Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Berubah?
Bab 15 Berubah?
Kedatangan kedua sahabat Kalila membuat dia sedikitnya lebih semangat. Walaupun Hesti dan Andri orang yang sangat dekat dengan Kalila, tapi dia tidak pernah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Alhasil Hesti tidak bisa mendapatkan informasi tentang Kalila. Ana pun harus mendapatkan kekecewaan, karena keingintahuan dia tentang anaknya. Hesti sudah mencoba untuk mencari tahu, sebenarnya ada apa yang terjadi dengan Kalila akhir-akhir ini, tapi tetap saja Kalila menutupi semuanya.
Setelah kedua sahabatnya pulang, Kalila kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Tok! Tok!
“Sayang, bolehkah mami masuk?” ucap Ana dari balik pintu kamar Kalila. Kalila yang medengar itu langsung bangun dari tidurnya dan membukakan pintu untuk sang mami.
“Masuk, Mi!” Ana pun masuk dan langsung duduk di tepi kasur.
“Bagaimana keadaan kamu, Nak? Sudah enakan?”
“Sudah, Mi. Besok Kalila mau masuk sekolah.” Ana menarik tangan Kalila dan menggenggamnya, “Nak, kalau kamu ada masalah, jangan sungkan-sungkan untuk cerita semuanya sama Mami ya, Nak. Mami akan mendengarkan semuanya, kalau bisa Mami akan memberikan solusi untuk masalah kamu.” Kalila tersenyum mengangguk dan memeluk tubuh maminya.
“Maafin Kalila ya Mi, sudah buat Mami khawatir. Kalila janji nanti kalau Lila sudah siap, Lila akan menceritakan semuanya sama Mami.” Ana mengusap lembut rambut anaknya, “Bener, janji ya! Mami berharap kamu kembali seperti dulu lagi, Nak. Ya sudah, kamu istirahat ya, biar besok bisa masuk sekolah.” Kalila mengangguk tersenyum. Ana melepaskan pelukannya dan keluar kamar sambil tersenyum pada anaknya.
Kalila bergegas mengambil ponselnya, saat ponsel itu bergetar. Dia mengerutkan kening, melihat nomor yang tidak dikenalnya baru saja masuk di daftar panggilan tidak terjawab.
“Siapa sih? Modal miscall doang!” kesal Kalila dan menyimpan kembali ponselnya di meja. Saat hendak ingin merebahkan badannya, kembali ponselnya berbunyi, tapi kini bukan telepon yang masuk melainkan pesan singkat. Kalila kemudian membuka isi pesan itu. Seketika dia menjatuhkan ponselnya ke atas kasur dan menutup mulutnya.
Kalila tidak menyangka orang yang menghubungi dia adalah orang yang selama ini membuat dia enggan masuk ke sekolah. Kalila memegangi dadanya, dengan napas yang tidak beraturan, dia mengambil kembali ponselnya dan dia masih belum percaya kalau Akbar mengirim pesan singkat untuknya. Setelah Kalila merasa cukup tenang, dia pun membuka isi pesan Akbar.
Akbar :“Lila, bagaimana kabarmu? Saya untuk sementara mengantikan posisi Bu Gendis sebagai wali kelas.” Kalila terus menatap isi pesan Akbar. Entah kenapa ada sedikit kekecewaan dalam hatinya.
Kalila :“Baik, Pak. Oh iya, Pak.” Kalila hanya menjawab pesan Akbar dengan singkat, padat dan jelas. Akbar yang sejak tadi menunggu balasan dari Kalila langsung membuka ponselnya saat ponselnya berbunyi. Sama halnya seperti Kalila, Akbar juga merasa kecewa dengan balasan dari Kalila.
Akbar :“Besok kamu akan masuk sekolah 'kan?”
Kalila :“Iya, Pak.” lagi-lagi Kalila menjawabnya dengan singkat. Entah apa lagi yang harus Akbar tanyakan untuknya. Dia hanya terus menatap layar ponsel, sambil memikirkan topik pembicaraan.
Walaupun Kalila menjawabnya dengan singkat, dia tetap menunggu chat masuk lagi dari Akbar. Ada rasa penyesalan setelah dia menyadari jawaban dia yang singkat untuk Akbar. Kalila juga sedang memikirkan topik pembicaraan agar pesan tidak berakhir begitu saja. Saat Kalila hendak mengetik, satu pesa masuk lagi dan membuat dia seketika tersenyum.
