Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 - Sepupu Jauh Ibu Daren
Udara pagi terasa lebih segar dari biasanya, membawa aroma rumput basah dan tanah yang baru saja tersentuh embun. Alyssa berjalan perlahan di taman belakang rumah keluarga Wijaya, langkahnya ringan tanpa terburu-buru, seolah ia sengaja memperlambat waktu yang ia miliki. Tangannya membawa buku kecil dengan sampul sederhana, sementara rambutnya tergerai apa adanya tanpa usaha untuk terlihat istimewa.
Ia memilih duduk di bangku kayu di bawah pohon besar yang jarang dikunjungi orang, tempat yang cukup tersembunyi dari pandangan utama rumah. Suasana di sana tenang, hanya terdengar suara dedaunan yang sesekali bergesekan pelan tertiup angin. Tempat itu memberinya ruang untuk bernapas tanpa tekanan yang biasanya ia rasakan di dalam rumah.
Ia membuka bukunya dan mulai membaca, meskipun pikirannya tidak sepenuhnya berada di halaman yang ia lihat. Beberapa hari terakhir, suasana di rumah memang terasa sedikit berbeda, dan perubahan itu cukup jelas untuk disadari. Daren tidak lagi bersikap setajam sebelumnya, bahkan cenderung mengurangi interaksi yang berujung tekanan.
Namun perubahan itu tidak serta merta mengubah sesuatu di dalam dirinya, karena ia sudah terlalu terbiasa menjaga jarak dari siapa pun di rumah itu. Ia tetap tenang dalam sikap dan ucapan, serta tidak memberi ruang bagi harapan yang bisa berujung kekecewaan. Baginya, keadaan yang stabil jauh lebih aman daripada perubahan yang belum jelas arahnya.
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang, cukup jelas di tengah suasana yang sepi. Alyssa mengangkat kepala sedikit, matanya mengarah pada sumber suara tanpa menunjukkan reaksi berlebihan. Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya dengan postur tegap dan penampilan rapi.
Pria itu memiliki aura yang berbeda dari kebanyakan orang di rumah ini, terasa lebih ringan dan tidak menekan. Senyumnya muncul dengan mudah, tidak dibuat-buat dan tidak juga berlebihan, cukup untuk menunjukkan niat baik.
“Maaf, apa aku mengganggu?”
Suaranya lembut dan tidak memaksa, membuat suasana tetap nyaman meskipun kehadirannya tidak direncanakan. Alyssa menutup bukunya perlahan sebelum menjawab, memberi jeda singkat seolah mempertimbangkan situasi.
“Tidak.”
Jawabannya singkat, tanpa tambahan yang tidak perlu. Pria itu melangkah sedikit mendekat, tetapi tetap menjaga jarak yang sopan agar tidak terasa mengganggu.
“Aku baru datang, dan sepertinya tersesat,” katanya ringan, matanya sempat melihat sekitar taman. “Rumah ini lebih besar dari yang kubayangkan.”
Alyssa menatapnya sekilas, mencoba mengenali wajah yang terasa asing namun tidak sepenuhnya asing dalam lingkungan keluarga besar itu.
“Siapa kamu?”
Pria itu mengangguk pelan, seolah sudah menduga pertanyaan itu akan muncul sejak awal.
“Sepupu jauh dari pihak ibu Daren. Namaku Arvin Pratama.”
Ia mengulurkan tangan dengan sikap santai. Alyssa menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menjabatnya singkat, tidak terlalu lama dan tanpa ekspresi berlebihan.
“Alyssa.”
Arvin tersenyum lebih lebar, tampak tidak terkejut dengan jawaban itu.
“Aku tahu.”
Kalimat itu membuat Alyssa sedikit mengernyit, karena ia tidak merasa pernah bertemu pria ini sebelumnya. Arvin tertawa kecil, menyadari reaksi yang ia timbulkan.
“Maksudku, aku sudah mendengar tentangmu.”
Alyssa tidak menanggapi lebih lanjut, karena ia tidak tertarik menggali apa yang orang lain bicarakan tentang dirinya. Ia kembali duduk dengan sikap tenang, memberi sinyal bahwa percakapan tidak perlu diperpanjang.
Arvin memperhatikan sikap itu, namun tidak terlihat terganggu ataupun tersinggung. Ia justru tampak menyesuaikan diri dengan ritme yang Alyssa tunjukkan.
“Boleh aku duduk di sini?”
Alyssa mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa. Arvin duduk di bangku yang sama dengan jarak yang cukup, tidak mencoba mendekat lebih dari yang diperlukan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang tidak terasa canggung, karena masing-masing tidak memaksakan percakapan. Suasana tetap ringan, seolah keduanya memahami batas tanpa perlu dijelaskan.
“Aku jarang melihat orang membaca di taman seperti ini,” kata Arvin akhirnya, memecah hening dengan nada santai.
Alyssa melirik bukunya sebentar sebelum menjawab dengan singkat.
