Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 PGS
Waktu pulang sekolah pun tiba. Ariel menghentikan motornya di depan Sherina. "Kamu pulangnya ikut aku," seru Ariel.
"Ogah, ngapain?" tolak Sherina.
"Hai, kamu harus tanggung jawab atas motorku jadi sekarang kamu harus ikut sama aku ke bengkel," kerusakan Ariel.
"Yaelah, kamu 'kan bisa pergi ke bengkel sendirian terus nanti minta bonnya dan aku bakalan bayar semuanya," sinis Sherina.
"Gak bisa, pokoknya sekarang kamu harus ikut aku ke bengkel. Takutnya kamu kabur dan tidak mau bayar biayanya," seru Ariel.
"Astaga, kamu benar-benar ya," kesal Sherina.
"Cepat naik!" perintah Ariel.
Sherina menoleh ke arah Nining. "Sudah, kamu pergi saja, aku bisa pulang sendiri kok," ucap Nining.
Akhirnya dengan terpaksa, Sherina pun naik ke motor Ariel. Wajah Sherina tampak kesal dan Ariel mulai melajukan motornya menuju bengkel. Sesampainya di bengkel, Sherina duduk menunggu sedangkan Ariel berbicara kepada tukang bengkelnya.
"Pak Guru siapa wanita cantik itu? calonnya ya?" tanya Tukang Bengkel.
"Apaan? dia bukan tipe wanita aku, dia adalah orang yang sudah membuat motor aku lecet jadi aku bawa ke sini untuk ganti rugi," sahut Ariel.
Sherina mendelik ke arah Ariel, dia malas berdebat dengan Ariel. Akhirnya Sherina pun mengeluarkan ponselnya dan memilih untuk memainkan ponselnya. Ariel menghampiri Sherina dan duduk di samping Sherina.
"Kayanya kamu mantan orang kaya ya, soalnya barang-barang kamu semuanya mahal-mahal," seru Ariel.
Sherina hanya tersenyum sinis tanpa menjawab ucapan Ariel. "Dulunya keluarga kamu pengusaha apa? kenapa bangkrut?" tanya Ariel.
"Apaan sih, kepo!" sinis Sherina.
Ariel mengeraskan rahangnya, wanita yang ada di sampingnya itu sungguh sangat menyebalkan. Padahal selama ini semua wanita di kampungnya sangat segan kepadanya tapi Sherina yang notabene orang baru di kampung itu justru berani kepada dirinya. Dikarenakan hanya lecet, perbaikan pun berjalan dengan sangat cepat.
"Sudah selesai Pak Guru," seru Tukang Bengkel.
"Bayar tuh," seru Ariel.
Sherina bangkit dari duduknya. "Bisa lewat transfer bayarnya?" tanya Sherina.
"Aduh Neng, saya tidak mengerti begituan. Tunai saja," sahut Tukang Bengkel.
"Tapi aku gak ada uang cash. Di sini ada Bank gak?" tanya Sherina kepada Ariel.
"Ada, cuma sedikit jauh. Yaelah, memangnya uang kamu berapa sih, pakai disimpan di ATM segala," ledek Ariel.
Sherina kembali mengepalkan tangannya, pria yang ada di hadapannya ini mempunyai mulut yang sangat pedas. Bahkan Ariel mengira jika di dunia ini hanya dia yang kaya dan banyak uang. "Yang jelas uang aku bisa membeli harga dirimu," batin Sherina dengan geramnya.
Sherina tidak mengatakannya secara langsung karena dia tidak mau adu mulut lagi dengan Ariel. "Jadi sekarang bagaimana? aku minta no rekening kamu saja biar aku transfer ke kamu," ketus Sherina.
"Ribet banget sih, kamu dari awal memang buat alasan untung aku bawa kamu ke sini kalau tidak, mungkin kamu bakalan bikin alasan supaya gak ganti rugi," kesal Ariel.
"Mana nomor rekeningnya, jangan kebanyakan bacot deh lama-lama aku muak juga sama kamu. Cowok kok punya mulut kaya emak-emak komplek," geram Sherina.
Ariel semakin marah dikatain kaya gitu oleh Sherina. Dengan kesal, Ariel pun memberikan nomor rekening kepada Sherina dan Sherina tidak banyak lama mengirimkan uang kepada Ariel. "Tuh, sudah masuk dan aku kasih lebih juga buat kamu beli makan," ketus Sherina.