Akbar :“Kalila, maafkan aku ya!” Mendapat pesan yang sudah tidak mengatasnamakan guru Kalila langsung loncat kegirangan. Rasa sakit dia dahulu langsung hilang entah kemana. Sambil tersenyum dia membalas pesan dari Akbar.
Kalila :“Maafin aku juga, Pak. Sampai bertemu besok di sekolah, Pak!” Kalila mengira setelah tiga tiga tahun berlalu dia akan melupakan perasaan dia untuk Akbar, tenyata tidak. Jantungnya masih saja berdebar apapun itu yang menyangkut dengan Akbar. Sambil terus menantap layar ponselnya, dia terus tersenyum sesekali menggerakkan kakinya, karena merasa sangat senang.
Keesokan harinya, Kalila sudah bangun sejak dini hari. Kali ini tidak perlu ada teriakan sang mami untuk membangunkan dirinya. Melihat jam sudah pukul 05.00, Kalila bergegas untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia memaki seragam dan duduk di depan cerminnya. Kalila mengeringkan rambut panjangnya sambil terus tersenyum di depan cermin.
Untuk pertama kalinya semenja menginjak bangku sekolah menengah atas, Kalilan menguraikan rambutnya. dia menggunakan jepitan rambut yang terakhir kali dipakainya saat dia berusia 15 tahun. Kalila mulai memakai sedikit sentuhan make up natural diwajahnya. Sambil memutar badan, dia tersenyum menatap penampilan yang sudah lama dia rindukan.
“Ternyata kamu cantik juga, Kalila,” ucapnya sebari melihat wajahnya.
Waktu sudah menunjukan jam 6.15, Kalila pun segera keluar dari kamarnya. Saat dia keluar semua orang menatap Kalila dengan kaget tanpa mengedipkan mata mereka.
“De, kamu kerasukan apa?” tanya Kama yang hampir tidak mengenali adiknya sendiri. Kalila yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap sinis dan duduk di kursi makan bergabung dengan yang lainnya.
“Sayang, kamu sangat cantik sekali,” ucap Alaric yang terpana dengan kecantikan anaknya.
“Ya jelaslah anak Papi cantik, orang Maminya juga cantik kok,” timpal Ana sambil memberikan sepiring nasi goreng yang audah dia ambilkan untuk Kalila.
Ana tampak senang sekali akhirnya Kalila bisa tumbuh seperti gadis remaja lainnya. Awalnya Ana sempat sangat Khawatir melihat penampilan Kalila yang selalu saja menyerupai laki-laki. Kalila tahu kalau keluarganya akan kaget melihat perubahan dirinya. Dia hanya dia diam dan menyantap sarapan sambil tersenyum. Ana terus saja memandangi wajah anaknya yang cantik.
Seperti biasa, Elina sudah menjemput si kembar. Dia sudah ada di depan rumah menunggu saudara sepupunya. Kalila dan Kama pun bergegas menghampiri Elina.
“Sayang, kamu hati-hati ya!" ucap Ana sambil membelai rambut anak gadisnya. Dia masih belum percaya kalau Kalila benar-benar berubah. Sebelum pergi, Ana memeluk tubuh Kalila dan membuay Kalila merasa aneh. Pasalnya maminya tidak pernah seperti ini sebelumnya.
“Kamu tahu Mami senang sekali. Jangan pernah berubah lagi ya, Nak!” Kalila teesenyum mengangguk.
Melihat ada yang aneh di luar, Elina membuka pintu mobil dan menghampiri saudara-saudaranya. Terlebih dulu dia mencium tangan Ana. Saat Elina melirik ke arah Kalila, sama halnya seperti yang lain, Elina tampak sangat kanget.
“Oh my God, Lila!” dia tersenyum kegirangan dan langsung memeluk tubuh sepupunya itu.
“Enggak usah lebay napa!” ucap Kalila dengan wajah yang lempeng.
“Gue enggak nyangka, akhirnya lo mau jadi cewek juga.” mendengar itu membuat semua orang tertawa kecuali Kalila.
“Lah, emang kemaren gue apa?” tanyanya kesal.
“Setengah jadi.” kembali tawa pecah tidak terkecuali Kalila.
“Ayo, keburu kesiangan!” Ajak Kama. Ketiga remaja itu pun pamit pada Ana. Mereka berjalan menuju mobil sambil melambaikan tangan.
~Bersambung