NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 14

Matahari sudah tenggelam di kaki barat saat Hasna berpamitan dari rumah Rizal. Gadis ayu itu terus-terusan mencium pipi gembul Adam yang ada di gendongannya sambil berjalan keluar diikuti Bu Sar dan Rizal.

“Jadi, ada susu yang bisa buat anak alergi kaya Adam gini, Has?” tanya Bu Sar menyambung obrolan yang sempat mereka bicarakan saat Hasna mengetahui tentang kelainan yang terjadi pada Adam. 

“Ada, Wak, besok aku kasih liat gambarnya,” jawab Hasna. “Tante pulang dulu ya, anak ganteng, besok tante main lagi,” lanjutnya seraya memindahkan Adam ke gendongan Rizal. “Aku pamit dulu, Bang. Abang yang semangat, ya ngurusin Adam, kalo ada waktu aku main lagi sekalian bantu jagain Adam,” imbuhnya.  

Rizal mengangguk pelan, “terima kasih lemangnya, Has,” ucapnya kemudian. 

“Ya sudah, aku pamit Bang, assalamualaikum,” pamit Hasna, namun dengan cepat di cegah oleh Bu Sar. 

“Eh, Has, beneran besok kasih lihat saya nama susunya, biar Rizal coba beli, kalo cocok ‘kan lumayan nggak perlu pake si Nadya lagi. Uwak udah enek bener liat mukanya di sini,” ketus Bu Sartini. 

“Iya, Wak, besok aku kasih liat nama susunya. Ya sudah Wak, aku pamit dulu, udah hampir maghrib,” ulang Hasna sambil kembali mengusap pipi Adam. 

“Ya sudah sana cepet pulang, nggak baik anak gadis malam-malam di rumah duda, kecuali—” 

“Mah.” sergah Rizal cepat. 

Hasna tersenyum samar, sebelum benar-benar pergi ia menyempatkan menatap lekat netra Rizal yang masih menyimpan duka mendalam. 

“Kamu denger sendiri ‘kan, Zal, ada susu yang bisa buat alergi Adam,” serbu Bu Sar begitu mereka masuk ke dalam rumah. 

“Iya, Mah, dari dulu memang ada, tapi kita tetep harus nunggu pemeriksaan dokter kalau mau ngasih Adam, nggak bisa sembarangan,” jelas Rizal. 

Bu Sar mendengus kasar sambil terus mengikuti langkah sang menanntu yang berjalan di depannya. “Hasna itu mantan pekerja di klinik, Zal. Dia pasti ngerti lah tentang begituan, kamu nggak nyimak tadi cerita dia.” 

Nadya yang mendengar ocehan Bu Sar, juga cerita Hasna tentang pengalamannya kerja di klinik, tersenyum samar. Gadis manis itu turut menyahut seraya mengambil Adam dari gendongan Rizal. 

“Kelainan pada anak itu nggak bisa asal pake kira-kira, harus ada pemeriksaan menyeluruh, apalagi berhubungan dengan pencernaan. Salah-salah bisa diare dan berakibat fatal.” 

Sontak mata Bu Sar menatap tajam ke arah Nadya, bibirnya berkedut sinis. “Tau apa kamu itu Nadya, orang kamu aja hidup di jalanan, sok-sok bilang tentang sakitnya Adam.” 

Nadya terbahak kecil, mata sendunya membalas tatapan tajam Bu Sar. “Yang jelas saya punya dasar pengetahuan bukan cuma ngliat dari kejadian yang berseliweran. Kamu itu selalu meremehkan saya, tanpa tau siapa saya.” 

“Terus siapa kamu? Perempuan yang jual teteknya cuma buat hidup enak? Nggak Rizal, nggak kamu sama bodohnya. Yang satu pinter membodohi yang satu mau saja di bodohi, heran saya,” sindir Bu Sar. 

Mendengar kata-kata menohok dari mantan mertuanya, wajah Rizal merah seketika, rahangnya mengetat. “Mah, Mamah udah kelewatan menilai Nadya.” 

“Kamu ini kenapa sih, Zal, masih saja membela dia? Udah jelas dia perempuan nggak bener. Heran.” sungut Bu Sar. 

