Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Istri Yang Lebih Menakutkan 2
Langkah kaki Zhao terhenti begitu mereka tiba di depan kedai.
Udara malam yang seharusnya dingin justru terasa berat dan menyesakkan. Bau amis menyeruak begitu kuat, menusuk hidung tanpa ampun. Itu bukan sekadar bau darah—itu bau kematian yang masih hangat.
Di depan pintu kedai, pemandangan yang menyambut mereka membuat Lu Qiang langsung membeku.
Mayat.
Banyak mayat.
Beberapa tergeletak dengan mata terbuka lebar, seakan masih tidak percaya dengan akhir hidup mereka. Sebagian lain tertumpuk tidak beraturan, darah mengalir dari tubuh mereka dan membentuk genangan gelap yang memantulkan cahaya lampu redup di depan kedai.
Zhao tidak berkata apa pun.
Untuk pertama kalinya sejak lama… dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Sementara itu, Lu Qiang yang berdiri di sampingnya sudah berkeringat dingin. Tangannya gemetar tanpa sadar.
“Tu-tuan…” suaranya tercekat, “ini… ini kedai Anda?”
Zhao menelan ludah.
“…Iya.”
Hening.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma darah semakin pekat.
Lu Qiang ingin kabur.
Benar-benar ingin kabur.
Namun kakinya terasa seperti tertancap di tanah.
Zhao menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.
“Masuk saja.”
Lu Qiang ingin menangis.
Namun dia tidak punya pilihan selain mengikuti.
Begitu mereka melewati pintu—
Suasana di dalam jauh lebih mengerikan.
Jika di luar hanya “buruk”… maka di dalam adalah neraka kecil.
Dinding yang dulunya bersih kini dipenuhi cipratan darah. Meja dan kursi hancur berantakan. Lantai… hampir seluruhnya berwarna merah.
Seolah-olah kedai ini bukan tempat makan lagi, melainkan tempat penyembelihan.
Zhao menyipitkan mata, berusaha tetap tenang.
Namun bahkan dia pun merasakan bulu kuduknya merinding.
Beberapa tubuh masih bergerak.
Bandit-bandit yang belum sepenuhnya mati mengerang pelan, tubuh mereka penuh luka, sebagian bahkan kehilangan anggota tubuh.
Dan saat Zhao melangkah lebih dalam—
Dia melihatnya.
Di sudut ruangan.
Seorang wanita berdiri diam.
Rambut panjangnya sedikit berantakan, ujungnya ternoda merah. Wajahnya dipenuhi cipratan darah, dan di tangannya… sebuah pisau dapur masih meneteskan cairan merah segar.
Matanya kosong.
Benar-benar kosong.
Seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
Tatapan itu… bukan tatapan manusia.
Lu Qiang tersentak mundur.
Jantungnya hampir berhenti berdetak.
“A-apa itu…” bisiknya gemetar.
Zhao juga merasakan tenggorokannya kering.
Namun saat itu—
Wanita itu menatapnya.
Dan dalam sekejap—
Tersenyum.
Senyum manis yang lembut tiba-tiba menghiasi wajahnya.
Mata yang tadinya kosong kembali hidup, hangat, bahkan… penuh cinta.
“Ah, sayang?” suaranya lembut, hampir seperti tidak terjadi apa-apa. “Kau sudah pulang rupanya… kenapa lama sekali?”
Zhao membeku sepersekian detik.
Lalu secara refleks—
“Ehm… maafkan aku, istriku…” katanya gugup, “aku mendapat hambatan kecil di jalan…”
Yueling tersenyum semakin hangat.
“Begitu ya? Tidak apa-apa.” Dia melangkah mendekat perlahan, pisau di tangannya masih meneteskan darah. “Aku juga sedang mengurus orang-orang yang menghambat rezeki kita.”
Zhao menelan ludah.
“Sebenarnya… apa yang telah kau lakukan?”
Yueling memiringkan kepala, ekspresinya polos.
“Ah, tidak banyak kok,” katanya ringan. “Cuma memotong beberapa sosis… dan daging busuk.”
Hening.
Zhao dan Lu Qiang secara bersamaan langsung refleks mundur.
