Karena tak kunjung hamil, Sekar Arunika- wanita muda berusia 25 tahun, harus mendapati kenyataan pahit suaminya menikah lagi. karena tidak ingin di madu, Sekar memilih mundur dan merantau.
namun sepertinya Tuhan masih belum ingin membuatnya tenang. karena saat sudah bahagia, Sekar justru di pertemukan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya.
bagaimana langkah selanjutnya yang akan di ambil Sekar? memaafkan atau memilih menyimpan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Satu minggu kemudian...
seseorang terdiam dengan pandangan mata kosong menatap lurus ke arah danau yang ada di hadapannya.
Tangannya menggenggam erat sebuah surat perceraian yang baru saja ia terima pagi tadi.
Dengan menarik nafas beberapa kali, akhirnya Sekar menandatangani surat perceraian itu dan memberikannya pada tukang pos yang nantinya akan disampaikan pada keluarga Rangga.
" udahlah kamu nggak usah sedih-sedih terus," kata Sari sembari mengusap pundak Sekar, "Lagian apa istimewanya sih laki-laki kayak gitu kamu tangisin? " tanya Sari sang sahabat yang merasa jenuh dengan tingkah sahabatnya.
Sekar perlahan menoleh dengan senyuman tipis yang perlahan mulai muncul.
" aku nggak nyangka aja, ternyata Rumah tangga yang selama 5 tahun ini aku bangun penuh dengan ketaatan, ternyata Dibalas Dengan begitu kejam oleh mereka semua. " Sekar menarik nafas perlahan. " apa perempuan mandul seperti aku nggak pantas buat membina rumah tangga? " tanya Sekar dengan mata berkaca-kaca.
Sari mendengus keras mendengar pertanyaan sang sahabat, " Siapa bilang nggak pantes, justru orang-orang seperti kamu ini dibebaskan dari tanggung jawab sebagai orang tua, karena menurut ceramah yang aku dengar, tanggung jawab sebagai orang tua itu besar banget. dan kamu dibebasin buat Nggak dapetin tanggung jawab itu. " sambut Sari, " Lagian belum tentu kamu yang nggak subur, bisa jadi mantan suami kamu itu yang nggak subur. " cetusnya dengan mata berkilat tajam.
" udahlah, Ayo kita pergi! " Sari mengibaskan tangannya ke udara kemudian menarik tangan sang Sahabat Untuk pergi dari danau itu.
" eh mau ke mana? " tanya Sekar merasa bingung dengan ajakan sahabatnya itu.
" aku nemuin bakso bakar kesukaan kamu, rasanya mirip banget sama bakso bakar punya Mak Ijah dulu. " sahut Sari dengan senyuman tipis.
mata Sekar seketika berbinar saat mendengar ucapan sahabatnya.
akhirnya dengan semangat mereka berdua berjalan meninggalkan danau dan bergegas menuju tempat di mana makanan itu berada.
Sesampainya kedua perempuan itu berada di tempat tujuan, keduanya bergegas masuk setelah sama-sama melepas helm masing-masing.
Brugh!
"eh, maaf! "
****
Sementara itu di tempat lain terlihat tiga perempuan yang tengah merayakan sebuah kemenangan yang baru saja mereka raih.
" akhirnya keinginanku untuk mendapatkan ipar yang setara bisa kesampaian! " Ayu berseru dengan ekspresi wajah sumringah.
" iya aku juga senang kita bisa membuang sesuatu yang gak berguna kayak Sekar, " Timpal Gendis dengan senyuman lebar.
" lagian buat apa dipertahanin, dia aja nggak bisa ngasih keturunan untuk Rangga, untuk keluarga kita. mending, kalau disuruh milih kita pasti pilih Rinjani yang jelas-jelas ketahuan kualitasnya. " cetus Ayu.
Sementara Bu Risty hanya menggiling saat melihat dan mendengar interaksi antara kedua putrinya.
***
" gimana Semua sudah sesuai rencana? " tanya seseorang dari seberang sana.
Sementara orang yang diajak berbicara tampak tersenyum lebar dan mengangguk antusias.
" Tentu aja, semuanya beres dan sesuai dengan rencana kita. " katanya dengan antusias.
" bagus kalau gitu, semakin cepat rencana itu terlaksana, maka kita akan semakin dekat pada sebuah kemenangan dan kehancuran mereka semua. " tahun orang itu dengan tawa yang begitu menggelegar.
sementara yang menjadi lawan bicaranya hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan seseorang dari seberang sana itu.
" Ya sudah kalau begitu, kita akhiri dulu pembicaraan ini karena sebentar lagi dia akan datang menjemput dan membawaku pergi. "
" kalian akan benar-benar ada di genggamanku, " katanya dengan menyeringai menakutkan.