Bu Harmi yang sedari tadi sibuk di dapur, menimpali dengan suara tinggi. “Ya karena Nadya memang nggak seperti yang Bu Sar pikirkan.” 

Wanita itu terus mengobrak-abrik isi kulkasnya—mencari sesuatu, ia lalu berjalan kebelakang tempat Yessy sedang menyelesaikan setrikaannya. “Yes, Ibu kemarin ada beli ikan lais, perasaan belum Ibu masak, kok nggak ada si kulkas?” 

Yessy menengok sekilas, lalu memonyongkan bibirnya ke arah Bu Sar. 

Melihat ekspresi Yessy, Bu Harmi langsung paham. Ia kemudian kembali berjalan ke dapur, mengambil bahan yang tersisa di kulkasnya, namun rahang wanita itu mengerat saat mendengar suara cempreng Yessy dari luar rumah.  

“Wak Sar, ikannya habis di makan kucing.” 

Gelap mulai menyergap, suara adzan magrib berdengung samar dari masjid besar di ujung di desa. Rumah dengan dinding kuning gading itu kembali lengang. Setelah teriakan Yessy, Bu Sar buru-buru pulang sambil memunguti sisi ikan yang berceceran di halaman. 

Dari dalam kamar, celotehan Nadya yang sedang bermain dengan Adam terdengar merdu dan lucu. Adam yang sudah mulai mengerti saat di ajak berbicara menjadi obat tersendiri untuk Nadya tiap kali Bu Sar memancing emosinya. 

“Tadi, harusnya kita sumpel pake lemang, ya Ndut, mulut nenekmu, biar keseretan. Sembarangan bilang Nad-nad nggak tau apa-apa, kasih paham, Ndut,” ucapnya sambil memasang ekspresi lucu yang di sambut senyum merekah dari bibir mungil Adam.  

“Memangnya siapa Nad-nad mu ini, Ndut. Kasih tau Papa … Papa juga penasaran,” celetuk Rizal dari balik pintu. 

Laki-laki yang sudah rapi dengan baju koko dan sarung salur bercorak coklat tua itu masuk kamar sambil melirik wajah Nadya yang sedikit terkejut. 

“Keppo, ya Ndut,” balas Nadya sambil terus memainkan ekspresi lucu untuk Adam.  

Rizal tertawa kecil, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya terulur—mengusap pipi sang putra. 

“Habisnya, sudah hampir dua bulan di sini Papa belum tau siapa Nad-nad ini, ayo Dam, kasih tau Papa.” seloroh Rizal sambil berpindah mengusap perut sang putra. 

Nadya berdecak kecil, matanya menyapu penampilan Rizal. “Cieilahhh … yang habis ketemu mantan pacar, laju dandan rapi betul sore ini,” kelakarnya. 

Rizal berdecak kecil, lalu turut memindai penampilannya. “Setiap hari apa nggak begini penampilan Abang?” kilahnya. 

“Nggak. Sore ini beda, kaya ada semu-semu merah mudanya,” kekeh Nadya sambil beranjak keluar kamar. “Tungguin Adam bentar, saya mau ke kamar mandi.” imbuhnya. 

Rizal mengulum senyum malu-malu, ia lalu mengangkat Adam ke pangkuannya, menimang pelan sambil sholawatan. 

Tak selang berapa lama, Nadya kembali ke kamarnya. Bibir gadis manis itu melengkung tipis saat melihat Rizal masih memangku Adam sambil sholawatan. 

“Orang kalo lagi berbunga-bunga emang beda auranya,” celetuk Nadya. “Sana buru sholat maghrib, jangan lupa langitkan namanya biar cepet dapet Ridho-Nya.” 

Rizal menggigit bibir bawahnya pelan, tatapannya melembut ke arah Nadya. “Kasih tau Abang, nama lengkap sekalian bintinya?”  

“Dih, mana saya tau. Kenal juga nggak, 'kan mantan Abang itu, masak nggak tau?” goda Nadya sambil menaik-turunkan alisnya. 

“Nama lengkap kamu dan Bapakmu. Kamu pikir Abang nanya nama lengkapnya siapa?” ucap Rizal, datar.

