Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Papa dan Uncle Michael
El kembali ke perusahaan hanya untuk mengambil mobilnya karna jam kerjanya telah usai. Begitupun Kennan dan Sean mereka langsung pulang setelah mengantar El sampai ke lobby perusahaan.
"Sudah pulang sayang." El yang baru masuk kedalam rumah melihat papanya yang sedang berdiri di dekat jendela.
"Papa?" El berlari mendekati papanya dan langsung memeluk pria paruh baya itu. "Papa kapan pulang? El kangen tau," ucap El saat sudah melepaskan pelukannya.
"Papa sudah pulang dari tadi siang sayang. Papa juga kangen sama kamu." Aditya menoel hidung mancung putri kesayangannya.
"Ihh papa, noel-noel. Emang El anak kecil apa," ucap El sambil cemberut.
"Kamu akan selalu jadi putri kecil papa sayang." Aditya mulai mengelus rambut El dengan lembut. Matanya kini sudah mulai berkaca-kaca. Dia akan selalu teringat mendiang istrinya ketika menatap wajah putri semata wayagnya. Mata hijau kebiruan yang di turunkan ibunya membuat Aditya seperti melihat sosok mendiang istrinya pada diri putrinya.
"Ayah pasti ingat mama." El mengusap air mata yang sudah menetes di sudut mata Aditya.
"Ya papa merindukan mamamu. Dan dengan melihat putri papa, itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati rindu papa padanya sayang," ucap Aditya dengan tersenyum memadang putrinya.
El pun kembali memeluk papanya dengan erat. Dia ikut meneteskan air matanya. Walau bagaimanapun dia juga merindukan mamanya.
"Hey sayang kenapa malah menangis? Mamamu nanti akan marah pada papa karna mengira papa tidak bisa membahagiakanmu."
"El tidak menangis papa." El melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipinya. Dia menatap ayahnya dengan tersenyum lebar.
"Baguslah. Itu artinya jika suatu saat papa bertemu lagi dengan mamamu di surga, dia tidak akan memarahi papa," ucap Aditya terkekeh.
"Papa kenapa bilang seperti itu? Masih butuh waktu yang cukup lama untuk kita bertemu lagi dengan mama." Mata El sudah kembali berkaca-kaca.
"Hey kenapa dengan pakaianmu sayang? Kenapa seperti baju nenek tua?" tanya Aditya mengalihkan pembicaraan saat putrinya kembali akan menangis.
"Ahh ini, aku meminjam pakaian rekan kerjaku karna bajuku basah terkena kopi," ucap El berkilah.
Untung saja aku sudah melepas kaca mata dan softlens saat di parkiran perusahaan tadi. Kalau tidak papa bisa curiga.
"Baiklah cepat mandi dan berdandan yang cantik. Papa mengundang uncle Mikael dan istrinya untuk makan malam bersama kita. Mungkin sebentar lagi mereka sampai."
"Mereka tidak mengajak putranya kan pa?"
"Tidak sayang. Memang kenpa? Kamu masih belum puas seharian bertemu dengannya?"
"Gak pa. Kalau gitu El kekamar dulu." El langsung pergi meninggalkan papanya yang tersenyum melihat kelakuan putrinya.
Untung pria menyebalkan itu tidak ikut. Gak kebayang kalau harus ketemu dia lagi.
El masuk ke kamarnya lalu meletakan tasnya di atas nakas. Dia mendudukan tubuhnya di ranjang dan mulai melepas high heel yang sudah menempel di kakinya seharian ini.
El melangkahkan kakinya ke kamar mandi, dia ingin berendam air hangat sebentar agar merilekskan tubuhnya.
30 menit kemudian El keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya dan handuk kecil yang di gulung di rambutnya yang basah. El berjalan menuju ruang pakaian dan bergegas memakai dress selutut berwarna baby blue yang terlihat cocok di tubuhnya.
El memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan memakai pelembab bibir agar bibirnya tidak terlihat kering. Tak lupa dia mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah dengan hair dryer.
Suara ketukan pintu terdengar saat El hendak keluar kamar.
"Ada apa bu?" tanya El pada Bu Asih yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Di ruang tamu sudah ada tamunya tuan Aditya. Nona di suruh menemui mereka."
El menuruni tangga di ikuti Bu Asih di belakangnya. El berjalan menuju ruang tamu sedangkan bu Asih kembali ke dapur untuk melanjutkan menyiapkan makan malam.
Dari kejauhan El dapat melihat papanya sedang mengobrol dengan sepasang suami istri.
