Rayya kemala putri, Wanita yang selama ini selalu di anggap menjadi beban suaminya. Menjelma sebagai wanita karir yang sukses setelah mengetahui perselingkuhan sang suami, apalagi kenyataan yang ia terima bahwa ternyata kakak iparnya sendiri mendukung perselingkuhan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rana putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Rei minta uang dong, Mbak mau belanja mingguan” Raisa menengadahkan tangan nya di depan reino. Reino hanya bisa menghela nafas panjang, ia pikir selama ia tinggal dirumah raisa dan tidak lagi memberikan nafkah bulanan pada rayya. Pengeluaran nya agak sedikit berkurang, tapi ternyata salah. Bahkan sekarang pengeluaran nya semakin membengkak saja.
”Mbak, kamu kan udah aku kasih uang bulanan. Kenapa belanja mingguan masih minta ke aku sih. Emang uang bulanan mbak g cukup?”
“Bukan ga cukup rei, tapi sebentar lagi maira bakal sekolah. Jadi uang nya aku tabung untuk biaya pendaftaran maira nanti..”
Reino hanya diam, Lalu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu “Aku cuman bisa kasih segini, sebelum uang ku cair di bank. Aku harus hemat mbk.”
”iya iya, crewet banget sii kamu..”
raisa pun lansung pergi meninggalkan reino yang kini kembali sibuk dengan ponsel nya.
***
“Mama, aku boleh beli jajan nggak disana?” Gadis kecil itu menunjuk dimana rak makanan ringan berada, Rayya. Tersenyum lantas menganggukkan kepala nya , Di tangan nya ia sedang mendorong troli belanjaan nya.
Karna di rumah persediaan bahan makanan sudah habis, mengharuskan ia belanja bulanan disini. Rutinitas yang selalu ia lakukan setiap bulan ketika mendapatkan uang bulanan dari sang suami, bedanya dulu ia memakai uang nafkah sekarang ia memakai uang pribadinya.
Tapi gapapa, ia malah bersyukur karna ia bisa memenuhi kebutuhan nya sendiri tanpa lagi lagi bergantung pada suami nya yang toxic.
“Arraa jangan jauh jauh ya nak.” suara rayya sedikit meninggi ketika melihat arra berlari an untuk mengambil jajanan kesukaan nya. Arra menoleh sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.
“Iya maa.” Jawab nya.
Rayya pun kembali mengambil beberapa bungkus ayam untuk persediaan dirumah, Melihat daging sapi yang sangat segar itu. Rayya jadi membayangkan memasak rendang daging untuk dirinya dan arra, Karna selama ini ia hanya memakan daging sewaktu lebaran qurban.
Ketika arra hendak mengambil daging itu, Tiba tiba sebuah tangan menyambar daging sapi itu duluan membuat rayya menatap ke arah orang itu.
Bola matanya memutar malas ketika ia melihat, Ternyata pelaku nya adalah kakak iparnya sendiri. “Disana masih banyak bungkusan daging sapi, tapi kenapa kamu suka sekali merebut punyaku.”
“Suka suka aku lah, emang swalayan ini punya nenek moyang kamu.” Jawab raisa dengan ketus, Rayya hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan kakak iparnya itu.
Ia pun mengalah, mengambil bungkusan daging sapi lain, dan memasukkan nya ke dalam troli belanjaan miliknya. “Orang miskin sok sok an makan daging, emang mampu belinya.” Sindir raisa.
”Aku tau malu kok mbak, mana mungkin aku masukin daging sapi itu ke dalam troli ku kalau aku ga mampu bayar.” Jawab rayya, membuat raisa mencebikkan bibirnya ke bawah.
”Mangkal dimana kamu? Berapa permalam.” Ucapan raisa membuat rayya mengerutkan kening nya.
“Apa maksud mbak?”
”Udahlah rayya kamu ngaku aja, kamu pasti selama ini jual diri kan? Mangkanya walaupun reino ga kasih kamu nafkah, kamu bisa belanja sebanyak ini.”
Rayya hanya tersenyum mendengar tuduhan dari mulut raisa, ia sama sekali tak tersinggung karna untuk apa meladeni ucapan kakak iparnya dengan kemarahan. Itu hanya bisa membuat raisa tambah menjadi jadi menghina nya.
“Tanpa aku jual diri pun atau mengemis pada orang lain, aku bisa menghidupi diriku sendiri dan anakku. Tanpa bantuan keuangan dari siapapun, Termasuk adik mu itu.”
“Halah sombong, Mental pelacur aja di banggain. Cuih..”
Rayya hanya mengedikkan bahunya ,lalu kembali menjawab ucapan sang kakak ipar “Pelacur itu kerja, Sedangkan PENGEMIS. Itu kerja nya cuman meminta minta.. Persis seperti mbak kan?”
Raisa membulatkan matanya mendengar ucapan rayya, Tapi rayya tak perduli. Ia memilih pergi meninggalkan raisa daripada terus meladeni wanita gila itu.
“Sialan! Awas aja kamu rayya!” Umpat raisa