“Lebih tenang di sini.”
“Sepertinya begitu.”
Arvin mengangguk, lalu kembali menatap sekitar sejenak sebelum memandang Alyssa lagi.
“Kamu tinggal di sini sudah lama?”
“Tidak terlalu.”
Jawaban itu singkat, namun tidak terdengar dingin. Arvin tidak terlihat kecewa, justru tetap mempertahankan ekspresi santainya.
“Kamu tidak banyak bicara, ya.”
Alyssa tidak menanggapi, karena ia sudah terlalu sering mendengar komentar seperti itu. Baginya, diam bukan sesuatu yang perlu dijelaskan.
“Tidak apa-apa,” lanjut Arvin dengan nada ringan. “Kadang, diam justru lebih baik.”
Kalimat itu membuat Alyssa sedikit menoleh, karena cara penyampaiannya berbeda dari kebanyakan orang yang biasanya mengomentari dirinya. Tidak ada nada merendahkan atau memaksa, hanya pernyataan sederhana yang terasa netral.
Ia tidak menjawab, namun tidak juga menutup diri seperti biasanya. Kehadiran Arvin tidak membuatnya merasa tertekan, dan itu cukup untuk membuatnya tetap duduk di sana tanpa keinginan untuk segera pergi.
Di sisi lain rumah, Daren berjalan keluar dari pintu belakang dengan langkah terukur, berniat menuju mobilnya seperti rutinitas biasa. Namun langkahnya melambat saat pandangannya menangkap dua sosok di taman, sesuatu yang tidak ia duga akan ia lihat pagi itu.
Alyssa duduk di bangku yang biasa kosong, dan di sampingnya ada Arvin yang terlihat berbicara dengan santai. Jarak mereka tidak dekat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa mereka berada dalam percakapan yang nyaman.
Alis Daren sedikit berkerut, bukan karena kehadiran Arvin, melainkan karena sikap Alyssa yang terlihat berbeda. Ia terbiasa melihat wanita itu menjaga jarak dari semua orang, termasuk dirinya sendiri, namun saat ini sikap itu tampak sedikit melonggar.
Ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak, memperhatikan tanpa berniat mendekat. Tangannya tanpa sadar mengepal pelan, reaksi kecil yang muncul tanpa ia rencanakan.
Ia tidak menemukan alasan yang jelas untuk perasaan itu, tetapi ada sesuatu yang terasa tidak pada tempatnya. Setelah beberapa saat, ia berbalik dan melanjutkan langkahnya, memilih untuk tidak terlibat.
Namun bayangan itu tetap tertinggal di pikirannya, tidak hilang meskipun ia mencoba mengabaikannya.
Siang hari, ruang makan kembali dipenuhi anggota keluarga dengan suasana yang biasanya terasa formal dan kaku. Kali ini, kehadiran Arvin membuat percakapan terasa lebih hidup, karena ia dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitarnya.
Alyssa masuk seperti biasa dengan langkah tenang, tanpa menarik perhatian. Ia hendak duduk di ujung meja seperti kebiasaannya, memilih posisi yang tidak mencolok.
“Alyssa, duduk di sini saja.”
Suara Arvin terdengar lebih dulu, membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Ia menunjuk kursi kosong di sampingnya dengan ekspresi santai.
Alyssa terdiam sejenak, menyadari perhatian yang tiba-tiba tertuju padanya. Cassandra mengangkat alisnya sedikit, memperhatikan tanpa berkata apa-apa.
Alyssa akhirnya berjalan ke arah kursi itu dan duduk tanpa menunjukkan penolakan, meskipun tidak ada tanda antusias. Sikapnya tetap datar, seperti biasa.
“Terima kasih sudah menemani.”
Alyssa hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Tidak ada percakapan tambahan darinya.
Beberapa detik kemudian, Daren masuk ke ruangan dan langsung menangkap pemandangan itu. Langkahnya sempat terhenti sebelum akhirnya ia berjalan mendekat dan duduk di tempatnya seperti biasa.
Namun suasana terasa berbeda baginya, meskipun tidak ada perubahan yang mencolok bagi orang lain. Tatapannya sesekali mengarah ke arah Alyssa dan Arvin, mengamati tanpa terlihat terlalu jelas.
“Kalau kamu suka membaca, aku punya beberapa buku di kamar. Mungkin kamu tertarik.”
Alyssa menatap Arvin sekilas sebelum menjawab singkat.
“Terima kasih.”
“Itu bagus. Nanti aku bawakan.”
Daren meletakkan sendoknya sedikit lebih keras dari yang seharusnya, suara kecil itu cukup terdengar di meja makan yang tidak terlalu ramai.
“Kalau mau membaca, perpustakaan rumah ini cukup.”
Nada suaranya datar, tetapi terdengar lebih tegas dari biasanya. Arvin menoleh ke arahnya tanpa terlihat terpengaruh.
“Benar juga, tapi kadang pilihan pribadi lebih menarik.”