"Sayang kemarilah!" ucap Aditya saat melihat putrinya berjalan menghampirinya.
"Apa kau masih ingat mereka berdua sayang?" tanya Aditya saat El sudah berdiri disisinya.
El menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Penampilannya sangat anggun dan elegan. Pandangan matanya beralih ke pria paruh baya yang masih terlihat tampan dengan wajah bulenya. Kalau dilihat usianya seumuran dengan papa Aditya dan yang pasti wajahnya mirip sekali dengan Kennan. Sepasang suami istri itu menatap El dengan senyum yang begitu hangat.
Ternyata wajah tampan Kennan itu di turunkan dari ayahnya yang tampan. Mereka sangat mirip sekali. Apakah mereka juga sama-sama memiliki sifat menyebalkan? Ahh.. tentu saja tidak, ayahnya saja terlihat sangat ramah.
"Selamat malam uncle Michael dan aunty Mira." El menundukan kepalanya memberi hormat.
"Malam juga cantik. Kamu masih mengenali kami?" tanya Mira sedikit kaget. Karna pertemuan pertama sekaligus terakhir mereka sekitar 20 tahun lalu.
Saat itu mereka sama-sama berkunjung ke London. El saat itu mengunjungi neneknya dan Mira yang mengunjungi mertuanya. Karna sejak kecil uncle Michael dan mama El sudah bertetangga.
Namun karna sama-sama sibuk membangun bisnis di Indonesia, kedua sahabat itu pun akhirnya kehilangan kontak satu sama lain.
"Sebenarnya sudah lupa aunty," ucap El sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal. Dan ucapan El pun berhasil membuat ketiga sahabat lama itu tertawa.
"Sudah kita lanjut nanti lagi ngobrolnya. Sekarang ayo kita makan malam dulu," ajak Aditya pada ketiganya.
"Silahkan uncle, aunty." El mempersilahkan kepada sepasang suami istri itu untuk berjalan terlebih dahulu.
"Thank you baby," ucap Mira tersenyum hangat dan mengelus lengan El.
Setelah selesai makan malam, El dan Mira mengobrol di ruang keluarga sambil menonton televisi. Ehh.. salah, lebih tepatnya televisi yang menonton mereka mengobrol.
Seperti wanita pada umumnya mereka membicarakan tentang fashion. Mulai dari baju, tas, sepatu bahkan perhiasan. Walaupun mereka berdua lahir di generasi yang berbeda namun selera mereka berdua bisa dibilang hampir sama. Hal itu membuat Mira senang. Dia seperti merasakan memiliki anak perempuan.
Sedangkan Aditya dan Michael mereka berkata ingin membahas masalah pekerjaan. Sehingga keduanya memilih berbicara di ruang kerja Aditya.
"Apa menurutmu rencana kita akan berhasil dengan membuat putriku menjadi sekertaris putramu?"
"Tentu saja, semakin sering mereka bertemu maka mereka akan semakin dekat. Bukankah di Indonesia ada pepatah jawa yang mengatakan Whaiting........."
"Witing tresno jalaran soko kulino," potong Aditya dengan sedikit terkekeh.
"Nah itu dia. Kamu berasal dari Jogja mangkanya hafal pepatah itu," sahut Michael.
Sebenarnya Aditya tidak pernah memiliki hutang budi berupa modal usaha. Semua yang di katakan pada El hanyalah alasan agar El mau bekerja sebagai sekertaris Kennan.
Saat kedua pria paruh baya itu tak sengaja bertemu, Michael menagih janji Nica mendiang istri Aditya. Tepatnya 20 tahun yang lalu di London sepasang sahabat itu berjanji untuk menjodohkan anak-anak mereka saat sudah dewasa.
Tentu saja saat Michael menagih janjinya Aditya langsung setuju, walau dia tau El sudah memiliki kekasih. Entah kenpa saat El mengenalkan Leo padanya, dia langsung merasa tidak suka dengan kekasih putrinya itu.
"Lalu sampai kapan kita akan mendekatkan mereka seperti ini?" tanya Aditya.
"Kita liat dulu saja perkembangannya sebulan ini. Jika mereka sama-sama belum memiliki perasaan, kita langsung nikahkan saja mereka. Biarkan cinta tumbuh seiring berjalannya waktu," ucap Michael.
"Aku sudah mengenal putramu dan kau sudah mengenal putriku. Kita sudah sepakat membuat mereka berdua bersatu. Semoga saja ini keputusan yang terbaik untuk anak-anak kita,"ujar Aditya.
gimn Megan thort