NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbanding Terbalik

“Apa benar dia yang semalam aku lihat?” batinnya gundah.

Mika melongo tak percaya. Pria yang berdiri di hadapannya sangat berbanding terbalik dengan Arlan.

Tristan Gavriel memiliki tubuh yang sama bagusnya dengan Arlan. Penampilannya rapi, berwajah tampan dengan kulit putih bersih. Bibirnya merah merona. Tingginya mungkin hampir sama dengan Arlan, sekitar 172 cm.

Kulit tubuhnya bersih. Tidak ada satu pun tato yang menghiasi lengan atau lehernya.

Meskipun mengenakan kacamata, mata cokelat kekuningannya terlihat jelas dan justru semakin menambah ketampanannya.

“Terima kasih!” kata Mika setelah lamunan pesonanya tentang Tristan buyar.

Tristan tersenyum ramah. Senyum yang hangat, sangat berbeda dengan senyum dingin milik Arlan.

“Nggak perlu terima kasih.” Tristan meletakkan bunganya di meja pasien, lalu ia kembali bertanya, “Kemarin kamu kenapa?” tanyanya lembut.

Mika ragu menjawab. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Ia tidak mungkin menceritakan masalahnya kepada orang yang baru saja ia kenal.

Tristan memperhatikan wajah ragu itu, lalu tersenyum lagi.

“Baiklah, nggak perlu jawab. Yang penting sekarang kamu jauh lebih baik.”

Nada suaranya lembut, seolah tidak ingin memaksa.

“Aduh, beda banget sama Arlan. Kalau cowok itu, mungkin nggak ngerti cara ngomong yang baik,” batin Mika.

Tak lama kemudian, Tristan berpamitan.

“Kalau ada apa-apa kamu bisa ngomong sama aku, oke? Ini nomor ponselku.”

Mika menerimanya dengan senyum kecil dan mengangguk.

Sebelum pergi, Tristan mengelus kepala Mika dengan lembut.

“Jaga kesehatanmu ya, gadis cantik.”

Sentuhan itu membuat pipi Mika langsung memerah.

Setelah Tristan pergi, perawat yang sejak tadi berada di sana langsung menyeringai nakal.

“Cie ... kayaknya Tuan Tristan suka sama Nona, tuh!”

Mika tersipu semakin dalam. Ia bahkan sampai menunduk, menyembunyikan wajahnya yang panas.

Namun, tiba-tiba Arlan datang. “Siapa yang suka?” Suara dingin itu membuat udara di ruangan terasa membeku.

Arlan berdiri di ambang pintu dengan wajah datar yang menakutkan.

Perawat itu langsung ciut. Tanpa berani berkata apa-apa lagi, ia buru-buru membereskan barang dan keluar dari ruangan.

Ruangan pun menjadi sunyi. Arlan melangkah masuk dengan langkah pelan.

“Bunga dari siapa?” tanyanya datar.

Mika menoleh ke buket bunga di meja kecil di samping tempat tidurnya.

“Ini tadi dari Tristan,” jawabnya jujur.

Tangan Arlan perlahan mengepal. Otot rahangnya menegang. Ia berjalan ke sofa lalu, duduk sambil menyilangkan kaki, menatap Mika dengan sorot mata tajam.

“Suka?” tanyanya ketus.

Sambil mengangguk Mika menjawab tanpa ragu. “Suka.” Ia menatap bunga itu dengan senyum kecil. Mika lalu melanjutkan ucapannya. “Ini bunga yang aku suka, karena—”

“Karena kamu juga suka sama orangnya?!” potong Arlan tajam. Suara itu keras dan penuh emosi. “Hmm, akhirnya kelinci kecil ini nunjukin juga sikap aslinya,” lanjutnya dengan senyum sinis.

Mika mengerutkan kening, bingung.

“Apa maksudmu?” tanyanya. “Aku suka bunga ini karena—” Mika berusaha menjelaskan, tetapi Arlan selalu enggan mendengarnya.

Arlan tiba-tiba berdiri. “Argh!” Gerakannya begitu kasar hingga kursi di belakangnya sedikit bergeser. Wajahnya gelap. Matanya dipenuhi emosi yang bahkan Mika sendiri tidak mengerti.

“Aku ke sini cuma mau ngingetin soal kontrak itu,” katanya dengan nada rendah yang menekan. “Jangan macam-macam dekat sama pria lain kalau nggak mau hidupmu makin sengsara.”

Mika terdiam. Dadanya terasa sesak.

“Tapi—”

Arlan bahkan tidak memberinya kesempatan menjelaskan. “Satu lagi,” lanjutnya dingin. “Cepat keluar dari rumah sakit. Dua hari lagi ulang tahunku. Aku harap kamu nggak lupa janji itu.”

Tanpa menunggu jawaban, Arlan langsung berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun, tepat di ambang pintu, ia berhenti. Ia menoleh ke arah Mika sekali lagi. Tatapannya tajam, hampir seperti peringatan.

“Aku peringatkan, jangan dekat sama dia.”

Suara Arlan terdengar lebih rendah dari sebelumnya. “Nggak semua orang yang ramah itu baik.”

Tok!

Tok!

Langkah Arlan menjauh perlahan hingga akhirnya benar-benar menghilang dari depan pintu.

Mika menatap pintu itu lama. Lalu, bergumam pelan dengan wajah bingung. “Dia kenapa? Apa hari ini dia lagi banyak masalah?” tanyanya lebih pada diri sendiri.