"Hai, memangnya kamu pikir aku orang miskin? aku kirimkan lagi lebihan uang dari kamu, aku sama sekali tidak mau menerima uang lebihan dari cewek bisa-bisa harga diri aku hancur," geram Ariel.
"Harga diri hancur, memangnya kamu punya harga diri?" ledek Sherina.
Ariel mengeraskan rahangnya, dia mengotak-atik ponselnya dan mengirimkan uangnya kembali kepada Sherina. "Tuh, aku sudah transfer lagi uang lebihan dari kamu bahkan aku sudah kasih lebihan juga buat kamu beli makan sekeluarga," seru Ariel.
Pada saat keduanya masih sedang bersih tegang, tiba-tiba Badru lewat. "Badru!" teriak Sherina.
Badru langsung menghentikan motornya. "Sherina, sedang apa di sini?" tanya Badru.
"Nanti aku cerita kalau mood. Sekarang aku mau ikut pulang ke rumah," seru Sherina.
"Boleh, ayo naik!" seru Badru.
Sherina segera naik ke atas motor Badru dengan posisi duduk menyamping karena dia sudah pakai baju rok. "Pak Guru, duluan ya!" teriak Badru sembari mengangguk.
Sherina pun pergi, sekarang giliran Ariel yang tampak berpikir. "Barusan aku transfer uang kepada dia bahkan aku lebihkan, tapi kalau dipikir-pikir, kok dia yang aku transfer? sama saja bohong, ujung-ujungnya aku sendiri bayar biaya motor ini," batin Ariel geram.
Ariel merasa ditipu oleh Sherina, dia hanya bisa pasrah. "Awas kamu, nanti aku buat perhitungan sama kamu, dasar wanita licik," geram Ariel.
Sementara itu, Sherina tampak cekikikan di atas motor Badru membuat Badru bingung. "Dasar cowok bodoh, malah dibalikin lagi uangnya, bodo amat aku gak bakalan balikin lagi karena ini memang murni kesalahan dia sendiri," gumam Sherina.
"Kamu kenapa sih Sherina? cekikikan mulu dari tadi?" tanya Badru.
"Gak apa-apa, lagi ada yang lucu saja," sahut Sherina.
Hingga tidak lama kemudian, Sherina pun sampai di rumah. "Terima kasih ya, Badru sudah mau nganterin aku pulang," seru Sherina.
"Sama-sama, lagipula kebetulan aku mau pulang juga 'kan," sahut Badru.
Sherina pun masuk ke dalam rumah dan terlihat Wita sedang masak. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kamu ke mana dulu, sore baru pulang?" tanya Mommy Wita.
Sherina menceritakan semuanya kepada Wita. "Anak sama Bapak sama saja," gerutu Mommy Wita.
"Maksud Mommy apa?" tanya Sherina bingung.
"Sher, Mommy sebenarnya agak takut akhir-akhir ini," ucap Mommy Wita dengan wajah cemas.
"Takut kenapa, Mom?"
"Kamu tahu gak sayang, yang ngirim sayur, buah, dan beras itu adalah Juragan Tama dan tadi pagi juga datang ke rumah ini. Dari tatapan dia, Mommy merasa takut karena Mommy curiga sama kelakuan dia yang berubah baik," jelas Mommy Wita.
"Apa! Daddy tahu?" tanya Sherina kaget.
Wita menggeleng. "Jangan kasih tahu Daddy kamu, takutnya Daddy kamu marah dan nyuruh orang buat ngelakuin sesuatu. Lagi pula untuk saat ini Juragan Tama tidak melakukan hal yang diluar batas, baru nanti kalau dia berani macam-macam Mommy bakalan bertindak," sahut Mommy Wita.
"Tapi Mommy harus hati-hati, pokoknya lebih baik kalau kita pergi, pintu rumah kunci saja," ucap Sherina.
"Iya sayang, Mommy juga tahu kok," sahut Mommy Wita.
"Sialan, mau ngapain Juragan Tama nyamperin dan memberi barang-barang kepada Mommy? bukanya menurut kabar, Juragan Tama itu termasuk orang yang lumayan pelit ya," batin Sherina.
Sherina mulai merasa khawatir dengan Momnynya. Dia yakin jika Tama mempunyai sesuatu rencana. Tidak mungkin dia tiba-tiba baik, sedangkan menurut warga di sana Tama termasuk orang yang jarang sekali bersedekah.
oh Ariel punya sekolah TK juga ya ..kirain SD di kampung itu aja dulu ...rasakan sekarang susah kau jadi tukang ojek