Susilo saat Rahma berjalan melewati gawang pintu.
"Asiaapp! Terima kasih, Pak!" jawab Rahma dengan semangat.
Rahma meninggalkan kantor kecil itu dengan mengayuh sepedanya perlahan.
"Mungkin belum rejekiku mendapatkan pekerjaan di tempat yang bersih. Bekerja tanpa menguras tenaga tapi memeras otak. Semoga setelah lulus nanti, aku masih bisa bekerja di kantor perkebunan itu."