Keesokan harinya Mika sudah diperbolehkan pulang. Dokter Reza datang menjemputnya.

“Tumben dokter yang ke sini?” tanya Mika yang sudah bersiap.

Dokter Reza menggenggam tangannya sendiri. “Iya, Tuan Arlan lagi banyak keperluan,” jawab Dokter Reza.

Mika hanya mengangguk tanpa bertanya keperluan apa yang pria dingin itu lakukan. Saat di dalam mobil, Dokter Reza kembali bertanya sambil menyetir. “Nona Mika, sebenarnya ada apa?”

“Dok, panggil Mika aja.” Mika melirik dengan senyum tipis. “Ada kesalahpahaman aja, Dok. Tapi ... rasanya kemarin aku dengar laki-laki itu bilang kalau dia udah membereskan semua. Maksudnya gimana?” tanya Mika.

Dokter Reza mengerutkan kening. Jelas ia tidak mengetahui apa pun. Sebab Arlan belum menjelaskan apa pun kepadanya.

Dokter Reza hanya bisa menggeleng. Mika pun menghela napas panjang. Tiba-tiba saja Mika mengingat sesuatu.

“Dok, bisa nggak temani aku ke Mall Chard di dekat Hotel Hosten?” tanyanya.

“Boleh. Emang kamu mau beli apa?”

Mika tersenyum tipis. “Arlan mau ulang tahun, ‘kan? Aku mau kasih hadiah buat dia.”

Dokter Reza terkejut. “Ka-kamu mau kasih hadiah ke Tuan Arlan?”

“Iya. Em ... apa nggak boleh? Atau dia nggak mungkin terima hadiahku, ya?” kata Mika sambil tertunduk.

“Bu—bukan begitu! Aku cuma terkejut aja ada yang mau kasih hadiah ke Tuan Arlan. Meskipun ada, ya itu paling rekan atau orang yang udah benar-benar dekat,” jelas Dokter Reza. “Lagian kenapa kamu mau ngasih Tuan Arlan hadiah?”

Mata Mika terangkat seolah ia sedang memikirkan alasan apa yang membuatnya ingin menghadiahkan sesuatu kepada Arlan, yang jelas-jelas tidak pernah berlaku baik padanya.

“Em ... apa ya, Dok? Entah, aku juga nggak kepikiran apa pun. Mungkin—” Mata Mika kembali melihat ke mana-mana, mencoba mencari alasan yang logis bagi dirinya sendiri.

“Ya udah, nggak usah dipikirin lagi. Apa pun alasannya, semoga bukan yang jelek,” ujar Dokter Reza.

Mobil berbelok dan melaju di jalan utama.

Ketika berhenti di lampu lalu lintas, Mika sepintas melihat Kamalia bersama seorang pria yang jelas bukan Arlan. Mereka terlihat sangat mesra. Bahkan Mika melihat mereka berciuman.

“Astaga!” Spontan Mika memalingkan wajahnya.

“Ada apa?”

Belum sempat Dokter Reza melihat ke arah yang sama, lampu lalu lintas sudah kembali hijau. Mobil harus segera melaju.

Mika masih terlihat syok. Dokter Reza menyadari perubahan ekspresi wajah Mika. Namun, dalam pikirannya hanya satu kemungkinan—kecemasan Mika kambuh.

“Kamu baik-baik aja?” tanyanya khawatir. “Tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan.”

Dokter Reza memberi arahan. Mika mengikuti instruksi itu dengan baik. “Aku baik-baik aja, Dok.”

Tak lama kemudian, mereka sampai di tujuan. Mika tidak tahu bahwa mal yang ia kunjungi adalah salah satu milik Arlan. Mika segera turun dari mobil dan berjalan masuk. Ia menghampiri sebuah toko pernak-pernik yang terlihat mewah.

“Mbak, aku mau ambil pesanan waktu itu. Apa udah ada?”

SPG cantik itu langsung mengantarkan barang yang Mika pesan. Mika mengambilnya dengan hati-hati. Sebuah liontin berbentuk wajah kucing putih di bagian depan, dilapisi giok mahal yang berkilau indah.

“Silakan ke kasir untuk pembayaran,” ucap SPG.

Mika berjalan menuju kasir. Ia mengeluarkan kartu ATM pribadinya. Mika menggesek kartu ATM-Nya. Tangan Mika sedikit bergetar saat menekan pin. Itu adalah seluruh hasil keringatnya selama bertahun-tahun, kini berpindah tangan hanya untuk pria yang selalu menyebutnya kelinci bodoh.

Sementara itu Dokter Reza menatapnya dengan tak percaya. Kalung itu seharga Rp250 juta—dan Mika bisa membayarnya.

“Mika, uang sebanyak itu dari mana kamu dapat?” tanya Dokter Reza.

“Hasil aku kerja selama hidupku. Aku selalu sisihkan uang buat bayar sekolah dan kebutuhan lain. Aku sembunyi-sembunyi punya uang ini, kalau nggak saudara tiri sama bapakku bakal ngambil semuanya,” jelas Mika.

“Ya ampun, kamu ngabisin uangmu cuma buat beli kalung ini?” tanya Dokter Reza lagi.

Mika menghela napas panjang.

“Sebenarnya berat juga, sih. Tapi itung-itung aku bayar utang sama Arlan ... meskipun baru Rp250 juta.”

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!