Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
semakin berani
****
"Dek, apa benar yang dikatakan sama ibu tadi?" Tanya Raka hati-hati takut menyinggung hati istrinya.
Tania yang sedang mengoleskan cream malam ke wajahnya menghentikan gerakan tangan nya sesaat.
Ia menghela nafas nya pelan, ia letakkan kembali cream yang sempat ia beli kemarin ke atas meja rias.
"Dan Mas percaya?" Tanya Tania berbalik menatap mata suaminya.
"Bukan gitu, maksud Mas....Walau bagaimana pun perlakuan ibu, tapi kita tidak boleh berlebihan sayang. Mas nggak mau ibu makin benci sama kamu nantinya." Ujar Raka, Tania tersenyum getir mendengar nya.
Kurang sabar apa ia selama ini.
"Mas, yang ibu katakan tadi tidak semuanya benar."
"Soal tadi siang, aku hanya memasak sesuai sama uang yang ibu kasih Mas. Apa nya yang salah. Lagian, mulai hari ini aku tidak akan pernah mau jadi babu lagi dirumah ini Mas." Tania menatap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mas tau, tapi setidak nya bicara baik-baik sama ibu sayang, agar ibu tidak tersinggung dan salah faham sama kamu." Ucap lelaki itu dengan gampang nya
Tania hanya bisa menggeleng dengan senyum getir diwajahnya.
Ternyata mulut racun ibu nya bisa mempengaruhi suaminya dengan mudah.
"Kamu nggak akan pernah mengerti Mas, ibu nggak pernah suka sama aku. Apapun yang aku lakukan akan selalu salah dimatanya. Apa salah kalau sesekali aku melawan demi mempertahankan harga diriku sebagai menantu dirumah ini Mas." Tanya Tania menatap lekat manik mata suaminya.
"Mas ngerti.....Tapi, Apapun alasan nya, kamu nggak boleh memperlakukan ibu seperti itu. Bagaimana pun perlakuan ibu, tapi dia tetap orang tua kita yang harus kita hormati." Ucap Raka dengan nada suara yang terdengar halus namun begitu menusuk hati Tania.
Tes...
setetes air mata akhirnya lolos juga. Namun, dengan cepat Tania menyeka nya, ia tidak mau terlihat lemah.
"Jadi, aku harus menerima semua perlakuan keluarga kamu Mas? Aku harus selalu mengabdi seumur hidup ku sama keluarga kamu? Harus selalu mementingkan mereka dulu dibanding kan diriku sendiri? Sedangkan mereka sama sekali tidak mau menganggap aku sebagai keluarga," Tania menatap suami nya dengan perasaan getir. Air mata nya sudah tidak terbendung lagi.
"Dek, bukan begitu maksud Mas...." Raka meraih pundak Tania yang terlihat bergetar.
"Lalu apa Mas?" Tania balik menatap suaminya dengan wajah yang sudah benar-benar lembab.
"Mas tidak bilang begitu, maksud Mas kalau menyangkut ibu kamu harus banyak bersabar dan___
"Dan apa Mas? Aku harus terima semua perlakuan jahat ibu kamu? Kurang sabar apa aku selama ini Mas? Bukan kah selama ini Mas selalu ngelarang aku buat melakukan semua pekerjaan dirumah ini? Lalu....Kenapa sekarang di saat aku mulai berhenti kamu malah menyalahkan aku?" Sela Tania memotong ucapan suaminya.
Raka terlihat gelagapan, dia benar-benar tidak menyangka, istrinya yang dulunya begitu lembut dan penurut sekarang bahkan menjawab tegas semua perkataannya.
"Dek..."
"Mas, mungkin aku masih bisa sabar di saat aku diperlakukan seperti pembantu dirumah ini. Tapi, untuk kali ini aku tidak bisa diam saja Mas.... Apalagi ini mengangkut soal rumah tangga kita." Ujar Tania, Raka menyipitkan matanya.
"Maksud kamu?" Raka masih belum mengerti, dia terlihat bingung.
"Mas, ibu sama Sindi punya niat mau menyatukan kamu sama Bella kembali."
Raka menggeleng, seolah meragukan ucapan istri nya.
"Kamu ngomong apa sih sayang, ibu nggak mungkin sejahat itu sama kita?" Raka tertawa mendengar apa yang istri nya katakan.
Tania membuang muka, senyum getir kembali muncul di bibirnya.
"Aku yakin, kamu memang nggak akan pernah percaya sama aku Mas. Percaya atau tidak terserah Mas, tapi itulah kenyataan nya, ibu ingin kamu sama Bella kembali bersatu. Tapi aku tidak akan menyerah Mas, aku akan terus berusaha mempertahankan rumah tangga kita. Kecuali...." Tania melihat suaminya
"Kecuali apa?" Raka merasa tatapan istrinya seperti sedang mengintrogasi dirinya.
"Kecuali kalau kamu juga masih menyukai Bella dan memang punya niat buat jalin hubungan lagi dengan dia. Kalau itu terjadi, maka aku yang akan menyerah Mas...."
Deg
Raka tersentak mendengar ucapan Tania. Tidak pernah terlintas sedikit pun dibenak nya untuk mengkhianati istri nya.
"Sayang, kamu ngomong apa sih? Sampai kapan pun Mas tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Apalagi sama Bella. Dia hanya masalalu dan akan tetap jadi masa lalu yang sudah Mas kubur dalam-dalam." Raka menangkup wajah istrinya, mencoba menyakinkan wanita yang sudah beberapa bulan ia nikahi.
