Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kondangan dan Sultan Sidoarjo
.. "Genta, kamu punya jas yang layak tidak? Besok malam saya ada undangan pernikahan mantan sahabat saya di hotel bintang lima. Saya ingin kamu ikut, tapi bukan sebagai bodyguard, melainkan sebagai pasangan saya," ucap Clarissa tiba-tiba saat kami sedang di perjalanan pulang.
.. Aku hampir saja tersedak permen karet yang sedang kukunyah. "Waduh Mbak Bos! Pasangan? Apa nggak salah denger ini kuping saya? Saya ini kalau pakai jas malah lebih mirip tukang sulap gagal daripada pengusaha sukses lho, Mbak!" jawabku panik sambil membayangkan diriku yang biasanya pakai kaos oblong tiba-tiba harus pakai baju kaku.
.. Clarissa tertawa renyah, matanya menatapku dengan penuh rencana tersembunyi. "Tenang saja, besok siang kita ke butik langganan saya. Saya akan mendandani kamu sampai orang-orang mengira kamu itu pangeran dari antah berantah. Mantan sahabat saya itu sombong sekali, dia selalu pamer suaminya yang katanya pengusaha batu bara. Saya mau tunjukkan kalau saya punya pria yang jauh lebih hebat."
.. "Walah, jadi saya disuruh jadi 'Sultan Gadungan' nih ceritanya? Oke siap, Mbak Bos! Demi harga diri Mbak Bos, saya rela menahan napas pakai jas sempit seharian. Tapi nanti kalau saya lapar, jangan dilarang makan prasmanan sampai kenyang ya!" balasku yang langsung dihadiahi senyum manis dari Clarissa.
.. Keesokan harinya, butik mewah itu benar-benar menyulapku. Jas hitam slim-fit, kemeja putih bersih, dan sepatu pantofel yang mengkilapnya bisa buat ngaca para semut. Rambutku yang biasanya awut-awutan diberi pomade sampai klimis luar biasa. Saat aku bercermin, aku sendiri hampir tidak mengenali siapa pria gagah yang ada di depan mataku itu.
.. "Genta... kamu... kamu terlihat sangat berbeda," bisik Clarissa saat melihatku keluar dari ruang ganti. Dia sendiri tampil sangat mempesona dengan gaun malam berwarna emas yang berkilauan. Kami benar-benar terlihat seperti pasangan sultan yang siap mengguncang Jakarta malam ini.
.. Begitu sampai di hotel bintang lima tempat acara berlangsung, karpet merah sudah menyambut kami. Semua mata tertuju pada Clarissa, dan tentu saja pada pria tinggi gagah yang menggandeng tangannya—siapa lagi kalau bukan aku, si Genta Arjuna. Aku mencoba mengatur langkahku agar tidak terlihat seperti preman yang lagi ngejar angkot.
.. "Clarissa! Akhirnya kamu datang juga! Dan ini siapa? Supir baru kamu?" sapa seorang wanita dengan gaun yang terlalu heboh dan perhiasan yang beratnya mungkin sampai lima kilo. Itu adalah Shinta, si mantan sahabat yang sombong itu. Di sampingnya berdiri seorang pria tambun yang tampak sombong dengan cerutu di tangannya.
.. Aku langsung mengambil inisiatif sebelum Clarissa sempat menjawab. Aku memasang wajah paling berwibawa yang pernah kupunya. "Perkenalkan, saya Genta. Saya pengusaha muda di bidang investasi... eh, investasi kebahagiaan dan keamanan internasional. Senang bertemu dengan kalian," kataku sambil menjabat tangan suaminya dengan remasan yang cukup kuat sampai pria itu meringis sedikit.
.. Shinta tampak tidak percaya. "Investasi? Di mana kantor kamu? Kok saya tidak pernah dengar namamu di majalah bisnis?" tanyanya dengan nada meremehkan.
.. "Kantor saya berpindah-pindah, Mbak. Tergantung di mana Mbak Bos... maksud saya, Clarissa berada. Kami lebih suka bergerak di balik layar, tidak suka pamer seperti orang yang baru punya emas satu gram saja sudah gembar-gembor ke seluruh dunia," sindirku halus yang membuat wajah Shinta mendadak merah padam.
.. Clarissa menahan tawanya dengan sangat anggun. "Genta memang lebih suka privasi, Shinta. Dia tidak suka keramaian yang tidak penting. Oh ya, selamat atas pernikahannya ya. Semoga suamimu betah dengan sifatmu yang... unik itu."