Daren tidak menjawab lagi dan kembali pada makanannya, meskipun rahangnya terlihat sedikit menegang. Alyssa tidak ikut dalam percakapan itu, tetap makan dengan tenang seolah tidak ada yang perlu diperhatikan.
Sikap itu justru membuat Daren semakin sulit mengabaikan perasaan yang muncul, karena tidak ada reaksi yang bisa ia tafsirkan dengan jelas.
Sore hari, lorong rumah terasa lebih sepi dengan cahaya matahari yang mulai meredup masuk dari jendela besar. Alyssa berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan, membawa ketenangan yang sama seperti sebelumnya.
“Alyssa.”
Suara Arvin terdengar dari belakang, membuatnya berhenti dan menoleh. Pria itu berdiri dengan beberapa buku di tangannya, sesuai dengan yang ia katakan sebelumnya.
“Aku bilang akan membawakannya.”
Ia tersenyum ringan, tidak terlihat terburu-buru. Alyssa menatap buku-buku itu, mengenali beberapa judul yang cukup menarik.
“Terima kasih.”
Nada suaranya sedikit lebih lembut dibanding sebelumnya. Arvin menyerahkan buku-buku itu tanpa banyak bicara.
“Kalau ada yang kamu suka, ambil saja.”
Alyssa menerima buku itu dengan hati-hati, jarinya menyentuh sampul seolah memastikan sesuatu.
“Kenapa kamu membantuku?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa rencana. Arvin terlihat sedikit terkejut, namun tidak lama.
“Cuma ingin membantu saja.”
Jawabannya sederhana dan tidak berbelit. Alyssa menatapnya beberapa detik, mencoba memahami maksud di balik jawaban itu.
“Kalau begitu, terima kasih.”
Kali ini terdengar lebih tulus. Arvin mengangguk, tidak menambahkan apa-apa lagi.
Dari ujung lorong, Daren berdiri tanpa berniat terlihat, tetapi pandangannya tidak lepas dari mereka. Ia melihat bagaimana Alyssa menerima buku itu dan bagaimana ia berbicara dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya.
Perubahan itu tidak besar, tetapi cukup untuk disadari. Ia tidak pernah melihat ekspresi itu saat Alyssa berbicara dengannya.
Tangannya mengepal lagi, kali ini lebih jelas dari sebelumnya. Ada rasa tidak nyaman yang sulit ia abaikan.
Langkahnya bergerak mendekat tanpa ia pikirkan lebih dulu. Suara sepatu membuat Alyssa menoleh.
“Apa yang kalian lakukan?”
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi nadanya sedikit lebih tajam. Arvin menjawab dengan santai.
“Memberikan buku.”
Daren menatap Alyssa, seolah menunggu sesuatu.
“Kalau butuh sesuatu, bilang pada pelayan.”
Nada suaranya lebih keras dari yang ia sadari. Alyssa menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.
“Saya tidak butuh apa-apa.”
Jawaban itu datar, namun jelas. Tidak ada emosi yang ditunjukkan, tetapi cukup untuk menghentikan percakapan.
Arvin tersenyum tipis.
“Aku hanya membantu.”
Daren tidak menjawab. Tatapannya tetap pada Alyssa, tetapi wanita itu sudah berbalik.
“Terima kasih.”
Ia mengatakan itu pada Arvin sebelum berjalan menuju kamarnya. Daren tetap berdiri di tempatnya.
“Santai saja, aku tidak melakukan apa-apa.”
Arvin berkata ringan. Daren menatapnya sekilas.
“Jaga batas.”
Arvin hanya tersenyum.
“Selalu.”
Malam itu, Daren berdiri di balkon kamarnya dengan pemandangan taman yang gelap dan sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa suasana yang seharusnya menenangkan, tetapi pikirannya justru penuh.
Bayangan Alyssa dan Arvin terus muncul tanpa bisa ia singkirkan, terutama cara mereka berbicara dan sikap Alyssa yang tidak sepenuhnya tertutup seperti biasanya. Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan kini terasa lebih jelas dan sulit diabaikan.
Ia mengusap wajahnya pelan, mencoba meredakan ketegangan yang muncul tanpa sebab yang bisa ia jelaskan dengan logika sederhana. Perasaan itu tidak nyaman, karena ia tidak terbiasa menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Tatapannya kembali ke arah taman yang gelap, namun pikirannya tetap dipenuhi bayangan yang sama. Ia tidak menyukai apa yang ia rasakan, tetapi juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Kesimpulan itu akhirnya muncul tanpa perlu dipaksa, sederhana namun cukup jelas untuk diakui. Ia tidak suka melihat Alyssa berada di dekat pria lain, dan perasaan itu tidak berkaitan dengan kewajiban atau alasan yang bisa dijelaskan secara rasional.
Ia tetap berdiri di sana lebih lama dari biasanya, membiarkan pikirannya berjalan tanpa arah yang pasti.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