Dan secara refleks pula—
Menutupi selangkangan mereka.
Wajah mereka pucat.
“Si-sial…” gumam Lu Qiang dengan suara gemetar.
Sekarang semuanya masuk akal.
Kenapa hampir semua mayat di sini mengalami pendarahan di bagian bawah.
Kenapa ekspresi mereka… terlihat begitu tersiksa.
Lu Qiang menelan ludah dengan susah payah.
Dia menatap Yueling yang tersenyum manis.
Tapi di matanya—
Itu bukan senyum.
Itu… senyum iblis.
“Hei bajin—ehm, maksudku tuan…” bisik Lu Qiang pelan ke Zhao, “Anda… yakin dia istri Anda?”
Zhao menghela napas.
“…Seperti yang kau lihat.”
Lu Qiang hampir menangis.
“Kenapa Anda bisa menikahi wanita seperti itu…”
Zhao menggeleng pelan.
“Aku sendiri juga heran.”
Tiba-tiba—
“Apakah kau mengatakan sesuatu, sayangku?”
Suara lembut itu membuat Zhao langsung menegang.
Dengan gerakan cepat, dia menggeleng keras.
“Ah! Tidak! Bukan apa-apa!”
Yueling menatapnya beberapa detik… lalu tersenyum lagi.
Namun kali ini—
Tatapannya bergeser.
Ke arah Lu Qiang.
Pisau di tangannya terangkat sedikit, menunjuk langsung ke arahnya.
“Kalau begitu…” suaranya tetap lembut, tapi entah kenapa terasa dingin, “dia siapa?”
“Aku merasa ingin memotongnya sekarang.”
Lu Qiang tersentak.
Tanpa berpikir—
Dia langsung bersembunyi di balik Zhao.
“T-tuan!!”
Zhao tersenyum kaku.
“Ah… dia ini… pemimpin bandit di sini. Namanya Lu Qiang.”
Senyum Yueling berubah.
Lebih dalam.
Lebih… menyeramkan.
“Ah… jadi kau yang menjadi biang keroknya…”
Langkahnya perlahan mendekat.
Setiap langkah terasa seperti palu yang menghantam jantung Lu Qiang.
“Apakah kau tidak bosan mengganggu bisnis orang lain?”
Lu Qiang gemetar hebat.
“Tuan… tolong…” bisiknya putus asa, “aku tidak ingin jadi kasim… aku akan melakukan apa pun… asal tidak dipotong…”
Zhao berbisik pelan tanpa menoleh.
“Hanya kau yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri.”
Satu kalimat.
Langsung menghancurkan harapan terakhir Lu Qiang.
“……”
Dia menatap Yueling yang semakin dekat.
Pikirannya berputar cepat.
Cepat!
Cepat!
Kalau tidak—
Hidupku benar-benar berakhir di sini!
Tiba-tiba—
Matanya berbinar.
Seolah menemukan jalan keluar.
Tanpa ragu—
Dia langsung berlutut.
tidak—Dia bersujud.
“MAAFKAN AKU NYONYA!!”
Gerakannya begitu cepat hingga Zhao sedikit terkejut.
Dengan tangan gemetar, dia melepas cincin penyimpanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Aku akan bertanggung jawab atas semuanya!” teriaknya. “Di dalam sini ada 3000 tael emas! Mungkin tidak cukup, tapi aku akan segera mengambil sisanya di markas gunung!”
Zhao tertegun.
Tiga ribu… tael emas? Kaya juga nih bandit.
Sementara itu—
Yueling berhenti melangkah.
Matanya menatap cincin itu.
Hening beberapa detik.
Lu Qiang hampir pingsan karena tegang.
Lalu—
Yueling tersenyum.
Lembut.
Hangat.
Seolah-olah dia bukan wanita yang baru saja memotong puluhan pria.
“Ah… kau baik sekali.”
Dia mengambil cincin itu dengan anggun.
“Tidak perlu repot-repot, kau membuatku malu saja.”
Lu Qiang hampir menangis karena lega.
“Te-terima kasih nyonya!!”
Zhao juga menghembuskan napas panjang.
