Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Telepon dari sang matriark
Udara di dalam kamar utama villa Lembang itu terasa sangat panas, kontras dengan kabut beku yang menempel di balik jendela kaca.
Di atas ranjang luas yang kini menjadi saksi bisu kemenangan Aluna, gairah baru saja kembali tersulut.
Bramasta tidak membiarkan Aluna bernapas lega setelah telepon kehancuran keluarga Wijaya tadi; ia ingin mengklaim setiap inci kemenangan itu pada tubuh gadis di bawahnya.
Namun, di tengah simfoni desahan dan pergerakan yang kian intens, sebuah interupsi tajam merusak segalanya.
Drttt... Drttt... Drttt...
Ponsel Aluna yang tergeletak di nakas kayu terus bergetar. Cahaya layarnya berkedip-kedip di keremangan kamar. Bramasta mengabaikannya, memilih untuk terus menciumi ceruk leher Aluna, namun getaran itu tidak kunjung berhenti.
Satu panggilan terputus, lalu detik berikutnya layar itu kembali menyala. Dua kali. Tiga kali. Empat kali.
"Daddy... ponselku," bisik Aluna dengan napas yang mulai tidak beraturan. Ia mencoba mendorong bahu bidang Bramasta, namun pria itu justru semakin menekan tubuhnya.
"Abaikan, Aluna. Tidak ada yang lebih penting dari ini," geram Bramasta rendah, suaranya parau oleh keinginan yang belum tuntas.
Namun, saat getaran kelima muncul dengan nada dering khusus—sebuah melodi klasik yang hanya disetel untuk satu orang—mata Aluna membelalak. Itu adalah panggilan dari Nyonya Widya. Nenek.
"Ini Nenek, Daddy! Sudah lima kali," Aluna mendesis panik. "Jika aku tidak mengangkatnya, beliau akan menelepon penjaga villa atau langsung mengirim tim keamanan ke sini karena mengira aku diculik!"
Bramasta mendengus kasar, wajahnya menunjukkan ketidaksenangan yang nyata karena momen intimnya terganggu. Namun, ia tahu betul tabiat ibunya. Nyonya Widya tidak akan berhenti sampai ia mendengar suara Aluna.
Bramasta melepaskan kungkungannya sedikit, namun ia tidak menjauh. Ia justru sengaja memposisikan dirinya di antara kedua kaki Aluna, menatap gadis itu dengan kilat mata yang nakal sekaligus menantang.
"Angkatlah," bisik Bramasta, jemarinya mulai bermain di pinggang Aluna, memberikan rangsangan kecil yang membuat Aluna berjengit. "Tapi pastikan suaramu tidak terdengar seperti kau sedang... menikmati hadiahmu."
Aluna menelan ludah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau. Ia berusaha mengatur napasnya yang memburu sebelum menempelkan ponsel itu ke telinga.
"Halo... Nenek?" suara Aluna keluar dengan nada yang diusahakan selembut mungkin, meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan.
"Aluna? Kenapa lama sekali mengangkatnya, Sayang?" Suara Nyonya Widya terdengar tenang di seberang sana, namun ada nada selidik yang tajam—insting seorang wanita yang telah memimpin dinasti Adiguna selama puluhan tahun.
"Maaf, Nek. Aluna... Aluna tadi sedang di kamar mandi. Udaranya sangat dingin, jadi Aluna berendam agak lama," Aluna berbohong, matanya terpejam saat ia merasakan bibir Bramasta mulai mengecup bahunya yang terbuka, sengaja menguji pertahanannya.
"Begitukah? Suaramu terdengar sedikit... terengah, Aluna. Apa kau sakit? Atau kau sedang kelelahan karena menangisi kejadian di kantor kemarin?"
Aluna menggigit bibirnya kuat-pasti untuk menahan desahan yang hampir lolos saat tangan Bramasta merayap semakin berani. "Tidak, Nek. Aluna hanya... tadi sedikit terburu-buru keluar dari kamar mandi karena mendengar ponsel berbunyi. Aluna baik-baik saja."
"Syukurlah. Nenek hanya ingin memastikan kau aman bersama Bramasta," Nyonya Widya terdiam sejenak, sebuah keheningan yang terasa sangat menekan. "Bramasta bersamamu, kan? Berikan ponselnya padanya sejenak. Nenek ingin bicara."
Aluna melirik Bramasta dengan panik. Pria itu menyeringai, ia mengambil ponsel itu dari tangan Aluna tanpa menjauhkan tubuhnya sedikit pun.
"Ya, Ibu?" suara Bramasta terdengar sangat stabil dan berwibawa, seolah-olah ia sedang duduk di kursi kantornya, bukan sedang berada di posisi yang sangat intim dengan anak angkatnya.
"Jaga Aluna baik-baik di sana, Bramasta," suara Nyonya Widya terdengar lebih berat. "Ingat, dia adalah tanggung jawab suci keluarga kita. Aku mempercayaimu untuk memulihkan perasaannya. Kau mengerti maksudku, kan?"
Bramasta menatap mata Aluna yang berkilat ketakutan sekaligus gairah. Ia tahu ibunya sedang memberikan peringatan terselubung. Naluri seorang matriark tidak bisa dibohongi sepenuhnya.
"Tentu saja, Ibu. Aluna adalah prioritasku. Aku akan memastikan dia kembali ke rumah dalam keadaan 'puas' dan tenang," Bramasta sengaja menekankan kata puas, sambil memberikan tekanan pada paha Aluna yang membuat gadis itu nyaris memekik.
"Bagus. Besok ibu akan mengirimkan satu set perhiasan zamrud ke villa sebagai penghibur untuknya. Pastikan dia memakainya saat makan malam kalian nanti. Sampai jumpa, Sayangku Aluna."
Panggilan terputus.
Aluna segera melempar ponselnya ke sembarang arah dan mendorong dada Bramasta. "Daddy! Kau gila! Nenek hampir curiga!"
Bramasta tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat puas karena berhasil bermain-main dengan maut. "Tapi kau berhasil, Little Bird. Aktingmu sangat luar biasa. Suara 'anak manis' itu benar-benar menipu."
"Ini berbahaya, Daddy. Nenek bukan orang bodoh. Beliau tahu jika ada yang tidak beres di rumah ini," bisik Aluna, meskipun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ketegangan karena nyaris ketahuan ini justru memicu adrenalin yang luar biasa dalam dirinya.
Bramasta kembali merapatkan tubuhnya, mengunci Aluna dalam tatapan yang tidak menyisakan ruang untuk melarikan diri.
"Biarkan Nenek dengan kecurigaannya. Di sini, di balik kabut ini, kau bukan milik siapa-siapa selain milikku. Dan tidak akan ada perhiasan zamrud mana pun yang bisa menandingi tanda yang akan kutinggalkan di tubuhmu malam ini."
Bramasta kembali menyerang bibir Aluna, kali ini dengan intensitas yang lebih liar seolah ingin menghapus suara Nenek dari pikiran gadis itu.
Aluna menyerah sepenuhnya, membiarkan dirinya tenggelam kembali dalam dosa yang indah ini. Ia tahu, risiko yang mereka hadapi semakin besar, namun bagi Aluna, semakin tinggi risikonya, semakin manis rasa kemenangannya atas pria paling berkuasa di dinasti Adiguna ini.
keluarga yg dibangun dengan pikiran dangkal dan bodoh..jeluarga terhormat tapi lawan satu aja..kalah..wkwkkwkw
....dewasa😌