.. Kami pun melangkah pergi meninggalkan pasangan sombong itu yang masih melongo. Begitu sudah agak jauh, Clarissa mencubit pinggangku pelan. "Genta! Investasi kebahagiaan? Kamu benar-benar nekat ya!"
.. "Lho, kan bener Mbak Bos. Saya investasi tenaga buat bikin Mbak Bos bahagia setiap hari. Itu mah aset paling mahal di dunia!" jawabku sambil tertawa. Di tengah pesta mewah itu, aku menyadari bahwa meskipun aku hanya memakai jas pinjaman, rasa cintaku pada Clarissa adalah hal paling nyata yang aku miliki. Dan malam ini, si Sultan Sidoarjo benar-benar berhasil memenangkan hati sang Ratu Jakarta.
.. Di tengah hiruk-pikuk pesta yang penuh dengan aroma parfum mahal dan denting gelas kaca, aku mencoba tetap tenang meskipun sepatu pantofel ini mulai menyiksa jempol kakiku yang biasanya bebas merdeka pakai sandal jepit. Clarissa menggandeng lenganku dengan sangat erat, seolah-olah dia bangga menunjukkan "Sultan Sidoarjo"-nya ini kepada seluruh tamu undangan.
.. "Genta, kamu lihat pria tua di ujung sana? Itu Pak Broto, kolega bisnis ayah saya yang paling disegani. Hati-hati kalau bicara dengannya, dia punya insting yang sangat tajam untuk mengenali orang," bisik Clarissa pelan. Aku menoleh dan melihat seorang pria berambut putih dengan setelan jas yang harganya mungkin setara dengan satu unit rumah di perumahan subsidi.
.. Pak Broto berjalan mendekati kami dengan langkah tenang. "Clarissa, senang melihatmu di sini. Dan... siapa anak muda yang gagah ini? Wajahnya tidak asing, tapi saya lupa pernah bertemu di mana," tanya Pak Broto sambil menatapku tajam dari balik kacamata emasnya.
.. Jantungku berdegup kencang. Wah, gawat kalau penyamaranku terbongkar di depan sesepuh bisnis begini. Tapi insting premanku segera mengambil alih. "Saya Genta Arjuna, Pak. Mungkin Bapak pernah melihat saya di pasar... eh, maksud saya di pasar modal internasional. Saya memang lebih suka bekerja di balik layar, tidak suka terlalu sering muncul di permukaan," jawabku dengan nada bicara yang kubuat seberat mungkin.
.. Pak Broto tertawa terbahak-bahak sampai perutnya yang buncit berguncang. "Pasar modal ya? Bagus, bagus! Saya suka kepercayaan dirimu, anak muda. Clarissa, kamu pintar memilih pasangan. Dia punya aura yang berbeda, tidak kaku seperti anak-anak muda zaman sekarang yang cuma tahu teori buku tapi nol besar di lapangan."
.. Clarissa tersenyum bangga, sementara aku hanya bisa mengusap keringat dingin yang mulai menetes di balik kerah kemejaku. Ternyata menjadi orang kaya gadungan itu lebih melelahkan daripada harus berantem melawan sepuluh preman terminal sekaligus. Tapi demi menjaga harga diri Clarissa di depan teman-temannya yang sombong, aku rela melakukan apa saja.
.. Malam itu berakhir dengan sangat indah. Saat kami berjalan menuju parkiran, Clarissa tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatapku dengan sangat lembut. "Genta, terima kasih ya. Malam ini kamu benar-benar jadi pahlawan saya. Bukan cuma karena kamu mengusir Shinta, tapi karena kamu membuat saya merasa... tidak sendirian di tengah keramaian ini."
.. Aku hanya bisa nyengir lebar sambil melepas dasiku yang terasa mencekik leher. "Sama-sama, Mbak Bos. Pokoknya selama ada Genta Arjuna, Mbak Bos nggak perlu takut lagi sama lalat-lalat pengganggu itu. Sekarang, boleh nggak kita mampir makan nasi goreng pinggir jalan? Perut saya nggak kenyang makan makanan hotel yang porsinya cuma seuprit itu!" Clarissa tertawa lepas, dan kami pun melaju membelah malam Jakarta yang penuh dengan misteri dan cinta.