Namun—
Belum sempat mereka benar-benar santai—
Yueling melanjutkan dengan santai,
“Jadi… kapan kau akan mengirimkan sisanya?”
“….”
Wajah Lu Qiang langsung kaku.
Namun kali ini—
Dia tidak berani ragu.
Dengan gerakan cepat, dia berdiri tegap.
“Aku akan segera mengambilnya sekarang juga!”
Dia berbalik, siap kabur—
“Tidak.”
Suara lembut itu menghentikannya.
Langkahnya langsung membeku.
Yueling menatap sekeliling kedai yang hancur.
“Jangan sekarang.”
Dia menyentuh pipinya pelan, berpikir.
“Saat ini… kau harus membereskan kekacauan di sini.”
Tatapannya menyapu mayat-mayat di lantai.
“Para pelanggan tidak akan datang jika banyak darah dan mayat, bukan?”
Lu Qiang mengangguk cepat.
“Iya! Benar sekali!”
“Terlebih lagi…” Yueling melanjutkan dengan nada ringan, “sepertinya kedai kami butuh renovasi dadakan.”
Dia menghela napas kecil.
“Ah… padahal belum lama buka, tapi sudah harus direnovasi…”
Lalu dia menoleh ke Zhao.
“Tapi bukankah beginilah bisnis, benar kan suamiku?”
Zhao langsung mengangguk cepat tanpa berpikir.
“Kau benar sekali, sayang!”
Lu Qiang: “……”
Kenapa aku merasa pasangan ini lebih berbahaya daripada bandit…
Sebenarnya siapa sih penjahatnya disini?
Tanpa berani membuang waktu, dia langsung bergerak.
“Hei! Kalian yang masih hidup! Bangun! Bersihkan tempat ini sekarang juga!!”
Beberapa bandit yang masih tersisa langsung panik dan bangkit meski tertatih.
Tidak ada yang berani membantah.
Dalam waktu singkat, suasana berubah menjadi kacau… tapi terarah.
Mayat mulai diseret.
Darah mulai dibersihkan.
Sementara itu—
Zhao berdiri diam, mengamati sekeliling.
Lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong…” katanya pelan, “apakah Shen Ning sudah pulang?”
Yueling terdiam.
Lalu—
“Ah!”
Dia menepuk dahinya pelan.
“Aku hampir lupa… Ning’er sedang bersembunyi di dapur.”
Zhao langsung menegang.
“Apa?!”
Wajahnya berubah serius.
“Apakah kau gila?! Dia masih anak-anak! Bagaimana kalau dia—”
“Trauma?”
Yueling memotongnya dengan tenang.
Zhao terdiam.
Yueling tersenyum kecil.
“Tenang saja. Aku sudah menyuruhnya tidak mengintip.”
Dia berjalan mendekat.
“Dan aku memasang pelindung kedap suara.”
Langkahnya berhenti tepat di depan Zhao.
Matanya menatap lurus.
Datar.
“Dan… suamiku tercinta…”
Senyumnya masih ada.
Namun auranya berubah.
“Aku tahu kau khawatir…”
“Tapi mengatakan bahwa istrimu itu gila… sangat keterlaluan loh?”
Zhao membeku.
Tubuhnya kaku.
Keringat dingin mengalir di punggungnya.
“A-ah… erm…”
Otaknya berputar cepat.
Mencari alasan.
Mencari jalan keluar.
“Oh iya!” katanya tiba-tiba. “Sepertinya aku meninggalkan barang belanjaan di tengah jalan! Aku akan mengambilnya dulu—”
Dia berbalik.
Siap kabur.
Namun—
Sebuah tangan lembut mendarat di bahunya.
Menghentikannya.
Perlahan.
Sangat perlahan—
Yueling muncul di belakangnya.
Masih dengan senyum manis itu.
Zhao menatap langit lewat jendela.
Matanya berkaca-kaca.
“Oh…” gumamnya pelan, “langit malam ini… sangat indah…”
Di belakangnya—
Senyum Yueling semakin dalam.
Dan di kejauhan—
Lu Qiang yang sedang menyeret mayat hanya bisa bergumam dalam hati,
Demi langit… aku harus segera melunasi hutangku dan pergi sejauh mungkin dari tempat ini…