Untuk sesaat hati Tania mulai menghangat, ia mencoba mencari kebohongan Dimata suami nya. Namun, Tania tidak menemukan nya.
Lelaki itu terlihat tulus.
"Kita lihat saja nanti Mas...." Ucap Tania seraya melepas lembut tangan suaminya yang masih menangkup wajahnya.
" Maaf, aku mau keluar sebentar." Ucap Tania dengan raut wajah datar, sebenarnya ia masih sedikit kesal sama suaminya.
Krek..
"Kamu..."
Tania sedikit kaget mendapati Bella berdiri didepan pintu kamar nya.
Wajah Bella memerah, bukan karena marah. Lebih tepat nya malu karena sudah kepergok sedang menguping.
"Kamu nguping?" Suara Tania terdengar begitu keras membuat Bella semakin gelagapan.
"A-aku___
"Ada apa ini?" Mendengar suara keras Tania, Raka juga ikut keluar.
"Bella...Ngapain kamu di sini?" Tanya Raka menatap wanita itu tajam.
"Ngapain lagi kalau bukan nguping..." Sindir Tania melirik sinis Bella.
"Si-siapa yang nguping, orang tadi aku cuma mau lewat aja kok...." Balas nya sedikit gugup.
"Udah ketahuan masih aja ngeles." Bella menatap kesal Tania.
"Awas saja kamu..." Ketus Bella segera pergi dengan perasaan malu sekaligus kesal.
***
Esok paginya...
Tania yang memang mau ke dapur untuk memasak buat suaminya merasa sedikit heran melihat Bella dan ibu mertuanya yang sedang menyajikan beberapa menu makanan di atas meja.
Begitu melihat kedatangan Tania, Bella dan Dinda melirik sebentar lalu bersikap seolah-olah tidak melihat Tania.
"Mas Raka itu paling suka sama tumis jamur tiram sama tempe orek Tan....Dulu, kalau aku mampir ke sini Mas Raka pasti selalu nyuruh aku buat masak, kalau nggak bisa ngambek dia." Oceh Bella sembari melirik Tania berharap wanita itu terpancing dan cemburu.
"Kalian memang pasangan yang sangat serasi, dulu Tante sampe gemas liat Raka yang terlalu bucin sama kamu, sehari aja nggak ketemu udah uring-uringan dia dirumah...." Ucap Dinda terkekeh.
"Iya lah Tan, kan aku cinta pertamanya Mas Raka.... Meskipun sekarang___
Bella menjeda ucapan nya sembari melirik Tania, memastikan wanita itu mendengar semua ucapannya.
"Sampe sekarang pun Tante rasa Raka masih suka sama kamu. Apalagi kamu cinta pertama nya dia, yang namanya cinta pertama sudah pasti sulit untuk dilupakan. Palingan Raka dulu menikah hanya pelampiasan saja karena kamu pergi keluar negeri, jadi ya dia sedikit kecewa, makanya cari pelampiasan." Tutur Dinda.
Tania hanya bisa menghela nafas dengan kasar, ia tau dua wanita itu memang sengaja memancing dirinya.
"Maaf ya Tan, kepergiaan aku dulu membuat Mas Raka sakit hati....Pasti Mas Raka sangat tersiksa waktu itu. Aku jadi merasa sangat bersalah..." Raut wajah Bella berubah murung, raut wajah nya dibuat sesedih mungkin.
"Akting yang bagus...." Batin Tania.
Tania tidak terkecoh sama sekali, dia menarik kursi dengan lembut dan ikut duduk di samping Bella.
Bella menatap tajam Tania yang dengan santai nya malah duduk disampingnya dia.
"Ngapain kamu duduk disini? Makanan ini aku masak buat Mas Raka bukan buat kamu...." Mata Bella melebar saking kesalnya.
"Yakin cuma buat Mas Raka?" Tania tersenyum simpul menatap wanita itu.
"Tapi makasih banyak loh Bella....Kamu udah mau capek-capek masak buat suami aku, jadi aku nggak perlu sibuk lagi buat nyiapin sarapan, lumayan lah aku bisa santai sekarang. Ya, itung-itung ada pembantu gratis." Ujar Tania sengaja agar Bella semakin kesal dan tau diri.
Bella mengepalkan tangan nya, hingga buku kuku nya memutih.
Matanya mendelik tajam menatap Tania yang malah begitu santai duduk dengan tenang tanpa terpancing sedikit pun atas ucapan nya tadi.
"Jangan lancang kamu Tania, siapa suruh kamu duduk dan makan disini?Ini semua Bella yang masak bukan kamu, jadi mendingan kamu pergi sebelum ibu marah." Ancam Dinda mendelik tajam.
"Kok gitu Bu. Aku kan juga bagian dari keluarga ini, masak ibu malah usir aku sih? Kan aku juga mau merasakan masakan nya Bella. Pasti enak kan, atau jangan-jangan makanan nya nggak enak lagi, makanya ibu larang aku makan." Tebak Tania menatap Dinda dan Bella bergantian dengan senyum penuh arti.
"Kamu...."
Wajah Bella merah padam mendengar ucapan Tania.
Maaf ya, baru sempat upload sekarang 🙏
Jangan lupa dukung karya ini ya, semoga suka....Dan maaf bila masih banyak typo dan sedikit berantakan.....
Selamat membaca semoga suka🥰❤️