"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Di Balik Tajamnya Silet
"Berhenti bergerak, Nata. Atau aku akan benar-benar membuat lehermu terluka kali ini."
Suara Airine terdengar sedikit bergetar, meski ia berusaha keras menjaga nada bicaranya agar tetap terdengar otoriter sebagai seorang dokter bedah. Di bawah cahaya lampu kamar mandi yang terang dan mewah, Airine berdiri sangat dekat dengan Nata. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang pisau bedah, kini terasa sedikit canggung saat memegang alat cukur manual.
Nata duduk di tepi wastafel marmer, menatap wajah Airine yang hanya berjarak beberapa inci dari hidungnya. "Dokter bedah terbaik di kota ini ternyata takut mencukur jenggot seorang tukang bakso? Di mana nyalimu yang tadi siang menghajar dewan direksi, Airine?"
"Diamlah! Jenggotmu ini kasar sekali, seperti kawat," gerutu Airine, meski rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan. Ia mengoleskan busa cukur putih ke rahang tegas Nata dengan jari-jarinya yang lembut. "Dan jangan sebut dirimu tukang bakso lagi di rumah ini. Kamu adalah suamiku. Setidaknya berpenampilanlah yang rapi sedikit."
Nata membiarkan jemari Airine menari di wajahnya. Sensasi sentuhan itu mengirimkan gelenyar aneh yang sudah lama tidak ia rasakan. Sebagai seorang komandan intelijen, ia terbiasa dengan kekerasan, dinginnya senjata, dan bau mesiu. Namun, kelembutan Airine adalah sesuatu yang tidak ada dalam manual latihannya.
"Kamu tahu," bisik Nata saat Airine mulai menarik alat cukur itu dengan hati-hati dari pipinya ke arah rahang. "Dulu, saat pertama kali kamu datang ke gerobak baksoku... kamu tidak secerewet ini."
Airine menghentikan gerakannya sejenak. "Oh ya? Apa yang kamu ingat tentang aku saat itu?"
Nata tersenyum tipis, matanya menatap lekat mata jernih Airine. "Kamu memakai jas dokter yang agak kebesaran, wajahmu sangat lelah, tapi kamu tersenyum saat aku memberikan kerupuk ekstra. Senyummu saat itu... membuatku lupa sejenak bahwa aku sedang dalam misi berbahaya. Aku hanya berpikir, siapa wanita cantik yang terlihat sangat sedih ini?"
Tangan Airine gemetar sedikit, membuat alat cukur itu sedikit meleset. "Jangan bicara gombal. Aku memesan bakso karena aku lapar, bukan karena ingin menarik perhatianmu."
"Tapi kamu menarik perhatianku, Airine. Lebih dari yang kamu tahu," Nata meraih tangan Airine yang memegang alat cukur, menghentikan aktivitas wanita itu. Ia menatap wajah Airine yang kini sepenuhnya runtuh dari keangkuhannya. Tidak ada lagi Direktur Utama yang dingin, yang ada hanyalah seorang wanita yang merasa aman dan butuh perlindungan.
Airine menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di bahu kokoh Nata. "Terima kasih, Nata. Karena sudah ada di sana. Karena tidak pergi saat aku menyeretmu ke dalam kekacauan ini. Aku... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika malam itu aku memilih orang lain."
"Kamu tidak akan memilih orang lain," sahut Nata dengan nada posesif yang kuat. "Karena takdir sudah mengaturnya sejak kakek kita berfoto bersama puluhan tahun lalu."
Airine mendongak, matanya berkaca-kaca. "Nata, aku percaya padamu. Apapun identitasmu, siapapun kamu di masa lalu... tolong jangan tinggalkan aku sendirian di rumah besar ini."
Nata merasakan pertahanannya runtuh. Sebagai Komandan Arnold Dexter, ia dilarang keras melibatkan emosi pribadi dalam misi. Namun, melihat kerentanan Airine, ia sadar bahwa ia sudah gagal total dalam satu hal: ia tidak bisa tidak mencintai wanita ini.
Perlahan, Nata mengikis jarak di antara mereka. Ia memegang tengkuk Airine dengan tangan besarnya, menariknya dengan lembut namun pasti. Saat bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya, waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar mandi mewah itu. Ciuman itu bukan hanya sekadar kontrak, melainkan sebuah janji bisu dari seorang predator yang kini bersumpah akan menjadi pelindung abadi.
Airine memejamkan matanya, mengalungkan lengannya di leher Nata, membalas ciuman itu dengan segala rasa haus akan kasih sayang yang selama ini dirampas darinya. Ia merasa beban di pundaknya terangkat. Di pelukan pria ini, ia tidak perlu menjadi Direktur yang sempurna.
Nata melepaskan ciumannya perlahan, namun tetap membiarkan kening mereka bersentuhan. Napas mereka memburu, beradu dalam keheningan malam.
"Mulai sekarang," bisik Nata dengan suara bariton yang dalam. "Tidak ada lagi rahasia yang akan menyakitimu. Aku akan menjadi dinding yang paling kokoh untukmu, Airine. Dan soal jenggot ini... sepertinya aku lebih suka kamu yang mencukurnya setiap pagi."
Airine tertawa kecil, setetes air mata kebahagiaan jatuh di pipinya. "Hanya jika kamu berjanji tidak akan membuatku cemas lagi dengan menghilang di jam dua pagi."
Nata tersenyum, meski dalam hatinya ia tahu bahwa misi melawan Tuan Shen baru saja memasuki babak paling berdarah. Namun malam ini, ia memilih untuk menjadi suami bagi Airine, bukan sang komandan.
"Aku janji," ucap Nata bohong demi menenangkan hati istrinya, sambil diam-diam mematikan notifikasi mendesak yang berkedip di jam tangannya.
Malam itu, di kediaman Rubyjane yang luas, dua jiwa yang terikat oleh masa lalu kakek mereka akhirnya menemukan satu sama lain di balik penyamaran dan air mata. Namun di luar sana, dalam kegelapan dermaga, Tuan Shen sedang menatap foto Nata dengan penuh kebencian, menyiapkan serangan balasan yang tidak akan pernah mereka duga.
...****************...