Nadya membulatkan matanya, lalu mundur selangkah.  “Papa mu makin hari makin aneh, Ndut. Nad-nad jadi takut,” ucapnya seraya mengambil Adam dari gendongan Rizal, kemudian berjalan cepat keluar kamar.  

“Mau kamu bawa kemana Adam maghrib-maghrib,” panggil Rizal saat Nadya sudah nyelonong lebih dulu. 

“Kamar Ibu, horor di kamar situ,” sahut Nadya yang sudah masuk ke kamar Bu Harmi. 

Rizal mengusap wajahnya singkat, matanya berbinar sesaat seiring senyum tipis yang muncul tiba-tiba. Kepalanya mengangguk kecil seolah menyetujui hatinya yang berbisik lirih.

'Kamu semakin bikin Abang penasaran, Nad,'

Bersambung

1
Vera Dewiaryani
iya double dong thor kali²
Anna: Sedang di usahakan kak 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho lho baru baca kok sdh bersambung..pelit niqn ni kak thor up dikit kali..sekali kali double up lah kak biar puas dirini baca
Ratih Tupperware Denpasar: sehat juga unt kak author. saya suka cerita yg beda ga melulu CEO kaya raya trus arogan wanitanya model..ini keren pokoknya
total 2 replies
Yessi Kalila
wkwkwk
.. aku kmrn suudzoon.... 🤣🤣🤣
Anna: Siap-siap di sentilll Bang Rizal. 😒
total 1 replies
Rehan Atar
kaget saya kira bales chat hasna taunya bales si'kaki tangan leganyaa...😄😄😄
Anna: prankkkkkk 🤣🤣🤣
total 1 replies
haci
aku akuu😭
haci: nangiss 😭
total 2 replies
haci
ooo yasirr maaf ya bang udah sooudzoonnn 😩
Anna: Kata saya juga supresss🥳🤣
total 1 replies
Erlina Yakin
bagus
Anna: Kakak terima kasih banyak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
sebenarnya yang kamu cintai tuh sapa baaangg...... Nadia atau Hasnaa...
Anna: Tonjok aja, Kakl 🤣
total 3 replies
haci
kenapa kasii harapan terus siii
di tinggal nadya baru tauk rasa😭
Anna: baca up terbaru 🥳
total 3 replies
haci
jangan mauuu bang Rizal awasss aja😩
Anna: kita gundulin, ya kali Rizak tergoda
total 1 replies
haci
helehh bantuan apa to hasann 😭
Anna: menggitil dia 😗
total 1 replies
Yessi Kalila
itu si Hasna kurang kerjaan betul.... drama teroosss...
Anna: Modus, sapa tau berhasil. begitu kira-kira isi pikiran Hasna
total 1 replies
Vera Dewiaryani
up lagi dong thor😁
Anna: barusan up, Kak. 🫶
total 1 replies
haci
gak kebalikk ya 😭
ilyas yang manipulatif bgtt sombong 😩
Anna: kan memang hobi nya Ilyas memutar balikkan fakta. 😗
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
saya suka ceritanya, latqr belekang perkebunan suasana pedesaan dualek lokal
Anna: Makasih suportnya, Kak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
ceritanya bagus kaa.... lanjut aja.... 😍😍😍
Yessi Kalila: wooww... mantap ka Anna... semangat... semangat oke.. oke... aku setia selalu.... padamuuu... 😄😄😍😍😍
total 2 replies
Ita Nuryani
lho kok sudah tamat, tak kira panjang crtax
Anna: belummmmm masihh panjang. kan bang Rizal sama Nadya belum ahh ahhh 😭🤣🤣🤣
total 1 replies
Rehan Atar
izin..gosip papa kandung yg ngerudal anaknya sendiri ?? sadiss thorr 😡😡
Ratih Tupperware Denpasar: ada beberapa kali berita ayah menghamili anqk kandung
total 2 replies
haci
ya Allah 😭
kasian bgt mit amit ihhh 😭
Sriekyu: kak..cerita mu bagus.. thanks ya..cm klo bs nadya gk usahlah panggil ilyas papi..udah ketauan bejat gitu
total 5 replies
haci
kapan siii dia tumbang ihh nyebelin bgt😩
Anna: Habis ini masuk bui.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!